Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 2



Bertahun-tahun lalu, saat manusia masih bersahabat erat dengan alam, Benua Neuron terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang makmur. Kemakmuran mereka tak lain dicapai melalui kerja sama yang erat sebagai sesama negara kecil. Para rakyat antarkerajaan pun hidup sejahtera dan bersahabat, sama sekali tak ada permusuhan di benua itu.


Sayangnya, semua berubah ketika salah satu kerajaan kecil itu dipimpin oleh seorang raja yang tamak. Mempertimbangkan militer mereka yang paling kuat di benua, serta hasil pertanian dan kekayaan yang tiada tara, raja itu pun memutuskan memuaskan ketamakannya sendiri. Ia sama sekali tidak memikirkan nasib orang-orang kecil yang merasakan dampak langsung dari perang, maupun tatanan masyarakat yang pasti akan sangat berantakan akibat ulahnya. Akhirnya, setelah melancarkan invasi berkali-kali, kerajaan kecil yang dipimpin sang raja tamak pun berhasil memperluas wilayah hingga mencakup sepertiga dari luas benua ini.


Lionheart, demikian nama baru yang diberikan sang raja kepada kerajaan 'baru'.


Tahun demi tahun berganti, penguasa berganti dari satu dinasti ke dinasti lain. Berbagai kepercayaan antarnegara-negara yang terinvasi bercampur hingga menjadikan berbagai versi dari kepercayaan-kepercayaan yang ada. Namun meski berbeda-beda, mereka merasakan satu perasaan senasib, yakni penderitaan akibat perang. Mendengar suara rakyat, salah satu raja dari Dinasti Thorium yang bijaksana menetapkan bahwasanya mulai detik itu, Kerajaan Lionheart menjunjung tinggi hak dasar setiap manusia, atau dengan kata lain HAM, terutama hak untuk hidup.


Sayangnya, kekuasaan Dinasti Thorium tak bertahan lama hingga akhirnya Kerajaan Lionheart kini jatuh ke tangan Dinasti Uranium. Dapat dikatakan, era Uranium adalah yang paling lama berkuasa di antara dinasti-dinasti sebelumnya.


Namun ada satu persamaan dari semua dinasti tersebut, yakni mereka percaya pada sebuah mitos yang muncul sejak lama sekali, yakni mitos mengenai angka "4". Konon "4" adalah angka sial. Ada mitos yang mengatakan anak laki-laki ke-4 dan anak perempuan ke-4 akan membawa kesialan bagi keluarganya, dan pangeran atau putri ke-4 berarti pertanda petaka bagi Kerajaan Lionheart. Namun di saat bersamaan, Lionheart jugalah kerajaan yang mengedepankan pelindungan terhadap HAM, dan membunuh anak yang baru lahir tanpa kesalahan apapun jelas merenggut haknya untuk hidup.


Demi menghindari aib bagi keluarga kerajaan, selama berabad-abad para raja selalu menjaga agar keturunan mereka berhenti sampai kepada pangeran ketiga atau putri ketiga. Namun usaha tersebut dipatahkan pada masa Raja Harvey I dari Dinasti Uranium. Entah dapat dikatakan sial atau beruntung, pangeran keempat "pertama" yang lahir sejak Kerajaan Lionheart berdiri itu tidak boleh dibunuh sebab prinsip kerajaan tersebut yang sangat menjunjung tinggi HAM.


Jadilah tanpa seorang pun di pihaknya dan dengan ibu yang seorang budak telah meninggal, diputuskan Pangeran Keempat yang baru lahir akan tinggal di Istana Hitam, istana paling jauh dari istana utama, dan terbengkalai. Untuk mengurus pangeran malang itu, Raja hanya menugaskan seorang pelayan untuk memberinya makan, Eloise.


***


"Tidakkah menurutmu wanita itu terlalu tidak tahu malu?" Seorang pelayan menghentikan pekerajaannya tatkala melihat seorang wanita berusia 40 tahun berjalan melewati mereka.


Pelayan lain yang mendengar ucapan barusan ikut berhenti dan menatap wanita yang dimaksud sinis. "Benar, padahal dia bukanlah siapa-siapa, tapi berani sekali mengambil makanan dari dapur kerajaan."


