
"Lelah sekali...."
Dengan tenaga tersisa, Shawn melirik lantai yang sudah susah payah ia pel. Tentu perjuangan sang pangeran tak mudah untuk sampai ke titik ini. Setelah kurang lebih 2 jam mencuci piring, Shawn lanjut mengelap jendela—entah karena menyadari 'kegaptekan' Shawn, akhirnya Hilda memberi Shawn kain lap usang berusia 10 tahun lebih untuk pemuda itu gunakan. Kemudian tak lupa Hilda juga memberikan sapu dan pel untuk menemani pekerjaan terakhir Shawn.
Padahal aku masih harus mencari bunga un, tapi sekarang malah harus bekerja, keluhnya dalam hati.
Kini setelah bekerja selama setengah hari penuh, akhirnya pemuda berambut 'hitam' itu dapat duduk di sudut ruangan bersenderkan dinding kayu. Shawn dapat merasakan pegal menguasai kedua kaki dan tangan, juga leher dan pinggangnya yang seolah dapat patah jika digerakkan sedikit saja. Di hutan Shawn memang juga membersihkan rumah, tapi tidak semua ia kerjakan dalam satu hari. Terkadang, dalam seminggu satu-satunya rumah di tengah hutan itu sama sekali tidak dibersihkan.
Tapi itu bukan karena aku pemalas, aku hanya lupa.
"Wah, saya tidak menyangka ada yang bisa membersihkan lebih baik dengan alat-alat konvensional dibandingkan alat sihir." Suara wanita yang baru masuk membuat Shawn menoleh. Namun bukan perkataannya, melainkan segelas air putih di tangan Hilda yang lebih dulu mendapat perhatian Shawn. Melihatnya, Hilda tertawa kecil. "Ini, sepertinya Tuan sangat lelah, ya," ucap Hilda sambil sedikit membungkuk dan menepuk bahu Shawn.
Sekali lagi bukannya senang, ada sedikit rasa ganjil melihat gelas berisi air bersih disodorkan padanya secara cuma-cuma. Dari ia masih kanak-kanak sampai beranjak remaja, hanya Eloise—pelayannya dulu—yang bersedia memberi Shawn kebaikan macam itu. Satu-satunya orang yang dapat membuat bibir sang pangeran mengembang ketika menerimanya.
Meski demikian, meski diselimuti sedikit rasa ganjil, entah kenapa Shawn dapat sedikit merasakan perasaan yang ia rasakan dulu kepada Eloise. Hanya karena segelas air putih, Shawn seolah dapat merasakan kehangatan yang menggelitik dada, terutama ketika senyuman wanita berkacamata itu memantul di manik 'merahnya'. Padahal wanita itu sangat berbeda jauh dari Eloise, baik dari suara, nada bicara, maupun penampilan. Namun setiap Hilda menepuk bahunya, setiap suara lembut Hilda mencoba menghiburnya, Shawn... merasa sesak.
"Terima kasih," ujar Shawn setelah terdiam lama dan menerima gelas yang disodorkan. Lagi-lagi Hilda hanya tersenyum melihat Shawn dengan cepat menenggak isi gelas tersebut sampai habis.
"Seluruh penduduk Kota Limpa musnah dimakan harimau putih," entah kenapa suara Raisa terngiang dalam benak Hilda.
Tiba-tiba tanpa basa-basi wanita berambut hijau sebahu itu duduk tepat di sebelah Shawn dan menghela kasar, membuat sang pemuda cukup terkejut. Sepasang manik merah itu diam-diam melirik Hilda, dalam hati bertanya-tanya kenapa ia duduk di sampingnya.
"Sebelumnya saya minta maaf kalau pertanyaan saya ini menyinggung Tuan, tapi setelah kejadian yang menimpa orang tua anda, apakah Tuan masih percaya dengan mitos?"
Deg.
Hanya dengan satu kata terakhir yang diucapkan Hilda, pikiran Shawn langsung menjelajah liar ingatan kehidupan yang tersimpan dalam memorinya. Mulai dari kehidupan yang menyedihkan di Istana hitam, setiap haknya yang direnggut seolah itulah bayaran dari dirinya masih dibiarkan hidup, setiap cacian dan panggilan 'monster' yang ditujukan kepadanya, juga insiden yang menimpa seorang anak kecil di Kota Limpa.
