
Tak perlu menunggu lama, ratusan bibir di tanah lapang itu langsung berseru, memancing agar pertarungan antara seorang pemuda dan seorang gadis segera meledak. Mata mereka terbuka lebar-lebar, haus akan keributan, haus akan rintihan dan darah dari si 'lemah' yang terbantai.
Memang, jika membandingkan antara seorang gadis yang mengacungkan belati dengan penuh percaya diri dan seorang pemuda bertubuh ringkih yang terlihat tidak pernah memegang pedang, sudah dapat dipastikan siapa pemenang dari pertarungan tersebut.
Namun dalam lautan manusia yang terus berseru, sepasang manusia yang dibicarakan itu masih larut dalam keheningan mencekam, seolah satu gerakan saja dapat langsung memutus nyawa lawan di hadapan mereka. Tapi itu tak berlansung lama, sebab tiba-tiba sang pemuda tertawa sinis. "'Pantas'?" ucapnya. "Memang siapa kau berani menilaiku pantas atau tidak?"
Ucapan Shawn bak minyak yang dituangkan ke api yang membara. Dalam sepersekian detik gadis itu langsung menambah kekuatan pada belatinya. Shawn melompat, menghindar dari gerakan susulan cepat yang diarahkan sang gadis hingga terpojok mundur beberapa langkah.
Syung!
Belati gadis itu berjarak hanya beberapa mili dari bola mata Shawn, tapi dengan refleks yang cepat pemuda itu kembali melompat, bahkan mengunci pergerakan lengan sang gadis dari belakang.
Melihat hal tidak terduga, seruan di sekeliling mereka semakin menjadi, bagai penonton sirkus yang melihat atraksi mengejutkan.
Sudut kanan bibir gadis itu terangkat, menatap pemuda di belakangnya, "Dengan refleks secepat itu, aku yakin kau tidak akan kesusahan kabur sambil menyelamatkan kedua orang tuamu, kan?"
Sorakan semakin memanas, beberapa mulai menghujat Shawn yang tega membiarkan kedua orang tuanya terbunuh dan kabur begitu saja. Alis Shawn berkedut. Lama-lama omong kosong ini menjadi semakin menyebalkan.
"Agatha!" satu seruan itu sukses membungkam setiap bibir yang terbuka, menurunkan sudut bibir yang terangkat, dan membuat setiap kepala menoleh. Pria berambut hitam legam dengan mimik wajah tegas itu berjalan membelah lautan manusia, bahkan langkahnya saja cukup untuk 'memerintah' setiap yang hadir di sana memberinya jalan.
"Apa lagi-lagi kau membuat keributan yang tidak perlu?" ucap pria itu setengah jengkel. Sebaliknya, gadis yang dikatai demikian justru menyungging senyum, menyingkirkan lengan Shawn dari lengannya, "Aku hanya memastikan kelayakan setiap partisipan perburuan kali ini." Sepasang netra amber itu melirik sekitar begitu genap ucapannya, membuat suasana mendadak menjadi mencekam.
Kehabisan kata-kata, pria yang baru tiba itu mendengus sambil memijit kepala. "Baiklah, terserah kau saja," ucapnya pasrah. Dengan kuasa yang baru saja diberikan sang pemimpin perburuan, Agatha langsung menunjuk pemuda yang tadi bertarung dengannya. Pemuda berambut hitam dengan mata merah menyala, "Kau tadi bertanya siapa aku menilai kau pantas, kan? Aku adalah wakil ketua perburuan ini, Agatha Mayers. Dan selamat, menurutku kau cukup pantas mengikuti perburuan ini."
'Agatha Mayers'? batin Shawn tak menyangka dapat bertemu dengan gadis bernama sama dengan nama yang dulu sempat selalu bergema di kediaman Marquess.
Shawn mendengar banyak tentang Agatha Mayers saat masih tinggal di kediaman Plutonium dulu. Tidak banyak yang Shawn ingat mengenai gadis itu. Namun kalau tidak salah banyak pelayan yang menyebutnya sebagai 'pemberontak'. Hal tersebut tak lain karena ia hanyalah seorang rakyat biasa, perempuan pula, tapi berani mengarahkan pedangnya pada putra pertama dari keluarga Pahlawan Agung, Isaac Plutonium.
