
Episode sebelumnya
"Kalo kek gini, berarti gua mesti ngerubah jam kerja gua, cuma satu minggu aja, sekarang hari Selasa, gua bakal minta cuti di hari Sabtu. Dan di hari Sabtu ini, semua tugas administrasi harus udah selesai, biar gua terbebas dari si mahluk sialan itu" ucap Aura dengan dirinya sendiri.
...****************...
POV ANDHIKA
Andhika pulang ke rumahnya. Dia memikirkan bagaimana caranya agar Aura bisa resign dari minimarket milik ayahnya. Dirumah mewah nan besar itu ditinggali 2 pembantu (Bi Iyem dan Bi Painem), 1 tukang kebun (Pak Peno), dan 2 satpam yang berjaga didepan gerbang, lebih tepatnya, di pos mereka, kedua satpam itu adalah (Pak Hari dan Bagus)
"Gimana caranya ngebuat tuh cewe keluar dari minimarket gua? Gedeg bet gua liat mukanya" gumam Dhika yang tengah berbaring di ranjangnya.
Tak lama kemudian, Bi Iyem mengetuk pintu kamar Dhika untuk memberitahu bahwa Dhika sedang di cari ayahnya.
"Permisi den Dhika, bapak manggil aden" ucap Bi Iyem dari balik pintu kamar.
"Iya bi, makasih" ucap Dhika menjawab.
Bi Iyem pun kembali ke dapur untuk meneruskan tugas memasaknya.
Dhika pun menghampiri Papanya yang sudah berada di ruang tamu. Terlihat Papanya sedang berbincang dengan rekan kerjanya. Mereka berdua tampak serius membicarakan suatu hal yang sepertinya penting. Tak mau merusak suasana kedua bapak-bapak itu, Dhika hendak kembali saja ke kamarnya. Namun..
"Nah itu anaknya, Dhika sini" ucap Papa.
"Kenapa Pa?" tanya Dhika heran.
"Sini duduk dulu, Papa mau ngenalin kamu ke temen Papa" ucap Papa.
Dhika pun menurut, dia duduk di samping Papanya.
"APA?! PERJODOHAN?!" Dhika terkaget mendengar pernyataan dari Papanya.
"Apaan sih Pa?! ini tuh udah 2022 bukan zamannya Siti Nur Bayan lagi, masa Papa asal ngejodohin aku sih Pa!" ucap Dhika.
"Ini demi keberlangsungan hidup kita Dhika, tolong dong kamu ngertiin posisi kita dulu" ucap Papanya merayu.
"Keberlangsungan hidup apa Pa?! yang ada itu demi perusahaan kita kan?! toh perusahaan Papa nggak cuma satu, kenapa sampe ngorbanin anak sendiri buat dijodohin?! pokoknya Dhika nggak mau!" ucap Dhika sembari meninggalkan keduanya.
"Dhika! Dhika!" panggil Papa.
"Sudahlah bung Azka, kalau dia memang tidak mau ya sudah, tidak apa apa" ucap Pak Billy memahami kondisi Dhika.
"Nanti coba saya tanyakan lagi ke anaknya bung, dan maafkan sikap dia juga bung, karena sudah tidak sopan ke bung Billy" ucap Papa yang meminta maaf.
"Gak papa bung. Ya sudah, kalau begitu, saya pamit dulu, masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan" ucap Pak Billy mengakhiri percakapan.
Azkandar pun mengantarkan Billy keluar dari rumahnya.
"Saya pulang dulu bung, permisi" ucap Billy sembari melajukan mobilnya.
...****************...
Billy pergi ke tempat kerja Aura untuk bertemu dengannya. Mereka berdua telah bertemu dan tau kebenarannya satu Minggu yang lalu. Aura hanya tau bahwa Billy adalah om nya. Tetapi tidak tau kalau ternyata dia adalah salah satu pengusaha besar di kota tersebut dan merupakan teman dari ayah Dhika.
Billi menelepon Aura bahwa hendak bertemu dengannya di cafe seberang jalan dari minimarket tempat kerjanya. Aura menyetujui untuk bertemu dengan Billy, dan memintanya menunggu 10 menit di cafe tersebut.
10 menit berlalu, keduanya telah berada di cafe tersebut.