
Sinar mentari menerobos jendela, menerangi ruangan tempat dua laki-laki berada. Shawn mengerjap, menatap bola mata merah yang hanya berjarak beberapa jengkal dari netra. Padahal akhirnya pemuda itu dapat menikmati tidur tenang setelah melewati hari-hari melelahkan, tapi kenapa hal pertama yang menyambut begitu ia membuka mata adalah 'anak penguin' yang duduk di atas tubuhnya?
"Apa yang kau lakukan?" Setelah otak Shawn yang baru 'bangun' selesai mencerna pemandangan di depannya, ia bertanya dengan suara serak nan penuh penekanan.
Tanpa sedikit pun takut maupun rasa bersalah, Rein mengerjap, kemudian menunjukkan segumpulan helaian berwarna hitam tepat ke wajah Pangeran. "Wig!" jawabnya singkat.
Sekali lagi, Shawn mengerjap. Butuh waktu bagi otaknya untuk mencerna informasi yang setengah-setengah ini. Namun sebelum Shawn dapat bereaksi, anak itu lebih dulu menunjukkan lensa tipis berwarna merah dari kotak kecil di dekatnya, "Lensa kontak!" dan sebelum Shawn dapat bertanya lagi, tangan anak itu lebih dulu beraksi.
"Hei!" spontan Shawn berseru tatkala tiba-tiba Rein menahan kelopak kanannya dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian mendekatkan lensa berwarna merah itu ke bola matanya.
"Jangan bergerak! Tuan tentu tidak ingin dikenali dengan warna mata itu, kan?" dua kata yang diucapkan Rein sukses membuat Shawn membeku, memberinya cukup waktu menyesuaikan posisi lensa tipis itu dengan bola mata Shawn, bahkan Rein juga berhasil memasang lensa tipis merah lain pada mata Shawn yang satunya tanpa perlawanan.
"Nah, sekarang coba Tuan duduk," ucap anak lelaki itu seraya tersenyum puas, kemudian melompat dan menyambar wig hitam tadi.
Di titik ini, Shawn masih mencoba bersabar, menuruti perkataan Rein, juga membiarkan anak itu mengacak-acak rambutnya—meski dalam hati pemuda itu sudah menggerutu berkali-kali. Shawn dapat merasakan sesuatu berbahan karet mengelilingi lingkar kepalanya, dan sesuatu yang berbulu menutupi kepala. Beberapa saat kemudian anak itu melompat ke depan Shawn, melihat 'hasil karyanya', kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Kesal dengan tingkah absurd Rein, Shawn segera bangkit dan berjalan ke depan jendela. Berkali-kali ia memantapkan hati tidak akan tinggal diam jika anak itu melakukan hal aneh pada tubuhnya. Namun begitu langkah pemuda itu benar-benar tiba di depan jendela, menatap pantulan bayang-bayang dirinya di sana, semua tekad itu langsung meluap.
"Bagaimana?" ujar Rein yang baru tiba di samping Shawn, ikut menatap ke jendela. "Kalau begini, kita jadi seperti 'kakak-adik' sungguhan, kan?"
Kini bukan lagi rambut keperakan dan mata biru legam khas Jinxed Prince, melainkan rambut hitam dan mata merah yang sama seperti milik Rein. Jika bukan karena kulit Shawn yang sangat pucat, mungkin kepala pemuda itu akan mengangguk mengamini ucapannya barusan.
Segelintir perasaan aneh menggelitik dada Shawn. Hanya dengan mengubah warna rambut dan mata ia langsung mendapat perlakuan berbeda? Apakah mungkin?
"Mau ke mana kau?" tanya Shawn yang tersadar langkah anak itu mendekati pintu dari pantulan bayangan di jendela.
"Makan. Tidakkah Tuan tahu betapa memasangkan lensa kontak dan wig pada diri Tuan sangat menguras tenaga?" jawab Rein tanpa menghentikan langkah, diakhiri dengan suara pintu yang ditutup.
Shawn mendengus, Anak itu benar-benar tidak tahu sopan santun.
Sekali lagi Shawn menatap pantulan dirinya di jendela, menatap lamat-lamat warna hitam yang kini menjadi 'warna rambutnya'. "Kenapa harus warna hitam?" gerutu Shawn. Dari semua warna rambut di dunia, kenapa harus warna hitam, warna rambut yang mengingatkan Shawn akan si putra duke?
