Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 20



Shawn dapat mendengar deru napasnya sendiri. Kulit pucat di balik mantel lengket oleh keringat. Darah membasahi seluruh pakaian, mengalir dari kedua bahu, lengan, hingga kemudian terjun bebas dari ujung jari.


Drap. Drap. Drap.


Sepasang manik merah mengikuti suara derap yang mendekat, dari berbagai arah di kejauhan, mengepung tempatnya kini berdiri, membentuk 'benteng' tak bercela agar ia tak dapat melarikan diri. Lolongan tadi pastilah tanda bagi para serigala yang sejak tadi bersembunyi, menunggu panggilan untuk menyerang.


Shawn beralih menatap tebing tempat sang alpha berdiri, kosong. Mungkin ini waktunya mereka melancarkan strategi yang telah disiapkan.


Helaan napas meluncur dari bibir Shawn bersamaan dengan beberapa ekor serigala yang serentak berlari ke arahnya. Nafsu seorang predator tampak jelas dalam pancaran mata mereka.


Dengan lengan yang penuh akan darah, dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, Shawn kembali mengangkat pedang. Namun ia tak melakukan apa pun, hanya menatap dalam diam para predator yang berlari ke arahnya.


Tepat ketika jarak para serigala itu tinggal tersisa beberapa langkah, Shawn melempar pedangnya ke udara, mengalihkan perhatian para serigala yang semula tertuju pada Shawn pada benda tajam yang melayang. Memanfaatkan celah, dengan cepat ia berlari, melompat menggapai kembali pedang miliknya, kemudian melompat ke dekat salah satu serigala yang masuk ke jarak pandangannya.


"Sepertinya kali ini aku yang menang!" Suara anak lelaki itu menggema dengan jelas dalam benak Shawn, seolah ia baru mendengarnya kemarin. Perkataan seorang anak lelaki bertahun-tahun lalu, saat Shawn masih tinggal di istana Hitam, saat ia diam-diam menyelinap masuk ke taman istana lain karena tersesat—yang kemudian Shawn tahu bahwa itu adalah istana pangeran pertama.


Srak!


Percikan darah kembali merembes ke salju bersamaan dengan tumbangnya seekor serigala. Lolongan penuh kepiluannya terdengar jelas di telinga mereka yang bernyawa. Namun tidak dengan Shawn. Pemuda itu dengan cepat mencabut pedang yang menancap di bawah leher serigala yang tumbang, tepat di jantung. Kemudian ia melompat dengan gesit, melakukan hal yang sama pada setiap serigala di dekatnya.


Tak peduli pakaian dan tubuhnya yang kuyup oleh darah, baik darahnya sendiri maupun darah yang memercik dari ayunan pedangnya. Tak peduli pada beban di kedua lengan yang belum sepenuhnya terbiasa dengan beratnya pedang, Shawn tetap melancarkan ayunan demi ayunan seolah hanya itu satu-satunya cara ia hidup.


Lolongan demi lolongan terdengar. Entah para serigala yang kesakitan, atau mereka yang marah karena rekan mereka terluka. Satu per satu menerjang Shawn dari berbagai arah, seolah tak ada habisnya.


Brak!


Lengah, salah seekor serigala memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan tubuh Shawn. Namun Shawn pun tidak tinggal diam. Tepat sebelum kuku tajam sang predator mengukir jejak lain di tubuhnya, refleks pemuda itu menancapkan ujung pedang ke bawah leher serigala itu sekuat tenaga, sedalam mungkin.


Crash!


Cairan merah memercik. Sebagian menodai wajah pucat Shawn, membuat netranya mengerjap. Sebagian lain turut membasahi pakaian Shawn, bergabung dengan cairan merah lain yang terserap dalam pakaiannya. Tubuh kaku serigala itu pun tumbang di atas tubuh Shawn.


Tanpa membuang waktu, Shawn segera berdiri. Pedangnya langsung bertemu dengan cakar-cakar yang mengarah tajam ke arahnya. Namun di saat stamina para predator masih terbilang stabil, Shawn dapat merasakan tenaga dalam tubuhnya hampir terkuras habis. Ditambah dengan luka yang ia dapat, lengan Shawn hampir tak lagi kuat mengangkat senjata berat di tangan.


