
Kerutan terbentuk di dahi pucat seorang pemuda. Hal pertama yang menyambut begitu kelopak matanya terangkat adalah sinar orange mentari yang menembus kain putih pembentuk ruangan tempatnya kini berada. Sepertinya selama ia tak sadarkan diri, ada yang membawanya kembali ke tenda.
"Kami datang untuk membantu menciptakan keamanan bagi penduduk kota, tapi malah diserang penduduk kota itu sendiri? Apa-apaan ini? Bahkan itu karena kesalahan yang tidak kami lakukan! Bukankah anda harus bertanggung jawab, Wakil Ketua?"
Dengan kekuatan yang tersisa, Shawn beranjak duduk dengan bantuan kedua lengan. Nyeri dari luka di seluruh tubuh seolah siap mencabik-cabik tubuhnya kapan saja, tapi tak menjadi penghambat rasa penasaran sang pemuda.
"Pertama, bukan hanya kau dan adikmu yang terluka, tapi juga aku dan Agatha, bahkan Noah sampai saat ini masih tidak sadarkan diri," terdengar jeda dalam perkataan suara berat tersebut. "Tapi dalam kasus ini, terlukanya Margareth bukanlah tanggung jawab Arsenic Guild, sebab dia terluka saat sedang pergi ke area di luar misi. Sejujurnya aku penasaran, apa yang dia lakukan di sana?"
Tak mengindahkan 'peringatan' dari tubuhnya untuk kembali beristirahat, Shawn memaksakan siku menumpu tubuh dan tangan satunya membuka celah kain tempat sinar mentari menerobos.
"Ketua benar. Kami tidak pernah memasukkan area gua itu ke dalam misi, apalagi itu hanya gua kosong, tidak ada seekor serigala pun di sana. Kalau pun ada, paling hanya serigala yang lewat sebentar dan kemudian pergi," ini suara Agatha.
Shawn memincingkan netra, mengintip dari celah kain. Tampak 5 orang tengah duduk di kursi lipat mengelilingi sebuah perapian padam.
"Jadi, kalian tidak peduli pada luka Margareth hanya karena dia mencoba memeriksa area di luar yang kalian tetapkan?"
Sebelum amarah pemuda berambut navy semakin menjadi, gadis berambut hitam berdiri dan membungkuk sedalam-dalamnya, "Maafkan aku, Ketua, Wakil Ketua, dan semuanya! Aku telah menyebabkan keributan yang tidak perlu!" ucapnya. "Aku... pergi ke sana karena berpikir mungkin Noah ada di sana...."
Refleks Shawn tersentak.
"Noah?"
"Iya, tiba-tiba dia menghilang. Karena khawatir terjadi sesuatu, aku mencarinya dan sampai di gua. Kemudian... orang-orang itu datang. Mereka membentakku, kemudian tiba-tiba melempar granat."
Shawn mengerjap beberapa kali. Ia menegup ludah. Memang, ia sengaja pergi dari pandangan Margareth karena tidak nyaman dengan gadis itu. Namun... sedikit pun dirinya tak menyangka akan menjerumuskan gadis itu ke dalam bahaya.
Kali ini giliran Zein yang berdiri. "Kalau begitu jelas, Noah yang harus disalahkan di sini!" serunya sambil menunjuk tenda yang ditempati Shawn. "Bukankah sejak awal dia sudah sangat mencurigakan? Dia mengaku tidak bisa menggunakan pedang, tapi gerakan yang dia tunjukkan saat melawan Wakil Ketua di hari sebelum perburuan dimulai menunjukkan sebaliknya. Bisa saja kan, ternyata pemuda itu adalah anggota Muinaru yang diam-diam menyelinap kemari? Untuk menjatuhkan nama baik Arsenic Guild!"
Sejenak Shawn seakan tak dapat berkata-kata. Apa... takdirnya sebagai 'keempat' memang tidak dapat diubah? Baik sebagai pemuda berambut perak dan bermata biru, maupun pemuda berambut hitam dan bermata merah. Baik sebagai Shawn, maupun sebagai Noah. Kenapa semua tidak bosan menyalahkan dirinya atas setiap kemalangan?