Ah, tiba-tiba Shawn teringat dengan kejadian di Kota Limpa, membuat aliran darahnya mendidih. Bukan hanya kepada si putra duke, tapi juga kepada para penduduk di sana. Masih jelas dalam ingatannya bisik-bisik tajam yang mereka ucapkan hari itu.
"Semoga jiwa mereka mendapat hukuman paling kejam dari Yang Mahakuasa," ucap Shawn dengan tatapan tajam yang terpantul di jendela. Kali berikutnya menatap bayangan dirinya, muncul sebuah pertanyaan dalam benak Shawn: dari mana anak itu mendapat kedua benda ini? Mereka bahkan tidak memiliki uang sama sekali.
Pemuda itu kemudian menutup mata, memfokuskan sesuatu yang mengalir dalam dirinya. "Eloise." Satu kata yang lolos dari bibir Shawn membuat ketiga jiwa yang saling terikat atas nitrogium itu terhubung.
"Cih, aku masih tidak menyangka mendapat nama perempuan!"
"Hahaha, memang kenapa? Nama itu sangat cocok untukmu, Harimau Tua! Oh, atau seharusnya aku memberimu nama 'Harimau Tua', ya...?"
"Grrr.., jangan coba-coba!"
Belum sempat bertanya maupun memulai pembicaraan, kepala Shawn sudah lebih dulu terasa pening karena dua suara yang terus bertengkar dalam kepalanya.
"Ah ya, Nak, kenapa tiba-tiba kau menghubungi?"
Untung saja harimau putih itu segera sadar, kalau tidak entah sudah setinggi apa api yang membara di balik punggung Shawn.
"Sudahlah, bukan hal penting," ujar pemuda itu kemudian menutup 'sambungan'. Awalnya Shawn berniat bertanya dari mana Rein mendapat dua benda ini, tapi suasana hatinya terlanjur buruk karena keributan barusan dan kini perutnya terasa lapar.
***
"Bekerja", satu kata yang tidak asing di telinga Shawn sejak kecil. Baik Eloise maupun pekerja di kediaman Plutonium dulu selalu mengatakannya. Katanya, mereka bekerja demi keluarga, demi diri sendiri, demi cita-cita sejak kecil, demi kenyamanan di hari tua, atau demi rasa hormat mereka pada majikan. Namun alasan yang paling bisa dimengerti Shawn hanyalah alasan yang pernah ia dengar dari Eloise, yakni "uang".
Uang adalah komponen terpenting dalam hidup. Tanpa uang, maka tidak ada yang bisa dilakukan. Namun Eloise juga pernah berkata bahwa meski berharga, bukan berarti harus melakukan perbuatan buruk demi uang. Karena itu kini Shawn menghela, mengalihkan matanya dari setumpuk koin emas yang tergeletak begitu saja di salah satu meja makan penginapan.
"Tuan!" Spontan Shawn menoleh. Ia dapat melihat sebuah tangan mungil yang melambai ke arahnya dari kejauhan, tak lain milik seorang anak lelaki yang masih mengenakan piyama bergaris-garis. Betapa banyak makanan yang ia makan tampak dari piring-piring yang memenuhi meja tempat ia berada, juga betapa penuh mulutnya ketika berbicara. Kedua hal itu cukup untuk membuat dahi Shawn berkerut.
Masalahnya, sekarang mereka sama sekali tidak memiliki uang. Apalagi mereka tidak lagi berada di hutan, apa yang harus ia lakukan untuk menebus makanan sebanyak itu?
"Apa yang kau makan?" tanya Shawn kesal begitu tiba.
Tanpa menghiraukan kejengkelan di wajah Shawn, buru-buru anak itu mengunyah makanan yang terlanjur masuk ke mulut, kemudian secepat mungkin menelannya. "Roti panggang! Cobalah Tuan, ini benar-benar enak!" jawab Rein sambil menyodorkan roti dilipat berbentuk segitiga itu. Dari sela-selanya terlihat selai cokelat yang melapisi.
Rein kembali berkutat dengan makanan-makanan lain di meja. Roti panggang, telur mata sapi, juga salad buah. Beberapa saat kemudian anak itu menyadari sejak tadi Shawn tidak bergeming, menoleh ke arah pangeran yang tertegun. "Tuan?"
Shawn tersentak, tapi fokusnya masih mengarah pada sepiring roti panggang yang tadi disodorkan Rein. "Bagaimana kau akan membayar semua ini? Apa kau punya uang?" tanya Shawn frustrasi, kemudian duduk di kursi kosong dekat anak itu.
