Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 9



Entah sudah berapa lama anak itu berdiri di sana, di depan sebuah kediaman megah milik keluarga marquess. Sekali lagi ia membenarkan tudung yang menutupi wajah, menunduk, dan melirik pada pekerja yang lewat tanpa mempedulikannya—atau lebih tepatnya menjaga jarak, takut pada 'nasib sial' yang ia bawa.


Di mana dia? batin anak itu untuk ketiga kalinya.


Namun kekesalan anak itu tak dapat bertahan lama tatkala terdengar teriakan dari segala arah. Tiba-tiba pintu utama bangunan kediaman terbuka, dan dari sana para pekerja dan pelayan berhamburan keluar.


"Monster! Ada monster!" seru salah satu dari mereka.


Sementara para orang dewasa terus berlari hingga keluar gerbang, anak lelaki itu tetap berdiam di sana. Ia tak menoleh, bahkan sedikit pun hatinya tidak terpengaruhi oleh kepanikan yang menyebar. Kemudian setelah semuanya pergi, barulah perlahan ia melangkah menyusuri jalan kecil di samping bangunan. Berbagai pemikiran berkecamuk dalam kepala kecilnya.


Ia bertanya-tanya, makhluk mana yang mereka sebut "monster". Apakah dirinya, atau ada anak keempat lain di sini?


Waktu seolah tak sabar untuk menjawab pertanyaan anak itu. Begitu sepasang sepatu kulit lusuhnya mencapai taman belakang kediaman, di antara hamparan rumput dan bunga-bunga indah, ia melihat sesosok besar dipenuhi bulu legam. Cakar tajam pada kedua pasang kakinya mampu membuat siapa saja yang melihat merinding—tapi tidak untuk anak itu, benda tajam sudah sering dilihatnya selama di istana. Kemudian, tepat di bawah makhluk itu, terbaring seorang anak perempuan yang ketakutan. Cairan bening membasahi pipi dan cairan merah membasahi ujung rambut ungu pucatnya.


Marquess memiliki seorang anak perempuan seusiamu, jika beruntung menikahlah dengannya agar kehidupanmu bisa menjadi lebih baik. Meski aku yakin Marquess tidak akan mengizinkan.


Suara berat milik seorang pria berambut merah terngiang dalam kepala Shawn. Pria yang seharusnya ia panggil dengan sebutan "ayah", tapi tidak pernah sekali pun ia lakukan dari lahir.


Kalau dia anak perempuan Marquess, berarti aku harus berbuat baik padanya, kan? batin anak lelaki itu. Meski belum lama menyadari adanya kekuatan asing dalam tubuhnya, anehnya tak butuh waktu lama bagi Shawn untuk bisa mengendalikannya.


Beberapa hari lalu, seorang pria yang mengaku sebagai utusan dari Keluarga Plutonium sempat datang ke Istana Hitam dan memberinya beberapa buah buku mengenai sihir. Beruntung, Eloise sudah mengajari Shawn cara membaca sejak berusia 3 tahun, jadi di usia 5 tahun ini ia sudah cukup lancar.


Hanya saja, bagi Shawn buku itu sama sekali tak berguna. Menurut buku-buku itu, elemen sihir terbagi menjadi 5: api, air, tanah, udara, dan cahaya. Sedangkan elemen sihir yang dimiliki Shawn tidak termasuk satu pun dari kelima itu.


Shawn menutup mata dan mencoba berkonsentrasi, mengalirkan sesuatu yang terasa hangat dalam tubuhnya ke genggaman kedua tangan. Aliran mana berwarna keperakan pun muncul di sana, kemudian ketika Shawn membuka mata, dalam hitungan detik suhu di sekitarnya langsung berubah menjadi di bawah 0 derajat Celcius. Lapisan es sedikit demi sedikit melapisi taman belakang kediaman Marquess Plutonium, mulai dari rerumputan, bunga-bunga, hingga setengah dari dinding belakang kediaman.


Menyadari suhu yang berubah drastis, sosok berbulu legam itu langsung menoleh, menatap anak lelaki dalam balutan jubah.


GROAARRR!!!


Entah marah atau terancam, auman sosok itu menggelegar, seiring dengan langkahnya yang berlari menuju Shawn.


Tak.


Tak. Tak. Tak. Tak.