Ah, sebenarnya Shawn sendiri sempat bertanya-tanya kenapa ia begitu mengkhawatirkan Rein dan kenapa ia masih membiarkan anak itu bersamanya meski tahu itu merepotkan. Mungkin, karena anak itu mengalami hal yang sama dengan dirinya.
"Tidak, tapi ada satu mitos yang sangat kupercaya," ucap Shawn dengan pandangan tajam menusuk, entah ditujukan kepada siapa, "'Kucing dan Tikus'."
Hilda mengerjap, mengerutkan dahi. "Bukankah mitos itu hanya menceritakan bahwa dalam sebuah perlombaan, Tikus berbuat curang kepada Kucing sehingga Kucing tidak bisa menjadi pemenang. Oleh karena itu, sampai saat ini kucing selalu memburu tikus karena dendam akan kecurangan yang leluhur mereka lakukan."
"Benar," Shawn mengangguk, "bukankah mitos itu berarti setiap perlakuan buruk memang sudah sepantasnya mendapat balasan yang lebih berat?"
Spontan Hilda menegup ludah. Meski Shawn berucap dengan nada datar, tapi Hilda dapat merasakan bahwa Shawn pastilah menyimpan dendam pada seseorang yang berlaku buruk kepadanya. Ah, setelah dipikir lagi, itu menjelaskan cara bicara dan sikap Shawn yang lumayan tertutup.
Tapi tetap saja, itu bukan alasan untuk hidup dengan hanya terpaku pada dendam, batin Hilda sambil mengepalkan tangan. Sepasang manik hijau terang bak daun di musim semi itu melirik sang pangeran dengan sudut mata, "Menurut saya, dibandingkan memikirkan balasan kepada orang yang berlaku buruk, bukankah akan lebih berarti memikirkan orang-orang berharga yang berlaku baik kepada kita?" ujarnya tanpa sadar.
Sekali lagi, ucapan Hilda sukses membuat Shawn membeku. Setelah terdiam beberapa saat, sudut bibir pemuda itu terangkat, "Sayangnya, orang baik seperti itu sudah lama mati."
Mendengar ucapan Shawn, Hilda tersentak. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena membuka luka lama dari pemuda di sebelahnya. "M-meski begitu, bukankah Tuan masih memiliki Rein, adik Tuan?"
Shawn tertawa getir. Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa menanggapi ucapan Hilda barusan. Akhirnya, pemuda itu pun memutuskan berdiri dan meletakkan peralatan yang ia gunakan di dalam lemari tak jauh dari sana. Sepasang manik merah dan hijau itu kembali bertemu ketika Shawn menoleh untuk terakhir kalinya sebelum kemudian ia berbelok menuju tangga.
"Kakak!" Refleks Shawn menoleh pada anak lelaki yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Lihatlah, aku berhasil mendapat pekerjaan di toko buku dekat sini dan ini gaji pertamaku!" ucap Rein dengan kedua sudut bibir sepenuhnya terangkat.
Sejenak Shawn terdiam, menatap Rein yang baru tiba dalam balutan mantel kebesarannya bingung. Apakah anak ini masih mau bersandiwara lagi? batin Shawn tatkala mereka berada tak jauh dari bingkai pintu ruangan tempat Hilda kini masih berada. Baiklah, kalau begitu apa sekarang aku harus memujinya?
Setelah berpikir beberapa saat, ragu-ragu Shawn menempatkan tangannya di puncak kepala berambut hitam itu, kemudian mengusapnya pelan. "Kerja bagus," ujarnya singkat, "gunakanlah untuk membayar biaya penginapan."
"Kakak tidak perlu khawatir," balas Rein sambil terkekeh, "tenang saja, aku sudah membayar biaya penginapan kita untuk seminggu. Sebenarnya aku sudah pulang dari tadi, tapi karena Nona Cantik bilang Kakak masih bekerja, kuputuskan untuk menunggu Kakak selesai saja...."
Shawn mengangguk, "Begitu rupanya." Kemudian ia berlutut, mendekatkan bibirnya tepat ke telinga anak itu, "Berarti aku sudah bisa menghukummu karena sudah berani 'menjebakku', iya kan?"
Shaahh....
"S-saya tidak paham maksud Tuan..," ucap Rein sambil sebisa mungkin membuat pandangannya tidak bertemu dengan mata Shawn, bahkan demi mengurangi kemarahan Shawn anak itu kembali memanggilnya dengan hormat. Namun justru kini Shawn menggenggam bahu anak itu erat-erat, membuatnya tak bisa lagi melarikan diri. "Apa kau tidak tahu betapa lelahnya aku seharian harus membersihkan penginapan sebesar ini?" tanya Shawn penuh penekanan.
