
Beberapa hari kemudian….
"Benar-benar monster," suara jijik seorang gadis terdengar di tengah-tengah lautan manusia tak bernyawa—bahkan bisa dibilang tak berbentuk. Ia memandang setetes cairan merah lengket nan berbau di ujung jemarinya, kemudian pada mayat tanpa kepala di hadapannya. Sedikit pun manik sehijau ular viper itu itu tak berkedip, ia sama sekali tak merinding dengan pemandangan mengerikan yang tersuguhkan sejauh mata memandang. Malah ia berdiri, melangkah semakin dalam, mendekati mayat-mayat lain.
Brianna Plutonium, putri bungsu sekaligus adik satu-satunya dari Marques Muda Plutonium. Meski berasal dari keturunan yang sama, tapi sepasang adik-kakak itu memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Jika Isaac memiliki standar tinggi dalam menentukan lingkaran pertemanannya, maka Brianna bergaul dengan siapa saja. Jika Isaac memiliki kepribadian yang tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak, maka gadis itu selalu bersikap apa adanya, bahkan cenderung ceroboh.
Namun perbedaan tersebut tak serta merta menjadikan hubungan keduanya buruk, tapi tidak bisa dikatakan baik juga. Entahlah, gadis berambut ungu pucat panjang itu juga tidak tahu harus seperti apa mendeskripsikan hubungan mereka. Di satu sisi ia merasakan kehangatan dan perhatian dari orang yang ia panggil "kakak", tapi di saat bersamaan ia merasakan sesuatu yang menusuk dari tatapan manik hijau yang sama dengan miliknya.
"Total ada 57 orang," lapor pemuda berambut hitam yang tiba-tiba berdiri di belakang Brianna dan membuat langkah gadis itu terhenti, "jika ilmu forensik-ku belum luntur, seharusnya mereka meninggal sekitar 3 hari lalu."
"57 orang," ulang Brianna pelan. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan orang sebanyak itu dibunuh oleh hanya satu orang—meski dengan sihir sekali pun.
Tato “33”, mereka pasti pembunuh bayaran yang dikirim Arsenic Guild, batin Brianna sambil menatap tato kecil di leher salah satu mayat, yang juga berarti mereka benar-benar berniat untuk membunuh…
"Untuk penyebab kematian, sepertinya tidak perlu kukatakan lagi, kan? Tidak ada lagi monster di hutan ini selain 'dia'."
Langkah gadis itu terhenti. Brianna melirik pemuda itu tajam tatkala perkataan dan nada bicaranya yang berubah sinis di akhir. Namun demi menjaga nama baik Plutonium, gadis itu menghela, mencoba meredakan api yang menyala dalam dirinya. "Kau benar, Harry. Sayangnya, hanya rumah 'dia' yang bisa dijadikan tempat persinggahan di sekitar sini. Jika kau keberatan tinggal di tempat yang sama dengan 'dia', kusarankan kau pulang sekarang juga, Harry Lawrencium."
Senyum mengembang di bibir Harry melihat tingkah 'menggemaskan' Brianna. Pemuda berambut hitam pendek itu berjalan beberapa langkah, kemudian mengacak-acak rambut gadis yang hanya setinggi bahunya sambil tertawa renyah.
"Harry, hentikan!"
"Tidak mau," balas Harry sambil mengusap kepala Brianna lebih keras, "apa salahnya aku mengelus kepala calon istriku sendiri?"
Mendengar ucapan Harry barusan, mata Brianna terbelalak sempurna. Hampir saja gadis itu memuntahkan isi lambungnya yang mual jika tidak mengingat tubuh-tubuh tak bernyawa di sekitar mereka. Sesuatu dalam dirinya memanas. Sungguh, ia benar-benar muak dengan putra tunggal Keluarga Lawrencium ini!
"Untuk kesekian kalinya kukatakan, aku tidak akan pernah menikah dengan orang seumuran kakakku!" Secepat kilat gadis itu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke perut Harry. Namun secepat kilat juga, sebuah perisai sihir terbentuk di udara dan menahan kaki Brianna.
"Karena Brianna masih kecil, akan kumaafkan ketidaksopanan ini," ucap Harry sambil mendekatkan wajahnya yang tersenyum ke wajah marah Brianna, "tapi kali berikutnya, kupastikan tidak akan berakhir begitu saja." Kemudian melepaskan sihir yang menahan kaki gadis di hadapannya itu.
