Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 19



"Sebaiknya kau punya alasan bagus membuatku terbangun di tengah malam!"


"Yang Mulia, tolong jangan marah. Saya ingin melaporkan semua berjalan lancar sampai saat ini."


"Baiklah, lalu?"


"...."


"Kenapa kau diam? Apa ada masalah?"


"Yang Mulia, 'dia' ada di sini."


"'Dia'? Maksudmu..."


"Jinxed Prince."


"Bagaimana bisa? Bukankah kau sendiri melihatnya berjalan ke arah utara?"


"Memang benar, Yang Mulia. Saya juga tidak mengerti kenapa 'monster' itu ada di sini."


"Ha! Siapa sangka pangeran sial itu menyerahkan nyawanya sukarela pada guild yang kubangun sendiri! Dengar, kalau ada kesempatan bunuh saja dia! Semakin lama dia hidup, semakin banyak orang yang menderita karenanya."


"Siap laksanakan, Yang Mulia. Kemudian ada satu hal lagi: Agatha Mayers ada di sini."


"Apa maksudmu? Aku tidak pernah... Ah, begitu rupanya, Isaac! Gadis itu pasti meremehkanku karena aku mengajaknya berpihak padaku."


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Untuk sekarang, tetap pada rencana utama. Setelah rencana itu berhasil dijalankan, sisanya kuserahkan padamu dan 'Zein'."


"Baik, Yang Mulia."


***


Suara derap langkah Shawn bergema di sepanjang lorong. Perkataan Herald masih terus terngiang dalam benaknya.


"Akan kuizinkan kau mengikuti perburuan ini, dengan syarat dalam 3 hari kau harus bisa membawakanku 100 ekor kepala serigala yang kau bunuh!"


Membunuh bukan perkara besar bagi Shawn. Di hutan, ia sudah sering melakukannya—entah kepada hewan buruan maupun pembunuh bayaran yang datang. Namun yang menganggu pikiran pemuda itu adalah perkataan Margareth yang datang di tengah-tengah pembicaraan mereka.


"Biar aku yang menemaninya di sepanjang perburuan."


Kemampuan pedang Margareth tak perlu diragukan—itu sudah jelas. Namun Shawn tetap tidak nyaman. Kesan yang ia miliki terhadap Margareth saat ini tidak bisa dikatakan baik. Daripada Margareth, mungkin gadis bernama Vio itu lebih baik.


Tiba-tiba Shawn berhenti, melemparkan pandangan keluar jendela. Cahaya rembulan menyinari gelapnya malam, membuat netra Shawn dapat menangkap sekilas tanah lapang tempatnya berlatih tadi. Sejenak, pemuda itu teringat suara menyebalkan dari si anak tidak tahu sopan santun. Biasanya suara itu akan mewarnai hari-hari Shawn begitu bulan mengokohkan posisi di langit sampai matahari terbit keesokan harinya.


Dengan sifatnya itu, semoga dia tidak membuat masalah yang bisa membuatnya diusir dari penginapan.


"Apa kau sedang memikirkan syarat dari Herald?" Suara berat itu membuat Shawn menoleh. Dia adalah pria bertopeng yang dilihat Shawn di ruangan tadi. Tubuhnya lebih tinggi dari Shawn dengan bentuk tubuh khas seorang pendekar, sangat tegap dan kokoh. Topeng merah menutupi seluruh wajah, menyisakan sepasang manik hijau dari celah di topeng.


"Kalau kau mau, aku bisa membuat Herald membatalkan syaratnya itu. Tapi tentu saja, setelahnya kau harus pergi," lanjut pria itu begitu tiba.


Alis kanan Shawn terangkat. Entah kenapa merasa tidak asing akan sesuatu dari pria di hadapannya. Manik biru di balik lensa kontak itu menatap penuh selidik.


"Baiklah, lupakan kalau kau tidak suka dengan tawaranku. Katakan saja kapan pun kau berubah pikiran." Setelah beberapa saat pria itu memilih mengalihkan pandangan keluar jendela. "Ngomong-ngomong, besok akan cerah."