Namun langkah makhluk itu harus terhenti tatkala kristal-kristal es—yang entah dari mana asalnya—menembus dada dan punggung, membuat cairan merah mengalir dari sana.


Shawn mengangkat tangan, membuat mana berwarna keperakan menari indah memenuhi taman, kemudian ketika tangannya turun, kristal-kristal es menusuk makhluk itu dari segala arah.


Angin berembus kencang, membuat tudung yang dikenakan Shawn terjatuh, memperlihatkan helaian rambut berwarna perak dan mata biru legam di baliknya.


Begitulah bagaimana 'rahasia' Pangeran Keempat dapat menggunakan 'sihir kesialan' menyebar di dalam kediaman Plutonium. 'Sihir kesialan', karena elemen sihir tersebut tak pernah muncul dalam sejarah Kerajaan Lionheart sekali pun.


Beberapa saat kemudian, terdengar beberapa pasang langkah mendekat. Seorang pria berambut pirang ditemani beberapa pengawal lengkap dengan baju zirah baja. Seketika mereka ikut 'membeku' melihat es menyelimuti tempat mereka berdiri.


"Ayah!" Anak perempuan yang sejak tadi hanya membisu, langsung berseru sambil berlari ke arah pria itu, melewati Shawn begitu saja. Sedikit pun anak lelaki itu tak menoleh maupun berbalik, ia sama sekali tak ingin melihat ekspresi yang dipasang para orang dewasa itu. Tatapan ngeri yang ditujukan padanya. Tidak, ia tak ingin melihatnya!


"Demi membalas kebaikan anda ini, saya akan memastikan Pangeran Keempat mendapatkan perlakuan terbaik yang dapat kami berikan selama anda tinggal di sini."


Sebesit perasaan asing menggelitik dada Shawn. "Perlakuan terbaik"? Anak itu mengukir senyum miris. Mungkin ia akan lebih percaya dan bersikap biasa kalau Marquess malah mengutuk dan menyalahkannya atas bencana yang menimpa kediaman Plutonium ini.


Paling itu hanya ucapan sesaat karena sedang dilihat orang lain, batin Shawn.


Di luar dugaan, Marquess menepati janjinya. Selama di kediaman, tidak ada yang berani terang-terangan menghina Shawn. Meski tetap saja, bisik-bisik kecil, tatapan sinis, dan beberapa 'gangguan' tetap ia terima. Namun itu masih lebih baik dibandingkan perlakuan yang anak itu dapat selama berada di Istana Hitam.


Tak terasa, 5 tahun berlalu dan usianya sudah mencapai 10 tahun. Di kediaman itu, Shawn tumbuh menjadi anak yang tertutup dan selalu waspada. Tiada hari ia lewati tanpa menerka-nerka apakah makanannya aman—baik dari racun, kotoran, atau sebagainya. Tiada hari ia lewati tanpa mendapat tatapan sinis Marhioness dan penuh selidik Marquess.


Sedangkan Isaac, anak yang membuatnya berada di sini sekarang, tak pernah sekali pun muncul di hadapannya, juga tak pernah memberi tahu perkembangan mengenai pembunuh Eloise—hal yang semula anak itu janjikan dan alasan Shawn bersedia pindah kemari. Kalau pun berpapasan, remaja itu hanya akan memberi hormat kemudian segera pergi, seolah baru melihat monster.


Hanya Brianna, anak perempuan yang Shawn selamatkan yang menemani hari-harinya. Meski selalu bersikap baik, bahkan mengajaknya belajar dan bermain, entah kenapa Shawn tidak bisa menerima sikap baik itu tanpa curiga—tidak seperti kepada Eloise.


Suatu hari kediaman Plutonium kedatangan tamu dari keluarga duke. Tanpa disuruh, Shawn pun langsung bersembunyi di dalam kamarnya di bawah tanah. Tanpa menimbulkan suara dan tanpa beraktivitas, menunggu sampai purnama terbit agar ia bisa naik dan mencari makan. Namun di tengah perjalanannya ke dapur, saat ia masih melangkah di lorong gelap, Shawn bertemu dengannya, remaja lelaki berambut hitam. Bola mata hitam pekat itu seolah hendak melahap Shawn begitu sang pangeran masuk ke jarak pandangnya.


