Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 5



Sepasang netra hijau memantulkan bayangan rembulan di balik jendela. Tanpa sadar Brianna menyentuh bibir, masih terasa jelas rasa masakan Shawn yang ia santap sebagai makan malam tadi: sate kelinci putih. Ini juga salah satu alasan Brianna rutin berkunjung ke rumah ini setiap beberapa waktu sekali, yaitu dapat memakan makanan lezat yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan di kediamannya.


Di luar sana, salju kembali turun, membuat jendela yang memantulkan bayangan gadis itu mengembun. Brianna menatap kaca jendela yang kian lama kian menggelap, membayangkan bagaimana Shawn yang berusia sama dengannya harus menghadapi 57 orang pembunuh bayaran di tengah malam yang gelap. Kemudian ia teringat akan cairan merah di ujung pakaian pangeran itu, dan gelagat Shawn yang sesekali memegangi dada secara tak biasa.


Tok. Tok. Tok.


Manik Brianna refleks mengerjap tatkala jendela di hadapannya tiba-tiba diketuk. Gadis itu mendengus, dengan malas membuka jendela. “Ada apa?” tanya Brianna datar, menatap kesal sepasang bola mata hitam milik pemuda yang berdiri di depannya. “Astaga, baru ditinggal sebentar Nona-ku ini langsung bersikap dingin sekali.”


Sudut kanan bibir Brianna terangkat bersamaan dengan tatapan sinis yang terpancar dari netra ular viper itu. Kalau tidak mengingat pemuda di hadapannya ini adalah teman sang kakak sekaligus putra dari keluarga duke, ingin rasanya detik ini juga gadis itu muntah ke wajah ‘biasa’-nya.


Menurut Brianna, pemuda yang dijuluki sebagai Calon Suami Tertampan Nomor 1 Lionheart ini sebenarnya tidak tampan-tampan sekali, kalau bukan karena latar belakang keluarganya. Lihatlah rambut dan mata berwarna hitam biasa itu, sama sekali tidak memancarkan kharisma. Tubuhnya memang tinggi, tapi sama sekali tidak kekar sebagaimana pemuda Lionheart lain—wajar saja, Harry adalah penyihir dan bukan pendekar pedang, jadi sekali pun tubuhnya tidak pernah dilatih. Untuk ukuran bangsawan, bisa dibilang pipi Harry sedikit terlalu gembul—tapi dengan fakta dia adalah keturunan Geraldo Lawrencium tidak ada yang berani terang-terangan mengkritik hal tersebut.


Harry yang merasa lucu dengan ekspresi Brianna tertawa kecil. “Jangan begitu. Aku hanya ingin bertanya apa kau mendapat petunjuk lain di rumah monster ini?"


Brianna tersentak, tapi berusaha menyembunyikannya dengan senyuman. “Untuk saat ini belum, tapi mungkin kita bisa mendapatkannya jika tinggal beberapa hari lagi. Seperti yang kau bilang, 'dia' monster, kan?"


Harry sempat melirik Brianna untuk beberapa saat, kemudian mengangguk puas. "Baiklah, tapi apa pun yang terjadi, kita kembali 2 hari lagi."


"Kenapa buru-buru sekali? Siapa tahu kita bisa menemukan jejak pembunuh bayaran yang selamat jika menyelidiki lebih lama," tanya Brianna.


“’Selamat’?” Seketika tatapan yang dipancarkan sepasang manik hitam itu berubah, seperti kegelapan yang hendak melahap mangsanya. “Brianna, kau pikir ada yang bisa selamat dari Pangeran Pembawa Sial itu? Tanpa kemampuan pedang maupun sihir, monster itu bahkan bisa membunuh 57 orang tanpa terluka sedikit pun! Entah yang akan terjadi kalau sedikit saja dia menyentuh pedang!”


"Bahkan sejujurnya, aku sama sekali tidak tenang membiarkanmu berdua saja dengan monster itu di rumah ini!" seru Harry frustrasi, mengabaikan butiran salju yang mendarat di tubuhnya.


Brianna menegup ludah. Fakta bahwa pangeran keempat kerajaan ini bisa menggunakan sihir hanya diketahui oleh orang-orang tertentu di kediaman Marquess Plutonium, jadi wajar Harry berpikir demikian.


