Who Is My Mate?

Who Is My Mate?
Bab 22 - Apa dia boleh menjadi milikku?



"Aku tau kau selalu memperhatikanku," Ucap Kath melihat kearah burung gagak yang berada di dekat Azura.


"Tentu saja aku memperhatikanmu karena aku perhatian padamu," Ucap Azura sambil tersenyum.


"Apa kau yakin bisa mengalahkanku?" Tanya Kath meremehkan Azura.


Ketiga raja bingung mendengar perdebatan antara Kath dan Azura, "Ada apa ini?" Tanya Rix bingung.


"Sepertinya kau sudah siap menerima kekalahanmu," Ucap Azura yang tidak memedulikan Rix.


Azura dengan cepat mengeluarkan cakarannya dan berniat mencakar Kath. Tetapi Lucifer dengan gesit melindungi Kath, Lucifer terkena cakaran Azura dan darah Lucifer mengalir dari dadanya, "Kau sangat cepat sekali," Puji Azura melihat Lucifer dengan lekat.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kath melihat kearah cakaran Azura, Lucifer menganggukan kepalanya.


"Sepertinya aku menyukainya, apa dia boleh menjadi milikku?" Tanya Azura menatap Lucifer.


"Boleh," Ucap Kath begitu saja.


Lucifer menatap Kath dengan tatapan tidak percaya. Ia baru saja menyelamatkan Kath tetapi Kath bahkan tidak mengatakan terima kasih. Sikapnya sangat tidak bisa ia jelaskan.


"Tidak," Bantah Lucifer.


"Kenapa tidak boleh?" Tanya Kath tanpa rasa bersalah.


Lucifer bingung dengan tingkah Kath, ia bingung Kath polos, bodoh atau tidak punya hati. Bagaimana ia bisa merasa dijual belikan.


"Apakah kau tidak tau ia menyukaimu?" Potong Azura yang terus melihat kearah Lucifer.


"Apa kau menyukaiku?" Tanya Kath kepada Lucifer.


Lucifer berpikir sejenak dan membayangkan kejadiannya dengan Kath ketika Kath berada didekatnya. Tetapi ia tidak ingin mengakuinya.


Lucifer mengelengkan kepalanya, "Tidak." Ucap Lucifer datar.


"Berarti dia milikku sekarang." Ucap Azura dengan bahagia.


"Berarti Kath adalah milikku." Ucap Dexter tidak mau kalah.


"Tidak, aku adalah milikku sendiri" Tolak Kath datar.


"Apakah tidak ada yang ingin memperebutkanku?" Tanya Rix.


"Tidak," Jawab Kath dan Azura serentak.


Lucifer memegang dadanya yang terkena cakaran Azura. Ia merasakan sakit tetapi ia masih bisa menahannya. Wajah Lucifer berubah menjadi pucat.


"Sepertinya racunku telah bekerja," Ucap Azura tersenyum.


"Racun?" Tanya Kath bingung. Kath melihat kearah Lucifer yang sudah pucat dan lemas.


"Aku menaruh racun dicakaranku dan aku berniat membunuhmu dengan cakaranku, tetapi ia menghalangiku." Ucap Azura kesal.


"Dimana penawarnya?" Tanya Kath yang mulai marah.


"Penawarnya? Aku tidak akan mengatakannya." Ucap Azura mencoba membuat Kath emosi.


"APA MAUMU?" Tanya Kath dengan emosi ketika melihat Lucifer semakin lemas.


"Aku ingin bertarung denganmu, HANYA KITA BERDUA." Ucap Azura penuh penekanan di akhir kalimat.


"Baiklah," Ucap Kath menerima tawarannya.


"Tenang saja, dia akan bertahan selama 3 hari." Ucap Azura dengan santai.


"Rix, Aku ingin kau menjaga Lucifer dan Dexter." Perintah Kath, Kath selalu menganggap Dexter lemah karena matanya walaupun ia sudah tau Dexter adalah Raja Langit.


"Aku? Kenapa aku harus menjaga musuhku?" Tanya Rix mebulatkan matanya.


"Aku akan ikut denganmu," Ucap Dexter.


"Tidak," Bantah Kath.


"Tidak, kau hanya akan menghalangiku." Tolak Kath lagi.


