
Kath terbangun ketika meraba Lucifer yang sudah tidak ada disisinya, ia membuka matanya dan mendapat Lucifer yang sudah duduk diatas kursi sambil meminum tehnya.
Kath menatap Lucifer dan membayangkan kejadian semalam, ia tersenyum menatap Lucifer dan malu kedua pipi Kath merona.
Kath membalutkan diri dengan selimut ke kamar mandi dan memandikan tubuhnya. Lucifer hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kath.
Kath keluar dari kamar mandi dengan jepit rambut yang diberikan Lucifer diatas rambutnya dan melihat kearah Lucifer, "Ehmm, aku lapar," Ucap Kath mengigit bibir bawahnya.
Lucifer mendekat kerarah Kath dan mengelus pipinya, "Ayo, kita pulang. Makanan lezat sudah menantimu." Ucap Lucifer mengendong Kath dan mengepakan sayapnya keluar dari jendela.
Lucifer meletakan beberapa keping koin emas di atas meja dan meninggalkan penginapan itu.
...****************...
Mereka berada di ruang makan bukan berdua, melainkan bertiga. Kath menatap Lucifer meminta penjelasan. Siapa wanita yang sedang duduk di antara mereka. Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun, seperti wanita bangsawan.
"Sandria, sahabat saya." Ucap Lucifer yang memperkenalkan wanita yang berada di tengah-tengah mereka.
"Lucifer, aku sangat merindukanmu." Ucap Sandria dan memeluk Lucifer. Kath membelalakan matanya menatap Sandria dengan tatapam tidak percaya. Bagaimana bisa wanita itu memeluk Lucifer didepannya? Berani sekali.
"Saya juga merindukanmu." Ucap Lucifer yang membuat Kath ingin sekali memukul Lucifer. Bagaimana bisa ia merindukan wanita lain saat istrinya sedang berada di depannya.
"Pekenalkan ini istri saya, Kath." Lucifer memperkenalkan Kath.
Kath mengulurkan tangan dan tersenyum, "Oh, dia. Yang sering disebut makhluk terkuat di dunia. Tapi sepertinya aku tidak merasakan kekuatannya." Sandria meremehkan Kath dan sama sekali tidak ingin menjabat tangan Kath.
Kath hanya tersenyum berusaha menahan kesabarannya, "Dia hilang ingatan, kekuatannya terkunci." Ucap Lucifer sambil memotong daging yang ada di depannya.
'Dia? Berani sekali kau menyebutku dengan sebutan dia. Aku ini istrimu.' Batin Kath yang sudah kehilangan kesabarannya tetapi masih mencoba untuk tersenyum.
"Berarti dia sekarang hanya makhluk lemah." Ucap Sandria sambil tersenyum miring.
"Ya, begitulah." Ucap Lucifer yang sama sekali tidak membela Kath
Kuping Kath terasa sangat panas sekali, Kath menatap saladnya dengan tidak selera. "Aku sudah selesai makan." Ucap Kath dengan muka masam dan lansung meninggalkan mereka berdua. Ia sama sekali tidak tahan dengan hujatan Sandria dan Lucifer yang sama sekali tidak membelanya. Bahkan Lucifer sama sekali tidak berniat mengejarnya.
Kesal, Kath sangat kesal sekali. Ia berjalan kearah kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan kuat. Rasanya ingin sekali Kath membakar mereka berdua.
Baru juga semalam mereka bemesraan, tetapi Lucifer seakan melupakannya dan membuatnya merasa sangat kesal. Lucifer seakan melupakannya saat Sandria berada disampingnya.
Kath menatap kearah hujan yang seperti merasakan kesedihannya. Kath mencemberutkan wajahnya, bahkan sampai sekarang Lucifer sama sekali tidak datang ke kamarnya.
"Dia pasti melupakanku." Kesal Kath.
Matahari sudah terbenam, tetapi Lucifer masih belum menampakan dirinya membuat Kath memikirkan hal yang aneh. Kath coba untuk keluar dari kamar dan mencari Lucifer.
Dan benar saja, Lucifer sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan Sandria. Kath menatap kearah Lucifer. Lucifer bahkan tidak tau Kath sedang melihat kearahnya.
