Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 13



Tak terasa, hampir genap seminggu terlewati sejak salju pertama turun di Lionheart. 7 hari biasa bagi sebagian besar orang, atau mungkin 7 hari yang sangat berkesan bagi sebagian lain, tapi bagi seorang pemuda 7 hari tersebut adalah kurun waktu yang cukup untuk menjungkirbalikkan kehidupannya.


Sejak 5 tahun yang lalu, ia hanyalah seorang anak yang tinggal dan tumbuh seorang diri di hutan, ditemani seekor harimau putih yang menjalin nitrogium dengannya. Ia pun tidak perlu khawatir tentang makanan.


Kalau ingin makan daging, tinggal berburu dengan bantuan kekuatan sihirnya.


Kalau ingin makan buah-buahan, ia dapat mengambil sesuka hati buah-buahan liar yang tumbuh di seluruh hutan.


Namun kini, demi beberapa piring makanan saja, pemuda itu harus rela membiarkan kedua tangannya mengerut di bawah aliran air sedingin es di musim ini.


"Tuan Shawn, bisakah anda mencuci piring lebih cepat lagi? Agar pekerjaan anda lebih cepat selesai juga," ucap Hilda, wanita berkacamata yang dipanggil "Nona Cantik" oleh Rein. Wanita itu sampai merapikan kembali kacamata perseginya tatkala melihat betapa lambat tangan Shawn bekerja. Kurang lebih sudah 30 menit sejak ia meninggalkan Shawn, tapi sampai sekarang ia kembali semua cucian itu belum juga selesai.


Diam-diam Shawn mendengus.


Sebenarnya bukannya Shawn tidak bisa mencuci, malah pekerjaan semacam ini sudah menjadi makanan sehari-harinya dulu. Namun masalahnya, Shawn sama sekali tidak mengenali benda-benda yang ada di sini.


Alat logam persegi yang bisa menyemprotkan sabun merata ke permukaan piring?


Juga... benda berjaring yang bisa bergerak sendiri apa ini?


Di hutan, Shawn memang menggunakan piring, gelas, dan peralatan makan lain yang juga digunakan penginapan ini. Namun peralatan mencucinya benar-benar berbeda! Selama bertahun-tahun Shawn hanya mencuci dengan menggunakan spons atau sabut cuci serta sabun yang harus Shawn gerakkan sendiri dengan tangan. Mencuci pakaian pun Shawn hanya merendam mereka di arus sungai, memukul-mukul dengan batang kayu, kemudian menjemurnya di bawah terik matahari. Ketika matahari terbenam dan jemuran kering, itulah tanda pakaian-pakaian itu dapat diangkat dan dimasukkan ke dalam rumah.


Oh, sebagai informasi, Shawn mendapat baju-baju itu tiap 2 tahun sekali dari orang suruhan Marquess yang meletakkannya di dekat perbatasan hutan.


Bisa dibilang, Shawn hidup seperti zaman sebelum alat sihir dikembangkan semaju sekarang.


Padahal hanya 5 tahun aku tinggal di hutan, tapi cepat sekali perkembangan teknologi di sini.


Ini semua gara-gara anak tidak tahu sopan santun itu! geram Shawn dalam hati. Pemuda itu baru mengetahui 'perjanjian' yang Rein buat saat makanan di atas piring-piring itu sudah habis dan Hilda mendatangi meja mereka seraya berkata, "Tuan Shawn, bisakah anda membantu saya membereskan meja-meja di sini?"


Awalnya hanya alis kanan Shawn yang terangkat dan dengan sedikit berat hati pemuda itu bersedia membantu. Namun tanpa Shawn sadari, selama ia membantu Hilda, Rein sudah lebih dulu kabur entah ke mana, menyisakan Shawn seorang diri yang mematung ketika dimintai mencuci piring kotor di dapur.


"Tuan, bukan begitu caranya," akhirnya kegemasan yang sejak tadi berusaha Hilda tahan dalam hati tak terbendung lagi, tanpa basa-basi merebut piring kotor dan alat logam persegi berisi sabun dari tangan Shawn, "jangan terus digerakkan tak beraturan begitu, sabunnya jadi memercik ke mana-mana!"


Shawn sampai refleks menutup sebelah mata tatkala seruan wanita di sebelahnya begitu menusuk pendengaran.


"Maaf..," ucap Shawn pelan, "aku memang payah...."


"Eh?" spontan Hilda berhenti dan menatap ke arah Shawn yang kini menunduk dengan menampilkan ekspresi suram. Rasa bersalah pun menggerogoti wanita berkacamata itu. "Tidak, saya yang harusnya minta maaf karena sudah berteriak pada Tuan Shawn. Padahal jelas Tuan yang seorang laki-laki pasti tidak terbiasa dengan pekerjaan semacam ini..."


Keheningan menemani sepasang muda-mudi yang sama-sama menunduk di dapur.


