
Sepasang manik biru legam di balik tudung jubah membulat sempurna. Butuh beberapa detik bagi sang pemilik untuk memproses kejadian di hadapannya beberapa saat lalu.
Barusan ada sebuah tombak yang dilempar entah dari mana—dari arah lemparannya kemungkinan berasal dari kerumunan di seberang Shawn. Namun bukannya menembus kulit harimau putih yang dipenuhi nafsu berburu, ia malah menumpahkan darah dari dada seorang manusia, tepatnya anak lelaki yang dengan gagah berani maju membela orang-orang di sini.
Bruk.
Langkah anak kecil itu pun kehilangan keseimbangan dan tombak dalam genggaman tangan mungilnya terjatuh, tapi tidak dengan hewan buas di hadapannya. Sebaliknya, harimau putih itu masih terus berlari, tidak, akan lebih tepat dikatakan bahwa harimau putih itu semakin tidak sabar untuk memuaskan rasa lapar seiring bau anyir segar menusuk penciuman.
Sejenak waktu seolah melambat. Pandangan Shawn menelusuri sekitar. Ia menatap satu per satu orang di sana. Mereka menoleh dan berbisik dari seorang kepada yang lain. Beberapa melontarkan pandangan ngeri, ada juga yang terlihat menatap tajam. Beberapa mengeratkan genggaman pada tombak di punggung, berjaga-jaga jika bahaya mendekat. Kemudian Shawn beralih pada anak lelaki yang dadanya tertusuk tombak dan hanya dapat menatap gemetar harimau yang semakin mendekat padanya. Jangankan kabur, untuk bernapas pun anak itu terlihat sangat kesusahan. Cairan bening tampak lolos dari sudut netra merahnya.
Kenapa... tidak ada yang mau menyelamatkannya? batin Shawn bingung. Sebab yang ia tahu, Lionheart adalah negara yang sangat menjunjung tinggi kehidupan. Tak peduli bangsawan maupun rakyat biasa, tidak ada yang akan meremehkan nyawa seorang manusia. Apalagi, itu satu-satunya alasan kenapa seorang pangeran keempat seperti dirinya masih hidup sampai detik ini.
Sekali lagi untuk kesekian kalinya, takdir seolah tertawa akan garis kehidupan yang dijalani oleh Shawn. Tanpa diminta, bisik-bisik samar memenuhi pendengaran sang pangeran, membuat jantungnya berdegup cepat.
"Anak itu mendapatkan hukumannya."
"Benar, berani sekali dia menyerang 'Pembawa Berkat Hutan Roldwix'."
"Apa anak itu mau bertanggung jawab kalau kota kita ditimpa musibah karena membunuh harimau putih yang agung?"
Deg. Dada Shawn bergemuruh sampai ke titik ia dapat mendengar deru napasnya sendiri. Ah, begitu rupanya....
Sepertinya lama mengisolasi diri di hutan membuat Shawn melupakan sesuatu. Di kerajaan ini, kerajaan yang 'katanya' sangat menjunjung tinggi HAM, nyawa dan martabat manusia pun bisa dipandang sebelah mata jika ia melakukan dosa besar, yakni dianggap 'menghina' mitos yang kental dipercaya di Lionheart.
Kini giliran Shawn yang menatap tajam. Sungguh, ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin keberanian seorang anak kecil yang maju seorang diri demi melindungi orang-orang di sini dipandang sebelah mata hanya karena sebuah mitos? 'Pembawa Berkat Hutan Roldwix'? Shawn tertawa sinis seiring dengan manik biru legamnya yang seolah menyala.
Kira-kira apa mereka masih bisa berkata demikian jika harimau itu menggoreskan cakarnya pada tubuh mereka, mencabik-cabiknya hingga tak berbentuk, kemudian memasukkan potongan-potongan tersebut ke perutnya?
"Urgh...." Shawn menoleh ke asal erangan samar di antara bisik-bisik kejam kerumunan. Anak lelaki berjarak beberapa meter darinya itu setengah terduduk dengan menumpu pada kedua lengan. Sebisa mungkin ia mencoba menyeret tubuhnya mundur di atas salju, menambah jarak antara dirinya dan predator itu. Tampak jelas ketakutan yang menguasai, bibirnya melontarkan embusan napas pendek-pendek.
