Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 6



Bermula dari berbagai negara kecil yang dipadukan menjadi satu, Kerajaan Lionheart memiliki beragam mitos populer dari generasi ke generasi. Beberapa lekang oleh waktu, tapi lebih banyak yang masih bertahan, diceritakan dari mulut ke mulut dan dipercayai, salah satunya adalah Legenda Bunga Un.


Alkisah, dahulu kala ada seorang malaikat yang turun ke bumi untuk sekadar berjalan-jalan. Dikatakan ia dikenal sebagai seorang malaikat yang sangat cantik di Surga. Bola mata berwarna emas dibingkai oleh bulu-bulu mata yang legam lentik. Bibirnya menawan semerah anggur merah. Ketika sepasang sayap berbulu putih di punggungnya direntangkan, itulah tanda sang Pembawa Pesan menyampaikan wahyu-Nya.


Ialah Arella, sang malaikat Pembawa Pesan dari Surga.


Saat menjelajahi salah satu dunia ciptaan Yang Mahakuasa ini, Arella tidak sengaja bertemu dengan seorang manusia yang terluka di sebuah gunung. Karena iba, ia menyembuhkan manusia itu menggunakan kekuatannya. "Tapi sebagai imbalan, ceritakanlah kisah hidupmu," ucap sang malaikat setelah selesai mengobati manusia itu.


Setelah berpikir lumayan lama, manusia itu mengangguk, kemudian mulai bercerita mengenai hidupnya yang menyedihkan. Ia adalah seorang pria berusia 45 tahun. Ia yatim piatu sejak kecil dan tinggal sebatang kara di desanya. Tidak ada orang desa yang benar-benar peduli padanya. Mereka hanya memastikan ia makan dan hidup, tidak terlalu peduli meski makanan yang dimakannya adalah makanan tak layak sekalipun.


Memasuki usia remaja, ia memberanikan diri menjelajahi dunia luar. Ia berdiam dari satu desa ke desa lain, satu kota ke kota lain, juga satu kerajaan ke kerajaan lain, hingga suatu hari ia bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Singkat cerita mereka menikah, memiliki anak-anak serta cucu-cucu yang cantik dan tampan.


Sejenak, Arella dapat mendengar pria itu menghela kasar.


Namun kebahagiaan pria itu tak berlangsung lama. Kejadian ini baru terjadi hari itu juga, beberapa saat sebelum ia bertemu Arella. Seekor hewan tak dikenal menyerang kota kecil tempat mereka tinggal. Pria itu mendeskripsikannya sebagai hewan besar dan menakutkan. Katanya, hewan itu memiliki tubuh yang lebih panjang dari samudra, lebih besar daripada gunung, dan kegelapan dalam matanya lebih pekat dibandingkan malam disertai badai. Tiap napas hewan itu menyemburkan api biru yang sangat panas, yang sanggup membakar seluruh kota tempatnya tinggal dalam satu tarikan napas saja. Seluruh keluarganya terbakar hidup-hidup, menyisakan dirinya sendiri yang selamat.


Arella yang prihatin dengan kisah hidup pria itu menghela. Malaikat itu kemudian mengembangkan sayap berbulu putihnya dan terbang. Ia berdoa di langit, meminta berkat kepada Yang Mahakuasa, kemudian dalam hitungan detik sinar keemasan memenuhi gunung tempat mereka berada.


Saat pria itu membuka mata, ribuan bunga memenuhi tanah sejauh mata memandang. Bunga dengan 10 kelopak berwarna merah dan tangkai berwarna emas.


"Hei, Manusia, dengarkanlah perkataanku. Yang Mahakuasa sudah mendengar penderitaan dan keluh kesahmu. Sebagai buah dari kesabaranmu selama hidup, makanlah satu tangkai saja dari bunga-bunga ini, maka hidupmu akan dilimpahi keberuntungan tiada batas," ucap Arella.


Namun bukannya menerima, pria itu menggeleng, "Jangan, aku tak pantas. Biarlah keberuntungan ini dimiliki oleh orang-orang yang pantas mendapatkannya."


Mendengar ucapan pria itu, Arella kembali berdoa, kemudian mendengus. "Yang Mahakuasa telah mendengar keinginanmu. Jika memang itu keinginanmu, biarlah jadi demikian." Demi menghargai keputusan pria itu, dengan kekuatannya Arella menciptakan sebuah kolam yang sangat besar. Ia pun kemudian memindahkan bunga-bunga tersebut ke dasar kolam.


Kelak, orang-orang mengenal gunung tempat Arella dan manusia itu bertemu sebagai Gunung Astinapura, dan bunga-bunga tersebut sebagai bunga un, bunga pembawa keberuntungan tiada batas bagi siapa yang memakannya.