"Aku tidak setuju," spontan suara lembut itu mendapat perhatian setiap pasang mata di sana, termasuk Shawn. "Kau tidak lihat seberapa parah luka Noah? Apa orang yang bisa menggunakan pedang akan terluka separah itu?"
"Ya, Vio benar," Agatha mengangguk. "Lagipula hari itu dia hanya menghindari seranganku dan menyerang dengan tangan kosong. Hanya dengan itu saja tidak serta-merta membuktikan bahwa Noah berbohong. Tidak bisa menggunakan pedang bukan berarti tidak bisa bertarung. Margareth sendiri juga bilang kalau kemampuan berpedang Shawn hanya sedikit lebih baik dari tingkat dasar, kan?"
Seolah tak menyangka kebodohan dua gadis yang duduk di seberangnya, Zein tertawa sinis, frustrasi, mengubah atmosfer di sana menjadi lebih berat. "Baiklah, anggap saja ucapan kalian benar! Lalu, apa? Apa itu bisa mengubah fakta bahwa pemuda bernama Noah itu mencurigakan? Bisa saja dia memalsukan semua lukanya itu untuk mengelabui kita. Atau jangan-jangan kau jatuh cinta padanya, Gadis Bodoh yang menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah?"
"Jaga bicaramu!" suara yang biasanya terdengar lembut, kini terdengar seperti predator yang siap mengambil nyawa mangsa di hadapannya. "Aku mengerti kau khawatir karena adikmu terluka. Tapi, sesuai kata Ketua, semua orang di sini terluka, termasuk juga aku! Jangan berlagak seolah hanya kalian korban di sini!"
Sontak semua pasang mata tampak membulat, cukup terkejut suara Vio yang biasa terdengar lembut, dapat berteriak sekuat itu, termasuk juga Shawn. "Lalu kuingatkan, bukan Noah yang melempar granat, dan bukan Noah pula yang menyuruh Margareth pergi ke gua. Margareth pergi ke gua itu, atas keinginannya sendiri," ucap Vio lagi dengan sangat menekankan dua kata terakhir dalam kalimatnya. "Dan kalau memang benar Noah adalah Muinaru, tidak mungkin dia akan terluka separah itu. Aku berani mengatakan bahwa luka yang didapat Noah adalah yang paling parah di antara kita semua di sini, bahkan lebih parah dari Margareth!"
Keheningan menghampiri begitu genap gadis itu mengeluarkan setiap isi kepalanya. Dari dalam sebuah tenda putih berbentuk setengah lingkaran, Shawn tertegun. Sepasang manik biru di balik lensa kontak menatap lurus ke arah Vio.
Ini... pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang bersedia membela dirinya habis-habisan sampai seperti itu.
Padahal mungkin dari semua orang di sini, gadis itulah yang paling berhak mencurigai Shawn, sebab tepat sehari setelah memberi tahu nama aslinya, ia tiba-tiba mengganti nama tersebut menjadi 'Noah'. Entah hal tersebut memang lazim terjadi, tapi sedikit pun gadis itu tidak bertanya lebih lanjut kepada Shawn dan memilih mengubah panggilannya menjadi 'Noah'.
Sebelum keadaan menjadi lebih panas, Herald segera menengahi sambil memijit pelipis, "Baiklah, cukup. Sesuai kata Vio, untuk sekarang Noah sama sekali tidak bersalah, tapi tentu lain cerita kalau akhirnya terbukti dia adalah bagian dari Muinaru. Sekarang, semua bubar!"
***
Purnama menggantung tinggi di langit. Suara burung hantu terdengar pelan di antara keheningan malam. Namun beberapa saat kemudian burung hantu itu segera mengepakkan sayapnya dan pergi dari dahan pohon yang ia tempati tatkala menyadari kehadiran makhluk lain di bawah sana.
"Tuan Muda, apa benar tidak apa-apa membiarkan Ketua Palsu itu?" ucap seorang pria kekar di bawah pohon.
"Orang-orang itu juga terlalu lemah. Memang pantas mereka tidak terpilih mengikuti perburuan ini. Bagaimana mungkin orang yang sudah bergabung lebih dari 5 tahun di Arsenic kalah melawan bocah bau kencur itu?" timpal pria kekar berambut jingga.