Katanya, Agatha Mayers memiliki kulit gelap dengan manik amber mengerikan bagai hewan buas di tengah malam. Sepasang manik dengan ujung runcing itu mampu menyayat setiap makhluk yang masuk ke dalam jarak pandangannya. Rambut pirangnya bagai benang bergelombang yang mampu menjerat siapa saja ke dalam kebinasaan. Kelakuannya sangat jauh dari kata santun. Jangkankan kepada yang muda, ia bahkan tidak pernah berlaku hormat kepada orang tua.
Namun tentu, bisa saja Agatha Mayers yang berdiri di hadapannya kini bukan Agatha Mayers yang 'itu'.
"Kemudian, kau, kau, dan kau."
Selain Shawn, ada beberapa orang beruntung yang berhasil menarik perhatian telunjuk Agatha: sepasang pemuda dan gadis yang tampak datang bersama, serta seorang gadis misterius yang menutupi seluruh wajah dan tubuhnya dengan jubah. Selain tingginya yang hampir setara dengan Shawn, tidak ada kata-kata yang dapat mendeskripsikan penampilannya karena tertutup jubah.
Jadilah dari ratusan orang pendaftar, tim perburuan yang dinaungi Arsenic Guild ini hanya berisikan 6 orang saja. Namun tentu saja, itu tidak masuk akal!
"Sepertinya ada yang salah di sini!" pria kekar berambut jingga dengan gagah berani maju, terdengar ketenangan dalam suara beratnya. Padahal dari sifat yang selama ini ia tunjukkan, pastilah di dalam hati ia sudah memaki entah berapa kali. "Apa benar kau wakil ketua perburuan yang ditunjuk resmi oleh guild?"
Pertanyaan lancang itu spontan mengundang tatapan dingin dari sang ketua, Herald. Pria tinggi bertubuh tegap, berambut hitam, dengan tato "33" di lehernya itu langsung mengeluarkan pedang yang semula tersarung di pinggang. "Apa aku bisa mengasumsikan pertanyaanmu itu sebagai bentuk penghinaan pada Arsenic Guild?" ucap Herald sambil mendekatkan ujung pedang tepat ke bawah dagu pria itu. "Apa maksudmu Arsenic Guild sepayah itu hingga sembarang orang bisa mengaku sebagai wakil ketua?"
Angin berembus, menggetarkan bulu kuduk setiap manusia yang terdiam. Pria kekar bermanik gelap itu perlahan melihat ke bawah, mencoba melihat betapa tajam pedang yang diarahkan padanya.
"Ketua, tenangkan dirimu," ucap Agatha sambil memegang lengan Herald, "orang ini pasti sudah mengerti hanya dengan perkataanmu saja. Iya, kan?" Pertanda akan petaka terlihat jelas dari dua sudut bibir sang gadis yang terangkat, memaksa kepala botak pria itu mengangguk cepat.
"Dari tanda di lehermu itu, kau pasti sudah bergabung dengan Arsenic selama lebih dari 5 tahun. Kuharap kau tidak berniat menjadikan alasan kotor seperti 'penghinaan' sebagai alasanmu keluar dari sini," lanjut Agatha lagi, masih dengan senyum yang terulas di paras indahnya.
Tanpa merasa perlu melihat ekspresi yang kini ditampilkan orang-orang di sana, Herald dan Agatha berbalik. "Hanya orang-orang yang dipilih Agatha Mayers yang boleh mengikuti kami! Sisanya, silakan pergi!"
Menuruti ucapan sang ketua, Shawn dan orang-orang yang ditunjuk lain berjalan mengikuti Herald dan Agatha. Keempatnya dituntun memasuki sebuah ruangan berukuran sedang. Sinar terang lampu LED di atas sana menjadi hal pertama yang menyambut netra. Beberapa kursi kayu ditata mengelilingi sebuah meja persegi di tengah ruangan. Beberapa tanaman hijau tinggi menghiasi sudut-sudut.
"Silakan duduk, semuanya," ucap Herald begitu dirinya sendiri duduk. "Kalau begitu, mari kita mulai dari perkenalan singkat masing-masing."
"Benar," timpal Agatha, kemudian sepasang bola mata tajamnya terarah pada gadis muda di balik jubah. "Aku paling penasaran tentangmu. Dimulai dari kau saja!"
Menanggapi ucapan Agatha, gadis muda itu mengangguk. "Panggil saja aku Vio," ucap gadis itu dengan suara yang sangat lembut, "dan keahlianku adalah hipnotisme."