Brianna berdecak, tak pernah sekali pun pertemuannya dengan pemuda ini tidak membuatnya kesal. Ingin sekali rasanya ia mengeluarkan belati yang tersarung di pinggangnya dan menusuk jantung pemuda itu berkali-kali—yang tentu tidak akan pernah ia lakukan sekesal apapun juga.
Putri marquess itu menghela. Sekarang bukan saat yang tepat untuk meladeni sikap kekanakan pemuda yang lebih tua 5 tahun darinya itu. Brianna memutuskan berbalik dan lanjut melangkah, meninggalkan Harry seorang diri di antara tumpukan mayat bersimbah darah yang mulai membusuk di antara hamparan salju.
"'Tidak akan menikah dengan orang yang seumuran kakakku', katanya," Harry menatap punggung Brianna yang semakin menjauh dalam balutan jubah gelap. "Yah, kita lihat saja nanti,” gumam Harry pelan, kemudian segera menyusul gadis berambut ungu itu.
Angin berembus, memainkan helaian rambut gadis dan pemuda berdarah bangsawan yang sedang dalam perjalanan itu. Keduanya sama-sama diam, sama-sama larut dalam pemikiran masing-masing di antara hamparan salju sejauh mata memandang.
"Ayah, aku... tidak sengaja membunuh seorang pelayan di istana. Aku benar-benar minta maaf, tapi karena itu aku jadi mengetahui sebuah fakta bahwa Pangeran Keempat bisa menggunakan sihir!"
Brianna refleks memejam. Ingatan akan kejadian 11 tahun lalu kembali terngiang tatkala menatap salju yang memenuhi pandangan. Masih jelas dalam ingatannya bentakan sang ayah dan ibu yang pingsan di ruang makan, serta Brianna kecil yang hanya bisa menangis dalam pelukan seorang pelayan karena ketakutan tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Keadaan kediaman Plutonium malam hari itu benar-benar kacau hanya dengan 2 kalimat yang diucapkan sang kakak.
Entah apa yang Marquess lakukan setelah itu, Pangeran Keempat yang juga dijuluki Jinxed Prince mulai tinggal di kediaman mereka keesokan harinya. Brianna tidak akan pernah melupakan hari itu. Saat seorang anak lelaki berambut perak dengan kulit sepucat salju tiba-tiba muncul di hadapannya. Angin sore yang memainkan rambut indahnya, dan mata biru tenang menatap lurus padanya.
Sejak pertama kali bertemu anak lelaki itu di bawah sinar senja mentari di taman kediaman Plutonium, saat melihat aliran mana keperakan yang menari indah dari tangannya, melindungi gadis kecil itu dari seekor monster besar berbulu legam yang hendak mencabik dirinya dengan buas, Brianna dapat merasakan bahwa Shawn frost Uranium adalah bukan seperti 'yang dikatakan orang'.
Pandangan gadis itu beradu dengan pintu kayu selama beberapa saat. Terakhir ia diam-diam datang kemari adalah 3 bulan yang lalu. Sekarang sore hari, kira-kira apa yang sedang dilakukan sang tuan rumah, ya?
“Nona Plutonium?” suara berat yang tiba-tiba terdengar membuat Brianna membelalak. Bayangan gelap seorang pemuda yang mendarat di pintu di hadapannya membuat jantung gadis itu berdegup kencang. “Apa yang Nona lakukan di sini?”
Brianna menghela, berusaha menenangkan detak jantungnya, kemudian berbalik dan menatap pemuda berambut perak yang dipenuhi keringat—entah habis melakukan apa. Samar sepasang netra hijau itu dapat menangkap jejak cairan merah di ujung mantel pangeran tersebut dari celah jubah panjangnya, tapi gadis itu memutuskan untuk tidak membahasnya sekarang. “Pertama-tama, Yang Mulia tidak lupa 'kebiasaan' kita, kan?"
Mendengar ucapan Brianna, refleks Shawn mundur beberapa langkah. Namun terlambat, gadis itu sudah lebih dulu sigap menarik belati dan melompat ke arah sang pangeran.
"Seperti biasa, dilarang menggunakan sihir," ucap Brianna pelan, takut terdengar oleh Harry yang kini entah di mana.
