
"Nomor antrean 31, silakan menemui Dokter Louis di Ruang 1."
"Nomor antrean 6, silakan menemui Dokter Pasteur di Ruang 3."
"Nomor antrean..."
"Nomor antrean..."
Sayup-sayup terdengar suara para perawat silih berganti memanggil nomor antrean pasien, menerobos di antara ingar-bingar rumah sakit. Beberapa orang yang merasa nomor antreannya disebut segera berdiri, dan beberapa yang tadinya tidak mendapat tempat duduk langsung mengambil tempat kosong.
Seorang anak memegang tangan ibunya, dengan wajah menahan tangis melangkah memasuki Ruang 1. Perawat yang berdiri di depan pintu mencoba menghibur anak itu dengan berkata ia adalah anak pemberani sambil tersenyum. Sudut bibir Shawn tanpa sadar terangkat melihatnya. Ia duduk di kursi panjang depan Ruang 1—meski alasan dirinya berada di sini ada di Kamar 5.
Netra Shawn melirik sekitar. Padahal tidak semua di lorong ini sakit, tapi mereka seolah merasakan penderitaan yang sama. Menampilkan ekspresi sendu sambil menunduk, serta langkah yang enggan untuk beranjak. Sampai-sampai ruangan yang seharusnya terasa dingin karena banyaknya AC, malah terasa pengap karena jumlah manusia yang menghirup oksigen lebih banyak lagi.
Awalnya Shawn tak mengerti. Kenapa mereka yang sehat repot-repot ikut duduk di sini? Bukankah ada tidaknya kehadiran mereka sama sekali tidak mempengaruhi nasib yang sakit? Malah akan lebih baik jika mereka pergi agar udara di sini terasa lebih sejuk.
Namun ketika ia sendiri yang duduk, menunggu kabar tak pasti dari balik pintu Kamar 5 sejak setengah jam lalu, Shawn mulai mengerti. Meski sama sekali tidak berpengaruh pada keselamatan pasien, tapi rasa ganjal di dadanya terasa lebih besar ketika ia beranjak berdiri dan mencoba melangkah keluar dari sini. Pikirannya akan selalu tertuju kemari, tak peduli seberapa keras ia berusaha melupakannya.
Shawn menunduk, menatap gelang berwarna perak di pergelangan tangan.
Selama kau mengenakan gelang ini, aku pasti bisa menemukanmu. Karena itu, jagalah baik-baik.
Tiba-tiba Shawn teringat ucapan anak perempuan yang memberikan gelang ini bertahun-tahun lalu. Kala itu Shawn tidak berpikir banyak, hanya menerima sebagai tanda perpisahan sebelum ia 'ditugaskan' ke Hutan Roldwix. Namun melihat anak itu benar-benar 'selalu' menemukan Shawn, pasti ada yang tidak beres dengan gelang ini.
Sebagai anak 10 tahun yang tumbuh menjadi remaja di hutan, Shawn memang tidak tahu banyak mengenai perkembangan teknologi di luar sana. Namun Shawn tahu bahwa di dunia ini ada yang namanya "alat sihir"—sama seperti alat yang mengurungnya di Hutan Roldwix—dan gelang ini pasti dilengkapi alat semacam itu.
Pantas saja tak peduli ke mana aku pergi, selalu ada pembunuh bayaran yang menemukanku, batin Shawn sambil mengeratkan kepalan tangan. Fakta bahwa kedatangan Brianna tak lain atas perintah Pangeran Pertama masih tak berhenti menganggu pikirannya. Ada rasa sesak di satu sudut hatinya tiap memikirkan kenyataan tersebut.
"Apa yang Yang Mulia pikirkan sampai berekspresi seperti itu?" suara familier membuat Shawn menoleh, berdiri dan menatap gadis yang kini berdiri di depannya. "Bagaimana?"
Brianna menghela. "Dokter mengatakan bahwa ini kasus pertama yang pernah ia temui. Karena campur tangan Yang Mulia, aliran darah anak itu seolah 'melambat' sehingga memberi waktu dan kesempatan bagi tim dokter untuk mempertahankan nyawanya." Brianna menoleh ke pintu Kamar 5. "Meski demikian, untuk sekarang keadaannya tidak bisa dikatakan baik. Tim dokter juga masih akan terus memantau kondisi anak itu secara intens. Selambat-lambatnya, dalam kurun waktu 2 minggu barulah anak itu bisa keluar."
