UNWANTED MARRIAGE

UNWANTED MARRIAGE
18. Hukuman dari CEO



Episode sebelumnya


"Gua ganti aja lah, jadi 'Bos' nah gini kan formal" ucap Aura.


...****************...


Hari berikutnya. Aura bergegas ke minimarket tempat ia bekerja. Dia segera bergabung ke ruang pertemuan yang ada di minimarket tersebut. Semua telah berada di ruang pertemuan tersebut, dan tinggal Aura yang belum bergabung.


"Maaf saya terlambat" ucap Aura sembari menunduk saat memasuki ruangan itu.


"Kamu terlambat lima menit. Sebagai pekerja, harusnya kamu lebih disiplin lagi" ucap CEO itu.


Bentar deh, keknya gua gak asing sama nih suara. Bathin Aura.


"Heh! diajak ngomong itu diliat lawan bicaranya!" bentak CEO sembari menggebrak meja.


"M-maaf pak" ucap Aura gemetar. Aura dengan ragu pun mendongakkan kepalanya untuk melihat CEO nya.


"Lihat pak CEO nya Aura" senggol teman Aura menginterupsi.


Hah? dia CEO minimarket ini? what the hell!? Bathin Aura sembari membulatkan matanya.


"Kenapa hmm?" "Ingat dengan saya?" ucap atasannya sembari menyeringai.


"Maaf pak" ucap Aura.


"Kamu harus mendapat hukuman atas keterlambatan mu, sekarang, bersihkan tiap inci dari minimarket ini. Kalau sudah temui saya di cafe seberang. Saya ingin bicara empat mata dengan kamu" ucap CEO.


"Sekarang kamu keluar dari ruangan ini, sebelum jam dua belas, sudah harus selesai" ucap CEO sembari melihat jam ditangan kirinya.


"Mulai dari sekarang" perintahnya.


"Permisi" ucap Aura sembari keluar dari ruangan itu.


Aura pun keluar dan menggerutu.


Orang mes*m itu CEO? cih, belagunya bukan maen. Bathin Aura sambil menyeringai.


Aura pun segera membersihkan minimarket itu. Semua nya dirapikan serapi mungkin. Ingin rasanya ia menampar lagi wajah orang mes*m itu.


Saat semua telah bersih, Rekan kerja nya yang rapat dengan bos mes*m itu pun keluar. Bisa disimpulkan bahwa rapatnya telah selesai.


"Kembali bekerja" perintah CEO.


Sang CEO melihat singkat ke arah Aura.


Gua bakal bikin lu ga betah kerja disini hahaha. Bathin CEO. Kemudian berlalu ke cafe seberang jalan.


Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Satu jam lagi semua pekerjaan Aura harus sudah selesai. Jika tidak, kemungkinan dia akan mendapat hukuman yang lebih berat lagi dari bos mes*m nya itu.


"Huftt akhirnya selesai juga. Masih ada setengah jam lagi buat siap-siap, badan gua asem banget kena keringat" ucap Aura.


"Makanya, kalo kerja itu yang profesional dong, masih newbie juga pake acara telat. Rasain lo!" ejek senior julid.


"Heh apa apa an sih lo! dia pasti juga ada urusan kali! jadi orang julid amat!" ucap senior baik membela Aura.


"Udah, ga papa. Ini emang salah gua" ucap Aura.


"Tuh... dengerin pake telinga! dia aja sadar kok kalo dia salah! gak kek elo yang bisanya cuma nge bela yang salah!" ucap senior julid.


"Udah sama pergi! kalo enggak, gua aduin lo ke Pak Bos Dhika!" ucap senior baik.


Dhika? oh.. jadi namanya Dhika. Awas aja lo! Bathin Aura.


"Hih.. mainnya ngaduan, dasar si cepu" ucap senior julid. Lalu meninggalkan keduanya.


"Huss jangan manggil nama! pak bos emang gitu. Kebiasaannya sidak, jadi bisa tau kebiasaan anak buahnya. Kalo direncanain kan mereka semua bisa pura-pura baik, apalagi nenek lampir tadi" ucap senior baik.


