Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 3



Dari luar jendela persegi besar sebuah kediaman megah, tampak seorang pemuda tengah berkutat dengan tumpukan-tumpukan dokumen di hadapannya. Sinar mentari menerobos jendela, jatuh di ujung-ujung rambut pirang pendeknya, membuat penampilan Marquess Muda Plutonium semakin menawan.


Tiba-tiba tangan Isaac terhenti. Ia menghela melepas kalut yang tiba-tiba menyergap kepala, kemudian menyenderkan punggungnya ke belakang. “Apa benar tidak apa-apa?” gerutu sang marquess muda sambil memijit kening.


Wajah seorang gadis berambut ungu panjang kembali terngiang, membuat kepala pemuda itu semakin terasa sakit. Mengirim adik perempuannya untuk melaksanakan misi yang diberikan keluarga kerajaan bukan masalah besar, bahkan dirinya bangga sang adik mendapat kehormatan itu. Namun tidak jika itu berarti adiknya harus pergi ke sana, ke tempat yang dijuluki orang-orang sebagai “terkutuk” sejak ‘dia’ tinggal di sana. Meski bukan karena itu pun, Isaac memiliki alasan tersendiri mengapa ia begitu menentang penugasan sang adik.


“Hutan Roldwix…,” Isaac bergumam tatkala teringat akan ‘dia’, sang pangeran keempat sekaligus seorang anak yang pernah tinggal seatap dengan dirinya selama 5 tahun dulu. Pemuda berambut pirang itu mengalihkan pandangannya keluar jendela, memutuskan memanjakan mata dengan menatap langit biru jernih di atas sana, "Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang, ya?"


Jujur saja, Isaac tidak membenci Pangeran Keempat. Dalam ingatan Isaac, Shawn adalah sosok yang kasihan tapi sekaligus patut dikagumi. Anak itu dapat berdiri dengan kokoh di tengah pandangan dan ucapan sinis yang mengarah padanya—hal yang tidak sanggup dilakukan oleh Isaac sekalipun. Meski saat terakhir melihatnya usia anak itu bahkan belum menginjak 10 tahun, tapi tak pernah sekali pun Isaac melihatnya menangis, setidaknya setelah kejadian ‘itu’.


***


Suara pedang kayu yang saling beradu menguasai lapangan latihan militer istana kerajaan. Kedua pemegang pedang saling mengincar titik lemah satu sama lain, dan untuk kesekian kali berhasil menghindari serangan. Keduanya memang baru berusia 9 tahun, tapi tampak jelas bakat berpedang dalam diri mereka.


Tak.


Tiba-tiba salah satu dari mereka berhasil membuat pedang lawannya melayang di udara, membuat sang pelaku alias anak berambut merah itu bersemangat. "Sepertinya kali ini aku yang menang!" seru Archie sambil mengayunkan senjata di tangannya ke arah bawah dagu lawan. Namun bukannya takut, sudut bibir anak yang dikatai demikian malah terangkat, membuat ia tersentak.


Hup! Helaian rambut pirang indah itu tersibak ketika sang anak lelaki melompat dan meraih kembali pedangnya yang masih melayang di udara, kemudian mendarat tepat di belakang sang lawan sambil melingkarkan lengan yang memegang pedang ke bawah dagu anak lelaki itu.


Keheningan menghampiri untuk sesaat. Meski tidak melihat, anak lelaki berambut merah itu dapat merasakan betapa menusuknya pandangan yang dilontarkan sepasang manik hijau milik anak di belakangnya. Seperti ular viper, meski kecil, tetapi mematikan.


"Aku menyerah," pasrah Archie akhirnya—tapi kepalan tangan yang diam-diam terbentuk tidak menunjukkan demikian.


Sudut kanan bibir Isaac terangkat, kemudian menurunkan pedangnya dan menunduk. "Sebuah kehormatan dapat mengalahkan anda, Yang Mulia Pangeran Pertama," ucapnya diserta senyum yang sangat lebar.


Tawa sinis spontan lolos dari bibir Archie, kemudian menoleh ke arah anak lelaki di belakangnya. "Untuk kali ini kau boleh berbangga diri, Putra Marquess Plutonium. Tapi kemenangan tidak akan selalu berpihak pada orang yang sama. Datanglah lagi ke istana besok, ini perintah."


"Putra Marquess Plutonium ini menerima perintah Yang Mulia Pangeran Pertama," Isaac meletakkan tangan di depan dada dan menunduk. Angin panas berembus pelan, memainkan helaian rambut kedua anak lelaki itu. Manik hijau Isaac mendongak bertatapan dengan manik cokelat Archie, membuat tawa mereka tak terbendung lagi.


