
Episode sebelumnya
Satu-satunya cara agar harta warisan itu dapat jatuh ke tangan Dhika adalah dengan menikahi Aura. Akhirnya dengan terpaksa, Dhika menyetujui pernikahan dan perjodohan itu dengan berat hati.
...****************...
Hari pernikahan telah tiba. Aura dan Dhika telah memakai baju pengantin yang sangat indah, berwarna dasar putih dan berekor menambah kesan elegan baju pengantin si wanita.
Pesta itu dihadiri banyak tamu undangan. Bahkan ibu dan bapak Aura juga menghadirinya. Orang tua Aura sudah mengetahui sejak lama bahwa Aura akan dijodohkan dengan anak Pak Azkandar. Oleh sebab itu, dia membiarkan anaknya berada disekitar Billy.
Pernikahan itu berlangsung sangat mewah. Aura dan Dhika harus memasang wajah bahagia walaupun sebenarnya mereka tidak saling suka. Mereka harus berpura-pura bahagia didepan tamu undangan.
"Wah selamat ya atas pernikahannya" ucap tamu undangan yang tengah menyalami mereka.
"Iya, terimakasih" ucap Dhika dengan fake smile nya.
"Selamat atas pernikahan mu nak, semoga bahagia" ucap ibu kepada Aura.
"Iya bu" ucap Aura dengan fake smile nya.
...****************...
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi sebagian tamu undangan masih ingin disana untuk sekedar berbincang-bincang. Aura dan Dhika yang sudah lelah segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Huh.. capeknya.." ucap Aura sembari merebahkan diri di kasur king size nya.
"Eh eh eh, mau ngapain lo?" ucap Dhika.
"Ini kan tempat tidur gua, lo tidur di sofa sana" ucap Dhika.
"Terus kalo lo cewe, lo bisa seenaknya sama cowo gitu? sorry sorry nih ye, lo itu cuma sebagai syarat gua, GAK LEBIH!" ucap Dhika menarik tangan Aura agar terduduk.
"Lo pikir gua mau gitu dijodohin sama bos mesum kek elo?!" ucap Aura.
"Udah lo tidur sofa sana! gua mau tidur di sini, capek gua" ucap Dhika sembari merebahkan dirinya di kasur dengan terlentang.
"Dasar cowo lemah!" ucap Aura.
Dhika yang mendengar hal tersebut sontak membulatkan matanya. Dia bangun dari rebahannya. Dan mendorong Aura hingga terjatuh ke kasur. Posisi mereka kini Dhika berada di atas Aura. Dhika mengunci tangan Aura di samping kanan dan kiri.
"Lo bilang apa barusan?" tanya Dhika dengan suara beratnya.
"G-gue g-ga bilang a-pa apa" ucap Aura terkaget dengan serangan Dhika yang tiba-tiba.
Dhika mendekatkan wajahnya ke tengkuk leher Aura. Tercium aroma wangi dari leher pekerja paruh waktu yang kini telah menjadi istrinya itu.
Tahan Dhik, ini belum saatnya. Kontrol nafsu lo. Bathin Dhika.
Aura memejamkan mata, dia takut hari ini akan menjadi hari ia melepas kesuciannya.
Gila nih cowo, apa ini saatnya? Nggak nggak nggak, gua ga mau. Bathin Aura.
"Lo itu cuma pekerja paruh waktu yang dijodohin sama gua, kita itu sebenernya beda kasta, tau ga" ucap Dhika berbisik ditelinga Aura. Dhika pun beranjak dari posisinya, lalu pergi tidur di kasur itu.
Aura masih terdiam dan tertegun. Entah mengapa perkataan Dhika tadi sangat menyayat hati Aura. Tak terasa air mata keluar dari sudut matanya.
Sadar Aura, omongan Dhika emang ada benernya. Jangan lo masukin hati. Bathin Aura.