Uranium: The Jinxed Prince

Uranium: The Jinxed Prince
The Jinxed Prince 23



Ia baru saja bangun ketika pintu kamar yang ditempatinya tiba-tiba dibuka oleh seorang gadis berambut pirang panjang. Dengan membawa sebuah kantong cokelat kecil yang ujungnya diikat dengan seutas tali, Agatha berjalan masuk beberapa langkah. "Selamat pagi, Noah," ucapnya sambil menyungging senyum. "Total pembayaran yang kau terima adalah 5.000.000 Joule, termasuk kompensasi atas luka-luka yang kau alami. Semoga uang ini bisa membantu kondisimu." Gadis itu kemudian meletakkan kantong tersebut di meja kecil sebelah pintu, kemudian keluar tanpa berbicara lebih lanjut.


Entah khawatir orang-orang Muinaru akan melancarkan aksinya lagi, kemarin Herald selaku sang ketua perburuan memerintahkan agar setiap anggota kembali ke gedung guild sebelum matahari terbenam. Shawn yang hanya beristirahat seharian di dalam tenda karena lukanya pun tahu dari Vio yang bersedia memberitakan kabar ini—dari celah kain yang dibuka gadis itu, Shawn dapat melihat sekilas orang-orang di luar tengah membereskan barang-barang.


Pemuda bermanik merah itu hanya dapat mengerjap beberapa kali. Saat ini seluruh tubuhnya terasa sakit setengah mati—itu jelas, apalagi di balik mantel hijau yang ia kenakan hampir seluruh tubuh bagian atasnya terselimuti perban.


"Argh," Shawn mengerang sambil memegangi kepala yang terasa pening. Sinar mentari yang sedikit terlalu terang membuat matanya silau. Kalau dilihat dari tingkat kecerahannya, mungkin sekarang pukul 8 atau 9 pagi. Kemudian tanpa sengaja tangan yang sama mendarat di atas sebuah kain lembut yang sukses membuat Shawn membelalak. Tanpa melihat pun, Shawn tahu bahwa itu adalah mantel pemberian Rein yang kini telah sobek.


"5.000.000 Joule," gumam Shawn teringat ucapan Agatha, memandang kantong cokelat tersebut dari tempat tidur. Jujur, Shawn tidak begitu paham seberapa berharga nilai uang dengan 6 buah "0" itu. Namun mengingat jumlah itu lebih banyak dari biaya penginapan yang dikatakan Hilda, pasti akan cukup untuk mengganti mantel yang sobek, iya kan?


Ah, tidak. Mungkin akan lebih baik jika Shawn sekalian membelikan anak itu beberapa pakaian baru. Kemudian jika masih ada sisa, ia harus melunaskan 'utang' kepada sang pemilik penginapan yang selama beberapa waktu belakangan telah membiarkan dirinya dan anak itu tinggal serta makan dengan cuma-cuma.


"Aku juga harus membeli kuda," gumam Shawn lagi. Tentu ia tidak bisa terus mengharapkan harimau putih yang berusia berapa ratus tahun menjadi satu-satunya 'alat transportasi' mereka. Saat mengantar Shawn dan Rein dari Limpa ke kota ini saja, ia sudah mengeluh seolah menempuh jarak dari ujung ke ujung benua. Memang, Shawn belum pernah sekali pun belajar maupun menunggang kuda. Namun seharusnya itu bukan hal yang tidak bisa ia kuasai.


Seharusnya tidak sesulit itu, pikir Shawn meyakinkan diri. Dulu ia pernah beberapa kali melihat kereta kuda yang keluar-masuk istana dan kediaman Plutonium. Ia juga pernah melihat Marquess atau Isaac menunggang kuda. Bahkan dulu ia pernah diam-diam masuk ke kandang kuda bersama Brianna—gadis itu yang memaksa Shawn ikut. Setidaknya dalam ingatannya, kuda bukan hewan yang seliar itu—jika dibandingkan dengan harimau putih.