Kath dengan kesalnya kembali ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya untuk kedua kalinya. Kesal? Sudah pasti. Cemburu? Jangan ditanya lagi. Kath terus memikirkan ide agar Sandria segera pergi dari sini.
"Nanti saja, aku sedang tidak lapar." Tolak Kath kesekian kalinya. Bagaimana bisa Kath makan saat ia disulut dengan emosi. Yang ia rasakan sekarang adalah rasa ingin memusnahkan Lucifer.
Lucifer sama sekali tidak memedulikannya, ia sama sekali tidak datang ke kamarnya untuk melihat dirinya. Kath memikirkan beberapa cara agar Lucifer hanya fokus kepada dirinya.
Ia memikirkan untuk loncat dari balkon, tetapi Kath tidak punya keberanian sebesar itu. Saat ia melihat kebawah saja, Kath sudah gemetaran. Apalagi jika ia lompat.
Seseorang mengetuk pintu kamar Kath, membuat Kath berlari ke kasur dan pura-pura tidur. Kath mengintip sedikit dan itu Lucifer.
Hampir seharian, ia sama sekali tidak ada waktu untuk Kath dan akhirnya Lucifer melihatnya. Cih, Kath membuka matanya dan menatap Lucifer dengan tatapan malas.
Lucifer menatap kearah Kath yang tidak ingin menatap matanya, "Ada apa denganmu?" Tanya Lucifer mendekat kearah Kath dan duduk di samping Kath.
Kath hanya menatap Lucifer dengan tatapan malas dan tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"Kamu marah?" Tanya Lucifer memegang keningnya, bingung dengan sikap Kath.
"Entahlah," Ucap Kath malas dan menarik selimut hingga kewajahnya.
Kath mencemberutkan bibirnya, ingin sekali ia menangis dengan sikap Lucifer yang sangat dingin.
Lucifer menarik selimut Kath. Melihat Kath yang sedang cemberut dan tidak ingin melihat kearah Lucifer.
"Jadi kurang cantik, jika cemberut begitu." Ucap Lucifer mengelus rambut Kath.
"Kurang cantik? Tentu saja, dimatamu saat ini hanya Sandria yang paling cantik." Kesal Kath menatap Lucifer penuh dengan kekesalan.
Akhirnya Lucifer mengetahui alasan mengapa Kath marah padanya, Ini pertama kalinya Kath cemburu padanya. Biasanya Kath yang selalu membuat Lucifer cemburu bahkan Kath pernah memberikan dirinya kepada Azura. "Tidak, hanya kamu satu-satunya wanita di hati saya." Ucap Lucifer yang mencoba menenangkan Kath.
Kath sedikit tersenyum mendengarnya, tetapi ia masih kesal dengan Lucifer. "Tapi, kau sama sekali tidak memikirkanku."
"Saya selalu memikirkanmu."
"Buktinya hari ini kau sangat sibuk dengan sahabatmu, Sandria." Kath membulatkan matanya malas.
"Saya hanya berbicara masalah pekerjaan." Lucifer menatap Kath dengan gemas.
"Dari pagi hingga malam? Bahkan sepertinya kau lupa kalau kau mempunyai istri yang harus kau urus." Ucap Kath penuh penekanan di kata istri.
"Kenapa kamu selalu berbicara dengan kata kau? Sangat tidak enak sekali didengar." Lucifer merasa kata itu sangat tidak enak didengar dan membuat kupingnya sakit ketika Kath menyebutnya dengan panggilan 'kau'.
"Jadi aku harus berbicara dengan menggunakan Saya-kamu? Sepertimu?" Tanya Kath kembali seperti menantang Lucifer.
"Tidak, tapi saya ingin kamu memanggil saya dengan sebutan sayang atau apapun yang lebih romantis." Ucap Lucifer yang ingin seperti pasangan lainnya. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin agar Kath menyukai dirinya yang sekarang, tetapi Kath sangat tidak romantis sekali.
"TIDAK MAU," Bantah Kath penuh penekanan. Ia bukannya tidak mau tetapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Rasanya sangat sulit sekali untuk mengatakan hal itu.
"Jika kamu tidak mau saya tidak akan memaksamu." Ucap Lucifer dengan pasrah.