Shawn mengangguk, "Syukurlah anak itu selamat...." Tanpa sadar sepasang manik biru legam Shawn menatap wajah Brianna lamat-lamat, menelusuri dapat tidaknya wajah itu dipercaya. Dahulu dengan mempertimbangkan hubungan yang telah terbentuk selama 5 tahun, sang pangeran masih dapat menepis segala kecurigaan yang timbul. Namun kini, setelah kebohongan 'besar' yang diucapkan gadis itu di bawah butiran salju semalam, Shawn bahkan tidak tahu apa perkataan yang keluar dari bibirnya barusan layak dipercaya.
Tidak, tentu Shawn paham bahwa Brianna adalah seorang putri Marquess yang memiliki tugasnya sendiri. Namun dengan alasan apa pun itu, ia membenci semua yang berhubungan dengan anggota keluarga kerajaan dan keluarga Duke Lawrencium.
Helaan meluncur dari bibir sang pangeran, kemudian ia melepas gelang keperakan di pergelangan dan mengulurkannya pada Brianna. "Terima kasih telah mengingatkan saya untuk membawa anak itu ke rumah sakit. Saya memang sempat tidak berpikir jernih karena 'dia' terus memprovokasi saya tadi. Namun saya rasa, sekarang kita benar-benar harus berpisah."
Brianna mengerjap beberapa kali, menatap tak mengerti benda di tangan Shawn. "Lalu, apa hubungannya dengan gelang ini?"
Shaah....
Seketika netra Brianna terbelalak sempurna, bagai ular viper yang tercekik oleh mangsa. Jantungnya berdegup kencang, laksana ditusuk-tusuk oleh pandangan yang dilontarkan sepasang netra biru legam itu. Padahal sebelumnya, Pangeran Keempat tak pernah menatap dirinya demikian.
"Tolong terima saja, akan merepotkan jika saya bepergian sambil mengenakan gelang, kan?" ujar Shawn sambil tersenyum. Namun dalam pandangan sepasang bola mata hijau itu, senyum sang pangeran bahkan lebih menakutkan dibandingkan pisau yang terarah padanya.
Beberapa saat kemudian Brianna tersadar, tersenyum menutupi perasaannya barusan, dan mengambil gelang keperakan itu. "Baiklah, kalau itu keinginan Yang Mulia."
Shawn terdiam sejenak, entah kenapa bukannya senang, dadanya malah terasa sesak. Pemuda berambut keperakan itu berjalan melewati Brianna, "Semoga Nona dan 'dia' selamat dalam perjalanan kembali nanti."
***
Pemuda berambut keperakan itu tiba-tiba berhenti, menatap sebuah bangunan putih dengan tanda "+" berwarna merah di atasnya untuk kali terakhir. "Karena terlalu emosi, aku sampai lupa meminta petunjuk keberadaan gunung itu," gumam Shawn bersamaan dengan helaan kesal meluncur dari bibir. "Sudahlah, aku juga tidak sudi berlama-lama di kota ini." Pemuda itu kembali berjalan setelah membenarkan tudung jubah yang menutupi rambut hingga sebagian wajahnya.
Tap. Tap. Tap.
Keheningan mengantarkan Shawn pada sebuah kenangan samar. Dulu saat Eloise masih hidup, ia suka menceritakan berbagai legenda dan mitos di kerajaan ini, dan Shawn pun tak kalah antusias mendengarkan. Sang pangeran kecil yang kini telah tumbuh menjadi remaja pun masih mengingat garis besar sebagian legenda yang Eloise ceritakan, salah satunya ialah Legenda Bunga Un.
Shawn ingat Eloise juga pernah mengatakan bahwa Gunung Astinapura dikelilingi patung-patung berbentuk seorang malaikat cantik dari Surga, Malaikat Arella, sang Pembawa Pesan dari Surga. Konon pada musim semi patung tersebut akan terlihat terbuat dari kayu, pada musim panas terlihat terbuat dari rangkaian bunga, pada musim gugur dari besi yang berkarat, dan pada musim dingin terbuat dari pahatan es. Dikatakan juga terdapat kekuatan 'sakti' menyelimuti patung-patung itu hingga mereka tak akan bisa dilihat maupun hancur oleh sembarang orang.