Oh, makanan! Tentu Shawn tidak boleh melupakan hal krusial itu. Jika masih ada uang yang tersisa, Shawn harus membeli beberapa persediaan makanan untuk jaga-jaga selama perjalanan. Belum tentu mereka akan selalu beruntung menemukan kota atau desa untuk bersinggah. Namun... makanan seperti apa yang harus ia beli?


Sepertinya bertanya pada Harimau Tua itu juga tidak berguna, pikir Shawn lagi. Entah sejak kapan tanpa sadar kini Shawn ikut-ikutan memanggil sang fransbeast dengan sebutan 'Harimau Tua'. Padahal dulu ia hanya memanggilnya dengan sebutan 'kau', 'hei', atau semacamnya. Membicarakan tentang anak itu, Shawn jadi terpikir, apa kali ini ia harus mengandalkan kecerdasan anak itu lagi?


"Kalau begini, apa boleh buat," gumam Shawn setelah beberapa kali berdebat dengan pikirannya sendiri. "Tapi, ini hanya sementara," lanjut sang pangeran lirih. Sorot matanya sedikit meredup begitu genap kalimat tersebut terlontar dari bibir, "hanya sampai aku menemukan bunga un, atau menemukan tempat yang ingin ditinggali anak itu. Kemudian, kami akan berpisah."


Shawn cukup sadar diri. Sekarang, mungkin Rein dengan lugu terus berkata ingin terus mengikuti dirinya, bahkan sampai menangis di tengah hujan ketika mereka hendak berpisah selama seminggu saja. Namun itu semata-mata hanya karena anak itu masih kecil. Seiring bertambahnya usia dan pengetahuan, lama-kelamaan tatapan yang diarahkannya pada Shawn juga akan sama seperti orang lain. Ia akan menatap Pangeran Keempat dengan penuh kejijikan, meyakini bahwa lelaki berambut perak dan bermata biru itu adalah pembawa kemalangan.


Memikirkannya, membuat dada Shawn sedikit sesak. Sepertinya lama waktu yang mereka habiskan—meski baru sebentar—cukup berkesan bagi Shawn.


"Tapi kali berikutnya kami berpisah, anak itu pasti akan sangat bahagia. Kalau pun menangis, itu adalah tangisan bahagia karena akhirnya dapat berpisah dari Jinxed Prince."


Shawn tertawa kecil. Detik berikutnya terdengar helaan panjang yang meluncur dari bibir. Namun dengan segera helaan tersebut berubah menjadi seruan tak bersuara. Karena ia baru bangun dan otaknya terlalu 'lamban' bekerja, Shawn baru terpikirkan kenapa ia menerima upahnya sekarang? Bukankah ini baru hari keempat perburuan dan masih tersisa 3 hari lagi?


Shawn merutuk di dalam hati, terutama mengingat ia yang lupa memperhatikan tato di leher Agatha.


Secara umum ada 2 jenis tato: tato identitas dan tato sementara.


Tato identitas adalah 'tanda' yang digunakan seseorang menyatakan kesetiaannya pada komunitas tempat ia berada dan tidak akan pernah hilang dari tubuh. Proses pengukiran tato pada kulit seseorang pun bukan main sakitnya. Tato identitas menggunakan bahan dasar tanaman tato. Tanaman ini hanya ditanam di lahan yang diizinkan oleh raja dan peredarannya dibatasi dengan sangat ketat oleh keluarga kerajaan. Komunitas-komunitas yang boleh mengukir tato identitas ini pun harus mendapat persetujuan dari raja terlebih dulu. Biasanya guild-guild dengan skala menengah ke atas, termasuk Arsenic Guild.


Makna tato sementara sendiri tidak sedalam tato identitas. Biasanya hanya sebagai hiburan hingga anak-anak pun terkadang menggunakannya—termasuk Shawn yang dulu dipaksa oleh Brianna. Bahan dasar yang digunakan adalah madu lebah hitam, jadi sama sekali tidak berbahaya maupun sakit pada kulit. Hanya saja, tato ini tidak bertahan lama dan dapat hilang-muncul dalam jangka waktu tertentu. Tergantung dari kualitas produk, ada tato yang hanya dapat terlihat jika terkena sinar matahari atau bulan, ada juga yang hanya terlihat di dalam ruangan. Ada tato sementara yang hilang setiap beberapa waktu sekali hingga akhirnya hilang sepenuhnya.


