
Episode sebelumnya
Hari pertama di Bali.
...****************...
Sesampainya di apartemen, Aura memasuki kamar yang telah disiapkan om nya. Dia memasuki kamar itu dan dia tercengang. Kamar itu bak kamar seorang ratu. Sangat besar dan mewah. Interiornya bahkan sangat berkelas. Dihiasi dengan warna putih dan gold sebagai penghias membuat kamar itu tampak indah dan elegan.
Aura segera merapikan barang-barangnya di lemari yang tersedia. Ini adalah kali pertamanya tinggal di apartemen semewah ini.
Kenapa gak dari dulu aja gua ketemu om gua? kalo ngerti dia setajir ini mah gua ga perlu susah payah bertahan hidup. Bathin Aura.
Setelah merapikan barang-barangnya, Aura ingin berkeliling sejenak untuk sekedar melihat-lihat apartemen milik om nya. Apartemen itu sangat besar dan mewah. Tak terbayangkan berapa harga untuk menginap per malamnya.
Ini mah kalangan artis atau pejabat semua yang dateng. Bathin Aura.
Aura pun keluar dari kamarnya, dia sudah tak sabar ingin melihat betapa mewah dan megah nya apartemen ini. Saat ia keluar dari kamarnya, ada seorang pria yang tak asing menurutnya.
Keduanya menoleh bersamaan dan menegur bersamaan juga.
"ELO?!/ELO?!" ucap keduanya bersamaan.
"Ngapain pekerja paruh waktu pindah kesini hah? resign dari minimarket gua lo?" tanya Dhika dengan sombong.
"Idihhh siapa juga yang resign, gua kesini tuh mau liburan sama om gua" jawab Aura.
"Bodo' amat" ucap Dhika ketus. Tak lama kemudian, Azkandar dan Billy keluar dari kamarnya masing-masing.
"Loh bung? anda disini juga?" tanya Billy berpura-pura.
"Iya bung, saya ada perjalanan bisnis, terus saya ambil apartemen ini deh buat menginap" ucap Azka mengimbangi Billy.
"Wah kebetulan banget, saya yang punya apartemen ini bung, kalau bung mau, bung bisa menginap sepuasnya disini. Saya gratiskan untuk sahabat saya" ucap Billy.
"Wah ga usah repot-repot bung, saya sudah mengurus check in tadi" ucap Azka.
"Nanti uangnya saya kembalikan saja bung, apartemen ini milik saya, jadi akan saya gratiskan untuk sahabat saya sendiri" ucap Billy.
"Wah makasih loh bung, oh iya, sebentar lagi jam makan siang. Gimana kalau kita semua makan siang bareng?" ucap Azka.
"Boleh, kalian berdua mau kan?" tanya Billy kepada Aura dan Dhika.
"Hah?!/Hah?! Enggak!/Enggak!" ucap Aura dan Dhika serentak.
"Dhika, jangan gitu, kita udah diberi tempat menginap gratis loh sama Pak Billy" ucap Azka merayu dan berbisik kepada Dhika.
"Apartemen lain kan banyak, ngapain harus disini sih Pa.." ucap Dhika mengeluh.
"Cuma apartemen ini yang paling dekat dengan gedung pertemuan papa" ucap Azka dengan suara pelan.
"Kalau kamu gak mau, kamu gak usah jadi pewaris perusahaan papa" ancam Azka.
"Tapi pa..." ucap Dhika merengek.
"Gak ada penolakan, ayo ikut" ucap Azka.
"Om... aku ga mau makan bareng sama bos mesum itu..." ucap Aura berbisik kepada Billy.
"Huss ga boleh gitu, Pak Azka itu sahabatnya om, kamu jangan menolak, kalau enggak, kamu balik aja ke kampung biar di nikahin sama kakek kakek yang katamu itu" ucap Billy membalas Aura dengan berbisik.
"Idihh ogah, malah sama Pak Bondo, NAJIS" ucap Aura.
"Makanya, nurut" ucap Billy.
"Mari bung" ucap Azka.
Keempat orang itu pun menuju tempat makan di salah satu sisi apartemen. Rencana Billy dan Azka masih berjalan mulus. Keduanya tak menyadari rencana mereka.
