
"Tuan Shawn, sepertinya Tuan harus mencari Rein sekarang. Sejak tadi hujan tidak berhenti turun dan sebentar lagi malam, akan berbahaya bagi anak kecil seperti Rein berada di luar sendiri," ucap Hilda pada Shawn yang sedang mengelap meja.
Gerakan Shawn terhenti. Sepasang manik merahnya melempar pandangan keluar jendela, menatap langit gelap yang menurunkan tetesan demi tetesan air berkecepatan tinggi disertai suara yang memekakan telinga.
Sudah berapa hari anak itu seperti ini? Pulang kerja larut sekali hanya karena ia tidak setuju Shawn pergi mengikuti perburuan Arsenic Guild. Padahal ada atau tidak adanya Shawn pun seharusnya tidak terlalu berpengaruh pada anak itu. Meski Shawn pergi dan tidak pernah kembali, ada banyak orang yang bersedia mengulurkan tangan menemani dirinya.
Shawn menghela. Namun ia juga bukannya tidak tahu diri, pemuda itu sadar berkat siapa ia dapat menikmati tempat tinggal aman dan makanan layak.
"Baiklah, tapi masih ada 3 meja lagi yang belum kubersihkan."
"Tidak perlu khawatirkan itu," ucap Hilda kemudian merebut lap dari tangan Shawn, "lagipula Tuan akan pergi besok, kan? Jangan sampai kalian bertengkar sebelum berpisah."
Shawn mengerjap, membiarkan netranya bertatapan dengan sepasang bola mata hijau itu. Sudut bibir Shawn sedikit naik. Bukankah baru kemarin dia juga ikut melarangku pergi?
"Ya, saya memang melarang Tuan ikut, tapi percuma juga kan? Tuan kan tidak mendengarkan saya," ucap Hilda sambil tersenyum kecut.
Eh? Sepasang netra merah itu membulat tatkala sang pemilik sangat yakin bahwa bibirnya sama sekali tidak mengatakan apa yang ia pikirkan. Namun lagi-lagi seolah memiliki kemampuan membaca pikiran, Hilda kembali berucap, "Tidak perlu kaget begitu, ekspresi Tuan menunjukkan segalanya. Apalagi sudah hampir seminggu Tuan bekerja di sini, sedikit-sedikit saya mulai mengerti jalan pikiran Tuan."
"Benarkah?" Kali ini bukannya kaget, Shawn malah tertarik. "Memang apa yang kau pahami tentangku?"
Hilda sedikit memiringkan kepala. Sepasang netra di balik bingkai persegi itu mengamati Shawn dari ujung kepala hingga kaki. "Dalam seminggu memang tidak banyak yang saya tahu, tapi setidaknya saya yakin kalau Tuan adalah orang yang baik. Yah, meski sedikit pendiam dan terkadang tidak peduli...."
Mendengar jawaban Hilda, Shawn terdiam sejenak. Sungguh, wanita itu tadi sudah berkata dengan percaya diri dan malah memberi jawaban menggelikan semacam ini?
Saking telinganya tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar, Shawn pun berbalik dan melangkah menuju lobi penginapan. Sepanjang perjalanan, pemuda berambut hitam itu tidak bisa tidak tersenyum sinis.
"Dalam seminggu memang tidak banyak yang saya tahu, tapi setidaknya saya yakin kalau Tuan adalah orang yang baik. Yah, meski sedikit pendiam dan terkadang tidak peduli...."
Ucapan Hilda masih terus terngiang dalam benak Shawn, dan sebanyak itu jugalah kemuakan yang ia rasakan.
Tring.
Suara guyuran hujan terdengar jelas begitu Shawn membuka pintu. Awan kelam menaungi langit sore yang tadinya cerah, melelehkan sebagian salju yang bertumpuk di tanah. Udara dingin bertiup, menambah dingin di musim dingin yang sudah dingin.
Baru selangkah Shawn beranjak, maniknya langsung tertarik pada sesuatu yang berada tepat di sebelah pintu. "Kau?" Alis kanan sang pangeran terangkat, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Sedang apa kau di sini? Kenapa tidak masuk?"
Anak lelaki dalam balutan mantel biru itu tetap setia menunduk sambil memeluk kedua kaki, membiarkan kepala dan tangannya bersentuhan langsung dengan dinginnya tetesan hujan. Namun merah pada kulit anak itu jelas menandakan bahwa ia kedinginan dan tidak boleh berada di sini lebih lama lagi.
"Ayo, jangan bersikap bodoh lebih lama lagi," ucap Shawn lagi. Namun seolah tuli, Rein tetap tak menghiraukan ucapan Shawn, berusaha bertahan di tengah guyuran hujan yang menyiksa.
