Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 1



Angin bertiup pelan, membuai kantuk menetap dalam netra. Purnama memancarkan cahaya lembut, tak peduli meski awan-awan kelam mencoba menutupi kehadirannya. Tak banyak yang tahu, di sebuah hutan, malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam yang seharusnya dapat dilewati dengan damai, berubah menjadi ajang penghantaran jiwa dari tubuh-tubuh yang berserakan dalam genangan merah ke neraka.


Percikan darah menyebar bersamaan dengan suara ledakan yang sekali lagi terdengar, menghiasi dedaunan dan batang pepohonan secara abstrak. Tetesan demi tetesan cairan merah menitik ke tanah, mengalir dari lengan seorang pemuda yang masih berdiri di sana. Dengan lengan yang sama dan napas terengah, pemuda itu kembali meledakkan bola sihir berwarna putih ke samping...


Duar!


...dan setitik cairan merah lengket kembali menempel di bawah mata kanannya.


Dingin. Di tengah lautan tubuh-tubuh tak bernyawa dan bau anyir pekat yang menusuk penciuman, pemuda itu dapat merasakan sesuatu yang lembut nan dingin mendarat di kulitnya. Sepasang bola mata sebiru langit yang kini menaunginya mendongak, menatap butiran-butiran salju yang turun mewarnai malam. Angin berembus memainkan rambut keperakan pendeknya, juga membelai kulit sepucat salju yang sedang ditatapnya.


Rupanya musim dingin sudah datang lagi, batin pemuda itu.


Pemuda itu menengadahkan tangan, membiarkan setitik salju mendarat dan menghilang tanpa jejak di sana. Ah, pemuda itu jadi merasa seperti melihat dirinya sendiri. Tak dikenal dan tak diingat, itulah nasib pangeran keempat kerajaan ini.


Angin kembali berembus, menemani pemuda bermata biru itu menyaksikan salju pertama tahun ini.


***


Isaac Plutonium.


Bahkan hanya dengan melangkah sudah cukup bagi pemuda berambut pirang itu menunjukkan wibawanya, membuat setiap kepala yang ia lewati menunduk dan memberi hormat.


“Selamat pagi, Tuan Marquess Muda.”


“Bagaimana kabar Paduka, Tuan Marquess Muda?”


“Semoga berkat Lionheart selalu menyertai Paduka Marquess Muda!”


Usianya memang baru 20 tahun, tapi rasa hormat yang ia dapatkan setara dengan para pangeran kerajaan ini.


“Marquess Muda Isaac Plutonium telah tiba!” seruan seorang pengawal mengiringi kedatangan pemuda itu di sebuah ruangan luas berisikan 3 takhta milik 3 pilar utama kerajaan ini—raja, permaisuri, dan putra mahkota. Pemuda itu melangkah dengan penuh percaya diri ke mana karpet merah lembut itu menuntun, kemudian berlutut dan memberi hormat, “Salam kepada Yang Mulia Raja Harvey I dan Yang Mulia Pangeran Pertama.”


Seorang pria yang duduk di takhta tertinggi mengangguk sambil mengangkat tangan, tanda menerima salam yang diberikan Isaac. “Angkat kepalamu, Isaac Plutonium.”


Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung menuruti perintah sang raja. Sepasang bola mata hijaunya bertemu dengan manik cokelat pemuda lain yang duduk di sebelah raja. Pemuda itu memiliki rambut merah pendek yang bersinar di bawah lampu gantung ruang takhta istana. Kulit bersih dan tubuh tegap layaknya seorang bangsawan. Dengan bangga, pemuda itu tersenyum ke arah Isaac. Ialah pangeran pertama Kerajaan Lionheart, Archie frost Uranium.


Sepertinya sekarang sudah dapat dipastikan siapa yang akan diangkat Yang Mulia menjadi putra mahkota, batin Isaac bangga terhadap pencapaian sang sahabat.


“Isaac Plutonium, aku tidak ingin menyita waktumu terlalu banyak, jadi langsung saja ke intinya: apa yang kau ketahui tentang keluarga Count Oldenburgh?”


Isaac mengangguk. “Yang Mulia, jika pengetahuan saya yang terbatas ini tidak salah, keluarga Count Oldenburgh adalah salah satu keluarga bangsawan yang memegang peranan penting terhadap perekonomian kerajaan ini. Saya percaya tidak ada seorang pun di Lionheart yang tidak mengetahui kecermatan dan kelihaian mereka dalam berbisnis.”


“Ucapanmu tidak salah,” balas Harvey, “tapi mungkin itu tidak lama lagi.”


Baru-baru ini, Ibu Kota digemparkan dengan ribuan lembar kertas yang entah bagaimana berserakan di setiap sudut kota. Kertas-kertas tersebut bertuliskan “Muinaru: Dinasti baru yang menguasai Lionheart setelah Uranium”. Siapa pun yang membacanya langsung mengerti bahwa ini adalah rencana pemberontakan yang dirancang oleh sebuah kelompok, apalagi “Muinaru” merupakan kata yang disusun berkebalikan dengan “Uranium”.


“Ya, Yang Mulia. Saya dengar mereka adalah orang-orang misterius yang merencakan pemberontakan terhadap Dinasti Uranium.”