"Tidak," jawab Rein tanpa sedikit pun keraguan, bahkan ia sempat mengambil satu gigitan lagi sebelum kemudian melanjutkan dengan mulut yang penuh, "jangan khawatir, Tuan. Nona Cantik bilang makanan kita gratis, selama kita tetap membayar biaya penginapan."
Alis Shawn terangkat, "Nona Cantik" yang dimaksud Rein pastilah wanita resepsionis semalam. Namun kenapa pula wanita itu bersedia memberi dirinya dan anak ini makanan secara cuma-cuma?
"Rein sudah menceritakan segalanya," panjang umur, tiba-tiba wanita yang dibicarakan datang sambil membawa satu lagi piring berisi 3 iris roti panggang dengan selai cokelat, meletakkannya di meja mereka. "Kalian sudah mengalami kejadian yang berat, karena itu beristirahatlah selama kalian tinggal di sini." Wanita itu menepuk pundak Shawn beberapa kali, manik hijau di balik kacamata persegi itu seolah mencoba menyalurkan semangat pada Shawn—tanpa tahu siapa sebenarnya pemuda di hapadannya.
"Kalian kuat. Kalian pasti bisa melewatinya. Yang Mahakuasa selalu menyertai orang-orang yang menderita," ucap wanita itu terakhir kali disertai senyum lembut, kemudian meninggalkan keduanya dengan meja yang melimpah akan makanan.
Shawn mengerjap, mencoba mencerna perkataan wanita itu barusan. Kemudian ia mengerti, pastilah si anak tidak tahu sopan santun sudah mengarang 'cerita bohong' demi menarik simpati darinya. "'Cerita' apa yang kau katakan padanya?" tanya Shawn sambil menatap Rein tajam.
Rein yang ditatap demikian refleks tersedak, memukul-mukul dada, kemudian menatap Shawn malas dan menghela. "Tidak ada yang istimewa. Aku hanya bilang kalau kita adalah saudara dan semalam orang tua kita meninggal karena dimakan harimau yang masuk ke kota," jawab anak itu tanpa kegentaran, "makanya, bukankah bagus aku mencarikan Tuan lensa kontak dan wig dengan warna yang sama dengan milikku? Kita jadi seperti adik-kakak sungguhan, kan? Ah, Nona Cantik itu juga yang membantuku mendapatkannya. Aku bilang 'kepala kakakku terluka parah karena mencoba menyelamatkanku dari harimau semalam'," ucap Rein diakhiri senyum lebar.
Shawn tertegun, ia juga tidak bisa marah karena nyatanya yang anak ini lakukan menguntungkan mereka.
'Adik-kakak'? sudut bibir Shawn bergerak. Rupanya ada juga yang mau mengaku sebagai adikku, batin Shawn, tanpa sadar di saat bersamaan sudut bibirnya sedikit bergetar. Sejak pertama kali bertemu anak ini, Shawn terus saja merasakan perasaan asing.
Akhirnya, lagi-lagi pemuda itu hanya bisa menghela, ikut menikmati makanan yang tersaji di meja. "Makanlah sepuasmu, setelah itu persiapkan energimu untuk bekerja."
"Ha?" Tangan yang kembali hendak memasukkan sepotong buah melon ke mulut terhenti, menatap pemuda 'berambut hitam dan bermata merah' itu tak percaya. "Tapi... saya kan sudah susah payah mencarikan wig dan lensa kontak untuk Tuan...."
"Itu tidak ada hubungannya," ucap Shawn tak peduli, kembali menggigit roti panggang di tangan. "Lagipula aku tidak pernah memintamu melakukannya dan sejujurnya itu juga tidak perlu."
"Pokoknya jika kau masih ingin ikut denganku, maka kau harus membantuku mencari uang. Mengerti?"
Rein menatap Shawn dengan manik yang hendak menangis, tapi pemuda itu sedikit pun tidak tampak peduli. Menyuruh seorang anak berusia 7 untuk bekerja, entah apa yang ada di pikiran Shawn saat itu.
Namun anak lelaki yang mengikuti Shawn itu memang sedikit 'unik'. Diam-diam, ia sudah mencarikan Shawn pekerjaan yang tidak bisa pemuda itu hindari, dan mungkin pemuda itu tidak akan sempat berpikir untuk mengurusinya dalam waktu dekat.
Yah, kalau aku bekerja, tentu dia juga harus bekerja, kan? batin Rein sambil kembali melahap sarapannya.