***


Legenda Bunga Un merupakan salah satu legenda yang sudah ada sejak Kerajaan Lionheart berdiri, tepatnya sejak dinasti pertama, Dinasti Lanthanum berkuasa. Raja yang tamak tentu tak tinggal diam ketika kabar mengenai 'bunga sakti' tersebut sampai ke telinganya. Berbagai sumber daya dikerahkan demi mencari keberadaan bunga un serta Gunung Astinapura, walau keberadaannya sendiri masih tidak jelas. Upaya pencarian bunga ini pun masih dilanjutkan oleh raja-raja berikutnya meski sang raja tamak telah meninggal.


Namun bukannya menemukan keberadaan bunga dalam legenda, hal tersebut malah memicu pemberontakan karena sumber daya yang dikuras secara egois menyebabkan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat. Akhirnya, pemberontakan tersebut mendudukan Dinasti Cerium sebagai penguasa baru.


Lain di mulut lain di hati. Meski raja pertama dinasti tersebut berkata akan membawa kemakmuran atas kerajaan ini, ia tak ada bedanya dengan para raja tamak dari Dinasti Lanthanum. Ketidakpuasan kembali merajalela, pemberontakan demi pemberontakan kembali terjadi. Kekuasaan kembali beralih kepada Dinasti Praseodymium. Namun sama saja, hasrat para raja yang bertakhta untuk memiliki keberuntungan tiada batas tak pernah sirna.


"Ini tidak bisa dibiarkan, turunkan Dinasti Praseodymium dari takhta!"


Pemberontakan terjadi lagi, disertai dengan pemindahan kekuasaan. Dinasti Neodymium, Promethium, Samarium, Eropium, Gadolinium, Terbium, Dysprosium, Holmium, Erbium, Thulium, Ytterbium, hingga Lutetium. Namun tak ada yang berbeda, ambisi untuk mencari bunga un tidak pernah padam, tak peduli suara rakyat yang menyerukan penderitaan mereka di bawah keegoisan dan tekanan sang raja.


Baru kemudian sejak raja pertama dari Dinasti Actinium berkuasa, kepercayaan akan keberadaan bunga tersebut mulai memudar karena sifat raja yang angkuh dan hanya percaya pada dirinya sendiri. "Hai Rakyat yang kukasihi, dengarkanlah ucapan Rajamu ini. Jangan terlalu percaya pada mitos yang bahkan tak tampak baik gunung maupun bunganya. Camkanlah, sesungguhnya keberuntungan itu tidak ada, yang ada hanyalah kemampuan dan takdir yang sudah digariskan dari lahir!" ucap raja pertama Arctinium kala itu.


Kekuasaan berpindah kepada Dinasti Thorium. Raja-raja bijaksana terlahir di era ini. HAM, keadilan, dan kesetaraan diserukan di setiap sudut kerajaan. Namun bak awan yang mencoba menutupi sinar mentari, sumber kehidupan seluruh makhluk di muka bumi, era Thorium bisa dikatakan era kejayaan Lionheart, tapi sekaligus menjadi era tersingkat. Kekuasaan mereka tak berlangsung lama, hanya 3 generasi, sebelum kemudian digulingkan oleh Dinasti Protactinium, dan kini berada di tangan Dinasti Uranium.


Namun sedikit pun tak pernah terbesit dalam benak pemuda berambut perak tersebut bahwa suatu hari ia akan dihadapkan dengan situasi rumit karena mitos tersebut. Apalagi mitos mengenai bunga un sendiri sudah hampir tak terdengar sejak pemerintahan Dinasti Actinium—kecuali di daerah-daerah tertentu dimana mitos tersebut masih sangat kental dipercayai—dan Shawn pun pernah mendengarnya karena diceritakan Eloise dulu, meski ingatannya mengenai legenda tersebut sudah agak samar.


"Dengan segala hormat," Brianna meletakkan tangan di dada bersamaan dengan ujung jubahnya yang sedikit diangkat, "jika Yang Mulia dapat menemukan bunga dalam legenda tersebut, maka kakak saya, Marquess Muda Isaac Plutonium berjanji akan bagaimana pun caranya memberi Yang Mulia kehidupan yang layak di Lionheart.


"Namun kakak saya juga berkata, jika Yang Mulia gagal menemukan bunga tersebut dalam kurun waktu 5 tahun, maka sekali pun jangan pernah berharap dapat menginjakkan kaki di tanah ini lagi. Jika Yang Mulia melanggarnya, bersiaplah merasakan leher dan tubuh Yang Mulia terpisah."