“Kau benar,” jawab Archie, “tapi bukan hanya itu. Baru-baru ini orangku mendapat informasi bahwa di balik ‘Muinaru’, ada beberapa keluarga bangsawan yang terlibat, dan salah satu dari mereka adalah keluarga Count Oldenburgh.”


Isaac mengerjap, setengah tidak percaya dengan informasi yang barusan ia dengar. Bukan hanya keluarga bangsawan yang memegang peranan penting terhadap perekonomian kerajaan, keluarga Count Oldenburgh juga adalah salah satu pengikut Archie, pangeran pertama. Bagaimana mungkin Count melakukan pemberontakan?


“Sama sepertimu, awalnya aku juga tidak percaya,” setelah lengang beberapa saat, Archie melanjutkan, “karena itu, hari ini kami memanggilmu, Isaac Plutonium, untuk memberikan misi memastikan apakah kabar yang kudengar ini benar atau tidak!” Pangeran yang digadang-gadang paling berpotensi mendapat posisi putra mahkota itu mengakhiri kalimatnya dengan tegas.


Isaac menunduk. “Saya siap menerima perintah Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Pangeran Pertama.”


Melihat interaksi kedua pemuda di hadapannya, Harvey tidak bisa tidak tersenyum. Pria berusia 45 tahun itu mengangkat kedua sudut bibir bangga. "Selama ada kalian, aku bisa tenang menyerahkan masa depan kerajaan ini," ucapnya. "Namun sebelum itu, Isaac Plutonium, aku memiliki misi lain untukmu."


"Silakan katakan saja, Yang Mulia."


Harvey terdiam beberapa saat. Senyum di wajahnya sedikit luntur. Manik cokelatnya menatap lamat-lamat Isaac yang masih setia berlutut di bawah sana. "Isaac Plutonium, kau tentu masih ingat dengan Hutan Roldwix, kan?"


Sepasang netra hijau yang masih tertunduk itu refleks membulat.


“Semalam kami mendapat informasi bahwa ada pergerakan dari kediaman Count Oldeburgh, dan itu mengarah ke Arsenic Guild. Menurut penyelidikan kami, seseorang menyewa pembunuh bayaran dalam jumlah besar dengan targetnya berada di Hutan Roldwix.” Harvey mengerutkan dahi, menatap Isaac serius, “Kau tahu kan apa maksudnya ini, Isaac Plutonium?”


Marquess Muda itu mencoba menyamarkan tangannya yang bergetar dengan mengepalkannya, menunduk. “Saya mengerti, Yang Mulia Raja. Saya, Isaac Plutonium, menerima perintah Yang Mulia Raja Harvey I untuk menyelediki pergerakan Count Oldenburgh di Hutan Roldwix!”


“Bagus, tapi kuingin bukan kau yang pergi ke hutan itu, Isaac.” Refleks pemuda berambut pirang itu menoleh ke arah Archie yang berucap demikian. Pemuda yang telah mengenal Isaac dan keluarganya selama 15 tahun itu tersenyum.


“Aku ingin adik perempuanmu yang pergi ke sana. Kalau aku tidak salah ingat, adikmu seumuran dengan ‘dia’, kan?” lanjut Harvey.


Deg. Keringat dingin membasahi telapak tangan Isaac. Napas pemuda itu menjadi sedikit tidak beraturan, tapi di hadapan Raja dan Pangeran Pertama, Isaac mencoba mengendalikannya. Pemuda itu memperbaiki ekspresi dan menunduk, “Tanpa sedikit pun bermaksud menentang perintah Yang Mulia, saya khawatir bahwa adik perempuan saya kurang kompeten untuk tugas ini. Apalagi usianya masih sangat muda dan ceroboh.”


“Meski begitu, bukankah dia tetap seorang Plutonium? Di kerajaan ini, siapa yang berani meragukan kesetiaan dan kemampuan berpedang dari darah Marquess Plutonium, keturunan langsung dari Pahlawan sekaligus Pendekar Pedang Agung Lucius Plutonium?”


Isaac terdiam. Ia tidak ingin terang-terangan menolak perintah Raja dan Pangeran Pertama, tapi di saat bersamaan dirinya lebih dari tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan adik perempuan satu-satunya itu pergi ke sana, apalagi ke hutan itu.


Menyadari kekhawatiran Isaac, Archie menghela. “Kalau kau memang sekhawatir itu, bagaimana jika mengirim putra keluarga Duke Lawrencium pergi bersamanya? Seingatku kalian bertiga dekat sejak kecil dan sebagai satu-satunya keturunan penyihir di Lionheart, itu sudah lebih dari cukup untuk menjamin keselamatan adikmu, kan?”


Isaac terdiam, mencoba mencerna kalimat Archie, kemudian ketika pikiran rumitnya menemui titik terang, alis kanan pewaris masa depan satu-satunya keluarga marquess di kerajaan ini terangkat. “Yang Mulia Pangeran Pertama,” ucapnya, “sebelumnya mohon maafkan saya jika saya salah, tapi jangan bilang adik saya sendiri yang telah memohon pada Yang Mulia untuk diberikan tugas ini?”


Menanggapi pertanyaan Isaac, Archie hanya tersenyum—dan senyum itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan sang marquess muda.