"Herald". Zein mengerutkan dahi, rasa-rasanya ia tidak pernah mendengar nama tersebut. Namun lain cerita jika "Agatha Mayers". Tidak ada seorang pun di 'dunia gelap' yang tidak mengenalnya.
"Ngomong-ngomong Tuan Muda, bukankah kinerja kami memuaskan?" Manik Zein tertarik begitu mendengar ucapan barusan. Ah, pemuda bermanik legam itu pun mengangguk sambil tersenyum. "Ya, kalian melakukannya dengan baik, terutama tidak meninggalkan luka pada 'calon istriku'. Tenang saja, kupastikan Count memberi kalian bayaran yang setimpal."
Mendengar ucapan manis yang terlontar dari mulut pemuda berdarah bangsawan, tiga orang pria kekar di hadapannya langsung memberi hormat, lengan kanan membentuk sudut 45 derajat dan jemari yang dirapatkan ditempelkan pada pelipis. "Selamanya kami akan terus berterima kasih atas kemurahan hati Tuan Muda Lawrencium dan Count Oldenburgh!" seru ketiganya serempak.
Menanggapi sikap tersebut, Zein, atau lebih tepatnya Harry Lawrencium, hanya mengangguk seraya mempertahankan senyum di wajah. Sungguh kampungan sikap hormat rakyat biasa. Mereka juga bodoh, seandainya saja mereka tahu perintah 'siapa' yang sebenarnya mereka patuhi....
Ya, selama ini pemuda dan gadis yang bersembunyi di balik nama "Zein" dan "Margareth" adalah putra dan putri dari dua keluarga bangsawan yang menggunakan sihir penyamaran Harry.
Pada malam setelah Harry mengetuk jendela kamar yang ditempati Brianna di Hutan Roldwix, ia bertemu tiga orang pria kekar yang penuh akan luka di dalam gua tempatnya bermalam. Tidak salah lagi, pastilah mereka tiga pembunuh bayaran Arsenic Guild yang selamat. Cukup ironi, sebab baru beberapa menit sebelumnya dengan percaya diri Harry mengatakan bahwa tidak mungkin ada yang dapat selamat dari si 'monster'. Namun dari mereka bertigalah Harry jadi mengetahui 'rahasia besar' yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh Jinxed Prince.
Begitu matahari menampakkan diri, Harry segera pergi setelah memastikan luka ketiga pria kekar itu cukup terkendali dengan sihirnya dan memberi mereka sedikit makanan yang ia bawa. Ia tak sabar secepat-cepatnya memberi tahu Brianna, agar mereka dapat segera pergi dari hutan ini dan 'memberi' hukuman mati pada sang pangeran pembawa sial yang sangat ia benci—tidak, akan lebih tepat dikatakan satu kerajaan ini membencinya.
Namun senyum pada wajah pria rupawan itu harus luntur begitu mendapati satu-satunya rumah di hutan ini kosong. Ia tidak menemukan sang pujaan hati, maupun sang tuan rumah. Namun entah karena hatinya sudah jatuh terlalu dalam pada putri Keluarga Plutonium, dengan cepat Harry dapat menerka ke mana kira-kira mereka pergi.
Semoga aku salah. Brianna tidak mungkin melakukannya, sesuka apa pun ia pada 'monster' itu, harap Harry dalam hati sebelum kemudian menyentuh liontin perak di leher. Liontin tersebut merupakan tongkat sihir yang bentuknya telah disamarkan—oleh karena aliran mana Harry sangat tidak stabil, diciptakanlah tongkat sihir agar ia tetap dapat menggunakan sihirnya semaksimal mungkin.
"[Teleportation]." Sinar berwarna merah langsung membungkus liontin begitu genap Harry membacakan mantra. Sinar tersebut merambat dari tangan hingga lengan, kemudian menjalar membungkus seluruh tubuh. Ia menutup mata, membayangkan tempat yang hendak dituju.
Patz.
Begitu sepasang manik hitam itu terbuka, hanya kekacauan yang terpantul dalam kedua netra sang keturunan Penyihir Agung Geraldo Lawrencium. Alat-alat sihir yang berfungsi menahan Jinxed Prince agar tak dapat keluar dari sini, berubah menjadi rongsokan besi tak berguna. Belum cukup sampai di sana, hal yang membuat Harry lebih terkejut adalah jejak aura ungu yang samar terasa, menandakan bahwa pelakunya tak lain adalah Brianna.