"Hipnotisme?" refleks Agatha terkejut, sebab keahlian seperti itu sangat jarang di Lionheart. Berbanding terbalik dengannya, Herald merespon dengan datar, "Itu keahlian yang tidak terlalu berguna, tapi bisa diduga dari perempuan sepertimu." Kemudian ia menoleh pada gadis berambut hitam di sebelah Vio, "Apa keahlimu juga sama?"
Cepat-cepat gadis yang ditatap menggeleng, dengan suara tegas nan lantang mengatakan, "Namaku Margareth, dan aku sudah mengayunkan pedang sejak usiaku 3 tahun—"
"Bagaimana seorang rakyat biasa bisa mengayunkan pedang di usia semuda itu?" potong Herald tak sabaran, mengerutkan dahi menatap gadis itu penuh selidik.
"Dulu saat kami kecil, ada seorang pendekar pedang yang menetap ke desa kami untuk menikmati masa tuanya. Beliau berbaik hati mengajari anak-anak desa, termasuk aku dan Margareth," pemuda berambut biru navy yang menjawab, "sebelumnya namaku Zein, kakak Margareth." Berbeda dengan Margareth, suara Zein terkesan angkuh dan dingin, bahkan tatapan yang dilontarkan sepasang manik legam itu pun membuat Herald tidak nyaman.
"Lalu kau? Di mana pedangmu?" kali ini Herald beralih menatap pemuda yang duduk di ujung sebelah kiri, di sebelah Vio. Pemuda berambut hitam dan bermanik merah yang diam-diam menggerak-gerakkan jari gelisah di bawah meja untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia merasakan perasaan yang sama seperti saat pertama kali tiba di Penginapan Terang Bulan dan berhadapan dengan wanita berambut hijau di meja resepsionis.
Bedanya, kali ini tidak ada anak tidak tahu sopan santun berambut hitam yang akan membantu Shawn berbicara.
"Aku... tidak bisa menggunakan pedang," jawab pemuda itu dengan suara yang bergetar, seolah tengah mengakui dosa-dosa terberat dalam hidup.
"Kau tidak bisa menggunakan pedang?" seru Agatha tak percaya, apalagi ketika melihat Shawn mengangguk mengamini ucapannya. Padahal gerakan yang tadi pemuda itu tunjukkan saat melawan dirinya jelas gerakan seorang petarung.
Brak!
Lima orang dalam ruangan persegi itu tersentak mendengar suara meja yang tiba-tiba digebrak, mencerminkan amarah yang teramat dari pria berambut hitam itu. "Kenapa kau mendaftar kalau kau bahkan tidak bisa menggunakan pedang?"
"Uang," satu kata yang lebih dari cukup untuk mendeskripsikan tujuan Shawn, dan lebih dari cukup pula membuat semua orang di ruangan ternganga.
Lagipula aku tidak butuh pedang untuk membunuh serigala-serigala itu.
"Bagaimana kalau begini saja?" Spontan semua perhatian tertuju Margareth. Gadis bertubuh semampai dan berkulit cerah itu tersenyum menatap Shawn, "Biar aku yang mengajarinya menggunakan pedang. Kalau setidaknya dia bisa menguasai dasar-dasarnya saja, maka biarkan dia tetap mengikuti perburuan ini."
Keheningan kembali menyergap, Herald beralih menatap Shawn tajam, bak gagak yang tak sabar untuk merobek bagian-bagian tubuhnya. "Berapa uang yang kau butuhkan?" tanyanya. "Aku akan memberikan sebanyak yang kau butuhkan. Jadi, pergilah."
Kalau ini situasi normal, Shawn pasti sudah senang hati menerima tawaran yang diberikan pria itu. Namun tidak, tidak dengan tatapan sinis dan nada bicara yang seolah mengusir Shawn itu. Apalagi, pria itu adalah bagian dari Arsenic Guild yang sempat mengincar nyawanya.
"Aku..." Ucapan Shawn terhenti tatkala ia menyadari bahwa pria di hadapannya itu tak memiliki tato berbentuk "33" di lehernya. Shawn kemudian menoleh pada Agatha dan mendapati hal yang sama.
Ini tidak benar.
"Bagaimana?" melihat Shawn yang hanya diam, ketua perburuan bertanya lagi.
Shawn mengerjap, sepasang manik biru di balik lensa kontak itu menatap lurus ke dalam bola mata hazel.