Shawn berdecak, apalagi kini bekas luka di dadanya terasa perih. Meski demikian, kakinya tetap lincah melompat mundur menghindari belati Brianna, hingga kemudian, saat gadis itu lengah, Shawn memutar pergelangan kaki kiri sebesar 90 derajat dan mencoba merebut senjata di tangan kanannya. Namun sang pangeran tidak bisa begitu saja meremehkan keturunan darah Plutonium. Dengan lincah Brianna melakukan hal yang sama, memutar pergelangan kaki sebesar 90 derajat dan menempelkan ujung tajam belatinya tepat di tengah leher Shawn yang mematung.
Kedua sudut bibir Brianna terangkat, kemudian menunduk sembari sedikit mengangkat ujung mantel panjangnya. "Kali ini pun saya yang menang ya, Yang Mulia Pangeran." Shawn tertawa datar, mengangguk. Bagaimana tidak, gadis itu mulai menyerang begitu saja di saat Shawn belum siap—ditambah ia juga tidak boleh menggunakan sihir. "Jangan berkecil hati, di lain kesempatan Yang Mulia pasti bisa merebut belati dari tangan saya," ucap Brianna tatkala melihat wajah 'cemberut' Shawn.
***
Tuk. Setengah tak rela, Shawn meletakkan segelas air hangat di meja—bagaimana tidak, persediaan air bersih di rumah tengah hutan ini tidak banyak. Namun tanpa sedikit pun melirik ekspresi sang tuan rumah saat ini, Brianna langsung meminumnya tanpa meninggalkan setetes pun sisa. Shawn menghela. Meski demikian, pemuda itu tidak merasa benci sebab tanpa sang putri marquess yang datang berkunjung beberapa waktu sekali, dirinya akan benar-benar sendiri di hutan tanpa satu pun manusia lain.
"Kali ini apa yang mengundang anda kemari, Nona Plutonium?" tanya Shawn setelah Brianna meletakkan kembali gelasnya ke meja. "Apa Tuan Marquess Muda tahu mengenai kedatangan anda?"
Brianna bergumam pelan—lebih seperti menggerutu—kemudian tersenyum. "Sepertinya Kakak selalu menjadi orang pertama yang membuat Yang Mulia penasaran. Bagaimana menurut Yang Mulia sendiri? Kira-kira apa Kakak tahu tentang kedatangan saya?"
Seketika wajah seorang pemuda berambut hitam—yang sangat ia benci—muncul dalam benak Shawn, menghela. "Jika beliau tahu, maka sejak awal 'orang itu' pasti sudah menghancurkan rumah ini," ucapnya, tanpa tahu bahwa kini 'orang itu' berada tak jauh dari rumahnya.
Mendengar perkataan Shawn, Brianna hanya dapat tertawa kecil. "Tapi saya rasa Kakak tahu, karena posisi saya sekarang ini adalah 'kabur dari rumah'," ucap gadis itu, tanpa sedikit pun beban pada sudut bibir yang terangkat.
Refleks Shawn membelalak—meski wajahnya masih terlihat tenang, "Apa maksud Nona?" tanya sang pangeran penuh penekanan.
Ah, memang selalu menyenangkan 'mengerjai' pangeran berambut keperakan ini.
Brianna tak menjawab—sebenarnya akan lebih tepat jika dikatakan sorot mata hijaunya yang berubah sendu yang 'menjawab'.
Shawn mengerjap beberapa kali. Serius? Apa putri satu-satunya Marquess Plutonium ini menempuh perjalanan jauh ke hutan di pinggiran March Plutonium ini hanya karena lari dari rumah?
Manik hijau bundar Brianna menatap lurus ke dalam netra Shawn, kemudian ia berdiri dan mendekat beberapa langkah. "Apa tidak boleh saya menetap di sini, setidaknya untuk beberapa hari saja?"
Deg.
Binar-binar yang muncul dari sorot mata Brianna membuat Shawn tak kuasa untuk menolak. Pemuda itu melirik sang putri marquess dengan sudut mata, menyipit tatkala 'cahaya harapan' yang dipancarkan manik hijau itu berada di angka 100 watt.
Akhirnya, pangeran keempat itu hanya dapat menghela dan menggeleng. Lagipula ia lebih dari tahu bahwa tidak ada orang di dunia ini yang dapat mencegah keinginan anak perempuan Marquess Plutonium. Bahkan sudah menjadi fakta umum di seluruh kerajaan ini bahwa jiwa mendiang Lucius Plutonium—ayah Marquess—yang hanya mengikuti kata hatinya benar-benar hidup di dalam diri cucu perempuannya itu.