Rein menegup ludah, berusaha menghindar dari pandangan mengintimidasi yang seolah hendak merobek-robek dirinya. "S-saya juga bekerja keras, kok.... Lagipula itu satu-satunya cara agar kita tetap bisa tinggal di sini."
"Aku tahu, tapi kau kan bisa membicarakannya denganku baik-baik, bukannya menjebakku."
Cepat-cepat Rein mengangguk. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan membicarakannya baik-baik lain kali."
Melihat ekspresi Rein yang sepenuhnya ketakutan, akhirnya Shawn hanya dapat menghela dan melepaskan genggamannya sebelum air mata benar-benar jatuh bebas dari netra anak itu. Shawn mengambil kantong kain kecil berwarna cokelat dari tangan Rein dan membuka tali ungu yang mengikatnya. Tampak beberapa keping koin berwarna emas, 1 koin berharga 1.000 Joule. Jadi setidaknya ada 40.000 Joule di dalam kantong tersebut, lebih dari cukup untuk membeli satu mantel anak-anak.
Bukannya apa, Shawn hanya tidak tenang karena anak itu berkeliaran ke sana kemari dengan piyama rumah sakit yang tipis. Mantel yang bisa ia gunakan pun hanya mantel kebesaran yang Shawn berikan kemarin.
"Meski aku masih kesal, tapi memang benar aku sudah berutang budi padamu," ucap Shawn sambil menyerahkan kembali kantong berisi uang ke tangan Rein, "karena itu, sebagai hadiah belilah mantel yang pas dengan tubuhmu. Kau pasti lebih tahu di mana bisa membeli mantel itu daripada aku, jadi pergilah sendiri." Genap berucap demikian, Shawn kembali berbalik dan meneruskan langkahnya menaiki tangga.
Untuk beberapa saat, Rein hanya dapat termangu sambil memandangi sosok sang 'kakak' menjauh. Ia menatap kantong cokelat di tangan. Meski kantong itu sama saja dengan kantong yang ia pegang sebelumnya, tapi entah kenapa tanpa sadar sudut bibirnya terangkat ketika memandanginya. "Nona Cantik, kira-kira berapa harga mantel di kota ini?"
"Eh?" kaget Hilda yang tak menyangka ia ketahuan menguping—tapi ia tidak bisa mendengar dari bagian sejak Shawn berlutut. Sambil tersenyum canggung wanita itu melangkah dari bingkai pintu dan mendekati Rein, "Kalau untuk Rein, mungkin sekitar 25.000 Joule sudah cukup."
Rein mengangguk paham, kemudian berbalik dan menatap Hilda lurus, "Kalau mantel untuk Kakak, kira-kira berapa harganya?"
Hilda tertegun, hatinya terenyuh melihat ketulusan anak 7 tahun di hadapannya itu. Wanita itu kemudian berjongkok dan mencubit pipi kenyal Rein, membuat anak itu meronta. "Sejak pertama kali bertemu memang aku sudah tahu, tapi ternyata Rein benar-benar sangat imut!" ucap Hilda yang sudah sepenuhnya berada di bawah kendali keimutan Rein.
"Nona Cantik.., tolong hentikan..."
Tap. "Pilih saja mantel untuk Rein dan kakak Rein. Kalau uang Rein kurang, biar Nona Cantik ini yang membayarnya!" ucap Hilda percaya diri sambil meletakkan tangannya di kepala Rein.
Ya, awalnya Hilda berharap kedua 'tamu gratis' ini tidak akan tinggal di penginapannya sampai 3 bulan. Namun sekarang wanita itu malah berharap bahwa setidaknya kedua orang itu tinggal di sini sampai setidaknya 3 bulan saja. Entah orang lain menganggapnya sebagai simpati atau kebodohan, tapi untuk saat ini wanita itu hanya berharap ia dapat sedikit saja meringankan beban mereka, Shawn dan Rein, 'kakak-beradik' malang yang tentu memiliki kisah hidup yang tidak mudah.
Apalagi itulah esensi awal berdirinya Penginapan Terang Bulan, menyediakan tempat peristirahatan bagi mereka yang lelah atau tersesat.