Oleh karenanya tidak ada yang dapat memastikan lokasi gunung tersebut. Jangankan gunungnya, patung-patung berbentuk Malaikat Arella saja tak pernah ditemukan.
"Tapi saya rasa ada satu tempat yang memungkinkan: Hutan Naga, beberapa km dari perbatasan Duchy Neptunium," terka Eloise saat itu. Meski tidak pasti, tapi teori Eloise bukannya tidak berdasar.
Mengacu pada Legenda Naga Herrings, dikisahkan ada seekor naga sakti yang menjaga harta di sebuah gunung. Naga adalah makhluk yang sangat besar dan kuat, dipenuhi sisik gelap serta bola mata pekat. Deskripsi tersebut dapat dikatakan cocok dengan deskripsi dari manusia di Legenda Bunga Un. Bisa jadi, Naga Herrings adalah "hewan tak dikenal" yang memusnahkan kota kecil tempat si manusia tinggal.
Untuk alasan kedua ini, lebih kepada imajinasi Eloise sendiri. Dalam legendanya, dikatakan Naga Herrings menjaga sebuah harta berharga di suatu gunung. Menurut Eloise, bisa saja "harta" yang dimaksud adalah bunga un dan "gunung" tersebut adalah Gunung Astinapura. Mungkin Malaikat Arella murka dan pergi mencari Naga Herrings, dan sebagai hukuman akibat perbuatan kejinya, ia ditugaskan menjaga bunga un dari orang-orang jahat.
Dan jika teori Eloise benar, maka seharusnya Gunung Astinapura berlokasi tak jauh dari perbatasan Duchy Neptunium.
Tanpa sadar Shawn tersenyum. Pangeran itu jadi teringat wajah antusias Eloise saat mulai bercerita. Sayangnya, senyum itu harus luntur mengingat ia tidak akan pernah bisa melihat wajah itu lagi.
Tiba-tiba Shawn berhenti, melirik ke kiri dan kanan belakangnya, ada 2 makhluk yang mengikutinya dari arah berbeda. Satu per satu, ucapnya dalam hati. Kemudian secepat kilat pemuda itu melompat, menjadikan salah satu batang pohon terdekat sebagai tumpuan, dan mendarat tinggi di dahan pohon. "Ada apa 'Pembawa Berkat Hutan Roldwix' ini mengikutiku?" tanyanya sambil duduk bersandar di atas sana.
Sang harimau yang ditanyai demikian hanya dapat tersenyum kecut. "Hei, Nak. Jangan menyalahkanku karena aku tidak tahu apa-apa. Manusia-manusia itu sendiri yang menciptakan cerita-cerita mengenai diriku. Aku pun sebenarnya hanya berjalan-jalan saja karena tidak bisa menemukanmu di mana pun, tapi tanpa sadar malah tiba di kota tadi."
Shawn memiringkan kepala. "Aku tidak menyalahkanmu, tapi kurasa seharusnya kau tidak perlu melukai seorang anak kecil."
Mendengar ucapan Shawn, harimau putih itu tak dapat menahan tawa. "Bertahun-tahun mengenalmu, baru kali ini kau berkata seperti itu. Biasanya kau tidak pernah peduli siapa yang kubunuh atau kumakan." Harimau itu mendekat ke pohon dimana Shawn berada. "Jadi, bagaimana kondisi anak itu?"
Manik biru Shawn melirik ke balik semak-semak terdekat. "Kau bisa melihatnya sendiri." Refleks harimau putih itu menoleh ke arah yang dipandang Shawn. Di balik semak-semak beberapa meter dari mereka, tampak seorang anak kecil yang bersembunyi di sana, hanya saja tubuh anak itu terlalu ke pinggir sehingga tidak tertutup oleh dedaunan.
Sekali lagi sang harimau tertawa. "Melihatnya bisa mengikutimu sampai kemari, sepertinya lukanya tidak terlalu parah."
"Tentang itu, aku tidak tahu," balas Shawn pelan. Padahal Brianna tadi berkata kalau anak itu sedang diawasi oleh tim dokter. Apa kali ini pun.., Brianna membohongiku?
