Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 15



"Hiks.... Hiks...."


Dalam lembap dan remangnya aula Istana Hitam, terdengar gema isak tangis seorang anak kecil. Anak berambut keperakan itu duduk di pojokan, menyembunyikan wajah berlinangan air mata di balik kedua telapak tangan.


Debu bertebangan. Sarang laba-laba tak terhitung jumlahnya menghiasi langit-langit dan sudut-sudut. Barang-barang seperti lemari, meja, kursi, dan kotak-kotak kayu besar berserakan di mana-mana. Bahkan karpet yang membentang ke seluruh penjuru ruangan terlihat sangat kotor, tampak sudah tidak dicuci selama bertahun-tahun.


"Pangeran, kenapa anda menangis?"


Anak lelaki itu tersentak, spontan menoleh pada seorang wanita yang duduk berjarak 5 langkah darinya. Helaian rambut cokelat kusam dan mata sayu yang menandakan wanita itu sudah lelah. Namun meski lelah, ia tetap bersedia duduk di sebelah dirinya yang menangis.


"Eloise, apa... benar kau pergi ke sana?" tanya Shawn dengan bibir bergetar. "Tidak kan? Itu tidak benar kan?" Sepasang bola mata biru sekelam langit di musim dingin itu menatap Eloise penuh harap. Sayangnya, harapan itu harus pupus tatkala kepala wanita itu menggeleng. "Saya tidak sengaja berpapasan dengan Yang Mulia Pangeran Kelima dan beliau meminta bantuan dari saya. Sebagai seorang rakyat biasa, bagaimana mungkin saya bisa menolak?"


"Tapi...." Perkataan Shawn terputus karena bibirnya terasa keluh untuk melanjutkan. Eloise tersenyum, memperlihatkan luka sayat segar di telapak tangan. "Pangeran tenang saja, karena saya sendiri yang menggoresnya jadi luka ini tidak terlalu dalam. Dalam beberapa hari luka seperti ini pasti akan sembuh sendiri."


Shawn menggigit bibir. Dalam hati pangeran kecil itu sama sekali tidak setuju dengan ucapan Eloise, tapi tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. "Kalau... Eloise pindah ke istana lain, Eloise tidak akan disakiti lagi, kan?"


Wanita bermanik gelap itu membeku, kemudian tersenyum dan menggeleng. "Saya tidak akan menyangkal. Tapi kalau saya pergi, siapa yang akan mengurus istana ini?"


"Aku... bisa menjaga istanaku sendiri...."


"Benarkah? Bagaimana bisa seorang anak kecil menjaga istana besar seperti ini sendiri?"


"Kalau Eloise mengajari sedikit saja, aku pasti bisa.... Aku kan 'sial', Eloise bisa tambah sial kalau terus bekerja di sini...."


Kelengangan menghampiri begitu genap ucapan Shawn. Eloise menunduk, pikirannya membenarkan ucapan sang pangeran, tapi hatinya membantah. Lagipula luka siapa yang anak itu khawatirkan, di saat lututnya sendiri dibalut dengan perban?


"Pangeran, apa anda mau mendengar sebuah legenda?" Seolah mengalihkan pembicaraan, Eloise bertanya lembut. Namun Shawn tahu benar ada sesuatu yang berusaha ditutupi Eloise, entah kemarahan atau kebingungan.


Gelisah, sedih, dan takut yang bercampur menjadi satu membuat anak itu menggigit bibir dan mengangguk, "Mau...." Setidaknya kalau bisa membuat kemarahan Eloise mereda, Shawn akan melakukannya.


"Baiklah, anda pasti suka karena ini legenda yang belum pernah saya ceritakan sebelumnya," ucap Eloise yakin.


*Beberapa saat kemudian, mengalirlah cerita mengenai Legenda Kucing dan Tikus dalam ruangan remang itu. Meski tidak terlalu fokus mendengarkan isinya, Shawn tetap duduk diam karena menikmati suara menenangkan Eloise. Terkadang Shawn tidak mengerti, padahal Eloise tidak menyukai dirinya seperti orang-orang lain, tapi tetap berbuat baik dan bertahan di istana terbengkalai ini. Kalau orang lain, Shawn yakin pasti sudah berhenti sejak lama*—meski harus menjilat kaki sang raja.


"Karena itu, apakah sekarang anda mengerti Pangeran?"


Hm? Shawn mengerjap, ia memang mendengarkan perkataan Eloise sejak tadi, tapi itu bukan berarti ia bisa bercerita ulang kalau Eloise bertanya. Sebab yang ia dengarkan hanyalah suara Eloise, tapi tidak dengan isinya.


