Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 11



"Sudah pergi?"


"Ya, Yang Mulia. Meski ada sedikit keributan kecil, tapi dipastikan Jinxed Prince sudah pergi."


"Apa kau yakin dia pergi ke arah utara?"


"Iya, Yang Mulia. Saya sangat yakin Jinxed Prince pergi ke arah utara."


"Bagus, kau melaksanakan tugas dengan baik."


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Kalau begitu, sekarang waktunya memulai misimu sebenarnya!"


Sebuah sosok tampak berkomunikasi melalui alat sihir berbentuk bola kristal di balik bayang-bayang malam. Seruan lantang yang menyatakan dirinya siap melaksanakan misi terdengar bersamaan sikap hormat yang ia tujukan pada orang yang tengah berkomunikasi dengannya.


***


"Tuan," tiba-tiba anak itu menarik ujung jubah Shawn, meminta pemuda itu melihat ke arahnya, "katakan, apa Harimau Tua ini benar-benar fransbeast?"


Shawn mengerjap, tak dapat menyembunyikan keheranannya. "Apa... kau tidak tahu kalau hanya fransbeast yang bisa berbicara dengan manusia tertentu?"


"Ah...," anak itu mengangguk, "begitu rupanya!" ujar anak itu sambil meninju kepalanya sendiri pelan.


Melihat tingkah anak itu yang tak biasa, membuat dahi pemuda di sebelahnya kian berkerut.


"Ngomong-ngomong," ucap anak itu lagi, "apa saya boleh menjalin nitrogium dengan harimau ini, Tuan?"


Shawn menatap sepasang netra merah yang terarah padanya dalam. "Kenapa kau harus meminta izinku?"


"Karena... bukankah Tuan sudah menjalin nitrogium dengannya?"


Sejenak kelengangan menghampiri tempat ketiganya berdiri. "Bagaimana kau tahu?"


"Yah," netra anak itu bergerak ke samping, "kalau memang harimau ini fransbeast, tidak mungkin kan Tuan melewatkan kesempatan untuk menjalin nitrogium begitu saja...."


"'Nitrogium' apanya?" gerutu sang harimau tiba-tiba. "Anak itu bahkan tidak bisa memberiku nama!"


Shawn berdeham pelan, kemudian mengangguk. "Aku memang menjalin nitrogium dengannya, tapi itu belum sempurna karena aku belum memberinya nama. Mungkin... kalau kau memberinya nama, kau juga bisa menjalin nitrogium dengannya."


"Tidak," anak itu menggeleng, "saya bertanya kepada Tuan apa saya boleh melakukannya?"


Shawn mengerjap, entah kenapa sesuatu dalam dirinya terasa aneh. 15 tahun dirinya hidup, baru kali ini ada orang yang meminta izin darinya. Tiba-tiba Shawn tersadarkan oleh tatapan penuh harap anak itu, melengos, "Jika harimau itu tidak keberatan, maka aku pun tidak."


Senyum merekah menghiasi wajah anak lelaki itu. "Baiklah, terima kasih, Tuan!"


Bak penguin kecil sungguhan anak itu melompat dan menggenggam ujung kumis panjang si harimau, "Jalinlah nitrogium denganku, hai Fransbeast," bola-bola sinar berwarna putih mulai muncul seiring dengan ucapan anak itu, "jadilah pengikutku, jadilah kekuatanku."


Harimau putih itu menundukkan kepalanya sampai ke tanah begitu anak itu melepas genggamannya. "Tentu saja, selamanya saya akan menjadi pengikut dan kekuatan anda, hai Anak Manusia."


Bola-bola sinar itu semakin banyak, semakin terang, membuat Shawn melirik sekitar. Sungguh, perasaannya campur aduk melihat bahkan anak sekecil ini mampu menghapal satu mitos random di luar kepala.


"Kuterima pengabdian dan kekuatanmu. Mulai detik ini namamu adalah Eloise."


***


Tring.


Suara lonceng di atas pintu masuk membuat kepala wanita berambut hijau menoleh. Sepasang netra di balik kacamata persegi itu menyipit tatkala wajah sosok yang membuat lonceng barusan berbunyi terutupi oleh tudung jubah, kemudian perhatiannya tersita oleh seorang anak yang tampak terlelap dalam dekapan sosok tersebut.


Mencurigakan, biasanya para tamu akan menurunkan tudung jika masuk ke dalam penginapan. Namun demi profesionalitas, bibir wanita itu tetap mengembang begitu sosok itu berdiri tepat di depan meja resepsionis. "Selamat datang di Penginapan Terang Bulan. Ada yang bisa kami bantu?"


Bukannya segera menjawab seperti tamu-tamu lain, sosok di balik jubah itu malah memilih diam. Lama sekali, sampai bulu kuduk wanita itu meremang akan berbagai pikiran buruk merasuki kepalanya. Namun wanita itu tidak tahu bahwa di balik jubah gelap yang tampak tenang, tersembunyi wajah seorang pangeran keempat yang dibanjiri peluh dingin.


