
Hujan masih terus turun dengan lebatnya, tanpa belas kasih mengguyur anak lelaki berambut perak yang berusaha berdiri dari genangan air. "Sakit...," anak itu bergumam pelan, kemudian membersihkan kotoran yang menempel di wajah. Pakaiannya—yang sudah kotor—bertambah kotor karena lumpur dari genangan air tempat ia jatuh tadi.
"Pangeran Keempat." Secepat kilat, Shawn refleks menoleh ke suara yang memanggilnya demikian. Namun bukan anak-anak berambut merah dan bermata cokelat seperti yang biasa menganggunya setiap bertemu, anak yang memanggilnya barusan memiliki rambut pirang dan mata hijau. Tubuhnya lebih tinggi dari Shawn, membuat Shawn harus mendongak saat ingin menatap matanya.
Shawn mengerutkan dahi, refleks mundur beberapa langkah. Meski tidak pernah bertemu, tak lantas membuat kewaspadaan Shawn menurun. Justru karena tidak pernah bertemu lebih berbahaya!
Namun segala insting untuk bertahan hidup anak itu lenyap begitu netranya kembali menangkap tubuh tak berdaya Eloise. Tetesan hujan yang menyentuh tubuh mayat wanita tersebut langsung berubah menjadi merah, begitu pun dengan air yang mengalir dari pakaiannya.
Eloise!
Tanpa berpikir panjang, Shawn berlari melewati samping Isaac dan kembali mendekati mayat satu-satunya wanita yang merawatnya sejak lahir. Dada anak itu kembali terasa sesak hingga membuat air matanya kembali menetes, menyatu dengan tetesan hujan yang membasahi wajah. Perlahan, sang pangeran kecil melangkahkan kaki ke depan, menapak di atas cairan merah yang menetes ke rerumputan. Tangan mungilnya yang gemetar mencoba menyentuh tubuh tak bernyawa itu, berharap bahwa apa yang ada di hadapannya adalah ilusi dan menghilang begitu ia menggapainya.
Petir kembali menyambar, seolah tertawa di atas penderitaan Shawn.
Nyata. Tangannya dapat menyentuh tubuh itu, dan dingin pada permukaan kulitnya membuat Shawn tidak dapat berpikir bahwa ini hanya mimpi, bahwa tubuh tak bernyawa Eloise benar-benar di sana, sambil membelalak dengan kepala yang tertusuk ranting.
"Pangeran Keempat," Isaac mencoba memanggil Shawn lagi, "saya melihatnya, orang yang membunuh wanita ini."
Larikan petir kembali menguasai langit. Sekarang dunia Shawn seolah 'hening' bersamaan dengan hilangnya petir barusan. Tubuhnya terasa kaku dan peluh dingin mengalir di telapak tangan.
"Membunuh?" ulang Shawn lirih. Dingin dari hujan yang terus turun seolah membekukan paru-parunya, membuat dada anak itu semakin sesak.
Tiba-tiba Isaac memberi hormat, meletakkan tangan di dada sembari menunduk ke arah Shawn. "Perkenalkan, saya adalah putra dari keluarga Marquess Plutonium, Isaac Plutonium."
"'Plutonium'? Lucius Plutonium?" tanya Shawn tatkala teringat nama yang sering diceritakan Eloise. Dari antara ketiga Pahlawan Lionheart, Lucius Plutonium adalah pahlawan yang paling sering diceritakan Eloise.
Isaac mengangguk penuh hormat, meski sedikit tidak menyangka Pangeran Keempat mengetahui nama keluarganya. "Lucius Plutonium adalah kakek saya sekaligus Marquess Plutonium sebelumnya."
Detik berikutnya suara hujan yang masih terus mengguyur bumi mengisi keheningan di antara kedua anak itu. Isaac mengepalkan tangan, mengangkat kepala, dan menatap lurus ke dalam netra Shawn. "Pangeran, apakah anda tahu makna di balik nama 'Plutonium' dan 'Uranium'?
"'Lionheart' memiliki makna hati seteguh singa, tapi di dalam perang 'Lionheart' berarti 'ledakan nuklir'. Untuk menciptakan ledakan nuklir, dibutuhkan unsur plutonium dan uranium, yang berarti agar Kerajaan Lionheart dapat berdiri dengan kokoh tanpa celah, Plutonium dan Uranium harus bersatu dan tidak boleh saling bertentangan."
Kedua pasang netra itu masih terus bertatapan, mencoba membaca isi hati masing-masing.
"Oleh karena itu, bersediakah Pangeran meminjamkan kekuatan sihir anda demi mencari pembunuh tersebut?"