Demi mencegah timbulnya kekacauan dalam masyarakat, tidak diperboleh bagi siapa pun memproduksi tato sementara dengan bentuk yang sama dengan tato identitas komunitas tertentu. Setiap tato identitas telah dilaporkan dan mendapat persetujuan dari raja, kemudian bentuk tato tersebut akan disebarkan ke masyarakat sehingga tidak boleh ada lagi tato sementara yang didesain dalam bentuk yang demikian.


Tepat sehari sebelum perburuan dimulai, Shawn sempat melihat tato pada leher Ketua dan Wakil Ketua perburuan ini menghilang. Karena itu, ia merasa ada yang tidak beres. 3 hari, demikian waktu yang diberikan Herald pada Shawn untuk mengumpulkan 100 kepala serigala. Shawn menduga jika memang benar tato itu adalah tato sementara dan ia bukan anggota Arsenic asli, kemungkinan dalam waktu 3 hari tersebut ada yang harus pria itu lakukan, dan akan selesai dalam jangka waktu tersebut. Atau mungkin untuk mengurangi mata yang melihat, setidak-tidaknya Shawn harus angkat kaki dalam 3 hari.


Namun ada yang tidak Shawn mengerti, jika dugaannya memang benar, kenapa mereka berdua seceroboh itu terang-terang menunjukkan 'tato palsu' mereka?


Namun apa pun itu, yang jelas, ia jadi tidak bisa 'mengantarkan' jiwa rekan-rekan pembunuh bayaran yang mengejarnya tempo lalu untuk berkumpul di alam sana. Shawn tidak berniat membunuh orang yang tidak memiliki masalah dengannya.


Sudahlah, setidaknya aku mendapat uang, batin Shawn sambil menutup mata.


Lelah, ia sungguh lelah. Semoga takdir bersedia membiarkan Shawn beristirahat untuk beberapa waktu ke depan, sebelum ia benar-benar memulai perjalanan panjang mencari bunga un.


Atau setidaknya, demikian pikir sang Pangeran Keempat.


***


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. "Sudah kuduga kau pasti di sini," ucap seorang gadis diikuti suara pintu ditutup. Terdengar langkahnya yang mengarah ke sofa tak jauh dari jendela. "Seharusnya aku bicara lebih banyak pada 'pangeran' yang membuatmu, seorang bangsawan paling berintegritas, mengabaikan satu per satu kewajibannya."


Spontan pria itu menatap tajam dengan sudut mata. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Tanpa menoleh, telinga di balik topeng itu dapat mendengar sebuah tawa sinis, "Jangan bercanda. Kalau kau masih bangsawan yang kukenal, seharusnya 'Noah' tidak bisa lagi berkeliaran bebas detik ini. Seharusnya kau mengembalikannya ke Hutan Roldwix dan mencegah Jinxed Prince itu melarikan diri lagi."


Akal pria itu mengerti ucapan sang gadis, tapi pemikirannya berkata lain. "Aku tidak pernah mendapat perintah seperti itu," sanggah sang lelaki cepat.


Agatha terdiam beberapa saat, kemudian menghela dan melanjutkan, "Jangan terlalu dekat dengannya, nanti kau bisa sial. Aku bahkan sengaja tidak mau dekat-dekat dengannya saat memberi uang sesuai 'permintaanmu' tadi."


Ucapan tak berperasaan Agatha cukup untuk membuat pria itu mengepalkan tangan. "Aku tahu...." Namun entah sejak kapan, pria itu mulai terusik akan setiap celaan yang mengarah pada sang pangeran keempat.


"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat 'Vio'," ucap Agatha lagi—yang cukup untuk membuat sepasang manik hijau itu membulat.