Shawn mengikuti arah pandang pria itu. Di Lionheart, ada kepercayaan yang mengatakan bahwa purnama sempurna di musim dingin menandakan keesokan harinya pasti cerah. Tanpa hujan maupun badai salju. Tanpa bencana maupun petaka. Tanpa kemalangan. "Cerah" dalam artian secerah-cerahnya.


Menanggapi ucapan barusan, Shawn hanya mengerjap. Selama tinggal di hutan, ia sudah menyaksikan berbagai hal dan menurutnya mitos itu tidak selalu benar. Pernah ada tahun meski purnama bersinar sangat cerah di malam hari, keesokan paginya malah turun badai salju.


"Siapa namamu? Aku penasaran karena Agatha begitu membicarakanmu tadi." Pria itu menatap Shawn. "Tentu maksudku nama samaranmu. Aku sama sekali tidak berniat menggali informasi pribadimu."


""Nama samaran'?" refleks Shawn tak mengerti.


Pria itu mengerjap, terdiam beberapa saat, kemudian menghela seiring gerakan kepalanya yang kembali menatap bulan. "Ada baiknya kau tidak memberi tahu nama aslimu pada orang-orang yang bersamamu hanya sementara. Itu demi keamananmu juga."


Shawn dapat menangkap getaran samar dalam suara pria itu. Cara bicara yang entah kenapa terasa familier.


"Kalau mau, kau bisa menggunakan nama 'Noah'."


Shawn mengikuti gerakan mata pria itu yang tiba-tiba melirik tangannya. "Kenapa?" tanya Shawn was-was tatkala pria itu hanya diam setelah tadi bicara panjang lebar.


Pria di balik topeng itu menggeleng. "Bakat berbeda dengan tekad. Meski sekarang kau memang sudah menguasai dasar berpedang, itu tidak menjamin kemampuan pedangmu ke depannya. Semoga keselamatan selalu menyertaimu," ucap pria itu seiring dengan langkahnya yang menjauhi Shawn.


Derap langkah di sepanjang lorong menemani perjalanan pria itu. Berbagai pemikiran silih berganti menghampiri, sampai kemudian terbuyarkan oleh sebuah suara. "Baru sekarang kau peduli padanya?" perkataan sinis itu membuat pria itu menghentikan langkah di pertigaan lorong, menoleh pada gadis berambut pirang yang entah sejak kapan berdiri sambil bersenderkan dinding di sana. "'Noah', orang beruntung dalam Legenda Air Bah. Hanya dia yang secara langsung diselamatkan Yang Mahakuasa oleh karena kebaikan dan hatinya. Memberi nama itu pada seseorang sama saja mengatakan, 'Semoga keselamatan selalu menyertaimu. Hiduplah, berbahagialah, meski hanya tinggal kau seorang di dunia ini.'."


Dahi di balik topeng itu berkerut, kesal akan tingkah Agatha. Seolah penglihatannya dapat menembus topeng yang ia kenakan, gadis itu tertawa, kemudian merangkul lengan pria itu. "Aku tidak bermaksud mengejekmu. Aku hanya penasaran, padahal selama bertahun-tahun kau tidak pernah berbicara padanya secara sengaja. Kenapa baru sekarang kau peduli padanya?"


Pria di balik topeng itu terdiam, merasakan detak jantungnya yang meronta tatkala jaraknya dengan gadis itu terlalu dekat. Beberapa saat kemudian, ia memilih melepas diri dari rangkulan Agatha, melirik punggung Shawn yang sudah menjauh. "Aku tidak pernah tidak peduli padanya."


***


Darah memercik di mana-mana, bersamaan dengan lolongan serigala yang tak henti terdengar.


Ctas!


Untuk kesekian kali di hari ini, satu lagi kepala seekor serigala melayang di udara, kemudian mendarat di atas tumpukan salju, di antara kepungan mayat-mayat serigala tak berkepala lainnya.


