
Sepuluh tahun kemudian...
Disebuah taman kota yang sejuk dan rindang. Keluarga yang penuh bahagia tengah piknik dengan riang gembira.
"Mamah mamah, adek mau itu mah" ucap gadis kecil berusia enam tahun sembari menunjuk permen kapas.
"Iya, ayok. Kakak mau apa?" tanya Aura.
"Kakak mau teh aja mah" ucap anak kecil berusia tujuh tahun.
"Papa tunggu disini dulu ya, mama mau beliin jajan Evelyn dan Elvano dulu" ucap Aura kepada Dhika.
"Biar aku aja, kamu tunggu disini" ucap Dhika.
"Makasih ya" ucap Aura sembari memberikan senyuman.
"Kakak, adek, mau apa? sini papa beliin" ucap Dhika.
"Adek mau itu pah" ucap Evelyn.
"Kakak pengen es teh pah" ucap Elvano.
Dhika pun membelikan kedua anaknya apa yang diinginkan. Beberapa saat kemudian, mereka bertiga kembali ke tempat Aura.
"Mamah, adek punya permen kapas bentuk kelinci hehehe" ucap Evelyn
"Wah, lucu sekalih. Sama seperti adek, sangat lucu" ucap Aura sembari mencubit pipi Evelyn.
"Mamah, cobain deh, teh leci nya enak banget" ucap Elvano.
"Oh ya? mama mau coba dong" ucap Aura. Elvano menyodorkan minuman yang berada di tangan kanannya untuk Aura. Aura pun mencoba minuman itu.
"Wah rasanya enak" ucap Aura sembari tersenyum.
"Cobain punya adek juga mah" ucap Evelyn. Evelyn mengambilkan permen kapas yang ia pegang, mengambil potongan yang cukup besar bagi tangannya, dan menyuapkan kepada mamah nya.
"Hmm manisss seperti adek" ucap Aura sembari tersenyum dan mencubit pelan pipi Evelyn.
"Yahhh kok Mama aja yang disuapin? kan papa juga mau" ucap Dhika.
"Ga tau ah, papah ngambek" ucap Dhika merajuk.
"Tuh papa cemburu tuh, sana kalian rayu" ucap Aura jahil.
"Ihh papa ga gaboleh ngambek, yang boleh ngambek tuh adek aja" ucap Evelyn dengan polosnya.
"Ga anaknya, ga mamahnya samaaa aja. Copy paste" ucap Dhika malas.
"Dihh nyama nyamain" ucap Aura tersenyum geli.
"Udah ya pah, jangan ngambek terus, nanti adek jadi bawel, terus kakak yang serang" ucap Elvano memelas.
"Adek jahat sama kakak?" tanya Dhika.
"Enggak kok pah, malah kakak yang sering usilin adek" ucap Evelyn dengan polosnya.
"Kakak..." ucap Dhika memanjangkan kata nya.
"Hehehe iya pah, maaf kakak bohong" ucap Elvano dengan cengengesan.
"Tuh kann mirip banget sama papa mu" ucap Aura menimpali.
"Anak baik ga boleh berbohong, kalau kamu berbohong, kamu tidak dapat dipercayai orang lain" ucap Dhika menasehati.
"Maaf pah" ucap Elvano.
"Yasudah, ayok kita makan-makan lagi, papah pengen makan masakan mamah mu" ucap Dhika.
"Let's go" ucap Evelyn dan Elvano.
...****************...
Dhika sekeluarga berencana untuk berlibur ke rumah kakek dari Evelyn dan Elvano. Mereka akan berlibur ketika keduanya libur sekolah, dan libur sekolah satu pekan lagi. Mereka pun berembug untuk keberangkatan mereka.
Dirumah besar milik Dhika, ia meminta Mbak Tini untuk memanggilkan kedua anaknya di lantai dua.
"Mbak, tolong panggilin anak anak" perintah Dhika.
Mbak Tini pun ke lantai dua untuk memanggil keduanya. Setelah itu, mereka bertiga turun ke ruang tamu untuk berbicara dengan papah nya.
"Kakak, adek, sini, papah mau bicara sama kalian" ucap Dhika.
"Ada apa pah?" tanya Elvano.
"Liburan besok, kalian mau ke rumah kakek atau jalan-jalan?" tanya Dhika.