***


"Noah!" seruan yang dilontarkan suara lembut itu sukses menghentikan langkah Shawn yang tengah menuju Penginapan Terang Bulan. Shawn berbalik, mendapati gadis di balik jubah itu berlari kecil mengejar dirinya. "Apa kau tinggal di kota ini?"


Ragu-ragu, Shawn menggeleng. Sejak pertama kali bertemu Vio menjadi orang pertama yang menanyakan begitu banyak hal mengenai Shawn—bahkan si pemilik penginapan yang cerewet tidak sampai seperti ini.


"Sebenarnya aku berharap banyak pada upah perburuan ini. Cukup mengecewakan karena dihentikan tiba-tiba, kakak-adik itu bahkan pergi pagi-pagi sekali tanpa berpamitan, tapi kabar baiknya upah kita dinaikkan berkali-kali lipat," ucap Vio dengan berbagai nada bicara. Diawali dengan murung di awal, tapi ceria di akhir.


Shawn mengangguk, ia sangat setuju dengan bagian terakhir.


"Apa yang akan kau lakukan pertama kali dengan uangmu?" tanya Vio lagi, sepertinya tengah melihat ke arah kantong yang dibawa Shawn.


Shawn terdiam. Hal yang hendak ia lakukan bukanlah hal besar sampai harus dirahasiakan, hanya saja ia tidak tahu bagaimana mengatakannya pada gadis yang bahkan tidak terlalu dekat dengannya ini.


"Kalau aku, aku berniat membelikan makanan enak untuk sepupu yang akan kutemui. Kami belum pernah bertemu sama sekali sejak lahir, tapi kudengar dia ada di sini," Vio mulai bercerita. "Aku tidak tahu banyak tentangnya. Tapi sejak dulu aku sangat ingin bertemu dengannya."


Tiba-tiba Vio sedikit mendongak, menatap Shawn—meski wajahnya tetap tertutup tudung jubah. "Menurutmu, makanan apa yang harus kubelikan saat pertama kali kami bertemu?"


Shawn menegup ludah. Tiba-tiba ditanya seperti ini tentu membuatnya cukup terkejut.


"Atau coba katakan saja makanan kesukaanmu. Mungkin itu bisa menjadi pertimbanganku dalam memilih makanan nanti," ucap Vio lagi, mungkin menyadari kesungkanan Shawn.


Makanan kesukaan.... Shawn tidak pernah memikirkannya. Ia bisa dan bersedia memakan apapun, selama tidak beracun. Namun kalau makanan yang membuat perasaannya hangat, mungkin ada satu....


"Roti," ucap Shawn tanpa sadar.


"Roti?" mendengar balasan Vio yang terdengar ragu, Shawn mengangguk pelan. "Ya, aku suka roti...." Sejenak, Shawn menyesal telah menjawab. Barangkali ia telah salah ucap sampai VIo bereaksi demikian.


"Begitu!" Tiba-tiba Vio memegang kedua tangan Shawn, membuat pemuda itu tersentak. "Lain kali kita bertemu lagi, ayo makan roti bersama!" terdengar tawa kecil dari balik jubah.


Shawn mengerjap. Bibirnya terbuka, tapi tidak tahu harus berkata apa, hanya kepala yang mengangguk tanpa pikir panjang.


"Kau sudah berjanji, ya! Kalau begitu, aku pergi dulu karena seperti tidak bisa berlama-lama lagi," gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Shawn. "Kali berikutnya bertemu, semoga kau sudah bersedia menceritakan dirimu lebih banyak lagi, Shawn."


Refleks Shawn membelalak. Sebelum ia dapat merespon, gadis itu sudah lebih dulu berlari menjauh.


"Vio..," gumam Shawn pelan, mengingat suara khasnya yang begitu lembut. Angin berembus pelan, memainkan helaian rambut hitamnya. Yah, bertemu dengan gadis itu lagi sepertinya tidak buruk.


"Nak! Nak! Kau bisa mendengarku?" tiba-tiba terdengar suara berat dalam kepala Shawn, membuat kewaspadaannya meningkat tatkala suara tersebut terdengar panik. "Rein, anak itu diculik!"