Ah.... Shawn menegup ludah. Wajah asing di balik meja resepsionis itu membuatnya tersadar bahwa selain Eloise—pelayan di Istana Hitam—, Isaac, Brianna dan orang-orang di kediaman Plutonium dulu, ia belum pernah berbicara dengan siapa pun. Meski wanita itu berbicara dengan bahasa yang sangat Shawn pahami, tapi entah kenapa tiba-tiba lidah dan bibirnya sulit sekali digerakkan.


Kenapa aku tiba-tiba seperti ini? Padahal wanita itu sama sekali tidak tampak mengancam.


"Maaf? Ada yang bisa kami bantu?" Melihat tamu di hadapannya tak kunjung menjawab, wanita itu mengerutkan dahi. Ia menatap was-was, apalagi sosok tertutup tudung di hadapannya itu tengah menggendong seorang anak yang terlelap.


Tatapan itu. Jantung Shawn berdegup cepat. Meski tidak bermaksud demikian, tatapan yang dilontarkan sang petugas resepsionis mengingatkan Shawn pada tatapan paling sering sekaligus paling dibenci Shawn. Tatapan yang seolah menyiratkan 'kenapa si 'sial' itu ada di sini?'.


Di tengah keheningan panjang yang menyelimuti, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membuat kedua manusia itu tersentak, "Kamar!"


Shawn refleks menoleh, tak lain berasal dari anak yang berada dalam dekapannya—entah sejak kapan ia sudah bangun. "Tolong berikan Rein dan Kakak kamar yang bagus ya, Nona Cantik," ucap anak itu dengan kedua sudut bibir terangkat tinggi. Kedua netranya sengaja dibuka lebar-lebar, menambah keimutan yang terpatri di wajah mungilnya.


Deg! Wanita berambut hijau itu tertegun, dadanya berdebar sampai ia bisa mendengar degupan jantungnya sendiri. Kedua pipinya memanas. Entahlah, mendengar pujian yang dilontarkan anak kecil itu, rasanya jiwanya seolah diterbangkan sampai langit ke-7. "Baiklah, satu kamar untuk anak imut ini!" ucap wanita itu sambil berkutat dengan beberapa lembar kertas, tapi beberapa saat kemudian ia berhenti dan kembali menatap Shawn. "Maaf Tuan, siapa nama anda?"


"Baik, Tuan Shawn," wanita itu mengangguk sembari menulis, kemudian menyerahkan kunci berlapis logam setengah berkarat. "Total menginap semalam adalah 50.000 Joule."


"O-oh..," sekali lagi Shawn tergagap. Ia baru ingat bahwa saat ini ia tidak membawa apapun, termasuk uang.


Anak lelaki yang seolah bisa membaca pikiran Shawn mendengus, kemudian kembali menatap sang dara dengan senyum manisnya. "Nona Cantik, kakakku ini terlalu lelah sampai tidak fokus melakukan apapun. Bisakah kami membayar biaya penginapan besok?"


"Kami janji tidak akan kabur..," anak itu mengedipkan-ngedipkan netra, membuat jantung wanita berambut hijau itu meledak karena keimutannya, "ya...?"


"Tentu! Tentu saja! Kamar 203 di Lantai 2!" Sepenuhnya berada dalam kuasa keimutan sang anak lelaki, wanita itu langsung menyerahkan kunci kepada Shawn. Namun lagi-lagi pemuda itu tergagap, malah hanya menatap kunci yang disodorkan. Karena kesal melihat Shawn yang lamban, akhirnya anak itu juga yang menerima. "Terima kasih, Nona Cantik!" ucapnya terakhir kali sambil mengulas senyum tercerah yang ia miliki.


DUAR!


Shawn seolah dapat melihat asap dari ledakan di kepala wanita itu. Wanita itu segera berbalik dan mencengkeram dada, mencoba mengendalikan jantung yang begitu lemah akan anak 'imut' di hadapannya ini.


"Nah, Kakak, bisakah kita pergi sekarang? Rein ngantuk...." Kini anak lelaki itu menoleh pada Shawn, menatap lurus ke dalam netra biru itu seolah menyiratkan 'cepat iyakan dan kita pergi, aku sudah sangat mengantuk!'


***


"HAHAHAHAHA....!" Entah sudah berapa lama suara tawa berat itu menggelegar di telinga dua manusia yang mencoba terlelap. Semua sumber pencahayaan telah sepenuhnya dipadamkan, tersisa temaram purnama yang menerangi ruangan dari balik jendela. "Apa-apaan ini, Nak? Kau kalah dari anak sekecil ini hanya dalam memesan kamar saja?"


Saat manusia dan fransbeast menjalin nitrogium, itu berarti mereka saling berbagi kekuatan dan dengan demikian, tak peduli sejauh apapun jarak yang memisahkan, jiwa mereka selalu terhubung, seperti sekarang. Fransbeast dan majikannya dapat berkomunikasi dengan telepati, tapi dalam kasus ketiga makhluk ini cukup unik karena sang fransbeast menjalin nitrogium dengan 2 manusia sekaligus, hingga kedua manusia itu pun bisa saling bertelepati.


Kerutan bergelombang terukir di dahi Shawn. Spontan sepasang manik biru itu terbuka. Berani sekali seekor fransbeast mengejeknya!