Terlepas dari 'perintah', ucapan Isaac tulus sebab dibandingkan para pangeran dan putra bangsawan lain, Archie adalah satu-satunya yang ia anggap sebagai teman dan lawan bertarung yang sukses membangkitkan jiwa 'ular viper' dalam dirinya. Mau bagaimana lagi, hanya sang pangeran pertama yang sukses memenuhi standarnya.


Di mata Isaac, tidak ada putra bangsawan lain yang dapat mengalahkan Pangeran Pertama, baik dari segi penampilan, kecerdasan, bahkan keterampilan bertarung hingga ketenangan dan kelihaian dalam berbicara. Singkat kata, Archie adalah teman paling sempurna yang bisa ia miliki.


Meski kesempurnaan Pangeran Pertama laksana matahari yang menyilaukan, saudara-saudaranya tidaklah demikian.


Bagi Isaac, Pangeran Kedua sungguh mengganggu dan ceroboh.


Pangeran Ketiga menyebalkan dengan sifatnya yang selalu bicara tanpa tahu tempat.


Pangeran Kelima dan Keenam dianggapnya sebagai pangeran dengan tingkat intelektual kurang di berbagai bidang.


Pangeran Ketujuh terlalu manja dan kekanak-kanakan karena terlahir sebagai "ketujuh"—dimana dalam kepercayaan Lionheart angka "7" melambangkan keberuntungan dan pangeran ketujuh berarti keselamatan dan kemakmuran bagi kerajaan ini.


Putra bangsawan lain juga tidak kalah membosankan, termasuk para putra duke—yang seharusnya juga menjadi sahabat karib Isaac sebagai pewaris keluarga marquess.


Sebelum Archie dapat membalas perkataan Isaac, tiba-tiba seorang pelayan pria datang dan memberi hormat kepada kedua putra bangsawan itu. "Salam kepada Yang Mulia Pangeran Pertama dan Putra Marquess Plutonium," ucapnya sambil meletakkan di depan dada dan menunduk. "Hamba ingin memberi tahu bahwa Tuan Count Oldenburgh sedang menunggu Yang Mulia Pangeran Pertama di perpustakaan."


Berbeda dengan anak-anak lain yang cemberut ketika diberi tahu kedatangan guru mereka, wajah Archie langsung merekah seolah menerima berkat paling luar biasa di dunia. Kedua sudut bibir anak itu terangkat ke arah pelayan itu, kemudian ia menatap Isaac dengan manik cokelat dipenuhi semangat membara. "Maaf Isaac, tapi aku harus segera memulai pelajaran Ekonomi-ku. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarmu ke depan."


Anak lelaki berambut pirang itu tertawa dan menggeleng. "Tidak perlu, Yang Mulia. Jika berkenan, saya ingin berjalan-jalan terlebih dulu sebelum pulang. Anda cepatlah pergi dan memulai pelajaran anda."


Archie mengangguk. "Kalau begitu, selamat menikmati waktumu."


"Yang Mulia juga."


Larikan petir yang tiba-tiba menyambar membuat Isaac refleks mendongak. Awan-awan kelam bergerak menutupi langit. "Sepertinya sebentar lagi akan hujan," gumam Isaac. Tapi, siapa peduli? "Selama tidak ada Ibu tidak akan masalah." Senyum merekah di bibir anak itu begitu genap ucapannya. Tanpa pikir panjang kaki beralaskan sepatu kulit berwarna gelap itu berlari ke mana pun jalan di hadapannya menuntun.


Langit semakin gelap dan larik-larik petir semakin sering terdengar. Namun hal tersebut tak lantas membuat semangat Isaac pudar, justru lari anak itu semakin cepat bak burung yang bebas dari sangkar. Sebenarnya perumpaan tersebut juga tidak salah. Isaac Plutonium adalah anak lelaki satu-satunya sang marquess saat ini. Ia diharapkan menjadi pewaris sempurna tanpa cacat celah, pemimpin masa depan March Plutonium yang harus dapat diandalkan rakyatnya. Ditambah sudah berabad-abad keluarga Marquess Plutonium menjadi 'perisai' Uranium.


Isaac memang menikmatinya. Ia menikmati status dan posisinya yang berada di atas orang lain, dapat memerintah dan berbuat sesuka hati—selama tidak melanggar aturan—serta rasa hormat yang ia dapat sejak masih kecil. Hanya saja sebesar itu pula ia harus menjaga sikapnya. Ia tidak boleh tampil memalukan atau seperti anak-anak pada umumnya.


Ia harus berbeda. "Seorang Plutonium harus tampil berwibawa berapa pun usianya," begitu yang sering


Marquess Plutonium katakan pada putranya yang masih kecil. Tak peduli di kediaman maupun di luar, Isaac selalu dituntut dapat menjaga sikapnya.


