Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 18



"Sial! Sial!" Segelas bir yang baru diteguk setengahnya diletakkan dengan kasar ke meja kayu bundar, meluapkan kekesalan dari si peminum. "Padahal hanya wakil, tapi lagaknya melampaui ketua!" Wajah pria kekar itu tampak memerah karena mulai dimabukkan oleh alkohol.


Dua pria kekar lain mengangguk, sama-sama mengerutkan dahi marah. "Baik bagaimana pun, kita anggota Arsenic! Wakil, bahkan ketua perburuan kecil ini sekali pun tidak bisa memperlakukan kita seenaknya!" Sekali lagi terdengar suara tinju yang mendarat di meja kayu bundar itu, seolah ia hanyalah pelampiasan dari tiga pemabuk yang marah.


"Sejak awal, tidak seharusnya wanita diberikan posisi tinggi. Baru menjadi wakil saja sudah berlagak, apalagi menjadi ketua!"


Mendengar ucapan sang rekan, pria kekar berambut jingga itu kembali meminum beberapa tegukan isi gelas di tangan.


Bukan hanya dari meja ketiga pria kekar itu saja, meja-meja kayu bundar lain juga menyerukan protes serupa, menguasai setiap sudut bar kecil tak jauh dari bangunan milik Arsenic Guild. Para pelayan hilir mudik melayani tamu-tamu yang tak berhenti menambah pesanan bir saking kesalnya.


Di tengah kecaman yang ditujukan pada Herald dan Agatha, pemuda berambut biru navy berjalan ke tengah ruangan. Manik legamnya mengamati suasana sekitar yang terasa panas—panas akan amarah yang memuncak dalam masing-masing manusia di tempat ini.


"Perhatian, semuanya!" pemuda itu berseru sekeras mungkin, mencoba mengalahkan gelombang suara dari ratusan orang yang berasal dari berbagai arah. Namun percuma, ia hanya mendapatkan perhatian selama sepersekian detik, kemudian orang-orang kembali dalam perbincangan semula. Demi mendapat perhatian sebanyak mungkin, pemuda itu mengayunkan pedang yang sejak tadi berada di tangannya, membelah sebuah meja kayu kosong.


Kali ini, ia sukses mendapat perhatian semua orang—entah dapat bertahan untuk berapa lama.


"Aku yakin semua orang yang berada di tempat ini adalah orang-orang berbakat dan hebat," pemuda itu kembali mulai berbicara, "bahkan aku saja tidak terima Wakil Ketua memperlakukan kalian seperti itu, apalagi kalian!"


Satu per satu kepala mengangguk, setuju dengan ucapan sang pemuda.


Namun di antara mereka, salah seorang pria memincingkan netra, "Apa yang kau tahu di saat kau sendiri dipilih oleh 'Wakil Ketua' itu? Kau ingin menertawakan kami?"


Cepat-cepat Zein menggeleng, merapikan poni navy-nya yang sedikit menutupi netra. "Aku ingin memberi kalian kesempatan, kesempatan untuk membalas penghinaan yang kalian terima hari ini! Khususnya kepada Agatha Mayers!"


***


Bruk!


Baru beberapa ayunan saja, Shawn terjatuh tatkala tubuhnya kelelahan mengangkat pedang yang sangat berat. Latihan baru dimulai tak lebih dari 1 jam, tapi terhitung ini sudah kali ke-9 pemuda itu terjatuh.


"Kalau tahu kau sepayah ini, seharusnya aku tidak menawarkan diri mengajarimu," gadis berambut hitam itu menggeleng sambil memijit kepala, prihatin dengan kemampuan Shawn yang menurutnya sangat di bawah rata-rata.


Shawn berdiri, menatap tajam Margareth. Andai ia tahu bahwa di balik lensa kontak merah itu, ada sepasang bola mata biru tengah menganalisa serangan paling efektif yang pemuda itu dapat luncurkan kepadanya.


Margareth mengambil beberapa langkah mendekati Shawn, memamerkan senyum sinis disertai tatapan merendahkan. "Mungkin sesuai saran Ketua, seharusnya kau—" Bibir Margareth mendadak keluh, kedua kakinya tiba-tiba berhenti. Dadanya bergerak naik dan turun secara cepat tatkala jantungnya terasa ditusuk-tusuk oleh tatapan tajam nan dingin yang dilontarkan pemuda di hadapannya.