Namun sebelum Shawn dapat membalas, Rein lebih dulu berucap malas, "Jangan mengejeknya terus. Dia kan hanya hidup sendiri di hutan selama 5 tahun, wajar kalau tidak tahu."


Refleks Shawn menoleh ke anak berambut hitam yang berbaring di ranjang beberapa langkah di sebelahnya, begitu pun Eloise yang sudah tidak bersuara lagi.


Keheningan menyergap di antara pasangan fransbeast dan manusia itu hingga detik jam yang berputar pun terdengar dengan jelas.


"Nak, apa kau sadar dengan ucapanmu barusan?" setelah lama diam, Eloise memberanikan diri bertanya. Shawn menegup ludah, menanti jawaban yang dilontarkan anak itu.


Pertama, sebuah dengusan terdengar dari bibir anak lelaki itu. Kemudian Rein berbalik, memilih berbaring menghadap tembok. "Bukankah anda adalah Pangeran Keempat yang tinggal di Hutan Roldwix selama beberapa tahun ini?"


Deg.


Sepasang manik sebiru langit malam di musim dingin itu membulat sempurna, menatap punggung Rein lamat-lamat seolah hendak melubanginya. Berbagai macam pemikiran dan asumsi menggerogoti kepala.


Bagaimana anak itu bisa tahu?


Kalau dia tahu, kenapa masih mengikutiku?


Apa mungkin...


"Putra Duke Lawrencium yang mengatakannya tadi. 'Pangeran Pembawa Sial'. Memang bisa siapa lagi kalau bukan Pangeran Keempat?" anak berambut hitam itu lebih dulu menjawab masih sambil menghadap tembok, sedikit pun tak melihat ke arah Shawn. "Lalu aku sempat melihatnya tadi saat Tuan menggendongku, rambut perak dan mata biru yang hanya dimiliki satu orang saja di kerajaan ini."


Kelengangan kembali menghampiri, hingga kemudian terpecahkan oleh tawa sinis Shawn. Kali ini, anak lelaki itu menoleh, bertatapan lurus dengan sepasang bola mata biru legam itu.


"Kalau kau tahu siapa aku, kenapa masih mengikutiku? Apa kau tidak takut terkena sial?"


Rein mengerjap, menatap lamat-lamat pemuda yang terbaring di seberang sana. "Tidak, aku tidak peduli karena aku tidak butuh keberuntungan. Sebelum bertemu dengan Tuan pun hidupku memang sudah sial, tidak akan banyak berubah hanya dengan bertemu dengan Tuan."


Kedua pasang mata itu kembali sambil menatap dalam diam, menyisakan derik serangga malam di luar yang mengisi keheningan.


"Kau benar-benar anak yang tidak tahu sopan santun," ucap Shawn sebelum kemudian giliran pemuda itu yang membalikkan tubuh.


"Ya?" spontan sang anak lelaki yang kesal dikatai demikian. "Memang kenapa kalau Tuan seorang pangeran, bukankah dengan memanggil 'tuan' untuk pangeran keempat saja sudah lebih dari sopan, Tuan Jinxed Prince?"


"Sudah, tidurlah," alih-alih membalas perkataan Rein, Shawn malah menyuruhnya tidur dengan suara yang terlampau tak bertenaga. "Mulai besok kau akan bekerja keras, jadi siapkan tenagamu malam ini."


Sekali lagi Rein sukses dibuat mengerjap beberap kali. Butuh beberapa detik bagi anak itu untuk mencerna kalimat Shawn, membulatkan netra sempurna, hingga kemudian berseru, "Tidak mau!"


Rein melompat dari kasur, berlari kecil di atas lantai kayu yang berderit, kemudian melompat tepat ke atas tubuh Shawn, membuat pemuda itu terbatuk karenanya. "Tidak! Tidak mau! Aku tidak mau bekerja!" seru anak itu sambil menarik-narik jubah yang dipakai Shawn.


"H-hei, berhenti..," ucap Shawn tatkala merasa tudung yang menutupi wajahnya mulai tersingkap.


Sret.


Setelah ditarik-tarik beberapa kali, akhirnya tudung yang seharian ini menutupi wajah sang pangeran keempat tersingkap sepenuhnya. Dengan bantuan cahaya purnama yang menerobos jendela, Rein dapat melihat jelas helaian rambut perak indah yang selama ini bersembunyi di balik tudung, juga sepasang bola mata biru legam sebiru langit malam di musim dingin. Ia juga jadi bisa melihat jelas betapa pucat dan tirus wajah pemuda yang bersamanya seharian ini.


Melihat anak itu mematung bak menatap monster, Shawn langsung menarik kembali tudungnya menutupi wajah. "Kau bilang tidak peduli, tapi apa setelah melihat wajahku kau jadi mulai mengkhawatirkan keberuntunganmu?"


Mendengar ucapan Shawn, Rein tersadar, menggeleng. "Bukan, bukan itu!" ucapnya. "Berbeda dari yang dikatakan.., wajah Tuan... terlihat biasa saja, seperti manusia normal!"