Shawn mengerjap, berusaha mencerna situasi. Dingin dari rintik-rintik air yang turun dengan kecepatan konstan tak lagi dihiraukannya. "Sihir"? Apa itu 'sihir'? Shawn bahkan tidak mengerti satu pun kata yang diucapkan anak di hadapannya ini. Namun lebih daripada itu, ada satu yang paling menarik perhatian Shawn, "Kenapa aku? Kalau 'Uranium', bukankah masih banyak 'Uranium' lain yang lebih baik, kenapa harus aku? Bukankah aku ini 'sial'?"
Isaac tertegun. Ada sedikit rasa ganjal di dada mendengar kalimat tersebut langsung dari mulut orang yang bersangkutan, meski ia memang sudah sering mendengar kalimat tersebut. Anak lelaki berusia 9 tahun itu terdiam sejenak, memikirkan kata-kata seperti apa yang harus ia ucapkan sekarang. Tiba-tiba, ia teringat akan salah satu nasihat mendiang sang kakek.
"Pangeran," Isaac berucap lagi, masih menatap lurus ke dalam bola mata Shawn yang memantulkan bayangan dirinya, "tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari ini dan esok. Tidak ada yang dapat memastikan kapan hujan akan turun dan badai akan datang. Namun satu hal yang pasti, bahkan jika hujan turun dan badai memusnahkan bumi, kenyataan bahwa Pangeran adalah 'Uranium' tidak akan pernah berubah."
"Seperti yang Pangeran katakan, ada banyak 'Uranium' lain yang lebih baik, tapi 'Uranium' yang diberkati dengan sebuah berkat yang luar biasa, sihir, hanya Pangeran Keempat seorang. Itu adalah kelebihan yang tidak dimiliki oleh 'Uranium' selain Pangeran," Isaac berucap penuh penekanan.
"Kalau begitu," ucap Shawn pelan karena kepalanya terasa panas, "kalau aku meminjamkannya, apa perkataan bahwa aku 'sial' bisa berubah?"
Sekali lagi Isaac tertegun. Rasa bersalah yang mencekik leher anak itu kian bertambah seiring kata yang lolos dari bibirnya. Mulai dari membunuh pelayan sang pangeran kecil, hingga berusaha membohonginya demi ketenangan hatinya sendiri.
"Saya tidak bisa menjanjikan hal-hal seperti itu," akhirnya Isaac berucap setelah lama terdiam. "Saya tidak bisa menjanjikan bahwa kehidupan yang akan anda jalani setelah ini lebih baik dibandingkan yang sudah Pangeran jalani selama ini."
Sinar mentari menerobos kaca jendela di sebuah penginapan, mendarat di wajah halus seorang pemuda. Ia meletakkan sebuah cangkir kosong yang isi tehnya telah habis diminum, di atas piring yang beberapa menit sebelumnya merupakan tempat dua iris roti berada. Sepasang manik biru itu memejam erat, mencoba mengusir jauh-jauh lamunan mengenai kejadian masa lalu yang datang tiba-tiba.
Tok. Tok. Tok.
"Yang Mulia, apakah anda sudah selesai sarapan?" terdengar suara seorang gadis dari balik pintu, sangat ceria—seolah ia benar-benar bahagia bahwa ini mungkin akan menjadi hari terakhirnya melihat si pangeran pembawa sial.
Shawn menoleh ke arah pintu dengan netra yang sama sekali tidak memancarkan semangat. Sejujurnya ia lelah dan takut.
Shawn takut, kalau sekarang ia berjalan di jalan yang salah dan justru semakin dekat dengan kegelapan.
"Anda boleh ragu, tapi jangan biarkan keraguan itu menghalangi jalan Yang Mulia." Shawn teringat sepasang manik hijau yang pernah berusaha meyakinkannya dulu, sebuah kalimat yang sempat meluluhkan hati pangeran itu.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari ini dan esok. Tidak ada yang dapat memastikan kapan hujan akan turun dan badai akan datang. Namun satu hal yang pasti, bahkan jika hujan turun dan badai memusnahkan bumi, kenyataan bahwa Yang Mulia adalah 'Uranium' tidak akan pernah berubah."
"Seperti yang Yang Mulia katakan, ada banyak 'Uranium' lain yang lebih baik, tapi 'Uranium' yang diberkati dengan sebuah berkat yang luar biasa, sihir, hanya Yang Mulia Pangeran Keempat seorang. Itu adalah kelebihan yang tidak dimiliki oleh 'Uranium' selain Yang Mulia."
Akhirnya helaan napas terdengar bersamaan dengan sudut bibir pemuda itu yang bergerak naik. Ia menyambar jubah gelap yang tergantung di belakang pintu dan mengenakannya dengan cepat. Ia memang tidak tahu apa yang akan ia hadapi, entah cahaya atau kegelapan, kesialan atau keberuntungan, tapi untuk sekarang Shawn memutuskan untuk menjalaninya dahulu.
