Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 21



"Agatha!" Sepasang bola mata berwarna hazel membulat sempurna. Kaki yang menopang tubuh pria berambut hitam itu bergetar. Ia menatap ngeri kepulan asap dan debu beberapa meter di depan. Jantungnya seolah hendak berhenti berdetak membayangkan entah bagaimana nasib gadis berambut pirang di dalam sana. Baru tiga langkah pemuda itu berlari, sebuah benda logam kecil berbentuk nanas kembali dilemparkan.


DUAR!


Asap membumbung tinggi. Tekanan angin disertai debu dan serpihan logam terlontar ke berbagai arah, memenuhi sejauh mata memandang. Herald refleks berhenti, melindungi wajah dengan salah satu lengan. Dalam balutan asap dan debu, pakaian dan rambut sang ketua perburuan tampak tersibak oleh kekuatan dari ledakan granat barusan. Satu dua pecahan logam sukses merobek mantel dan menggores kulitnya.


Aku tidak tahu mereka benar-benar bodoh atau amatiran, kalau dilempar sejauh itu tentu tidak akan bisa membunuhku.


"Inilah akibatnya telah berani menghina kami, 'Ketua'!" terdengar seruan berat dari luar lingkup asap tersebut.


"Kau mungkin bisa masih bisa berlagak dan mengangkat kepalamu tinggi-tinggi sekarang. Tapi ingatlah, hari ketika Muinaru menguasai kerajaan adalah hari ketika kau kehilangan kepalamu!"


'Muinaru'? tanya Herald dalam hati. Jadi, semua ini ada hubungannya dengan Muinaru?


Tidak, sekarang bukan saat yang tepat memikirkan siapa dalang di balik semua ini. Perlahan, Herald mencoba meraih pedang panjang yang tersarung di pinggang dengan tangan satunya. Ia menutup netra, memfokuskan pendengaran pada situasi sekitar. Mencoba menembus balutan asap dan tekanan energi dari granat, hingga kemudian berlabuh pada suara sepatu kulit yang bergesekan dengan salju. Tap.


Arah utara, batin Herald lagi.


Herald menarik napas. Kemudian secepat kilat tubuh pria itu menerobos kepulan asap, berlari ke arah suara barusan terdengar. Kemudian ketika dirasa cukup, tangan kanan sang ketua perburuan membentuk sudut lurus, membiarkan ujung pedangnya menembus sesuatu yang 'lunak' di depan.


Srash!


Bau anyir samar tercium. Cairan merah kental menempel di ujung pedang ketika ditarik.


"K-kau!"


Tanpa sempat memberi waktu kepada yang lain untuk merespon, Herald langsung bergerak lagi. Pria itu melompat dari satu titik ke titik lain, menancapkan pedangnya ke dada setiap orang yang masuk ke pendengaran.


"Kau ini benar-benar cari mati, ya!" Pria yang sejak tadi tidak bergerak, bahkan menahan napas saking takutnya, berlari sambil menghunuskan pedangnya pada Herald. Alih-alih langsung berbalik dan menangkis, pria dengan tato "33" di leher itu malah masih sempat tertawa sinis.


"Rasakan ini!" Tepat sebelum ujung pedang menyentuh pakaian, dalam sedetik Herald melompat melewati atas kepala sang penyerang, kemudian balas menusukkan pedangnya menembus dada pria itu dari belakang seiring gerakan kedua kakinya mendarat di tanah.


Srash!


Kali ini napas pria itu benar-benar tercekat, bukan karena takut, melainkan 'malaikat kematian' yang datang menjemput. Percikan darah menyebar ketika Herald menarik pedangnya dengan kasar, membuat pakaian pria itu mulai basah oleh cairan merah yang mengalir dari tubuhnya. "D-demi ke-jayaan... Muinaru!" ucap pria itu untuk kali terakhir sebelum tubuh kakunya tumbang di salju.


Tanpa sedikit pun belas kasih, Herald menatap datar satu per satu tubuh tak bernyawa akibat ulahnya, kemudian mengayunkan pedang pada udara kosong untuk membersihkan cairan merah yang menempel di sepanjang senjata besi.


Wushh!


Refleks kedua netra Herald terbuka, dengan cepat ia menoleh ke arah tubuh Agatha berada semula.


"Minggir, kau bodoh!"


DUARR!


Satu lagi granat diledakkan ke arah mereka. Asap disertai pecahan logam terlontar ke mana-mana.


"Aduh...," keluh Herald tatkala tiba-tiba tubuhnya didorong oleh seseorang sampai terjatuh ke salju.


