UNWANTED MARRIAGE

UNWANTED MARRIAGE
27. Pembalasan



Episode sebelumnya


"Lo yang mulai lo yang merima konsekuensinya" ucap Dhika dengan suara beratnya.


...****************...


Dhika mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Aura. Aura tampak takut dan memejamkan mata erat-erat. Dhika hanya tersenyum melihat wanita itu ketakutan. Dia pun berdiri menjauhi Aura dan masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aura yang merasa tangannya dilepaskan oleh Dhika pun membuka sebelah matanya untuk memastikan apakah Dhika benar-benar pergi. Ternyata benar, Dhika telah pergi dari hadapannya.


"Anjir apa-apaan tadi? jantung gua ga aman! badan gua panas" ucap Aura bermonolog.


Disisi lain, Dhika mencoba menahan nafsunya dan memilih untuk menyelesaikan perasaan itu sendiri di kamar mandi.


"Gua bisa aja langsung nerkam lo shhhh tapi gua bakal mempermainkan lo dulu ashhh sampai lo gak betah sama gua arghhhhhh" ucap Dhika sembari melanjutkan aktivitasnya.


Aura segera bergegas berganti baju, dan pergi keluar dari kamar itu.


"Gua ga mau mancing dia lagi... serem..." ucap Aura mengutuk perbuatannya tadi.


Dhika memang berperilaku jahat didepan Aura. Walaupun begitu, dia tidak pernah menyakitinya secara fisik, dia hanya kasar dalam ucapan, bukan dalam tindakan.


Aura bingung ingin melakukan apa, dia hanya bisa mondar mandir di taman seperti orang kehilangan arah. Tak lama kemudian, Aura dipanggil oleh Azkandar.


"Aura! Dimana kamu?!" seru Azka dari kejauhan. Aura yang mendengar suara Azka pun segera menjawab.


"Iya pah, Aura di taman!" seru Aura.


"Kemarilah!" ucap Azka.


Aura segera berlari kecil menuju Azka. Sepertinya ada hal penting yang perlu dibicarakan. Tak mau membuat Azka menunggu, secepatnya ia mendatangi Azka.


"Ada apa pah?" tanya Aura.


"Dimana Dhika?" tanya Azka.


"Dhika masih mandi pah, perlu aku panggilkan sekarang?" tanya Aura.


"Ya, tolong panggil dia segera, dan temui papa di tempat makan" ucap Azkandar.


"Baik pah" ucap Aura.


Tanpa mengetuk pintu, Aura langsung membuka pintu kamar tersebut. Seketika badan Aura membeku dan matanya melotot serta diikuti dengan mulut yang menganga.


"Ajg! lo ngapain disini bgst!" ucap Dhika sarkas.


Aura masih belum sadar dan masih terpaku dengan apa yang ia lihat. Kelas saja Aura terpaku. Dhika yang tak memakai baju dan hanya mengenakan boxer tengah berdiri didepan lemari berkaca, membuat Aura tertegun. Bukannya mengalihkan pandangannya, ia justru membeku tak bergerak.


Dhika dengan tinggi yang proporsional dengan badan yang terbentuk sempurna, penuh dengan otot serta perut sixpack nya membuat siapapun wanita yang ada di sekitarnya terpesona dengan tubuh atletisnya.


Dhika segera mengambil handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Kau suka melihat pemandangan seperti ini hmm?" tanya Dhika yang mulai mengusili Aura lagi. Dhika pun menutup pintu dan menguncinya, serta menyudutkan Aura ke tembok.


"E-ehhh l-lo d-d-dipanggil p-papa" ucap Aura gugup dan salah tingkah.


"Oh, ternyata lo suka sama cowok yang beroto kek gua gini hmm?" tanya Dhika dengan suara beratnya.


"Tubuh lo molek juga kalau abis mandi, keknya enak deh kalau dipake" ucap Dhika sembari mengangkat dagu Aura untuk mendongak ke arahnya.


Badan Aura kembali memanas, pipinya memerah seperti tomat.


"Kenapa wajah lo kek tomat gini?" tanya Dhika. Aura dibuat salah tingkah karena ucapan Dhika. Dia memalingkan wajahnya dan ingin pergi saja dari hadapan Dhika.


Dhika menaruh tangannya di tembok sehingga mengunci posisi Aura berada di depannya.


"Mo ngapain lo?" ucap Aura.


"Mau menjalankan tugas suami, dan lo sebagai istri, harus memenuhi tugas lo juga" ucap Dhika.


"MESUM!!" ucap Aura sembari mendorong badan Dhika hingga dia memiliki ruang untuk keluar dari kamarnya.


"Gila!" umpat Aura sebelum menutup pintu kamar Dhika.


BRUAKKK


Dhika hanya terkekeh melihat kelakuan Aura. Dia tampak seperti anak kecil jika dijahili. Itu membuat Dhika ingin terus membuatnya tak nyaman bersamanya. Dan berharap dia mau berpisah dengannya.


Gua ga yakin sama perasaan gua sendiri. Bathin Dhika.