Namun seorang anak tetaplah anak. Kapan pun ia merasa tidak ada orang yang melihat—seperti sekarang—di saat itulah sikap kekanakannya keluar.


"Aduh!" Terlalu asyik berlari membuat Isaac tidak melihat ke depan dan menabrak seseorang. Sebelum kata "maaf" dapat meluncur dari bibirnya, wanita yang ia tabrak lebih dulu tersandung dan kepalanya menembus ranting pohon di belakangnya.


Srak.


Seketika tubuh Isaac dibuat gemetar hebat oleh bau anyir yang menusuk penciuman. Kedua matanya terbuka lebar, menatap cairan merah yang tak henti mengalir dari kepala wanita itu, mengalir deras bagai sungai, membasahi pakaian, dan menitik di rerumputan.


Apa... dirinya menjadi pembunuh? Apa ia membunuh wanita itu?


Suara Isaac tercekat—bahkan untuk sekedar bertanya apa wanita itu baik-baik saja pun ia tidak sanggup.


"Eloise!"


Isaac menoleh cepat. Degupan jantungnya seketika terasa lebih keras dibandingkan suara yang terdengar barusan. Bagaimana ini?


Ketika suara yang terus memanggil "Eloise" mendekat, Isaac refleks bersembunyi di balik batang pohon lain dekat sana. Anak lelaki itu berusaha keras meredam detak jantungnya yang menari liar. Ia berusaha keras menenangkan napasnya yang memburu. Ia berusaha mengabaikan dingin yang menjalar di kulitnya.


"Bohong...." Petir kembali menyambar, seolah ingin menyadarkan Isaac bahwa barusan ia benar-benar melakukan kesalahan besar.


Rasa bersalah di dada Isaac kian menjadi ketika mendengar suara lirih seorang anak lelaki di belakang sana. Entahlah, ia tidak merasa pernah mendengar suara ini. Apa mungkin dia anak dari pelayan itu?


Sekali lagi Isaac mengembuskan napas panjang dan mencengkeram dada. Dengan segala keberanian yang terkumpul, ia mengintip melihat siapa yang datang. Seorang anak lelaki bertubuh mungil, dengan rambut keperakan bagai sinar rembulan dan manik biru laksana langit malam di musim dingin. Kulitnya sangat pucat, seperti salju yang akan meleleh jika sebentar saja berada di bawah sinar matahari.


Meski tidak pernah melihatnya, tak butuh waktu lama bagi Isaac untuk menebak siapa dia dengan warna rambut dan mata itu: Pangeran Keempat, Jinxed Prince yang tinggal di Istana Hitam sejak lahir.


Namun yang membuat mata Isaac membelalak adalah apa yang terjadi setelahnya, ketika larik-larik sinar berwarna putih yang entah dari mana asalnya berkumpul dalam genggaman sang pangeran kecil, dan terus membesar seolah bersiap meledakkan sesuatu yang dahsyat.


Itu... sihir? Pangeran Keempat bisa menggunakan sihir? Bagaimana mungkin?


Tidak. Sekarang bukan itu yang penting. Jika kemampuan 'tersembunyi' Pangeran Keempat ketahuan, maka dipastikan Raja Harvey I akan mendapatkan alasan yang tepat untuk menjatuhkan hukuman mati padanya. Apalagi dengan julukan dan asal-usul kelahirannya, Raja pasti akan dengan senang hati menjatuhkan hukuman tersebut.


Isaac berdecak, berbagai pikiran rumit memenuhi kepala mungilnya. Ia benar-benar tidak ingin terlibat dengan pangeran bereputasi buruk dan pembawa sial sepertinya. Ia sudah dapat membayangkan bagaimana reaksi ayahnya, ibunya, bahkan orang-orang di sekitar yang berbicara sambil melirik ke arahnya.


Tidak! Isaac Plutonium tidak boleh mendapat penghinaan seperti itu!


Namun, ketika teringat ada satu nyawa yang hilang karena perbuatannya, hati nurani anak berusia 9 tahun itu tak kuasa untuk tak membalikkan punggung. Padahal jika mau, detik itu juga Isaac bisa berlari secepat mungkin kembali ke istana Pangeran Pertama, berlagak tidak terjadi apa-apa, kemudian pulang. Jika pun terjadi masalah karena ledakan sihir itu, tidak ada yang akan berani mengarahkan telunjuk pada putra Marquess Plutonium sekaligus tamu Pangeran Pertama.


Namun tidak. Tanpa dikomando, tubuh Isaac lebih dulu bergerak bersamaan dengan hujan yang mengguyur. Ia mendorong Shawn, mencegah agar sihirnya tidak meledak dan disaksikan oleh semua orang di istana.


Ia... menebus satu nyawa yang hilang karena perbuatannya dengan nyawa lain yang ia selamatkan.