"Kau ini bagaimana, masa tidak melihat ada yang ingin melempar granat di belakangmu? Bagaimana kalau aku tidak sempat mendorongmu tadi?" Belum sempat Herald melanjutkan keluhannya mengenai punggungnya yang sakit maupun luka akibat potongan logam granat, telinganya lebih dulu dipekakkan oleh suara sopran seorang gadis.


Herald perlahan membuka mata. Ia dapat melihat jelas wajah Agatha di antara bayangan yang menimpa wajahnya, juga luka gores di bawah mata gadis itu. Namun, apa katanya? Gadis ini masih sempat mengkhawatirkan dirinya, sang 'ketua' di sini?


Herald menghela, tidak habis pikir bagaimana mungkin Agatha tidak pernah berubah baik dulu maupun sekarang.


Ctak!


"Hei!" Kini giliran Agatha yang mengeluh sambil memegang dahi yang memanas akibat ulah Herald yang kini sudah beranjak duduk.


Tap.Tap. Tap. Beruntung bagi Agatha, waktu tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk bertengkar lama. Suara barusan menandakan ada seseorang yang mencoba melarikan diri.


"Ketua," Herald mengerjap, merasakan tengkuknya mulai merinding, "haruskah aku mengejarnya?" tanya Agatha dengan sebuah senyum terulas di wajah. Sekilas kedua mata runcingnya seolah menyala, siap melihat darah tertumpahkan di atas salju.


Lagi, Herald menghela, kemudian mengibaskan tangan tanda gadis itu bebas melakukan yang ia mau. "Berhati-hatilah, jangan sampai terluka lagi," ucap Herald sambil menatap lurus ke dalam netra amber yang memantulkan bayangan dirinya. Sedikit pun amarah yang ada dalam ucapannya barusan tak terdengar lagi, bergantikan lembut dan khawatir disertai jemari pria itu yang mengusap lukas gores di wajah Agatha.


"Baiklah, aku minta maaf sudah membuatmu khawatir."


Detik berikutnya, sekali lagi sepasang netra hazel milik Herald membulat. Kali ini bukan karena ada granat yang dilempar ke arah mereka, melainkan kehangatan dari bibir Agatha yang mendarat tepat di dahinya. Spontan merah menguasai pipi pria bertubuh tegap itu, diikuti dengan bibirnya sendiri yang bergetar.


Sebaliknya, sang pelaku yang membuat Herald demikian justru mengukir senyum puas. "Aku pergi dulu!" Kemudian buru-buru kabur sebelum benar-benar terkena 'api' yang berubah menjadi 'ledakan' akibat 'minyak' yang baru ia tuang.


Padahal sudah bukan anak kecil lagi, tapi reaksinya masih saja seperti itu, batin Agatha seraya tertawa kecil. Kaki jenjangnya berlari lincah di antara celah pepohonan.


Namun tak berselang lama, perhatiannya tersita oleh sebuah sosok yang kuyup oleh cairan merah, berjalan sempoyonagan sambil sesekali bertumpu pada batang pohon. Gadis berambut pirang itu refleks menghentikan langkah, "Noah?" kemudian dengan cepat memapah sosok tersebut sebelum ia jatuh karena kehilangan kesadaran.


"Noah, apa yang terjadi? Apa Muinaru juga melakukan ini padamu?" tanya Agatha cemas.


Terdengar embusan napas pendek-pendek dari bibir pemuda yang dipanggil 'Noah'. Susah payah pemuda itu mengangkat kelopak mata. "M-muinaru?"


Bak takdir ingin memberi umur panjang pada mereka yang 'bermain' dengan nyawa orang lain, sebuah granat yang mendarat tak jauh dari keduanya menjadi jawaban atas pertanyaan Shawn.


DUARR!


Refleks Agatha menarik Shawn ke dalam dekapannya, melindungi pemuda yang penuh akan luka itu dari pecahan logam dan energi bertekanan dahsyat di belakang mereka. Asap membungkus sekitar, membuat Shawn sedikit terbatuk.


"Jangan hirup," ucap Agatha pelan, juga sambil menutup mata. Mendengarnya, Shawn mengangguk, menutup hidung dan mulut dengan satu tangan. Ia sudah tidak memiliki tenaga yang cukup untuk merasa curiga, menuruti apa yang dikatakan kepadanya.


Jaraknya terlalu jauh untuk dikatakan mereka berniat membunuh kami. Apa tujuan mereka memang hanya untuk memicu keributan? terka Agatha dalam hati.