"Aku saja yang akan ikut denganmu," Ucap Rix yang tidak mau kalah.


Brakk...


Lucifer terjatuh, ia tidak tahan dengan racun yang ada ditubuhnya. Kath yang melihat Lucifer terjatuh lansung mensejajarkan dirinya dengan Lucifer dan meletakan kepala Lucifer diatas kakinya, "Lucifer, sadarlah." Panggil Kath sambil menepuk pipi kanan Lucifer.


"Berikan penawarnya,"Perintah Kath.


"Aku akan memberikan penawarnya jika kau bisa mengalahkanku." Ucap Azura dengan senyum.


"Akanku pastikan kau kalah," Ucap Kath dengan serius.


"Tetapi aku tidak ingin bertarung denganmu ditempat ini, aku akan membawamu kesuatu tempat. Kau akan menyukainya," Ucap Azura yang terus tersenyum.


"Bagaimana jika aku tidak menyukainya?" Tanya Kath yang mulai kesal dengan ucapan Azura.


"Akanku pastikan kau menyukainnya." Jawab Azura.


Kath menganggukan kepalanya, "Baiklah" Ucap Kath.


Dexter yang sedang bersandar dipohon sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya memotong pembicaraan Kath dan Azura, "Aku akan ikut denganmu," Ucap Dexter.


"Tidak,"


"Kalau begitu aku saja yang ikut denganmu?" Ucap Rix menawarkan dirinya lagi.


"Tidak, apa kalian tidak mengerti perkataanku? Aku tau yang kalian inginkan hanya darah abadiku bukan aku. Kalian tenang saja aku tidak akan terluka." Ucap Kath yang sudah lama tau bahwa ketiga raja hanya menginginkan darah abadinya, bukan dirinya. Itu membuat Kath muak dengan segalanya dan terus ingin pulang ke istananya.


Dexter dan Rix hanya terdiam ketika Kath mengucapkan hal itu. Rix membutuhkan darah abadinya untuk menyelamatkan wanita yang ia cintai. Dexter yang awalnya membutuhkan darah abadinya untuk menyelamatkan wanita yang ia cintai pelan-pelan berubah ia ingin mengunakan darah abadi Kath untuk menyembuhkan matanya dan Lucifer ia tidak tau kenapa Lucifer menginginkan Darah abadinya. Ia sama sekali tidak tau apa yang diinginkan Lucifer dengan dirinya.


"Baiklah aku akan menjaganya," Ucap Rix patuh.


"Baiklah, berjanjilah padaku kau tidak akan terluka." Ucap Dexter merasa bersalah.


"Aku janji," Ucap Kath.


"Cepatlah Kath, waktumu tidak banyak." Ucap Azura yang bosan dengan drama singkat mereka.


Kath melihat kearah Lucifer yang sedang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri.


Azura berjalan di depan Kath, ia mengambil seutas tali dan mengikat tangan kanan Kath dan tangan kirinya dengan tali itu. "Kenapa kau mengikatku?" Tanya Kath bingung.


"Karena kau sering tersesat," Jawab Azura mengingat Kath sering tersesat.


"Ternyata kau masih mengingatku," Ucap Kath sedikit tersenyum.


"Tidak," Ucapnya datar.


"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Kath bingung dengan arah jalannya.


"Ke goa menangis," Ucap Azura yang membuat Kath seketika merinding.


"Ada apa denganmu? Apa kau takut?" Tanya Azura yang melihat tingkah aneh Kath.


"Kenapa harus di goa menangis?" Tanya Kath kembali.


"Karena disana aku memakan semua makhluk yang mengejarku dan ingin membunuhku. Mereka selalu menangis ketika aku mencabik-cabik tubuh mereka." Ucap Azura tersenyum mengingat tangisan mereka.


"Ternyata itu adalah kau," Ucap Kath tersenyum.


"Tentu saja, aku akan berbagi denganmu," Ucap Azura mengingat Kath suka dengan daging.


"Baiklah," Ucap Kath sambil menjilat bibirnya.


Kedua wanita berdarah dingin terus mengobrol sambil berjalan menuju Goa Menangis, Goa yang dimana selalu terdengar suara tangisan setiap harinya.