"Jangan bicara begitu," pelayan lain ikut menimpali, "dia sudah kehilangan anak dan suaminya dalam perang, lalu harus menjadi 'Pelayan Pangeran Pembawa Sial'. Tidak terbayang penderitaan seperti apa yang sudah dia alami," tambahnya seolah prihatin.


Kedua pelayan yang mendengar itu tertawa sinis, mengangguk. "Malang sekali nasibnya."


Pelayan Pangeran Pembawa Sial, batin Eloise dalam hati. Meski kepala wanita berusia 40 tahun itu tetap terangkat di tengah cemoohan yang ditujukan pada dirinya, dadanya tetap terasa sesak. Jika kalian sadar betapa malangnya nasibku, kenapa tidak kalian saja yang menggantikanku melayaninya?


Eloise mengeratkan genggaman pada keranjang rotan berisi roti dan susu itu erat-erat. Namun membayangkan raut wajah seorang anak lelaki yang selalu kosong, membuat Eloise menjadi tak tega. Jika boleh jujur, Eloise tidak pernah senang saat mendengar dirinya ditugaskan di Istana Hitam. Tidak sama sekali. Bahkan ia ingat betul sempat berdoa dan menangis semalaman, meratapi nasibnya yang harus melayani Jinxed Prince seorang diri.


Namun Eloise tidak lagi memikirkan hal itu begitu bertemu sang pangeran secara langsung. Senyum dan tawa yang seharusnya menghiasi wajah bayi yang baru lahir, sama sekali tak tampak saat Eloise menggendong anak itu untuk pertama kalinya. Kobaran api yang sebelumnya membara dalam hati Eloise meratapi ketidakadilan ini, terpadamkan begitu saja oleh dinginnya kulit sang pangeran. Eloise bahkan tidak melihat cahaya kehidupan di dalam bola mata sang bayi, seolah sebelum lahir ia sudah tahu takdir seperti apa yang akan dirinya jalani.


Memang ia adalah 'keempat', tapi bukankah itu sudah sedikit keterlaluan?


Eloise juga pernah menjadi seorang ibu. Mana mungkin ia tega memperlakukan anak malang itu dengan kasar. Meski ada satu sudut di dalam hatinya yang selalu merasa ngeri saat bersentuhan atau berada di dekat sang pangeran keempat.


Brak. Keranjang berisi roti dan susu yang dibawa Eloise sepenuh hati, kini bergelinding di lantai dengan sebagian isinya berserakan. Wangi roti yang baru dipanggang pagi ini langsung menyengat penciuman. Sayang sekali, padahal jarang-jarang Eloise dapat membawa roti baru seperti itu. Biasanya makanan terbaik yang bisa ia bawa hanyalah sisa dari makan malam anggota keluarga kerajaan lain.


"Aku kan sudah bilang berkali-kali, Eloise tidak perlu membawa makanan dari sana! Aku bisa mencari makanan sendiri!" anak itu berseru dengan bulir-bulir cairan bening membasahi pipi tirusnya. Bola mata sebiru langit malam di musim dingin itu memantulkan bayangan Eloise.


Dialah Shawn frost Uranium, pangeran keempat yang dijuluki Jinxed Prince atau Pangeran Pembawa Sial. Apalagi berbeda dengan keturunan keluarga Kerajaan Lionheart dari Dinasti Uranium lain yang berambut merah dan bermata cokelat, Shawn memiliki rambut perak dan mata biru. Kulitnya juga sangat pucat seperti salju. Tubuhnya terlihat sangat mungil dan rapuh seolah dapat hancur dengan satu belaian saja.


Bahkan namanya, Shawn frost Uranium, adalah pemberian dari Eloise, seorang pelayan rendahan dari kalangan rakyat biasa.


'Mencari makanan sendiri'? Apakah maksudnya rumput layu di taman tidak terawat itu lagi? Eloise menghela, mendekati anak itu dan berlutut, kemudian menatap sang pangeran kecil dalam.