Margareth merasa dejavu. Ia menegup ludah, melihat Shawn yang tiba-tiba berjalan ke arahnya sambil menyeret pedang. Suara besi bergesekan dengan tanah kering tempat keduanya berdiri terdengar jelas di antara deru napasnya sendiri. "Margareth," ucap Shawn, "tolong jangan bermain-main dengan saya."


Deg.


Jantung Margareth semakin berdetak liar hingga ia sendiri dapat mendengarnya. Perlahan, sudut bibirnya dipaksakan terangkat. "Baiklah, tapi tolong jangan tiba-tiba menggunakan bahasa formal. Itu sedikit tidak sesuai dengan kondisi kita, kan?"


Shawn mengerjap, menatap lurus ke dalam netra legam itu. Kemudian tanpa mengatakan apa pun, Shawn berjalan beberapa langkah ke belakang, memasang kuda-kuda, kemudian kembali mengayunkan pedang sesuai instruksi Margareth semula.


Tanpa pemuda dan gadis itu sadari, ada seseorang yang mengamati latihan mereka dari jauh, tepatnya dari balik jendela di lantai 2 bangunan Arsenic Guild. Sosok bertubuh tinggi dengan topeng merah yang menutupi seluruh wajahnya. Hanya tampak sepasang manik hijau dari celah topeng yang ia gunakan.


***


Ayunan pedang dalam genggaman pemuda berambut hitam itu menari lembut dalam embusan angin, tapi kelembutan itu langsung sirna begitu menyentuh pedang lawannya.


Srang!


Srang!


Berkali-kali Margareth mencoba mengincar leher Shawn, tapi berkali-kali pula Shawn menghindar seolah sudah tahu ke mana ia akan menyerang.


Kedua pedang kembali bertemu, saling menangkis serangan satu sama lain. Namun sebaik apa pun sang pemuda, kekuatan yang tersalur pada pedangnya tetap lebih lemah. Meski demikian, ia berusaha bertahan sekeras mungkin. Sepasang manik merah dan hitam tak dapat mengalihkan perhatian dari satu sama lain, seolah sama-sama terjerat oleh sepasang kristal bundar yang menyihir keduanya.


"Baiklah, cukup," ucap Margareth begitu pedangnya berhasil membuat pedang Shawn lepas terlempar beberapa langkah dari mereka. Sinar senja mentari bergerak menjauhi keduanya, bergantikan gelap yang mempersiapkan kedatangan rembulan beberapa saat lagi.


Shawn mengatur napasnya yang terengah, merasakan kesepuluh jari-jarinya yang nyeri karena sudah lama tidak membawa pedang seberat dan sebesar itu.


"Untuk ukuran pemula, kau cukup hebat, dasarmu sudah cukup baik," Shawn yang semula menunduk, mendongak, menatap gadis berambut hitam yang berjalan ke arahnya. "Awalnya gerakanmu terbilang kaku dan lambat, tapi seiring waktu semakin membaik. Apa dulu kau pernah belajar dari seseorang?"


Lagi-lagi sepasang manik merah itu hanya mengerjap, tidak memberi respon berarti akan pertanyaan Margareth. Jika boleh jujur, tentu jawabannya adalah iya. Sang pangeran keempat dulu pernah mendapat kesempatan belajar berpedang langsung dari keluarga ahlinya, tepatnya putri dari Keluarga Plutonium.


Namun itu hanya cerita lama, saat Shawn masih dapat mengesampingkan segala kecurigaannya pada gadis itu. Saat ia masih tinggal di kediaman Marquess.


"Jangan sombong hanya karena kupuji sedikit, baik bagaimana pun kau tidak akan bisa bergabung dengan perburuan ini kalau bukan karena aku, kan?" ujar Margareth yang sedikit tersinggung karena diabaikan. Menanggapi perkataan gadis di hadapannya, Shawn menampilkan senyum miring, "Benarkah?"


Ucapan Shawn sontak mengundang tatapan tajam dari sang gadis, tapi ia tak peduli, dengan santai mengangkat bahu kemudian berbalik masuk ke dalam gedung. Padahal sudah sejauh ini, tapi kau masih saja mengikutiku.


"Halo," sapa suara lembut yang sangat khas, sukses membuat langkah Shawn terhenti. Meski tak menoleh, Shawn sudah dapat menerka siapa kira-kira pemilik suara yang menyapa.