"Aku tidak pandai mencuci piring," ucap Shawn tiba-tiba, "tapi kalau diajari, aku pasti bisa...," lanjutnya, saking kecilnya suara pemuda itu sampai nyaris tak terdengar di akhir.


Mendengar ucapan semacam itu keluar dari bibir seorang pemuda, Hilda mengangkat pandangan. Sudut bibirnya terangkat tatkala melihat sepasang manik merah itu bergerak ke sana kemari di balik wajah Shawn yang menunduk.


"Baiklah, saya akan dengan senang hati mengajarkannya," ucap Hilda sambil mengulurkan tangan, membuat Shawn menatap ke arahnya. "Sebelumnya saya belum memperkenalkan diri. Saya Hilda, pemilik Penginapan Terang Bulan. Tuan Shawn bisa memanggil saya 'Hilda' saja."


Ah.... Ternyata wanita berkacamata yang selama ini menemaninya bukan hanya pekerja biasa, melainkan pemilik tempat penginapan ini. Tidak heran dia bersedia memberi makanan gratis, uangnya pasti banyak.


Shawn menerima uluran tangan tersebut. Sejujurnya, ia tak yakin. Ia berkata akan belajar itu hanya demi makanan gratis mereka selama di sini tetap berjalan, tapi mempelajari pekerjaan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya...


...sang pangeran sama sekali tidak tahu.


***


Bel di atas pintu masuk berbunyi. Seorang wanita dengan tiga orang anak perempuannya tampak berjalan masuk sambil tersenyum. Namun senyum mereka seketika harus memudar begitu melihat wajah 'tak bernyawa' pemilik penginapan tempat mereka singgah tergeletak di meja resepsionis.


"Hilda? Apa yang terjadi padamu?"


Wanita yang dipanggil Nyonya Raisa itu pun tertawa mendengar jawaban Hilda. "Hilda, Hilda. Pekerja baru memang biasa melakukan kesalahan. Bimbing saja dia untuk beberapa bulan ke depan, setelah itu dia pasti akan mahir dengan sendirinya," ucap Nyonya Raisa seolah sudah berpengalaman dalam hal ini.


Hilda yang dinasihati demikian hanya dapat tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, terima kasih atas sarannya, Nyonya."


"Bukan masalah. Yang terpenting kau harus menyiapkan kesabaran setebal baja pada 3 bulan pertamanya!" ucap Raisa terakhir kali sebelum kemudian hendak menaiki tangga di sebelah meja resepsionis.


Sudut bibir yang dipaksakan untuk naik itu langsung lemas begitu Raisa tak terlihat lagi. "3 bulan pertama," gumam Hilda sambil kembali meletakkan kepala yang menampilkan ekspresi 'tak bernyawa' di meja. Ia bahkan tidak tahu berapa lama pemuda dan anak itu akan tinggal di sini.


Tapi kalau boleh memilih, semoga mereka tidak tinggal di sini sampai 3 bulan.


"Ngomong-ngomong," tiba-tiba Raisa berhenti begitu teringat sesuatu, membuat Hilda yang sudah sibuk dengan ratapannya tersadar dan menoleh, "apa Hilda sudah dengar kabar tentang Kota Limpa?"


"Kabar? Tentang apa?" Hanya dengan beberapa kata yang diucapkan Raisa, seolah memberi 'nyawa baru' pada ekspresi Hilda, membuat wanita itu memusatkan seluruh perhatiannya pada bibir tamu yang baru masuk itu.


Baru saja membuka mulut, ia langsung mengurungkan niatnya untuk berbicara tatkala menyadari kehadiran ketiga anak perempuannya. "Renata, bisa kau bawa adik-adikmu dulu ke kamar? Ada yang mau Ibu bicarakan dengan Kak Hilda."


Spontan Hilda menegup ludah. Kalau Raisa sampai menyuruh anak-anaknya untuk pergi lebih dulu karena beranggapan tidak seharusnya mereka mendengar, maka besar kemungkinan kabar yang hendak disampaikan Raisa adalah kabar buruk atau bahkan mungkin mengerikan.


Entah karena masih anak-anak, tanpa membantah anak perempuan yang terlihat paling tinggi di antara ketiganya langsung mengiyakan perintah sang ibu dengan senang hati, kemudian menuntun langkah kedua adiknya menaiki tangga.


"Jadi, kabar apa yang Nyonya maksud?" tanya Hilda setelah memastikan punggung ketiga anak perempuan itu tak terlihat lagi. Sejenak Raisa terlihat menghela napas, mendekat ke meja resepsionis, kemudian berucap pelan, "Seluruh penduduk Kota Limpa musnah dimakan harimau putih."


Bulu kuduk Hilda langsung meremang dengan hanya satu kalimat yang meluncur di dekat telinganya. "Anda serius, Nyonya Hilda? Tidak ada satu pun yang selamat?" tanya wanita itu tak percaya. "Apa Nyonya yakin ini berita yang bisa dipercaya?"