Melihat tingkah Rein, Shawn mendengus kasar. Dengan kesabaran setipis kertas, Shawn langsung menarik tangan Rein dan berniat menyeret anak itu masuk. Namun sebelum sempat melakukannya, anak itu lebih dulu menepis tangan sang pemuda.
"Aku tidak mau masuk!" seru Rein dengan suara setengah serak.
Shawn mengerjap, setengah tak percaya dengan mata dan telinganya sendiri. Anak lelaki yang kelihatannya baru 7 tahun ini....
"Kalau kau memang mau mati, seharusnya dari awal tidak perlu susah payah kuselamatkan." Genap berucap demikian, Shawn hendak kembali masuk, sebelum kemudian ujung celananya ditahan oleh anak itu. Akhirnya, setelah sekian lama anak itu mendongak, memperlihatkan wajah merahnya disertai linangan air mata, "Jangan... berkata seperti itu...."
Hujan turun semakin lebat, menyelimuti seluruh kota dalam guyurannya. Awan kelam semakin ramai berkumpul, seolah tengah berpesta pora di atas sana.
"Kalau begitu, ayo masuk. Apa pun yang kau lakukan tidak akan membatalkan niatku mengikuti perburuan..."
"Bahkan, jika aku sakit sekali pun?"
Shawn terdiam. Sejenak pemuda itu merasakan sebuah perasaan familier. Di bawah guyuran lebat yang sama, ia ingat ia juga pernah merasakan sebuah ketergantungan yang sama pada seorang anak lelaki lebih tua 5 tahun darinya. Padahal anak itu berkata tidak bisa menjanjikan apapun pada Shawn, tapi entah kenapa hanya anak itu yang menjadi satu-satunya tempat Shawn berharap.
Shawn kembali mendekat ke Rein, kemudian berjongkok dan menatap sepasang manik merah itu dalam. "Meski kau sakit, aku akan tetap pergi. Aku memiliki tujuanku sendiri."
Shawn dapat menangkap netra anak lelaki itu membesar mendengar ucapannya. Namun yang dapat dilakukan pemuda itu hanyalah mengulurkan tangan, "Ayo masuk."
Sejenak Shawn terdiam, mengamati ketulusan yang terpancar dalam raut wajah anak di hadapannya. "Kenapa kau seingin itu bersamaku? Bukankah kau sendiri tahu 'siapa' aku?"
"Saya kan sudah bilang bertemu Tuan atau tidak hidup saya sendiri memang sudah sial," jawab anak itu pelan. "Lupakan saja, kalau memang Tuan meninggalkan saya sendiri di sini, biar saya yang mencari Tuan ke dalam hutan!"
Guyuran hujan mengisi kelengangan sesaat yang tercipta. Sudut bibir Shawn terangkat, tidak pernah membayangkan kalimat semacam itu terucap dari orang yang mengetahui identitas aslinya, "Kalau kau seberani itu, silakan saja."
***
Matahari bahkan sedikit pun belum tampak di kaki langit, tapi pemuda itu sudah berpakaian rapi dan menuruni tangga. Tentu tak lupa mengenakan jubah gelap yang ia pakai sejak dari hutan, serta mantel baru yang dibelikan sang 'adik'.
"Sudah siap untuk berburu, Tuan Shawn?" sambut seorang wanita begitu Shawn tiba di lantai bawah. "Kali ini saya hanya ingin mengucapkan selamat jalan saja, jadi tolong jangan berpikir yang tidak-tidak," lanjut Hilda melihat ekspresi yang ditampilkan Shawn.
Shawn menghela, sudah tidak kaget dengan Hilda yang entah bagaimana mulai dapat membaca pikirannya.
"Ah, saya juga akan menjaga Rein, jadi jangan terlalu khawatir," ujar Hilda sambil tersenyum.
Shawn mengangguk, tentu itu memang sudah seharusnya karena Hilda sendiri yang mengizinkan Rein tinggal di sini sampai Shawn kembali. Karena sepertinya tidak ada lagi yang ingin disampaikan wanita itu, Shawn memutuskan berbelok dan keluar dari penginapan.
Jalanan sepi dan tanah cokelat yang tampak dari bagian salju yang meleleh menghiasi seluruh kota. Tidak ada satu orang pun, hanya langkah Shawn yang terdengar di luar sana. Sesekali Shawn melirik rumah-rumah kayu sederhana di pinggir jalan.
"Kakak Rein!" Shawn refleks berhenti dan menoleh ke asal suara. "Kita bertemu lagi, apa anda hendak pergi ke guild?" Kakek tua itu bertanya ramah disertai senyum hangat, berjalan ke arah Shawn dengan langkah yang sangat pelan. Meski demikian, dengan sabar Shawn menunggu karena ia sudah berutang budi pada kakek itu.
"Hahaha.... Anda pasti tidak bisa membayangkan kelakuan Rein selama bekerja belakangan ini." Kakek tua itu tertawa pelan, memancarkan kesejukan dari wajahnya yang sudah sepuh.