"Yang Mulia, terus terang, hamba bukanlah seorang yang suci. Yang Mulia bahkan mungkin tidak bisa membayangkan pemikiran seperti apa yang hamba miliki terhadap Yang Mulia. Namun camkanlah satu hal ini: Yang Mulia adalah anak-anak dan anak-anak paling membutuhkan makanan yang lezat. Tidak masalah jika hamba dihina karena hamba adalah orang dewasa. Orang dewasa itu kuat, bisa menghadapi apa pun juga."


Sang pangeran kecil mengerjap, menggeleng. "Aku tahu apa yang Eloise pikirkan tentangku, tapi aku tidak peduli—karena semua orang juga seperti itu. Tapi... orang baik seperti Eloise tidak pantas diejek...."


'Pantas'? Tanpa sadar sudut bibir Eloise tertarik. Dari mana anak sekecil ini mendengar kata seperti itu?


"Yang Mulia," ucap Eloise lagi, "sudah hamba bilang, orang dewasa itu kuat. Yang Mulia cukup makan makanan lezat yang saya bawakan. Tidak perlu khawatir tentang hamba."


Anak itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang semakin basah oleh air mata. "Maaf...," ujarnya pelan di sela-sela isakan.


Eloise kembali menghela. Meski di hadapannya adalah anak laki-laki sekaligus pangeran "keempat", tapi di situasi ini ia benar-benar mirip dengan anak-anak biasa.


"Yang Mulia, setiap orang—termasuk hamba dan Yang Mulia—lahir atas rencana yang telah dipersiapkan Yang Mahakuasa. Namun kita tidak mengetahui rencana seperti apa itu ketika lahir, kita juga tidak mengetahuinya saat menjadi anak-anak maupun dewasa. Kita baru mengetahui rencana apa yang sudah dipersiapan-Nya, ketika kita sudah menua dan hendak kembali ke hadirat-Nya.


Netra Eloise menatap anak itu lamat-lamat. "Apa Yang Mulia paham?"


Anak yang masih menunduk itu berusaha agar isakannya tidak lolos dari bibir, mengangguk.


"Bagus," bersamaan dengan suara lembut yang terdengar, netra sang pangeran kecil membulat sempurna tatkala merasakan sebuah kehangatan yang membelai kepala—untuk pertama kali dalam 4 tahun hidupnya.


***


"Bohong...."


Larikan petir terdengar saling bersahutan, seolah memanggil hujan agar cepat membinasakan bumi beserta isinya. Hari yang diawali dengan sentuhan hangat sinar mentari, kini berubah menjadi sekelam hari terakhir yang diramalkan.


Anak itu berdiri di sana, di bawah pohon yang beberapa daunnya menari dalam embusan angin, kemudian mendarat di wajah putih seorang wanita yang tak sadarkan diri.


Petir kembali menyambar, seolah ingin meledek Shawn dengan semakin menyadarkannya bahwa ini adalah kenyataan. Bahwa wanita yang selama ini membesarkannya dengan sepenuh hati, kini berada di bawah pohon sambil bersimbah darah, adalah kenyataan yang harus ia tanam kuat-kuat di dalam kepalanya.


Shawn tidak bisa bernapas. Entah karena udara yang semakin dingin, atau karena ada benda asing mengganjal di paru-parunya, Shawn tidak tahu.


Sesak. Benar-benar sesak. Saking sesaknya matanya mulai mengeluarkan air mata.


Ah, bagaimana ini? Bagaimana ini?


Apa yang harus dia lakukan?


Tubuh kecil Shawn bergetar hebat. Ia tidak bisa berpikir jernih. Di saat seperti ini, di saat satu-satunya pelayan sekaligus orang dewasa yang bersamanya sejak kecil tidak sadarkan diri dalam keadaan bersimbah darah, apa yang harus ia lakukan?


"Perban...!" teriak Shawn tiba-tiba. Ia teringat saat lututnya terluka tempo lalu, Eloise mengobatinya dan kemudian membungkus luka tersebut dengan perban.


Tapi... Shawn tidak tahu di mana perban berada... dan... harus memerban bagian mana... karena darahnya sangat banyak. Cairan merah itu seolah mengalir dari sekujur tubuh Eloise.


Ah, bagaimana ini?