Satu titik dalam hati Harry terasa sesak, sebenarnya kenapa Brianna sampai berbuat sejauh ini? Meski ini masih wilayah kekuasaan Plutonium, tapi tindakan Brianna tersebut dapat dianggap sebagai pemberontakan jika sampai ketahuan pihak kerajaan.
Sebenarnya, apa yang kau suka dari 'monster' itu?
Bersamaan dengan helaan yang meluncur dari bibir, Harry memutuskan berjalan mencari keberadaan dua manusia tersebut. Jika memang benar Brianna memutuskan mengeluarkan Shawn dari hutan semalam, maka besar kemungkinan mereka akan bermalam di kota terdekat dahulu.
Bahkan Harry tidak tahu harus puas atau kecewa di saat pemikiran benar, saat ia melihat Brianna berada di kota kecil dekat sana, di depan sebuah bangunan kayu besar. Apa aku sungguh tidak lebih baik dari 'monster' itu? batin pemuda itu pilu. Namun detik berikutnya perhatian Harry teralihkan pada pemandangan luar biasa tepat di tengah kerumunan, pada seseorang di balik jubah yang mendapat penghormatan dari seekor harimau putih.
Sepertinya apa yang mereka katakan memang benar. Harry menatap es yang membungkus kaki setiap manusia di sana. Jinxed Prince, anda sungguh pembawa sial sejati.
Berikutnya, kalian pasti tahu apa yang terjadi.
Dengan demikian, berakhirlah 'misi pengalihan' yang diberikan oleh 'beliau'. Harry memang tidak tahu jelas, tapi sepertinya ada perjanjian di antara Pangeran Pertama dan Brianna agar putri marquess itu dapat pergi dari kediamannya tanpa dicurigai. Maka, mereka pun menuruti keinginan sang pangeran, sekaligus mencari tahu apa ada pembunuh bayaran Arsenic yang selamat dan sejauh mana tingkat kesuksesan mereka dalam menjalankan tugas.
Setelah mendapat laporan dari Brianna, 'beliau' memerintahkan untuk segera memulai 'misi yang sebenarnya', yakni mencari keberadaan sebuah artefak kuno. Setelah 3 pria kekar itu mendapat pengobatan yang cukup, mereka pun bermaksud bergabung dengan perburuan yang diadakan oleh salah satu cabang Arsenic tempat artefak kuno tersebut berada. Karena tidak bisa menggunakan pedang sungguhan, Harry pun mengubah bentuk tongkat sihirnya ke dalam bentuk pedang agar ia tetap dapat diam-diam menggunakan sihirnya.
Namun hal tak disangka terjadi, dari ratusan orang yang mendaftar, hanya 6 orang yang dipilih, dan itu tidak termasuk para pembunuh bayaran. Jika hanya Harry dan Brianna, kecil kemungkinan mereka dapat menemukan artefak kuno itu. Terutama keberadaan Agatha Mayers di sana semakin memperkeruh keadaan.
Adanya Agatha Mayers di sini hanya berarti 1 hal, sedikit banyak Marquess Muda Plutonium telah mengetahui rencana kami. Atau bahkan mungkin, Marquess Muda sendiri ada di sini.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, sampailah mereka pada sebuah rencana untuk melibatkan kekecewaan anggota lain yang tidak terpilih mengikuti perburuan di balik bayang-bayang Muinaru. Ya, jika itu Muinaru, kelompok misterius yang menyatakan diri hendak menurunkan Dinasti Uranium, maka pasti tidak ada yang akan curiga pada mereka.
Untuk berjaga-jaga, Harry menggunakan sedikit sihir untuk melukai 'Margareth' dan 'Zein'—sebab akan sangat mencurigakan jika di saat Muinaru melancarkan 'aksi' pada semua anggota, tapi hanya mereka yang tidak terluka. Namun entah kemalangan apa yang menghampiri, mereka berpapasan dengan Herald, saat masih berada di sekitar gua.
Yah, meski menemui banyak masalah, akhirnya kedua misinya dan Brianna berakhir dengan baik. 'Beliau' pasti akan senang, terutama saat melihat artefak yang mereka bawa.