Shawn mengepalkan tangan. Cairan merah yang membasahi mantel anak malang itu membuat Shawn teringat akan kejadian masa lalu. Ia jadi teringat sebuah taman yang dulu pernah ia kunjungi saat masih tinggal di istana. Taman yang begitu indah dan megah, sangat berbanding terbalik dengan taman di istana tempatnya tinggal. Namun dengan segera keindahan dan kemegahannya tak bernilai lagi di mata Shawn begitu ia menemukan tubuh tak berdaya seorang wanita.
Masih jelas dalam ingatan Shawn tubuh tak berdaya Eloise dengan kepala menancap di ranting pohon kokoh, juga darah yang mengalir deras bak sungai membasahi tubuh. Shawn juga tak dapat melupakan rasa dingin yang menjalar begitu ujung jemarinya bersentuhan dengan tubuh tak bernyawa Eloise.
Pemuda itu mengambil napas dalam, seketika emosi dalam dirinya bercampur tak terkendali. Tanpa sadar Shawn kembali pada kebiasaannya, membiarkan emosi menentukan tindakan yang ia ambil. Dalam sedetik Shawn seolah menjadi gelap mata, tidak lagi mempertimbangkan risiko dari tindakan gegabahnya. Padahal, ia yang paling tahu betapa ia tidak boleh melakukan yang sedang ia lakukan.
Shawn memfokuskan aliran mana di kedua tangannya, membuat butiran-butiran sinar keperakan menari indah di sana. Kemudian, ia membayangkan dalam kepalanya selembar es yang tipis di depan anak lelaki itu, sangat tipis, tapi memiliki permukaan yang luas nan kokoh.
"A-astaga!" terdengar seruan seorang wanita, menandakan apa yang Shawn lakukan mulai terlihat hasilnya.
Ketika pemuda itu membuka mata, sebuah perisai es telah dengan sigap menghalangi harimau putih yang berniat menerkam anak lelaki itu. Sebuah 'keajaiban' yang mengundang tatapan takjub orang-orang di sana.
Jika kalian memang sangat menyukai mitos, maka biar kuberi kesempatan agar kalian bisa 'melayani' Pembawa Berkat Hutan Roldwix.
"A-apa itu?" seru seorang pria gelisah.
"A-apa itu sihir?" pria lain menyahut.
"Jangan-jangan, anggota keluarga Duke Lawrencium berada di sekitar sini?"
Seketika semua kepala sibuk menoleh ke sana kemari, mencari-cari sang pengguna sihir barusan, tanpa menyangka bahwa orang yang mereka cari-cari adalah seorang pemuda di balik jubah gelap yang berdiri di depan sebuah penginapan.
Sang pangeran mengepalkan tangan. Ucapan Brianna memang benar, tapi saat ini emosi yang berkobar dalam dirinya mengalahkan akal sehat pemuda itu untuk berpikir. Kini hanya 1 di pikirannya: membiarkan semua orang di sini 'melayani' harimau putih yang mereka agung-agungkan itu.
Detik berikutnya Shawn mengukir senyum dan berbalik, memberi hormat pada putri Keluarga Marquess Plutonium. "Saya rasa ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, semoga Nona dan keluarga Marquess Plutonium selalu berada dalam lindungan Yang Mahakuasa."
Tanpa menunggu jawaban Brianna, Shawn langsung berbalik. Jubahnya yang tersibak seiring dengan langkah pemuda itu yang berlari di bawah sinar sang surya menyimpan kesan tersendiri bagi sang gadis.
"Hei!" refleks seorang pria yang tombaknya direnggut oleh Shawn. Tanpa membuang waktu, Shawn langsung melempar tombak yang ia dapat sekuat tenaga dari tempatnya berdiri, sebesar rasa kebenciannya pada orang-orang kerajaan ini yang sangat memercayai mitos lebih dari apapun.
Srash!
Tombak panjang nan tajam itu melayang cepat, melewati orang-orang yang berdiri di kerumunan, membuat lari harimau putih itu terhenti karena terkejut, dan mendarat tepat di dada seorang wanita muda.
"Ah..!!" pekik wanita muda itu histeris. Merah mulai membasahi pakaian, membuat wajahnya yang halus itu menjadi pucat. Dalam hitungan detik, puluhan pasang tatapan tajam langsung tertuju pada pemuda berjubah gelap yang terengah-engah—sebab tubuhnya tak terbiasa dengan senjata berat tersebut—dan kini berdiri di depan anak lelaki yang masih terluka itu.