Seolah tahu isi pikiran Shawn, Eloise hanya tersenyum, kemudian melanjutkan, "Setiap perlakuan buruk akan mendapat balasan yang lebih berat di kemudian hari. Seperti Tikus yang berlaku curang kepada Kucing dan membuat seluruh keturunannya selalu diburu oleh kaum kucing. Tapi tentu saja, saya tidak berharap Pangeran akan tumbuh menjadi orang kejam seperti itu." Ujung netra Eloise melirik ke arah Shawn yang menatapnya, menatap dalam sepasang manik biru bundar yang memancarkan kepolosan anak kecil.


"Cukup percaya saja bahwa Yang Mahakuasa pasti akan berlaku adil pada setiap makhluk di dunia ini."


***


"Ha...." Helaan kasar menjadi hal pertama yang pemuda itu lakukan begitu membuka mata. Ia menatap langit-langit gelap ditemani cahaya rembulan yang menerobos jendela. Sepertinya ia tertidur saat berbaring usai bekerja tadi.


Sial, karena pembicaraan tadi aku jadi memimpikannya.


Setelah cukup mengumpulkan nyawa, Shawn beranjak duduk dengan kepala yang sedikit pusing. Namun kemudian perhatiannya tertuju pada sesuatu yang terlipat rapi tepat di sebelah bantalnya. "Mantel?" ucap Shawn saat mengambil dan melihat jelas benda tersebut. Mantel biru gelap lembut dan tidak pernah ia lihat, tapi ukurannya cocok dengan tubuhnya. Ia kemudian menatap anak lelaki yang terlelap di tempat tidur seberang sana, tertawa sinis.


Padahal sudah kubilang beli untuk dirinya sendiri saja.


Merasakan tubuhnya yang lengket dan tidak nyaman, Shawn memutuskan untuk mandi. Memang tidak sehat mandi saat terbangun di tengah malam, tapi bagi remaja yang tumbuh di hutan, hal itu tidak terlalu ia permasalahkan. Sejenak ia menatap bisu pakaian yang dibelikan Brianna saat mereka baru tiba di Limpa. Kejadian berdarah di kota itu terlintas di benaknya sesaat. Apalagi mengingat bagaimana gadis itu dengan dinginnya hanya berdiri menyaksikan pemandangan harimau yang membantai sebuah kota tanpa melewatkan satu manusia pun.


Krieet.


Berbeda dengan kamarnya yang gelap, pencahayaan di lorong begitu Shawn melangkah keluar sangatlah terang, membuatnya refleks menyipit. Langkah pelan pemuda itu terdengar jelas di lorong yang sepi. Kalau orang lain, mungkin sudah mengusap lengannya yang merinding sambil menegup ludah. Tiba-tiba langkah pemuda itu harus terhenti tatkala ada 3 orang kekar yang berdiri menghalangi jalannya.


"Katakan saja sejujurnya, Nak. Siapa pun yang kau jawab, kami tidak akan melukaimu," pria berambut cokelat di sebelahnya menambahkan sambil tertawa, seolah yakin Shawn akan menunjuk dirinya.


Pria satunya juga tak mau kalah, menekuk siku dan memamerkan otot-otot kokoh yang membentuk kedua lengannya, "Nak, tidak perlu bimbang. Tentu orang dengan otot paling besar adalah yang terkuat, kan?"


Ketiga pria itu lanjut berdebat satu sama lain, seolah sejak awal sama sekali tidak memedulikan pendapat Shawn, maupun waktu yang sudah larut dan posisi mereka yang berada di depan kamar-kamar dengan penghuni yang terlelap. Melihat kelakuan menyebalkan mereka, Shawn berniat untuk pergi sebelum kemudian salah satu kalimat yang dilontarkan para pria itu menghentikannya, "...sudah pasti aku akan menjadi yang paling menonjol dalam perburuan kali ini dan mendapat uang paling banyak dari semua partisipan!"


"'Uang'?" ujar Shawn tanpa sadar, tapi satu kata itu sukses membuat perdebatan di antara tiga orang itu terhenti dan serentak menoleh ke arah Shawn.


"Wah, lihat anak ini!" sinis pria berambut jingga, kemudian menunjukkan tato berbentuk "33" di lehernya. "Nak, aku yakin kau pasti tahu tato ini. Kau tentu tidak bermaksud menantang anggota dari Arsenic Guild, kan?"


Seketika jantung Shawn berdegup kencang. Bukan karena takut, melainkan kemarahan dan dendam yang meluap di dada. Sekelebat ingatan mengenai malam ia harus bertarung melawan orang-orang yang mengincar nyawanya melintas. Jejak merah yang ditinggalkan sebilah belati dalam pertarungan tersebut seolah ikut memanas, seolah menyuruh Shawn untuk 'mengantarkan' 3 orang ini kepada rekan-rekan mereka.