"Ini kepala ke-10 hari ini," ujar Margareth senang, kemudian mengambil kepala itu dan memasukkannya ke dalam pouch sihirnya. Pouch sihir itu berbentuk seperti kantong biasa, tapi dengan sihir yang sudah di masukkan ke dalam proses pembuatannya, kantong itu dapat menampung barang dengan kapasitas tak terbatas dari segi jumlah. Namun untuk ukuran, maksimal kantong tersebut hanya dapat terisi benda sebesar meja saja.


Usai merasakan kepuasan atas pencapaiannya, sudut bibir gadis itu kembali melengkung turun. Kepala berambut hitam panjang itu menoleh ke sekitar. "Sebenarnya, ke mana dia pergi?" tanya gadis itu tatkala tak melihat kehadiran pemuda berambut hitam itu di mana pun.


Angin berembus, memainkan rambut panjang Margareth, melewati celah pepohonan rimbun yang mengelilinginya, terus berembus hingga kemudian bersatu dalam embusan angin yang tercipta dari lari cepat seorang pemuda.


AAUUU!!!


Shawn berusaha mengatur napas seiring langkah yang ia ambil, hati-hati melewati akar pohon yang merambat di antara salju. Sepasang bola mata di balik lensa kontak merah itu seolah tak berkedip, terus menatap lurus pada sebuah pohon tinggi.


Tap.


Begitu tiba tepat di depan pohon tersebut, Shawn melompat, menjadikan pohon tersebut sebagai pijakan, kemudian berbelok tajam. Dua ekor serigala yang sudah menunggu tepat di antara celah pohon di belakangnya terkejut, kesal, kemudian bergabung dengan tiga teman mereka turut mengejar Shawn.


Langkah beralaskan sepatu kulit gelap itu terus meninggalkan jejak di antara tumpukan salju, melangkah menuju tanah lapang dengan jumlah pepohonan lebih sedikit. Jubah gelap yang membungkus tubuh tersibak akan embusan angin. Helaian rambut hitamnya bergerak-gerak mengikuti bayu yang bertiup.


Selama 5 tahun hidup di hutan, Shawn sudah menghapal kebiasaan beberapa hewan liar, khususnya predator dengan penglihatan dan pendengaran kelewat tajam di malam hari ini.


AAUUUU!!!


AAAUUUU!!!


Satu dua lolongan serigala terdengar saling bersahutan, mungkin memanggil kawanan terdekat mereka agar datang membantu perburuan. Namun Shawn tak gentar. Ia terus berlari menuju kawasan yang lebih lapang, medan dimana ia bisa bergerak dan bertarung dengan lebih bebas.


GGRRR!!!


Terhitung 8 ekor serigala telah menanti kehadiran Shawn beberapa meter di depan. Kepala Shawn menoleh cepat ke sekitar.


Di mana dia?


Ah, dapat! Ada seekor sergiala yang berdiri dengan gagah di atas tebing dekat sana. Pastilah ia sang alpha, pemimpin pack serigala yang tengah mengejar Shawn. Sepasang manik kuning yang dipancarkannya menguarkan keberanian khas pemimpin, menganalisis situasi saat ini.


Total 13 serigala mengejar dan seekor mengamati situasi. Shawn berpikir cepat. Serigala bukanlah predator biasa, mereka memiliki stamina dan kecerdasan. Apalagi jika terlihat sang alpha sudah mengamati dari jauh, berarti mereka memiliki strategi.


Namun meski hanya anggota biasa, mereka bukanlah serigala yang dapat diremehkan. Tanpa memberi waktu Shawn lebih banyak berpikir, 6 ekor serigala di depan segera berlari mengepung Shawn dari berbagai sisi, menyisakan 2 ekor yang masih berdiri di tempat semula. Seekor serigala yang mengejar dari belakang tiba-tiba melompat, hendak menerkam Shawn.


Mengandalkan refleks yang terlatih, Shawn melompat menghindari satu demi satu serangan yang dilancarkan para serigala. Pedang besi yang sejak tadi tersarung di pinggang, kini dikeluarkan. Tetesan darah pun tak dapat terhindarkan lagi dari salju—entah darah Shawn atau para serigala.