"Hei, Nak! Kau pikir apa yang kau lakukan?" Seorang pria bertubuh kekar berjalan maju, berseru marah pada Shawn. Namun seruan tersebut hanya dibalas dengan tatapan tenang oleh sang pangeran keempat. Sebelum penduduk lainnya sempat turut berbicara, jemari Shawn sudah 'bergerak' lebih dulu.
Swushh!!!
Tiba-tiba embusan angin dingin melewati mereka, cukup kuat untuk membuat orang-orang di sana menutup mata. Untungnya tak berlangsung lama, beberapa detik kemudian embusan tersebut telah menghilang, dengan meninggalkan jejak pada diri setiap orang di kerumunan tersebut.
"Apa ini?" Kepanikan dengan segera menjalar dari seorang kepada yang lain begitu netra setiap yang di sana terbuka. Bagaimana tidak. Mereka mendapati kaki mereka yang semula dapat bergerak bebas, kini membeku oleh es dan menempel dengan tanah.
Benturan ujung tombak mulai terdengar, mencoba menghancurkan es yang membekukan kaki mereka secara misterius. Namun percuma, es yang tercipta dari sihir Shawn tak akan bisa semudah itu dihancurkan, apalagi oleh tombak biasa.
Shawn berbalik, membuat mana keperakannya menari mengelilingi anak lelaki yang hampir tak sadarkan diri itu, membeli sedikit waktu untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Dada Shawn terasa sesak ketika melihat anak lelaki itu meringis dengan lemahnya. Sungguh, ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran orang-orang kerajaan ini. Apakah mereka benar-benar orang yang sama dengan yang katanya menghargai hidup setiap manusia?
"Wahai 'Pembawa Berkat Hutan Roldwix', kupersembahkan padamu 'makan besar' yang mungkin belum pernah kau dapatkan sebelumnya," ucap Shawn dengan sudut bibir terangkat pada sang raja Hutan Roldwix. Ucapan Shawn barusan membuat para penduduk panik, jantung mereka berdegup cepat bersamaan dengan dingin yang menjalar. Bahkan jantung mereka berdegup ribuan kali lebih cepat lagi ketika melihat harimau putih itu menundukkan kepala ke arah Shawn.
"Wah, wah, aku tak menyangka akan melihat pemandangan semacam ini!"
Manik Shawn membola. Ia sangat mengenal suara ini. Suara orang yang ia benci sejak usianya 10 tahun.
"Pangeran, apa selama tinggal di Hutan Roldwix anda jadi berteman karib dengan hewan-hewan di sana?" tanya pemuda tinggi berambut hitam itu dengan nada mencemooh.
Shawn tak menoleh, sedikit pun tak menggubris ucapan pemuda yang mendekat ke arahnya. Satu yang ada di pikirannya saat ini: karena 'dia' benar ada di sini, maka kedatangan Brianna dipastikan bukan hanya atas perintah Isaac, tapi juga pangeran pertama kerajaan ini—sebab Keluarga Duke Lawrencium saat ini berpihak pada pangeran pertama.
Ah, begitu rupanya. "Para pembunuh bayaran semalam... juga kiriman dari Count Oldenburgh..," gumam Shawn pelan teringat perkataan salah satu dari mereka yang dibunuhnya beberapa malam lalu. Dengan kata lain, bisa jadi kedatangan Brianna dan Harry kemari adalah memastikan apakah para pembunuh bayaran yang dikirim oleh Count Oldenburgh melaksanakan tugasnya dengan benar atau tidak.
"AHH!!!" Wanita muda yang tadi tertusuk tombak yang dilempar Shawn berteriak histeris tatkala harimau putih itu mulai mendekatinya. Air mata membanjiri pipi, bibirnya bergetar hebat. Namun sebesar apapun usahanya, kakinya tidak bisa bergerak karena es yang Shawn ciptakan. "Tuan.., tolong ampuni saya! Saya bersalah!"
Shawn menoleh, membuat manik wanita itu membesar karena merasa mendapat harapan. Namun harapan itu harus pupus tatkala pemuda berambut keperakan itu masih berdiri tanpa melakukan apa pun ketika cakar harimau itu membelah dadanya.
"Kau memang bersalah karena 'mencoba' membunuh anak kecil dengan tombakmu, jadi kau pantas mendapatkannya," ucap Shawn tanpa sedikit pun simpati dalam perkataannya.
Harry tertawa sinis, kemudian entah sejak kapan pemuda itu sudah berdiri tepat di dekat telinga Shawn. "Astaga, pangeran macam apa yang membuat warganya meninggal? Anda sungguh 'pembawa sial', ya, Jinxed Prince?"