"Sungguh, Hilda," ucap Raisa mencoba meyakinkan. "Aku mendengarnya sendiri dari seorang pedagang yang baru kembali dari sana pagi ini. Dia bilang awalnya berencana menetap di sana selama 3 hari seperti biasa untuk berdagang. Tapi ketika tiba di kota itu, ia hanya mendapati darah dan mayat-mayat manusia yang berserakan di seluruh Limpa. Katanya ia juga sempat melihat seekor harimau putih di sana dengan bulu yang penuh akan darah."


"Astaga, itu sungguh mengerikan," komentar Hilda prihatin. Kemudian, ia teringat akan wajah sepasang 'kakak-adik' yang mengaku merupakan korban dari penyerangan seekor harimau.


Apa jangan-jangan Tuan Shawn dan Rein juga penduduk dari Kota Limpa?


"Benar, sepertinya 'Pemberi Berkat Hutan Roldwix' marah besar kepada mereka," lanjut Raisa bersamaan dengan helaan yang meluncur dari bibir.


"'Pemberi Berkat Hutan Roldwix'?" Di Lionheart ada beberapa mitos yang hanya beredar di wilayah tertentu, salah satunya adalah mitos mengenai harimau putih di Hutan Roldwix. Orang-orang yang mengetahui mitos itu sebagian besar adalah penduduk di sana, jadi wajar jika Hilda tidak tahu.


Raisa mengangguk. "Bagi orang-orang Limpa, harimau putih adalah hewan yang melindungi dan memberkati mereka dari Hutan Roldwix, makanya dijuluki 'Pemberi Berkat Hutan Roldwix'..."


"Sungguh ironis bahwa hewan yang mereka puja-puja justru menjadi alasan akan kematian mereka."


"Hilda!" refleks Raisa menampar wajah Hilda yang dianggapnya mengucapkan kalimat lancang mengenai salah satu mitos di kerajaan ini. Sedangkan wanita muda yang mendapat perlakuan yang tidak pernah ia bayangkan hanya dapat mematung dengan mata membelalak.


Keheningan menguasai tempat keduanya berdiri, hingga kemudian tawa canggung Raisa terdengar. "Astaga, tolong maafkan aku Raisa, karena ucapanmu aku jadi..."


"Tidak, harusnya saya yang minta maaf," Hilda mundur beberapa langkah ketika Raisa mencoba menyentuh pipi yang ia tampar, "padahal saya sudah tahu sepenting apa mitos bagi negara ini tapi tetap saja tidak bisa mengendalikan cara bicara saya. Tolong maafkan saya, Nyonya Raisa," masih sambil memegangi pipi yang terasa panas, Hilda membungkuk sedalam-dalamnya.


"A-ah, tidak, aku yang berlebihan. Pikiranku terlalu kacau karena kabar buruk yang terus beredar belakangan ini. Kalau begitu aku permisi dulu, aku baru ingat ada barang yang harusnya kubeli tadi." Dengan cepat Raisa berbalik tanpa menunggu jawaban Hilda. Wanita beranak 3 itu melangkah keluar dari penginapan, kemudian berbelok ke gang sempit tepat di sebelah bangunan itu.


Hawa dingin seolah mencoba mengikis kulit Raisa begitu ia menyatu dengan bayang-bayang gelap di sana. Keringat dingin menjalar di seluruh tubuh, dan semakin terasa tepat ketika ia berhenti di depan sosok tinggi yang bersembunyi di balik jubah gelap. "S-saya sudah menyampaikan seperti yang anda perintahkan kepada pemilik penginapan itu, anda juga mendengarnya kan tadi...," ucap Raisa gemetar sambil menunduk.


Trang.


Tanpa sedikit pun membuang waktu, sebuah kantong lusuh berwarna cokelat mendarat di atas hamparan salju, dengan bunyi khas uang logam saling bergesekan di dalamnya. "Berjanjilah kau tetap akan menyebarkan kabar itu ke seluruh kota meski sudah menerima imbalanmu."


"Tentu, tentu saja. Saya berjanji akan melakukannya." Bak tikus yang mencoba berdiri tegap di hadapan serigala, sesegera mungkin Raisa mengambil kantong tersebut dan berbalik, secepatnya menyingkir dari pandangan sosok tersebut.


Dalam kesunyian di balik bayang-bayang gang, sosok berjubah itu masih berdiri di sana, larut dalam berbagai pikiran yang berkecamuk menjadi satu dalam benaknya. Beberapa saat kemudian terdengar helaan yang meluncur bersamaan dengan tangannya yang menutup sebelah mata. "Semoga kabar ini lebih cepat menyebar daripada 'kabar' yang 'mereka' ciptakan, apalagi ada beberapa orang rakyat biasa lain yang kubayar untuk menyebarkannya."


"Shawn frost Uranium... aku pasti akan melindungimu. Demi janjiku sebagai kakakmu."