Shawn mengerutkan dahi. "Apa anak itu bermalas-malasan?"
"Tidak, anak itu sangat rajin," ia menggeleng, masih menatap lurus ke arah Shawn. "Meski tidak bilang apa-apa, tapi saya rasa Rein sangat sedih karena kakaknya pergi tanpa membawanya. Itu bisa dipahami mengingat kalian berdua baru mengalami kejadian mengerikan di kampung halaman kalian."
Shawn mengerjap. Lagi-lagi cerita itu. Dalam hati ia jadi penasaran sudah sejauh mana cerita mengenai 'sepasang kakak-adik yang kehilangan orang tuanya di Limpa karena seekor harimau putih' menyebar di kota ini.
Netra Shawn membulat menyadari tangan kasar pria tua itu menepuk pundaknya pelan, menyalurkan sugesti hangat. "Jangan khawatir, cepat-lambat Rein pasti mengerti alasan kepergian anda jugalah demi dirinya. Saya dan semua orang di sini berjanji akan menjaga anak itu sampai anda kembali. Karena itu, jagalah diri anda baik-baik dan pulanglah dengan selamat."
Sejenak Shawn hanya bisa terdiam sambil merasakan kehangatan dari sentuhan kakek itu. Meski demikian Shawn sangat menyadari bahwa kehangatan dan doa itu hanya ditujukan pada 'kakak Rein', bukan 'pangeran keempat'.
"Ah, saya harap anda juga berhati-hati dengan kelompok misterius bernama 'Muinaru'. Kabarnya mereka berencana melakukan pemberontakan terhadap Dinasti Uranium," ucap kakek itu lagi. "Untuk berjaga-jaga saja. Tapi saya harap mereka tidak akan muncul wilayah kota kecil dekat pinggiran kerajaan ini."
Mendengar ucapan sang kakek, netra Shawn membulat. Pemberontakan terhadap Dinasti Uranium, Shawn sama sekali tidak pernah membayangkannya. Jika, jika itu benar terjadi, lalu apa yang harus ia lakukan? Ia memang seorang Uranium, tapi...
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Shawn kembali melanjutkan perjalanan menuju guild yang ia datangi beberapa hari lalu. Kurang lebih setengah jam kemudian fajar menyingsing, sinar lembut mentari sedikti demi sedikit mengusir kegelapan di setiap sudut kota. Langkah Shawn terhenti di depan sebuah bangunan megah tempat ratusan orang berdiri di depannya. Kebanyakan dari mereka adalah pria bertubuh kekar atau pemuda dengan pedang panjang di pinggang. Bisa dibilang, hanya Shawn yang berdiri di sana tanpa membawa satu benda pun.
Ah, baru tiba pun Shawn langsung tidak menyukai tempat ini. Lihatlah, tanpa diajak berbicara pun Shawn langsung tahu dari raut wajah mereka yang angkuh dan suka memandang orang di hadapannya remeh. Meski dari luar saling berbincang dengan ramah, tapi di dalam hati pastilah mereka tak henti merendahkan satu sama lain.
"Wah, apa ini? Memang katanya guild meminta bantuan orang luar karena pekerjaan ini cukup besar, tapi tak kusangka mereka sampai menerima anak ringkih ini."
Shaah....
Sepasang manik biru di balik lensa kontak itu seolah menyala, memancarkan marah yang teramat dalam dirinya. Shawn menoleh, menatap tiga pria kekar yang ia temui kemarin di lorong penginapan.
"Hai, kita bertemu lagi," ucap pria kekar bertindik sambil melambaikan tangan. Namun Shawn tidak merasa harus meladeni 'sapaan' dari tiga orang itu, kembali menatap ke depan dan menjauh.
Merasa diremehkan, pria yang kemarin membanggakan otot-ototnya berseru hingga menarik perhatian semua orang di sana, "Jangan sombong, Nak! Kudengar kau hanyalah yatim-piatu pengecut yang membiarkan kedua orang tuamu tewas dimakan harimau putih di Limpa! Kira-kira siapa orang di perburuan ini yang ingin kau korbankan?"
Namun seorang pangeran keempat tak akan goyah hanya dengan omong kosong semacam itu, apalagi dari orang yang sama sekali tidak ia kenal. Shawn terus berjalan di tengah berpasang-pasang mata dan bisik-bisik yang mengarah tajam kepadanya. Ia pernah mendapat sinisan yang lebih parah dari ini, jadi ia sama sekali tidak takut. Namun langkahnya itu harus terhenti tatkala sebuah belati mengarah tepat ke tengah lehernya.
"Apa benar kau mengorbankan orang tuamu demi menyelamatkan nyawamu sendiri?" ucap seorang gadis berambut pirang panjang dan bermata amber, pemilik dari belati di leher Shawn. "Kalau ya, kau tidak pantas berada di sini!"