"Adek mau ke rumah kakek" ucap Evelyn sambil mengacungkan tangan.
"Kakak juga pah" ucap Elvano.
"Ya sudah, 1 minggu lagi kita kesana" ucap Dhika.
"Yeyyy" ucap kedua anak itu.
Satu minggu telah berlalu. Keluarga itu berlibur di rumah Azkandar, kakek dari Evelyn dan Elvano. Tiga jam perjalanan tak terasa oleh mereka. Akhirnya mereka sampai dirumah Kakeknya. Tampak Azkandar tengah duduk bersantai didepan terasnya.
"KAKEKKK" ucap Evelyn turun dari mobil dan berlari ke arah Azkandar. Azkandar membuka kedua lengannya untuk menerima pelukan dari cucunya.
"Wahh cantik main kesini" ucap Azka.
"Adek kangen kakek" ucap Evelyn di dekapan Azka. Tak lama, Elvano, Dhika, dan Aura menyusul keluar dari mobil itu.
"Siang pah" ucap Dhika sembari mencium tangan Azka.
"Siang pah, gimana kabarnya pah?" tanya Aura sembari mencium tangan Azka.
"Baik, papa baik baik aja kok" ucap Azka.
"Kakek, kakak kangen kakek tauk" ucap Elvano sembari mencium tangan Azkandar.
"Oh ya?" tanya Azka.
"Iya kek, kakak kangen banget sama kakek" ucap Elvano.
"Hahaha" tawa khas kakek kakek.
"Yasudah, ayok masuk, kita makan dulu" ucap Azka.
"Siap kek" ucap Evelyn dan Elvano.
Mereka semua pun makan siang dirumah Azkandar. Mereka membahas banyak hal sembari menikmati makan siang disana.
Mereka juga menginap selama tiga hari disana, banyak cerita yang dibahas dan saling bertukar cerita. Keluarga yang harmonis.
Setelah dari rumah Azkandar, mereka juga berlibur di rumah orang tua Aura. Mereka juga menginap tiga hari disana. Aura sangat rindu dengan orang tuanya. Begitu pula dengan anak anak itu. Evelyn dan Elvano menyayangi dua kakeknya dan satu neneknya sama rata. Tidak membandingkan mereka satu sama lain.
Untuk sampai dititik ini, banyak perjuangan yang dilakukan Aura dari dia SMA sampai menikah dengan Dhika. Walaupun keduanya tak saling menyukai diawal, tetapi dengan berjalannya waktu, mereka akhirnya mau saling membuka hati satu sama lain.
Banyak konflik yang terjadi di hidupnya. Banyak masalah yang menghiasi langkahnya. Dan masih banyak lagi problematika yang terjadi selama itu.
Aura merasa bahagia karena sekarang dia sudah memiliki keluarga yang utuh dan harmonis. Tidak ada kekerasan, tidak ada kekangan ataupun paksaan. Yang ada hanyalah cinta, cinta didalam keluarga yang penuh harmonis ini.
"Nenek, masakan nenek enak" puji Evelyn kepada masakan Silvia.
"Terimakasih cantik, ayok nambah lagi, biar cepet besar" ucap nenek Silvia..
"Kalau udah besar nanti kamu mau jadi apa El?" tanya kakek Dhani.
"Aku pengen jadi TNI kek, biar bisa mengamankan negara dan keluarga" ucap Elvano dengan tegas.
"Semoga cita-cita mu terwujud" ucap Dhani.
Sekarang, hidup Aura lebih berwarna. Semua telah menjadi miliknya, disayangi, dicintai, mencintai, memiliki, membimbing, dan terus bersama dengan orang yang dia cintai.
Semuanya adalah soal waktu, jika waktu bahagia kita telah tiba, maka kita akan merasakannya.
Roda akan terus berputar, situasi dan kondisi bisa saja berubah. Tetapi hanya satu yang dia inginkan, tetap bersama dengan orang yang dicintainya sampai menua.
Sekarang aku merasakan indahnya dicintai dan mencintai. Aku bersyukur memiliki Dhika, Evelyn dan Elvano. Tresno jalaran saka kulino (Cinta berawal dari terbiasa). Ya aku membenarkan pepatah itu. Karena sekarang aku sendiri yang merasakannya, semoga sampai selamanya.
...~Aura Silvia Pratistha~...