***
Udara yang semalam terasa sangat dingin, mulai terhangatkan oleh surya yang perlahan memantapkan posisi di langit biru. Ingar-bingar suara penduduk memenuhi setiap sudut kota. Tampak seorang pria berkumis cokelat tanpa lelah mempromosikan dagangannya. Anak-anak menawarkan kue kering di dalam keranjang kepada wanita-wanita yang lewat. Pelayan dengan ramah menyambut pelanggan. Juga sepasang ibu dan anak berjalan bergandengan sambil tertawa.
Meski dengan tujuan dan kegiatan yang berbeda-beda, setiap penduduk di sini memiliki sebuah kesamaan, tak peduli anak-anak, remaja, orang dewasa, maupun lansia, yaitu membawa tombak panjang nan tajam di punggung.
Limpa adalah satu-satunya kota kecil yang terletak di dekat Hutan Roldwix. Berbatasan langsung dengan sebuah hutan yang berbahaya membuat para penduduknya dituntut memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni. Secara tidak langsung, kota ini bertugas melindungi Lionheart dari serangan hewan buas di sana.
Dan di kota itulah kini Shawn berada, menunggu anak perempuan Marquess Plutonium yang sedang mengurus administrasi check-out penginapan mereka. Shawn mengerjap, untuk kesekian kali tak henti menatap kagum pemandangan kota kecil ini dari bawah bingkai pintu. Selama 5 tahun belakangan, ia memang tinggal di Hutan Roldwix, tapi tak pernah keluar dari sana—atau tepatnya memang tidak bisa.
Bisa dibilang ini adalah pertama kali dalam 15 tahun hidup remaja itu melihat pemandangan seramai dan sehangat ini.
Shawn menoleh ke belakang, menatap Brianna yang tersenyum—sambil entah membicarakan apa dengan petugas resepsionis. Melihat gadis itu, sekali lagi Shawn tersadarkan bahwa ia memang tidak bisa menebak jalan pikiran putri sang Marquess. Semalam, belum sempat Shawn menerima atau menolak taruhan yang ditawarkan Brianna, gadis itu sudah lebih dulu menghancurkan seluruh alat sihir, yang berfungsi membunuh Shawn jika mencoba keluar dari hutan dengan satu tembakan laser, dengan aura ungunya—aura tingkat tiga yang dapat dimiliki seorang pendekar pedang. Dengan demikian, adik Marquess Muda Plutonium itu tak memberi pilihan pada Shawn selain menjawab "ya".
Kemudian, ia kembali menatap ke depan dan tanpa pikir panjang menuruti keinginan kakinya untuk melangkah keluar bangunan. Sebentar saja seharusnya tidak apa-apa, pikir Shawn saat itu. Namun baru satu langkah keluar, sebuah suara menghentikannya. Bukan hanya Shawn, tapi juga menghentikan aktivitas semua orang di sana.
GROAARR....
Ia memiliki bulu seputih salju yang membungkus tubuh. Dua pasang gigi taring tajamnya tampak mengkilat bersamaan dengan auman yang menembus dinding-dinding bangunan. Harimau putih, salah satu spesies langka yang tinggal di Hutan Roldwix, dan entah bagaimana kini hewan itu berada tepat di tengah-tengah Kota Limpa.
Puas mengekspresikan rasa lapar yang mengikis perut, kini sepasang manik keemasan itu kembali mengamati sekitar. Betapa nafsu berburu hewan itu terbangkitkan melihat begitu banyak manusia dalam pandangan dan aroma aliran darah yang menusuk penciuman, hingga kemudian ia berhenti ketika maniknya bertatapan lurus dengan manik biru Shawn.
"Semua, dalam posisi 'awas'! Ada harimau putih yang masuk ke Kota!" Bukan pria, bukan pula wanita. Seruan barusan berasal dari seorang anak lelaki—yang wajah mungilnya hampir sepenuhnya tertutup oleh mantel bulu yang membungkus tubuh. Dengan gesit anak kecil itu mengambil tombak di punggung, dan kaki mungilnya berlari lurus ke arah harimau itu tanpa gentar.
"Hiaatt!" anak itu berseru seiring jaraknya dengan harimau itu semakin berkurang, menggenggam erat tombak yang sepenuhnya diarahkan ke depan.
Namun tentu sang raja Hutan Roldwix tak akan tinggal diam melihat 'serangga kecil' yang mendekat. Harimau itu mengerutkan dahi, kemudian bersamaan dengan erangannya berlari ke arah anak itu.
Srash!