Angin malam berembus. Mendengar ucapan yang disertai senyuman lebar tersebut membuat bulu kuduk Shawn meremang. Pemuda itu menegup ludah, membasahi tenggorakan yang seketika kering. Kepalanya terasa kosong. Ia tahu harus mengatakan sesuatu, tapi ucapan Brianna barusan membuatnya tidak bisa berpikir.


Sekali lagi sepasang manik sebiru langit yang kini menaungi mengamati wajah halus gadis di hadapannya. Jelas, kalimat itu Brianna lontarkan dengan percaya diri, seolah sama sekali tidak ada kebohongan di sana.


Shawn tertawa sinis, degup jantungnya bertambah dua kali lebih cepat. "Sepertinya anda tidak benar-benar kabur dari rumah ya, Nona Plutonium."


“Yang Mulia benar, kali ini saya memang tidak kabur dari rumah,” balas Brianna tanpa sedikit keraguan dalam perkataannya. “Tapi kali ini saya secara resmi mendatangi Yang Mulia atas perintah yang diberikan kakak saya, Marquess Muda Plutonium yang sangat Yang Mulia Pangeran kagumi.”


Memang benar, bagi Shawn, Isaac adalah sosok yang sudah menyelamatkannya dari sebuah petaka besar. Apalagi putra Marquess Plutonium itu begitu sempurna di segala aspek. Wajah rupawan, kepribadian baik, serta kemampuan yang unggul, ditambah ia sudah ‘menyelamatkan’ Shawn. Tak ada alasan bagi pangeran itu untuk tidak menganggumi Isaac.


Namun karena kekagumannya itulah, Shawn lebih dari tahu bahwa seorang Isaac Plutonium tidak akan pernah membuat janji seperti itu.


Shawn menghela setelah terdiam untuk beberapa saat. Angin malam kembali membelai kulit. Ia menatap bola mata hijau yang memantulkan dirinya dalam. “Kalau anda datang atas perintah Marquess Muda, berarti anda juga datang bersama ‘dia’?” seketika nada bicara Shawn berubah, menjadi lebih dalam dan menyiratkan dendam serta kebencian.


Refleks Brianna menggeleng. “Tentu tidak. Bukankah Yang Mulia juga tahu bahwa orang yang saya paling saya benci di dunia ini adalah ‘dia’? Mana mungkin saya sudi bepergian jauh bersama orang seperti itu,” kilah Brianna. Meski ia tahu berbohong itu tidak benar, tapi untuk sekarang itu adalah jalan terbaik—menurutnya.


Bohong, batin Shawn. Di dunia ini, dengan segala pengalaman menyakitkan yang didapat Shawn sejak kecil, tidak ada yang dapat luput dari sepasang bola mata berwarna biru legam itu. Tak ada, dan tidak juga dengan kebohongan Brianna. Gadis itu memang bersikap seperti biasa, tapi senyumannya yang terlalu sering itu sangat tidak biasa—sebab Brianna akan sering tersenyum jika ingin menutupi sesuatu.


Helaan disertai embun putih meluncur dari bibir Shawn. Ia melirik sekitar, memastikan apakah 'dia' alias Harry Lawrencium mengikuti mereka, kemudian kembali menatap gadis di hadapannya. "Kalau begitu, apakah ini ada hubungannya dengan Pangeran Pertama?"


Selama 5 tahun tinggal di hutan ini dan setiap Brianna mendatanginya, tidak pernah sekali pun Shawn menyingkirkan kecurigaan bahwa gadis itu bergerak atas perintah Archie. Pangeran berambut merah dan bermata cokelat yang sangat rupawan, tapi sekaligus yang paling membencinya di antara saudara-saudara tiri lain.


Namun demi hubungan yang terbentuk selama 5 tahun di kediaman Plutonium, Shawn selalu memaksakan diri mencoba sekeras mungkin menyingkirkan kecurigaan tersebut.


"Kalau Pangeran Pertama, saya tidak bisa mengelak," ucap Brianna, "sebab tanpa beliau, sulit untuk meyakinkan kakak saya agar mengizinkan saya datang kemari."


"Begitu...," gumam Shawn pelan.


Dengan fakta bahwa gadis ini datang atas izin Pangeran Pertama dan hanya berselang beberapa hari sejak ia kembali diserbu puluhan pembunuh bayaran, hanya satu yang ada di dalam pikiran Shawn saat ini: Kalau begitu, apakah kau ada hubungannya dengan pembunuh bayaran yang menyerangku beberapa hari yang lalu, Brianna Plutonium?