"Aku terluka parah!" seruan khas anak kecil itu spontan menarik perhatian keduanya, menatap sang anak lelaki berjalan tertatih-tatih. Mantel berbulu yang tadi ia kenakan, kini berubah menjadi pakaian rumah sakit yang mirip piyama bergaris-garis.
Harimau putih itu mengerjap. "Nak, apa barusan kau bisa mendengar suaraku?"
Anak lelaki itu mengangguk. "Memang kenapa, Harimau Tua? Itu bukan sesuatu yang luar biasa, kan?"
Spontan kedutan terbentuk di pelipis harimau itu. "Tidak, kau pasti sudah sangat sehat sampai bisa mengataiku," ucapnya lagi berusaha menekan kesabaran.
Shawn tertawa kecil dari atas sana, kemudian melompat tepat ke depan anak lelaki itu. "Kau baru saja selamat dari maut, tapi ingin bertemu dengannya lagi?" ucap Shawn sambil membuka mantel yang membungkus tubuh di balik jubah, kemudian memakaikannya pada anak itu.
Harimau putih di belakang sana tersenyum mengejek, "Sekarang daripada anak manusia, anak itu lebih terlihat seperti anak penguin."
Dahi anak itu berkerut mendengar ucapan si harimau. Namun menurut Shawn, perkataan itu sama sekali tidak salah. Dengan mantel tebal kebesaran yang membungkus tubuh anak ini, dan bahkan panjangnya melebihi kaki dan tangan anak itu, ia memang tampak seperti anak penguin.
"Lebih baik kau kembali ke rumah sakit," ucap Shawn datar, kemudian melanjutkan perjalanan dikuti harimau putih, meninggalkan sang anak lelaki. Namun anak itu tak menyerah, mengejar Shawn hingga langkah mereka sejajar.
Dengan sudut mata, Shawn melirik 'penguin kecil' yang mengikutinya, berhenti. "Kenapa kau masih mengikutiku?"
Anak itu ikut berhenti, menunduk. Netranya bergerak ke sana kemari tatkala mencoba memikirkan alasan. "Saya..."
"Biarkan saja anak ini ikut," belum sempat si anak lelaki berkilah, harimau putih itu lebih dulu memotong. Spontan Shawn menatapnya tajam, "Kau mau bertanggung jawab kalau dia meninggal, 'Harimau Tua'?"
Harimau putih itu memincingkan netra. "Sekali lagi salah satu dari kalian memanggilku begitu, bersiaplah masuk ke perutku!"
"Wah, takutnya~"
"Wah, seram~"
balas Shawn dan anak itu hampir bersamaan.
Harimau itu mendengus, rasanya seperti mengasuh 2 anak nakal. "Jika anak ini menjalin 'nitrogium' denganku, maka tubuhnya akan menjadi lebih sehat dan kuat dari sekarang."
Nitrogium, salah satu mitos populer yang beredar di Lionheart. Dikatakan itu adalah sejenis perjanjian yang diadakan antara manusia dan fransbeast, hewan yang memiliki kekuatan sihir dalam tubuhnya. Konon fransbeast sedikit berbeda dari hewan lain, mereka lebih cerdas dan mengerti ucapan manusia. Namun yang dapat berkomunikasi dengan mereka hanyalah manusia 'pilihan'.
Jika seorang manusia menjalin nitrogium dengan seekor fransbeast, maka sebagian kekuatan fransbeast akan berpindah ke dalam tubuh manusia tersebut dan fransbeast harus mengabdi kepadanya sampai salah satu dari mereka meninggal.
"'Nitrogium'?" ulang anak itu terkejut, perlahan kepalanya menoleh ke sang harimau. "Harimau Tua, kau adalah fransbeast? Bukankah fransbeast sudah punah?"
Benar, konon fransbeast sudah punah bersamaan dengan menghilangnya jejak sihir di Lionheart—kecuali dari darah Lawrencium. Namun siapa sangka, sampai beberapa saat yang lalu hewan dalam mitos itu ada di pinggiran March Plutonium, di dalam Hutan Roldwix. Meski saat Shawn pertama kali bertemu dengannya, kondisi hewan itu tidak begitu baik.
Shawn mengerutkan dahi. Dia bisa berbicara dengan harimau itu, tapi tidak tahu dia adalah fransbeast?