"Entah apa kau ingat, namaku Vio," ucap gadis yang seluruh tubuhnya tersembunyi di balik jubah sambil berjalan menuruni tangga, kemudian berbelok tepat ke depan Shawn. "Kau tidak sempat memperkenalkan diri tadi karena Ketua menyuruhmu berlatih begitu kau menyetujui usulan Margareth. Kalau kau tidak keberatan, mau berkenalan?" Vio mengulurkan tangan. Rupanya di balik jubah itu, tersembunyi sosok dengan kulit pucat—tidak sepucat Shawn tentunya.


"Shawn," jawab pemuda itu, ragu-ragu menerima uluran tangan sang gadis. Samar-samar Shawn dapat menangkap tawa kecil dari balik jubah. "Sepertinya kau sama sekali tidak takut dengan kekuatanku," ucap Vio begitu jabatan tangan mereka terputus.


Shawn mengernyit, tidak terlalu mengerti apa yang Vio bicarakan. Seolah enggan menjelaskan, gadis itu berbalik dan berjalan mendahului Shawn. "Ayo, Ketua dan Wakil Ketua memintaku membawamu pada mereka."


Vio berbelok menaiki tangga tempat ia datang tadi. Mau tak mau, Shawn pun mengikuti.


"Sejujurnya aku masih penasaran, apa kemampuanmu hingga memutuskan mendaftar mengikuti perburuan? Tidak mungkin kan hanya karena uang kau mendaftar padahal tidak memiliki kemampuan apa-apa?" Vio memulai percakapan, melirik Shawn sekilas dari balik tudung jubah. "Apalagi dari cara kau menghindari serangan Wakil Ketua, jelas kau bukannya sama sekali tidak bisa bertarung."


Suara langkah pemuda dan gadis itu terdengar jelas di sepanjang lorong sepi. Shawn mengerjap, menimbang jawaban seperti apa yang harus keluar dari mulutnya.


"Baiklah, tidak apa kalau tidak mau menjawab," tiba-tiba Vio kembali berkata, menatap Shawn, "tapi kalau suatu saat kau sudah tidak keberatan, katakanlah saat itu."


Kerutan di dahi Shawn semakin bertambah, semakin tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan suara lembut itu.


***


"Dicampakkan 'kekasih barumu'?" Margareth menoleh, menatap tajam Zein yang baru tiba di tanah lapang belakang gedung Arsenic. "Kau sendiri bagaimana? Apa kau melakukan tugasmu dengan baik?" Berbanding terbalik dengan ekspresi Margareth, Zein mengukir senyum penuh kemenangan sambil mengacungkan jempol, membuat wajah gadis itu bertambah muram.


"Jujur saja, aku semakin tidak mengerti dengan caramu memilih laki-laki. Apa yang kau suka dari pemuda lemah itu?"


Sudut kanan bibir Margareth terangkat, "Itulah kenapa aku tidak menyukaimu," jawabnya singkat, kemudian berjalan menunju bangunan megah di dekat mereka.


Suara burung hantu perlahan terdengar. Langit bertambah kelam seiring rembulan yang semakin tampak. Angin memainkan ujung poni Zein yang ditinggal seorang diri di lapangan, menatap punggung Margareth yang seolah akan hilang dalam pandangannya jika tidak ia tatap sekarang. "Sebenarnya, kenapa kau begitu membenciku?" Lidah pemuda itu terasa pahit usai berucap demikian, tangannya mengepal menahan rasa tak terima akan takdir yang ia miliki.


Di sisi lain, Margareth kini sudah berada di lantai 2, berjalan menuju ruangan ketua perburuan untuk melaporkan hasil latihannya dengan Shawn seharian ini. Kata Herald, orang yang memang memiliki bakat berpedang pasti akan langsung tampak dari hari pertamanya.


Bola mata hitam Margareth menatap lantai kayu yang dilewatinya. Ia masih memikirkan tatapan tajam yang dilontarkan sepasang manik merah tadi. Tatapan yang belum pernah ia lihat, baik dulu maupun saat pemuda itu sudah diasingkan ke hutan. Tatapan 'membunuh' yang baru ada setelah pemuda itu melangkahkan kakinya keluar dari Hutan Roldwix.


Hanya dalam beberapa hari, kau sudah banyak berubah.


Yah, sebenarnya itu bukan hal buruk bagi pemuda itu. Namun untuk Margareth, itu adalah petaka.