Srash.


Seekor serigala berhasil mengukir jejak di bahu Shawn, membuat pemuda itu meringis. Seandainya sejak tadi ia menggunakan sihir, mungkin luka remeh semacam itu tak akan membekas pada tubuhnya. Namun Shawn tidak bisa. Ia berada di tempat asing bersama orang-orang asing. Berbeda dengan saat di Limpa, menggunakan sihir di sini sama sekali tidak sepadan.


Meski demikian, tubuh pemuda itu laksana batu kokoh yang bahkan sulit dikikis oleh terpaan ombak. Shawn tetap bertarung tanpa gentar, menghindar dengan gesit, memaksa kedua kaki tetap berpijak dengan kokoh. Sesekali jika memungkinkan, Shawn mencoba melayangkan serangan, tapi kebanyakan selalu meleset.


"Bakat berbeda dengan tekad. Meski sekarang kau memang sudah menguasai dasar berpedang, itu tidak menjamin kemampuan pedangmu ke depannya."


Entah kenapa, di saat seperti ini Shawn malah teringat perkataan pria bertopeng semalam. Sudut bibirnya terangkat, masih sambil menghindar di antara serangan para serigala. Kalau begitu, aku harus bagaimana? batin Shawn frustrasi.


Berkat latihan selama setengah hari penuh bersama Margareth kemarin, tubuh Shawn lumayan familier dengan senjata berat satu ini. Ah, tidak. Mungkin bisa dikatakan ini juga berkat 'permainan' yang biasa ia lakukan bersama Brianna setiap gadis itu mengunjungi Shawn. Belati memang berbeda dengan pedang, tapi pada dasarnya kedua senjata itu memiliki bentuk yang cukup mirip, hanya berbeda ukuran.


Sadar tidak sadar, tubuh Shawn merekam setiap gerakan yang ia lakukan dalam 'permainan' bersama Brianna. Kedua netra sekelam langit di musim dingin itu mengingat benar gerakan yang dilancarkan adik Marquess Muda Plutonium itu padanya. Juga mungkin bisa dikatakan berkat para pembunuh bayaran yang datang setiap beberapa waktu sekali.


Crash!


Goresan lain kembali terukir, kali ini di lengan, merobek mantel biru barunya. Tetesan darah kembali menghiasi salju tebal yang menumpuk, memanasi hawa membunuh para serigala. Seekor serigala lagi melompat, dengan segera kedua pasang taring tajamnya menancap di bahu Shawn. Refleks netra pemuda itu membelalak, merasakan sakit teramat menggerogoti lengan.


Darah segar mengalir di sela-sela taring serigala itu, mengundang nafsu membunuh rekan lain.


Tak mau kalah, satu dua serigala ikut melompat ke arah Shawn sambil membuka mulut lebar-lebar. Namun Shawn tak gentar. Meski "keempat" adalah sial, bukan berarti ia harus pasrah menerima semua yang terjadi dalam hidupnya.


Shawn merasakannya. Tanpa sadar alam bawah sadarnya selalu merekam pergerakan bertarung Brianna yang ditujukan padanya. Sepasang netra merah itu tertutup, mengingat gerakan Brianna dengan lebih detail. Lengan kanan Shawn membentuk sudut 45 derajat ke dalam, kakinya berputar setengah putaran, kemudian secepat kilat tangannya membentuk sudut lurus dan ujung pedang di tangannya menancap di dada serigala yang masih menggigit lehernya. Kemudian secepat kilat pula Shawn menghindar dari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan serigala lain.


Darah merembes ke salju. Para serigala yang melihat rekannya terluka menggeram marah, menatap Shawn penuh nafsu membunuh.


AAAUUU!!


Lolongan serigala semakin sering terdengar, memanggil lebih banyak bantuan, mengabarkan teman mereka yang sekarat. Serigala adalah hewan dengan solidaritas tinggi, tidak ada yang lebih penting bagi mereka selain teman dan keluarga.