Saat masih tinggal di Hutan Roldwix, selain menggunakan sihir, Shawn selalu bertarung dengan bantuan fransbeast yang menjalin 'setengah' nitrogium dengannya. Tak heran meski masih dapat bertahan, Shawn sangat kelelahan. Bertarung dengan pedang dan murni mengandalkan kemampuan fisik yang tak pernah benar-benar ia latih, tentu sangat menguras tenaga.


"Pangeran, apakah anda tahu makna di balik nama 'Plutonium' dan 'Uranium'?" tiba-tiba suara anak lelaki lain kembali melintas dalam benak Shawn. "'Lionheart' memiliki makna hati seteguh singa, tapi di dalam perang 'Lionheart' berarti 'ledakan nuklir'. Untuk menciptakan ledakan nuklir, dibutuhkan unsur plutonium dan uranium, yang berarti agar Kerajaan Lionheart dapat berdiri dengan kokoh tanpa celah, Plutonium dan Uranium harus bersatu dan tidak boleh saling bertentangan."


"'Ledakan nuklir'," gumam Shawn di sela-sela menangkis serangan yang mengincar nyawa. Kini ia mulai terpojok. Kedua kakinya yang semula berdiri kokoh mulai limbung. Pemuda itu bahkan dapat mendengar suara napasnya sendiri.


Plutonium adalah keluarga marquess yang terkenal akan kelihaian berpedang mereka, dan Uranium adalah darah agung yang mengalir dalam anggota keluarga kerajaan saat ini. Ledakan nuklir berarti ledakan dahsyat akibat pelepasan energi dari reaksi berkecepatan tinggi. Sedikit saja energi pada ledakan tersebut dapat menghancurkan sebuah kota besar menjadi debu. Setengah ledakan dapat menghancurkan sebuah kerajaan, bahkan hingga lapisan ozon yang membungkus bumi. Meski belum pernah dicoba, tapi dipercaya satu ledakan penuh bahkan dapat melenyapkan sebuah benua dari peta.


"...agar Kerajaan Lionheart dapat berdiri dengan kokoh tanpa celah, Plutonium dan Uranium harus bersatu dan tidak boleh saling bertentangan," ucap suara anak lelaki di dalam kepala Shawn lagi.


Sudut kanan bibir Shawn terangkat. "Sepertinya saya terlalu menganggumi anda, Tuan Marquess Muda."


Shawn adalah Uranium. Namun ia berbeda dari Uranium lain. Ia memiliki sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh Uranium lain: sihir.


Helaan napas kembali meluncur dari bibir Shawn. Ia memang sudah bertekad tidak menggunakan sihir sejak meninggalkan Limpa, dan ia juga menahan diri tidak menggunakannya meski terbakar oleh amarah saat berada di penginapan. Sebab di luar Hutan Roldwix, hal tidak diinginkan selalu terjadi setiap ia menggunakan kekuatannya.


Namun kali ini, meski telah berjuang sekuat tenaga, sepertinya memang tak ada cara lain. Selama bertahun-tahun Shawn memang sudah terlalu bergantung kepada sihir.


Sepasang netra biru di balik lensa kontak itu terbuka. Dalam waktu singkat Shawn melompat dan mendarat di dekat serigala terdekat.


Krak.


Pedang dilapisi mana keperakan itu menembus dada si serigala. Dalam sepersekian detik, kekuatan sihir yang membungkus senjata besi itu membekukan jantung yang berada di ujung besi. Jantung serigala itu berhenti berdetak, menyebabkan peredaran darah turut berhenti. Tak ada peredaran darah, berarti tak ada peredaran oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh, yang sama saja menghentikan kerja setiap organ.


Pupil hitam dalam manik kuning itu membesar, sebelum akhirnya tubuh kaku sang serigala jatuh dengan sendirinya. Bruk. Memang, itu bukan ledakan dahsyat sebagaimana lazimnya sebuah ledakan nuklir. Anggaplah Shawn melakukan 'ledakan senyap'—'ledakan' yang terjadi diam-diam di dalam tubuh serigala itu—karena tak ingin kekuatan sihirnya ketahuan.