Billy pun mengarahkan Azka, Aura, dan Dhika ke restoran apartemen yang terletak di roof top. Gedung 10 lantai itu memiliki dua restoran, restoran di lantai 5 (indor) dan restoran roof top di lantai 10 (outdoor).
Sesampainya disana, mereka disuguhkan makanan dan pemandangan yang indah. Walaupun ditengah teriknya matahari, tetapi anginnya terasa sejuk, karena ada penutup atas restoran tersebut. Dan ditengah restoran itu juga ada kolam renang. Entah konsep apa yang diusung, tetapi restoran itu sengaja dikosongkan oleh Billy agar bisa digunakan untuk pertemuan Aura dan Dhika.
Mereka makan sembari berbincang membicarakan banyak hal. Sedangkan Dhika hanya fokus pada makanan nya. Dan Aura sibuk menikmati pemandangan sembari menyantap makanannya.
Setelah semuanya selesai makan, Aura berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
"Om, Aura mau balik ke kamar dulu, ada yang mau Aura kerjain" ucap Aura.
"Loh bung, Aura dapat kerjaan?" tanya Billy heran.
"Enggak kok bung, dia dicuti kan selama satu minggu, suratnya sudah saya berikan ke sekertaris saya untuk diberikan ke Aura" ucap Azka.
"Oh enggak om, saya cuma mau melanjutkan cerita saya, mumpung lagi senggang juga" ucap Aura.
"Oh.. kirain" ucap Billy.
"Yasudah om, pak. Saya kembali dulu ke kamar, mari" ucap Aura.
"Ya" ucap Azka dan Billy.
Saat Aura berjalan di tepi kolam, tak sengaja ada seorang pelayang yang menyenggol Aura, sehingga Aura terjatuh ke dalam kolam bertingkat.
BYURRRR
"T-t-tolong.." ucap Aura yang ternyata tidak bisa berenang.
"Selamatkan dia! dia tidak bisa berenang!" seru Billy.
Kolam itu memiliki tingkatan kedalaman, dan Aura jatuh ke bagian kolam yang memiliki kedalaman 2 meter, sedangkan tinggi Aura hanya 160 cm. Aura berusaha melambai-lambai kan tangannya tanda membutuhkan pertolongan.
Dhika yang melihat Aura terjatuh ke kolam segera melepas jaketnya dan masuk ke kolam untuk menyelamatkan Aura.
Tubuh Aura yang mulai melemas membuat Aura semakin tenggelam. Kesadarannya mulai menurun, mungkin sudah banyak air yang masuk ke tubuh Aura.
Dhika segera menyelam untuk mengangkat Aura ala bridal style. Akhirnya Aura berhasil diselamatkan. Tetapi dia masih belum sadarkan diri. Billy dan Azka pun tak kalah paniknya karena Aura terjatuh ke kolam bahkan sampai tenggelam. Untung saja ada Dhika yang mau menolongnya.
"Aura, heh, bangun" ucap Dhika yang telah meletakkan Aura di tepi kolam.
"Cepat, pompa jantungnya" ucap Billy panik sembari menutupi badan Aura yang basah menggunakan jaket Dhika.
"Maaf Ra, permisi" Dhika segera memompa jantung Aura untuk memberikan pertolongan pertama CPR. Cara ini tak membuat Aura sadar.
Karena nyawa orang sedang berada diujung tanduk, Mau tidak mau Dhika harus memberi nafas buatan untuk Aura. Nyawa Aura harus diselamatkan terlebih dahulu.
"Maaf banget Ra" ucap Dhika sekali lagi. Dia segera membuka mulut Aura dan memberikan nafas buatan untuknya. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Aura berhasil sadar kembali.
"Uhuk.." ucap Aura sembari mengeluarkan air yang ada didalam perutnya. Aura masih lemas, wajahnya pucat dan hampir membiru. Jika Dhika tidak segera memberikan nafas buatan, mungkin kini Aura telah tiada.
"Cepat bawa dia kekamarnya" ucap Billy panik. Dhika langsung menggendong Aura ala bridal style lagi menuju kamarnya.
"Kenapa kamu bisa seceroboh itu hah?!" bentak Billy ke pelayan itu.
"Maaf pak, saya tidak sengaja" ucap pelayan itu.
"Saya nggak mau tau, kalau ada apa apa dengan keponakan saya, kamu akan saya pecat!" ancam Billy kepada pelayan itu.