“Aku tahu,” ucap Brianna pelan, "tapi kemampuanku juga bukannya bisa diremehkan olehnya. Jadi tolong jangan buat keributan yang tidak perlu."


Spontan Harry menoleh, tidak biasanya gadis itu langsung setuju dengan pernyataannya. Sudut kanan bibir pemuda itu terangkat. Apakah Brianna akhirnya sadar seberapa mengerikan Jinxed Prince itu?


“Ngomong-ngomong, apa kau sudah menemukan tempat tinggal?” tanya Brianna mengalihkan pembicaraan. Harry mengangguk, kemudian menunjuk arah timur laut, “Di sana ada sebuah gua yang berada di lokasi cukup tertutup. Setidaknya aku bisa bertahan untuk 2 malam.”


Brianna menatap arah yang ditunjuk Harry lamat-lamat, tersenyum. “Begitu rupanya.”


***


“Yang Mulia, bangun!” Kesadaran Shawn seolah ditarik paksa oleh suara itu. Samar, Shawn dapat melihat wajah gadis yang terus mengguncang tubuhnya dari sela-sela kelopak mata yang ia paksa untuk terbuka.


“Ada apa?” suara serak Shawn yang baru bangun bertanya, kemudian duduk dan mengusap netra.


Jika dirinya tidak salah ingat, sebelum tidur ia dan Brianna sudah sepakat bahwa gadis itu akan tidur di kamarnya, sedangkan Shawn tidur di sofa ruang tamu. Lalu kenapa lagi gadis itu membangunkannya di tengah malam? Apakah ia tidak lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari pusat March Plutonium ke hutan di pinggiran kerajaan ini?


“Yang Mulia, bisakah anda mengikuti saya sebentar?” tanya Brianna tiba-tiba, kemudian berlutut dan mengepalkan tangan kanan di dada. Kelakuan Brianna barusan membuat kesadaran Shawn sepenuhnya terkumpul dan spontan menyuruh gadis itu berdiri. “Katakan saja, Nona. Anda tidak perlu berbuat sampai seperti ini….”


Kena kau. Diam-diam Brianna tersenyum, memang waktu untuk ‘memaksa’ si pangeran keempat adalah saat ia baru bangun tidur, saat ia belum dapat berpikir jernih dan bertindak spontan. “Kalau begitu, mari ikuti saya, Yang Mulia,” ucap Brianna sambil melempar sebuah jubah gelap ke arah pemuda itu, kemudian tanpa aba-aba mengenggam tangan Shawn begitu ia selesai memakainya dan menarik pemuda itu keluar, berjalan di bawah naungan langit malam dan di antara hamparan salju.


Untuk kesekian kalinya Shawn mengerjap beberapa kali, pasrah berjalan mengikuti gadis berambut ungu pucat yang menarik tangannya. Sinar bulan menjadi satu-satunya pencahayaan di tengah hutan yang dipenuhi pepohonan lebat. Sesekali Shawn dan Brianna harus mengangkat langkah mereka tinggi-tinggi demi menghindari akar pohon yang menjalar di permukaan.


Dia tenang sekali, batin Shawn sambil diam-diam mengamati wajah Brianna yang terlihat sangat fokus ke depan, berarti dia tidak melihatnya kan, mayat-mayat itu? demikian kekhawatiran yang muncul sejak sang pangeran melihat kehadiran Brianna di depan pintu rumahnya.


Namun di saat bersamaan, sebuah pemikiran lain muncul dalam benak Shawn. Tapi bagaimana kalau dia sudah melihatnya dalam perjalanan kemari, tapi pura-pura tidak tahu apa-apa? Kalau benar begitu..., apa yang Brianna pikirkan tentangku sekarang?


Tanpa sadar Shawn mengepalkan tangan satunya. Ia menggeleng, berusaha mengusir jauh-jauh pemikiran buruk barusan. Bagi Shawn, bisa dibilang Brianna adalah 'teman', satu-satunya manusia lain yang berinteraksi dengannya. Apalagi mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Alasan itu saja cukup untuk membuat Shawn tidak ingin dipandang buruk oleh gadis itu.


"Apakah Yang Mulia tidak mau bertanya kita akan pergi ke mana?" akhirnya setelah sekian lama hening, Brianna memulai percakapan, membuat Shawn menoleh.