Di tengah kepanikan dan tekanan yang anak itu rasakan, tanpa Shawn sadari larikan sinar berwarna putih berkumpul di kedua telapak tangannya. Sinar itu kian lama kian terang dan membesar, hingga tepat ketika larikan sinar di kedua tangannya itu hendak meledakkan kekuatan yang sangat dahsyat, Shawn dapat merasakan sesuatu mengenai tubuhnya dan membuatnya melayang hingga kemudian tercebur ke dalam genangan air.


Bersamaan dengan suara langkah yang mendekat, awan akhirnya memenuhi panggilan sang petir dan menumpahkan isinya membungkus bumi.


Matahari berangsur-angsur bergerak ke tepi langit. Semburat orange-kemerahan mengusik netra milik seorang pemuda untuk terbuka. Larik-larik putih yang menguar dari tubuh pemuda itu menghilang begitu kelopak matanya terangkat, menampakkan sepasang manik biru sekelam malam di musim dingin. Shawn mengelap peluh yang membasahi wajah dengan lengan pakaian. Ia menghela tatkala masih dapat merasakan debaran jantungnya yang tak berniat tenang dalam waktu dekat.


Seseorang yang terlahir dengan mana di dalam tubuhnya disebut penyihir. Tingkatan mana dan kemampuan seorang penyihir ditentukan dari jumlah mana circle dalam tubuhnya. Semakin banyak mana circle, maka semakin kuat dan berlimpah mana di dalam tubuh penyihir tersebut, dan sejauh ini tercatat bahwa penyihir terkuat adalah penyihir circle 9—yang hanya pernah dicapai oleh satu orang saja, yakni mendiang Penyihir Agung Geraldo Lawrencium, rekan seperjuangan Lucius Plutonium dan Alexander frost Uranium dalam perang berkepanjangan bertahun-tahun lalu.


Namun di Kerajaan Lionheart, demi menjaga kestabilan negara, seorang penyihir hanya diizinkan berasal dari satu keturunan saja, yakni hanya mereka yang memiliki darah Lawrencium—atau dengan kata lain, hanya dari keturunan Penyihir Agung Geraldo Lawrencium. Jika ketahuan ada rakyat Lionheart yang memiliki mana dalam tubuhnya tapi bukan dari keluarga Duke Lawrencium, maka detik itu juga ia akan diseret ke pengadilan kerajaan dan dijatuhi hukuman mati.


Shawn menghela. Dirinya bukan keturunan Lawrencium, tapi entah bagaimana ada mana dalam tubuhnya. Pemuda berusia 15 tahun itu menatap telapak tangan kanannya, memfokuskan aliran mana ke sana seiring tarikan napas yang ia ambil, kemudian melepaskannya begitu saja. 4 buah lingkaran sihir kecil berwarna keperakan muncul di telapak tangan kanannya secara bertumpuk dengan jarak beberapa senti di antara satu sama lain, menandakan levelnya sebagai penyihir circle 4.


Tidak naik, ya....


Shawn tertawa miris, kemudian mengempaskan tubuh ke belakang bersamaan dengan frustrasi yang menguap dari kepalanya. Tanpa sadar Shawn menyentuh dadanya yang kembali terasa perih, tempat sebuah belati milik salah satu pembunuh bayaran semalam meninggalkan jejak berupa goresan merah panjang laksana membagi dadanya menjadi dua.


Tentu saja, bagaimana mungkin bisa naik kalau aku ‘sial’?


Dulu sekali, Shawn pernah membaca sebuah buku yang mengatakan bahwa untuk naik dari level penyihir circle 4 menjadi circle 5, ada ‘harga’ yang harus dibayar. Penyihir itu harus bisa menghadapi ketakutan dan trauma terbesar di sepanjang hidupnya terlebih dulu, baru kemudian mana circle dalam dirinya akan bertambah dengan sendirinya.


Dalam kasus Shawn, “ketakutan dan trauma terbesar” dalam hidupnya hanya 1: menjadi orang pertama yang menemukan mayat Eloise, dan sampai kapan pun rasanya ia tidak akan bisa menghadapi trauma semacam itu begitu saja.


Manik Shawn terbuka, menatap hamparan biru dengan kapas-kapas putih yang memanjakan mata. Langit biru yang sama yang sedang ditatap seorang pemuda lain di kediaman Marquess Plutonium.