"Selamat malam," ucap remaja itu sambil meletakkan tangan di dada, "apakah anda pangeran keempat yang dirumorkan tinggal di kediaman Marquess Plutonium, yang mendapat julukan Jinxed Prince sejak lahir?"


Refleks Shawn mengepalkan tangan. Sudah lama sekali julukan itu tidak terdengar di telinganya, tepatnya sejak ia tinggal di kediaman ini.


"Pangeran, jangan memasang wajah seperti itu, saya kan hanya bertanya." Ia mengangkat bahu dan berjalan ke arah Shawn. "Bukankah ini arah dapur? Astaga," ia menepuk dahi, "apakah Pangeran ingin mencuri makanan keluarga yang sudah berbaik hati ingin menerima 'kesialan' seperti anda?"


Kepalan tangan yang terbentuk semakin erat. Shawn berusaha menahan diri. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah keluarga yang sudah sangat 'bermurah hati' padanya.


"Perkenalkan, nama saya Harry Lawrencium, putra dari Duke Lawrencium saat ini," ucapnya lagi. "Jika anda mau, anda bisa bekerja di rumah saya sebagai pelayan. Saya berjanji akan memastikan gaji dan segala kebutuhan hidup anda terpenuhi. Yah, meski sedikit melelahkan, tapi bukankah itu lebih 'terhormat' dibandingkan menjadi 'benalu' di kediaman Marquess?"


Saat itu Shawn masih berusaha menahan diri, tapi lagi, pada dasarnya kesabaran Shawn memang tidak sebanyak itu. Lagipula pemuda di hadapannya memiliki rambut dan mata hitam, bukan rambut merah dan mata cokelat yang Eloise peringatkan harus Shawn hindari.


"Menjadi pelayan, ya..," Shawn bergumam pelan, manik biru legamnya menatap Harry tajam.


"Ya, atau jangan-jangan anda berpikir menjadi 'anjing yang menggigit tangan tuannya'? Tapi maaf, putri keluarga ini adalah milik saya, jadi jangan pernah berpikir anda dapat menikahinya," Harry tersenyum sinis, "apalagi anda adalah monster, mana mungkin Nona Brianna bersedia hidup selamanya bersama anda."


Shawn mengepalkan tangan erat, mencoba menekan kesabarannya semaksimal mungkin.


"Yah," ucap Harry lagi, kemudian berjalan melewati Shawn, "apalagi anda adalah pembunuh. Seorang anak yang mampu membunuh ibunya, tidak akan ragu merenggut nyawa orang lain, benar?"


Jantung Shawn berdegup kencang mendengar kalimat terakhir Harry. Napasnya memburu seiring panas yang menjalar di seluruh tubuh. Sepasang manik legam itu kemudian menoleh ke belakang, menatap tajam punggung putra duke yang semakin menjauh.


Keesokan harinya, tak perlu dijelaskan lagi, Harry Lawrencium ditemukan dalam keadaan tertusuk kristal es di bagian kedua tangan dan kaki ketika terbangun dari tidurnya. Hal itu memang tidak berdampak pada nyawanya, tapi itu menyebabkan efek permanen pada aliran mana pemuda itu. Selamanya, satu-satunya keturunan Lawrencium generasi ini tak akan pernah bisa menggunakan sihirnya secara maksimal.


Sebagai bentuk 'kompensasi' kepada salah satu keluarga Pahlawan Agung—karena kejadian tersebut terjadi di kediaman Plutonium 'tanpa ada yang tahu penyebabnya'—dan agar rumor tidak menyebar, seminggu kemudian Pangeran Keempat mendapat perintah untuk "tinggal dan menjaga keamanan Hutan Roldwix", hutan yang terletak di pinggiran March Plutonium. Hal tersebut tak lain karena diyakini kemalangan yang menimpa putra Duke Lawrencium disebabkan oleh nasib buruk yang dibawa Jinxed Prince.


Saat itu Shawn baru berusia 10 tahun, tapi saat menyampaikan titah sang raja, sedikit pun tak terlihat rasa simpati dalam bola mata hijau sang marquess. Namun tepat sebelum menginjakkan kaki keluar dari bangunan kediaman, Marquess yang mengantar kepergian Shawn sempat berpesan, "Tolong jangan menaruh dendam pada keluarga ini. Semua ini saya lakukan demi kebaikan anda, Pangeran Keempat."