Para serigala yang melihat kematian tak biasa rekan mereka sedikit melangkah mundur, mengamati tubuh tak bernyawa itu. Bahkan tak ada darah yang mengalir dari tubuh itu ketika Shawn menarik pedangnya.


Krak.


Detik berikutnya, para serigala dapat merasakan sesuatu yang keras menggerogoti kaki mereka. Angin berembus, memainkan rambut hitam sang pemuda yang diam-diam menggerakkan jari diselimuti mana keperakan. Pedang yang diselimuti kekuatan sihir tersebut pun tak lama menganggur, dalam beberapa waktu ke depan akan sibuk mengambil nyawa demi nyawa di hadapannya.


AAAUUU!!!


Sebelum Shawn sempat melangkah, ia dihentikan oleh sebuah lolongan di kejauhan. Shawn berbalik, mendapati seekor serigala berbulu legam yang masih bebas nan bugar. Sekilas, semua serigala memang tampak sama. Namun Shawn mengenali serigala itu. Sorot matanya sangat berbeda dari serigala lain. Sepasang manik kuning yang menatap penuh kehatian-hatian dan penuh pertimbangan, sang alpha, pemimpin pack ini.


"Jangan bunuh mereka." Netra Shawn membulat. Sementara sang alpha berjalan di antara keheningan, di antara tubuh-tubuh tak bernyawa rekan-rekannya, dan di bawah tatapan rekan-rekannya yang masih hidup. "Katakan, apa yang kau inginkan, wahai Manusia?"


Sungguh, Shawn tak menduga di sepanjang hidupnya ia dapat menjumpai 2 fransbeast yang dikabarkan sudah punah. Pemuda itu menarik napas, kemudian mengembuskan perlahan. Diturunkannya pedang yang sejak tadi berada dalam posisi siaga. Bola mata Shawn menatap lurus ke dalam tatapan sang alpha. "Aku juga tidak tahu... apa yang kuinginkan."


"Benarkah?" ucap sang alpha. "Kalau begitu, kenapa kau membunuh kaum kami?"


"Kalian menyerangku lebih dulu, jadi aku membela diri," jawab Shawn.


Sang alpha menggeleng. "Jangan berbohong. Aku tidak tahu dengan pack lain, tapi pack yang kupimpin tidak mungkin melakukan itu."


"Namun mereka melakukannya," respon Shawn cepat. "Aku bermaksud membantu serigala yang kakinya tersangkut di antara akar pohon, tapi setelah bebas, dia malah menyerangku, bahkan memanggil bala bantuan."


Sang alpha mengerjap, masih beradu tatap dengan mata merah Shawn. "Bagaimana aku bisa memercayai ucapanmu? Bukankah kau adalah salah satu pemburu yang memburu kami 3 hari belakangan ini?"


"Memang benar, tapi aku punya tujuanku sendiri."


Kedua netra dua makhluk berbeda itu seketika bertatapan sengit begitu genap ucapan Shawn.


"Katakanlah ucapanmu benar dan kau memang bermaksud membantu anggota pack-ku. Tapi setelah dia selamat, kau pasti akan membunuhnya, kan?"


Kali ini, Shawn terdiam, menggeleng. "Serigala itu masih kecil, aku tidak berniat membunuh anak-anak. Lagipula, ini hari terakhirku. Aku berniat pergi setelah menyelesaikan sesuatu—"


DUAR!


Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan tak jauh dari tempat Shawn berada. Sebuah ledakan yang bahkan cukup kuat untuk menciptakan embusan di sekitar Shawn. Padahal jarak asal suara itu berada beberapa meter dari sini, tampak dari tiang asap tinggi yang menjulang ke langit.


"Sepertinya rekanmu dalam bahaya, wahai Manusia." Shawn kembali menoleh pada sang alpha. "Pergilah, aku berjanji pack kami sama sekali tidak menaruh dendam padamu."


Shawn mengerjap, netranya menatap dalam netra sang alpha. "Sepertinya, kau mengetahui sesuatu tentang situasi ini?"


Sudut bibir sang alpha tampak tertarik. Ia mengangguk seiring kelopak mata yang bergerak turun. "Sekarang bukan saatnya. Yang bisa kukatakan hanyalah lebih baik kau segera pergi sebelum rekanmu saat ini tambah terluka."