"A-akh! Siapa kau?" Kewaspadaan Agatha meningkat begitu telinganya menangkap suara seruan tersebut. Dilihat dari tingkah Herald sebelum mereka berpisah, tak mungkin ia mengejar sampai ke sini. Untuk dikatakan ulah dari anggota perburuan lain pun, itu belum pasti. Namun kalau itu pihak yang juga mencoba melukai mereka, Agatha harus berpikir cepat sebab ia tidak bisa membiarkan begitu saja pemuda yang penuh luka dalam dekapannya ini.


"Jangan meremehkanku hanya karena aku seorang perempuan!" suara lembut yang menembus kepulan asap dalam radius beberapa meter membuat Agatha tersentak. Suara itu terdengar tidak asing!


Beberapa saat kemudian, ketika asap yang menghalangi pandangan perlahan menghilang, Agatha membuka mata. Sinar mentari sempat beberapa kali membuat matanya kembali menutup karena perih, tapi detik berikutnya mau tak mau kedua matanya terbuka lebar. Bagaimana tidak, di hadapannya kini terbaring segerombolan pria tak sadarkan diri, dan di antara mereka semua berdiri gagah seorang gadis yang seluruh tubuhnya tertutup jubah. Tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia terluka.


"Ah, Wakil Ketua," ucap gadis itu begitu menangkap kehadiran Agatha.


Agatha mengerjap, tak pernah menyangka gadis bersuara sangat lembut tersebut dapat melakukan hal semacam ini seorang diri. "Bagaimana, bagaimana kau melakukannya?"


Seolah mengerti kebingungan Agatha, terdengar suara tawa dari balik jubah gelapnya. "Bukankah aku sudah bilang, kekuantanku adalah hipnotisme, hipnotisme tingkat 3."


Di Lionheart, dipercaya ada beberapa kekuatan 'sakti' yang diturunkan pada orang-orang pilihan Yang Mahakuasa, salah satunya hipnotisme. Konon hipnotisme hanyalah kekuatan paling remeh di antara jajaran kekuatan 'sakti' tersebut, yakni membuat orang lain kehilangan kendali atas tubuhnya selama beberapa detik dan melakukan apa yang dikatakan si pemilik kekuatan. Namun hal tersebut juga tergantung seberapa tinggi kekuatan hipnotisme orang tersebut. Semakin tinggi tingkatannya, semakin banyak pula yang bisa ia lakukan, termasuk bukan hanya mengendalikan manusia, tapi juga makhluk hidup lain.


"Begitu... rupanya," ucap Agatha diselingi tawa patah-patah. Namun tak berlangsung lama, sebab beberapa saat kemudian gadis itu harus berkonsentrasi penuh pada pemuda yang kini benar-benar telah kehilangan kesadaran dalam dekapannya. "Noah!"


Angin bertiup, terus berembus hingga menyatu dengan bayu di atas puncak sebuah bukit, membelai bulu legam seekor serigala. Sepasang manik kuning hewan itu menatap lurus ke bawah, pada pemandangan dua orang gadis yang panik akan rekan mereka yang tak sadarkan diri. Dasar, dia langsung berlari begitu kukatakan rekannnya bisa saja tambah terluka, padahal dia sendiri terluka cukup parah dan baru mengenal mereka selama beberapa hari.


Serigala itu menutup mata, mengenang sedikit memori di masa lalu yang terlintas. Bukannya aku bermaksud meremehkanmu, Nak, tapi sejujurnya bukan mereka, melainkan kau yang bisa tambah terluka. Sihirmu memang luar biasa, tapi tanpanya kau bukanlah apa-apa. Seharusnya kau sudah sadar sekarang.


Serigala yang tak lain adalah fransbeast yang berbicara dengan Shawn tadi itu menghela. Asal kau tahu saja, bahkan saat ini darah dalam tubuhku mendidih hanya dengan mengingat darah kaumku yang ditumpahkan olehmu. Tapi, aku akan membiarkanmu pergi, hanya karena dia, kakakmu yang sangat mempedulikanmu.


Jujur saja, aku tidak mengerti kenapa dia begitu memikirkanmu. Kalian bahkan tidak pernah bertemu. Tidak saat dia masih kecil, dan tidak saat dia menjalani hari-harinya yang tersiksa. Kau bahkan tidak pernah hadir ketika dia sangat membutuhkan orang lain untuk mengulurkan tangan kepadanya. Tapi entah kenapa, di saat dia tahu tentang keberadaanmu, tidak sedikit pun dia melepaskan perhatiannya darimu, sampai rela mengorbankan sesuatu yang pasti sangat berharga baginya, hanya untukmu.


Serigala itu mengerutkan dahi. Jalan pikir manusia memang sulit ditebak.