"Oh gitu, pantesan, selama ini aku ga pernah liat Dhika, eh maksudnya pak bos" ucap Aura.


"Ya gitu lah orangnya. Eh tapi, aku denger rumor beredar, pak bos itu orangnya angkuh dan juga bengis. Ya maklum, dia anak bos besar, makanya dia sering seenaknya sendiri, seolah-olah semua masalah akan terselesaikan dengan uang. Terus nih ya, beliau itu muda nya juga sering tawuran makanya sama bos besar di sekolahkan di luar negri dengan harapan bisa ngerubah sikapnya. Tapi ya gitu. Tetep sama aja" ucap senior baik.


Aura mendengarkan dengan seksama dan mengangguk seakan paham dengan semua perkataan senior baik itu.


"Udah yuk, kita lanjut kerja lagi, nanti kita dimarahi sama pak bos" ucap senior baik mengakhiri pembicaraannya.


Jam menunjukkan pukul dua belas. Sudah saatnya Aura menemui bos mes*m itu. Aura berganti dan langsung menuju ke cafe seberang jalan. Sesampainya disana.


"Siang pak" ucap Aura.


"Duduk" perintahnya. Aura pun menurut.


"Lo masih inget gua kan? hmm?" tanya Dhika.


"Ya, lo orang mes*m yang gua temuin di bar" ucap Aura.


"Heh (smirk) dan sekarang lo ga bisa ngelawan perintah gua karena sekarang lo udah tau kalo gua bos lo, betul?" ucap Dhika.


"Dhika. Itu kan nama lo?" ucap Aura.


"Betul, wah hebat banget ya lo, lo udah kerja cukup lama disini dan lo baru tau kalo GUA adalah CEO nya" ucap Dhika sombong.


"Seorang bos gak pantes dibilang bos kalo dia semena-mena dengan orang lain dan tidak bisa menghargai orang lain. Inget!" ucap Aura tegas. Dia berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan Dhika.


"Berani lo terusin langkah lo, gua pecat lo sekarang juga" ucap Dhika tegas.


*DEG..


Sialan lo! persetan Dhika! awas lo! gua bakal bales perbuatan lo*! Bathin Aura.


Aura pun mengurungkan niatnya untuk meninggalkan cafe itu.


"Good girl, sekarang balik ke tempat duduk lo" ucap Dhika. Aura menurut


"Dengerin gua, di tempat kerja, lo bawahan gua. Jadi gua bebas untuk memerintahkan" ucap Dhika.


"Dan diluar tempat kerja, strata kita sama, sama sama masyarakat dan manusia. Dan perlu lo ingat 1 hal lagi, gua juga punya hak untuk membela diri, jadi jangan salahkan gua kalau gua bakal ngelawan buat menuntut keadilan!" ucap Aura.


"Terserah lo, yang pasti, karena lo udah telat masuk kerja tadi. Hukuman lo bukan hanya bersih-bersih. Tapi lo harus ngurusi bagian administrasi selama 1 Minggu ini. Ini hukuman yang cocok buat lo" ucap Dhika.


"Gila lo! banyak bet njir" ucap Aura.


"Setuju atau..." ucap Dhika dijeda.


"Atau apa?" ucap Aura. Dhika berdiri dari duduknya, menghampiri Aura dan mendekatkan wajahnya ke telinga Aura.


"Atau badan lo yang jadi gantinya" ucap Dhika berbisik.


"Gila lo!" ucap Aura dan mendorong tubuh Dhika.


"Lakuin semua yang gua perintah dan pekerjaan lo bakal aman, gua berani jamin" ucap Dhika.


Dhika pun berlalu meninggalkan Aura di cafe itu. Aura mendengus kesal karena Dhika mempermainkan dirinya.


Kalo bukan karena lo bos gua, udah gua abisin lo! Bathin Aura.


Aura pun kembali ke minimarket dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kalo kek gini, berarti gua mesti ngerubah jam kerja gua, cuma satu minggu aja, sekarang hari Selasa, gua bakal minta cuti di hari Sabtu. Dan di hari Sabtu ini, semua tugas administrasi harus udah selesai, biar gua terbebas dari si mahluk sialan itu" ucap Aura dengan dirinya sendiri.