Pemuda berambut keperakan itu tersenyum simpul. "Jika Nona memang berniat memberi tahu saya, maka sejak awal anda pasti sudah mengatakannya bahkan sebelum menarik tangan saya."


"Hmm.... Berarti maksud Yang Mulia, anda tidak mau bersusah payah bertanya karena saya memang tidak pernah berniat memberi tahu?" tawa renyah lolos dari bibir Brianna. "Dari dulu anda sungguh 'pemalas'."


"'Pemalas'?" Alis kanan Shawn terangkat, tidak terima dengan perkataan gadis di depannya. "Pertama, untuk apa bersusah payah meminta jawaban dari gadis keras kepala seperti anda, Nona Brianna Plutonium? Bertanya pada seekor lalat bahkan lebih baik daripada bertanya pada anda," ucap Shawn kesal, hingga tanpa sadar menumpah segala isi pikirannya.


Embusan angin malam membelai wajah cantik Brianna yang kini merekahkan senyum. "Astaga, jadi sekarang Yang Mulia membandingkan saya dengan lalat yang kotor?"


"Kenapa tidak?" Tanpa sadar, Shawn jadi ikut ke dalam permainan Brianna. "Kalau dibandingkan, bahkan lalat-lalat kotor itu lebih sopan dari anda."


"Maksud Yang Mulia, semua lalat meminta izin dulu sebelum masuk ke rumah Yang Mulia?"


"Tentu bukan," Shawn menggeleng, kemudian menghela napas pasrah seolah ketidaktahuan Brianna sudah tidak tertolong lagi, "saat masuk ke rumah orang, lalat masuk tanpa menimbulkan keributan apapun, tapi anda? Jangankan keributan, anda selalu mengancam saya dengan menggunakan nyawa anda! Nyawa anda!"


Mendengar kalimat terakhir Shawn, Brianna mencoba menahan tawa.


"Saya bahkan masih ingat dengan jelas 5 bulan lalu, saat anda datang sambil mengarahkan belati ke dada dan berteriak kalau saya tidak muncul di hadapan anda, maka saya harus bersiap membereskan mayat seorang gadis di tengah hutan ini seorang diri."


Kali ini mau tak mau Brianna tak kuasa menahan tawa sampai perutnya terasa sakit. "Seperti yang sudah saya bilang.., kalau tidak begitu, Yang Mulia tidak akan mau muncul di hadapan saya..," balas Brianna di sela-sela tawa. “Kali ini hanya kebetulan saya datang bersamaan dengan kepulangan Yang Mulia, tapi siapa yang tahu ke depannya?”


Shawn berdecak sambil menggeleng tak habis pikir, "Apa putri Marquess Plutonium ini masih tidak mengerti—"


Ah, "putri Marquess Plutonium", tiga kata tersebut seketika menyadarkan Shawn akan kecerobohannya.


Dalam hitungan detik pemuda itu langsung menunduk dan meletakkan tangan di dada, "Mohon maafkan ketidaksopanan saya barusan, Nona."


Brianna tidak menjawab, juga tidak menoleh, terus fokus pada jalanan di depan dan memastikan tangan Shawn tidak terlepas darinya. "Sayang sekali, padahal aku cukup menikmatinya," gumam Brianna pelan, tapi dari jarak sedekat ini tentu Shawn dapat mendengarnya.


Seketika suasana di antara kedua remaja itu kembali hening.


Saat malam semakin gelap dan lolongan hewan buas makin jarang terdengar, tiba-tiba Brianna berhenti, membuat Shawn yang berada di belakang mengikuti. Gadis bermanik hijau warisan sang Marquess melepaskan genggaman tangannya dari Shawn dan berbalik, menatap lurus ke dalam sepasang netra berwarna biru legam itu.


"Pangeran Shawn frost Uranium, ayo bertaruh dengan saya!" Angin berembus begitu genap ucapan Brianna barusan, memainkan ujung jubah panjang yang dikenakan keduanya.


Shawn mengerjap, tidak menunjukkan reaksi khusus terhadap tawaran Brianna. Bola matanya memantulkan bayangan sepasang manik hijau seumpama ular viper, yang menyembunyikan 'bisa' di balik keramahan dan senyum mereka.