"Jangan begitu, kau membuat anak ini ketakutan. Kau sendiri kan tahu kita harus menyembunyikan identitas kita karena pasti hanya akan membuat orang lain takut, kenapa kau ceroboh sekali?" Pria kekar berambut cokelat menyikut temannya, padahal sedikit pun tak tampak simpati di wajah sinis itu.


"Nak, aku tahu hidup itu sulit, tapi jangan mengorbankan nyawamu demi uang," pria yang tadi memamerkan otot-ototnya pada Shawn menepuk pundak pemuda itu. "Arsenic Guild mengadakan perburuan untuk membasmi gerombolan serigala di hutan dekat sini dan menjanjikan imbalan uang yang besar, tapi dengan tubuh ringkih seperti ini, aku yakin kau bahkan tidak pernah memegang pedang."


Ketiga pria itu tertawa, sangat keras hingga membuat telinga Shawn sakit.


Kembali, Shawn merasakannya. Perasaan yang ia rasakan 5 tahun lalu saat berpapasan dengan si putra duke. Namun sekuat mungkin Shawn mencoba menahannya, menahan luapan amarah yang dapat meledak dalam wujud kristal es tajam yang menembus dada ketiga orang ini.


Tentu, ia tak ingin mendapat 'ganjaran' yang sama seperti 5 tahun lalu, maupun saat di Limpa. Ia tak ingin merugikan dirinya sendiri, maupun membunuh seisi kota lagi.


Puas tertawa, ketiga pria kekar itu berlalu begitu saja. Sedikit pun tak lagi menggubris Shawn yang masih berdiri di tempat.


"Arsenic Guild...."


***


"Bangun, Harimau Tua!" kelopak mata harimau putih itu terangkat tatkala merasakan gangguan yang mengusik tidurnya. Sebenarnya tanpa membuka mata pun, harimau putih itu tahu betul siapa yang membangunkannya. Itulah satu-satunya alasan kenapa ia tidak menerkam si pelaku.


"Dengar, aku sudah mendaftarkan diri mengikuti perburuan bersama kelompok pembunuh bayaran terakhir yang menyerangku di Roldwix, dimulai 5 hari lagi dan berlangsung selama seminggu. Kuharap selama itu kau akan lebih memperhatikan anak itu."


Dua kalimat yang terlontar dari bibir Shawn membuat tubuh harimau putih itu langsung sigap berdiri.


"Aku sedang tidak ingin mendengar keluhan apa-apa, lakukan saja yang kuminta."


"Hei!"


Tak peduli sekeras apa harimau putih itu mencoba menghentikannya, Shawn sedikit pun tak menunjukkan tanda-tanda akan berbalik. Padahal ia bukan mau mengeluh, melainkan bertanya bagaimana bisa Shawn mendaftarkan diri sedangkan memesan sebuah kamar saja ia sangat kesulitan!


Di sisi lain, Shawn yang sudah kembali ke dalam wilayah perkotaan disambut hangat oleh seorang kakek tua. Usianya sudah sangat lanjut, terlihat dari rambutnya yang sudah sepenuhnya putih. Matanya sipit dan punggungnya bungkuk. Meski keadaannya terlihat rentan, ia masih sanggup berjalan menemani Shawn.


"Apa kau sudah menyelesaikan semua urusanmu, Anak Muda?" tanya kakek itu sambil tersenyum hangat.


Shawn mengangguk. Ia bertemu kakek itu saat keluar dari penginapan. Katanya, ia memiliki paras yang sangat mirip dengan seorang anak yang bekerja di toko bukunya dan bertanya apakah ia mengenal 'Rein'. Tentu saja Shawn mengiyakan dan kakek itu pun sukarela menawarkan diri membantu Shawn.


Ya, kakek itu yang menuntun Shawn menuju guild dan mendaftar mengikuti perburuan. Ia juga memperkenalkannya pada beberapa orang yang mereka lewati. Semua memuji betapa baik dan lucunya Rein. Sebenarnya Shawn tak nyaman mendapat perhatian sebanyak ini, tapi di sisi lain ia cukup lega mengetahui bagaimana anak itu menjalani hari selama bekerja.


Bukannya khawatir, aku hanya penasaran apa pekerjaannya lancar.


Apalagi melihat betapa ramah dan hangat orang-orang di sini, sepertinya Shawn tidak perlu khawatir meninggalkan anak itu seorang diri di kota ini sementara. Meski sedikit menyebalkan, tapi si pemilik penginapan pun bersikap sangat baik pada Rein.


Ah, atau mungkin ia tinggalkan saja anak itu di sini? Mengingat ia hanya tinggal di sini sementara karena harus mencari bunga un.