UNWANTED MARRIAGE

UNWANTED MARRIAGE
21. Rencana Billy dan Azkandar



Episode sebelumnya


Satu minggu kemudian.


...****************...


Disebuah restoran yang tak jauh dari kantor Azka. Keduanya sengaja bertemu untuk mencari cara lain agar Aura dan Dhika bisa menikah. Mungkin dengan pertemuan sebagai bentuk pengenalan?


"Bung, bagaimana kalau kita pertemukan dulu keduanya? Tapi bertemunya di Bali saja. Jadi kita ada alasan untuk mengajaknya liburan" ucap Billy memberi ide.


"Boleh juga idemu, kira-kira kapan waktu yang cocok?" tanya Azka.


"Bagaimana kalau kamis sampai sabtu? Minggu ini" ucap Billy menyarankan.


"Jangan kamis, aku ada rapat dengan klien. Bagaimana kalau jumat sampai minggu saja?" ucap Azka bernegosiasi.


"Apa tidak capek jika minggu baru pulang? Senin mereka berdua harus bekerja lagi, kasian kalau kecapekan" ucap Billy.


"Kalau begitu, bagaimana jika minggu depan, kita ke Bali selama hampir satu minggu, itu waktu yang cukup lama bukan? Nanti keduanya kita beri izin untuk tidak bekerja selama satu minggu dulu" ucap Azka.


"Oh iya, apakah minimarket di jalan xx itu milikmu?" tanya Billy.


"Ya, kenapa?" tanya Azka.


"Keponakanku bekerja disana, beri dia izin cuti satu minggu untuk masa pengenalannya dengan Dhika, dengan begitu, dia tidak akan khawatir dengan pekerjaannya" ucap Billy.


"Baiklah, berarti kau setuju akan ke Bali minggu depan? kita berangkat dihari yang sama atau berbeda?" tanya Azka.


"Berbeda, kau berangkatlah lebih dulu, aku akan berangkat di hari berikutnya. Minggu kau berangkat, senin aku menyusul" ucap Billy.


"Oh iya, aku ada apartemen di sana, kita akan menginap disana saja. Alamatnya akan aku kirim" ucap Billy.


"Baiklah" ucap Azka mengakhiri percakapan.


Keduanya menikmati makan siangnya. Menyantap hidangan restoran itu dengan tenang dan diiringi live music yang menyajikan lagu-lagu Tempoe Doeloe sampai lagu hits sekarang.


...****************...


"Hari-hari penuh lelah, aku hanya bisa berusaha, berusaha untuk kerja, mendapat gaji untuk berfoya-foya" gumam Aura bersenandung asal sembari menyusun barang-barang di rak minimarket tersebut.


"Goblok lo" ucap Dhika yang tiba-tiba muncul disamping Aura.


"Ajg! anak setan lo ye!" ucap Aura mengumpat karena kaget.


"Lagian lo nyanyi kagak bener, dapat gaji buat foya-foya. Gimana bisa nabung kalo gaya hidup lo elit keuangan lo sulit gitu" ucap Dhika ketus sembari membantu Aura.


"Lagian lo ngapain kesini ege!? nyusahin orang aja lo!" ucap Aura.


"Ya terserah gua kek, ini juga minimarket bokap gua, dan gua CEO disini, mau apa lo?! mau gua pecat sekarang hah?!" ucap Dhika mengancam.


Aura terkaget, sontak membulatkan matanya.


"Gila lo! gua susah-susah nyari kerja, terus dengan gampangnya lo mau pecat gua? enak banget idup lo" ucap Aura.


"Lo itu cuma bawahan gua! ga usah belagu. Gua berhak atas lo, gua bisa kapanpun pecat lo, dan lo ga bisa nolak keputusan gua" ucap Dhika dengan sombongnya.


"Dan satu lagi, lo ga ada sopan-sopan nya ya sama atasan? Lo mau gua aduin ke bokap gua biar dia sendiri yang mecat lo hah?" ucap Dhika.


"Oke fine. Maafkan hamba baginda, hamba mengaku salah telah bersikap lancang kepada baginda" ucap Aura sembari membungkuk layaknya seorang dayang istana. Dhika terkekeh melihat kelakuan wanita didepannya itu. Tetapi dia juga harus bersikap cool didepan wanita menyebalkan itu.


"Karena kau telah bersikap lancang, kau harus mendapat hukuman" ucap Dhika.


"Lo mau gua pecat?" tanya Dhika dengan enteng.


"Bodo' amat!" ucap Aura meninggalkan Dhika.


"Heh! Gua belom selesai ngomong! dasar cewek gila!" ucap Dhika kesal. Tak lama ia mendapat pesan singkat dari papanya.


"Apa perlu saya tarik dia ke hadapan anda pak?" tanya seorang pekerja lainnya.


"Tidak usah, saya mau langsung ke perusahaan papa dulu. Ada yang lebih penting dari pada pekerja paruh waktu itu" ucap Dhika lalu pergi meninggalkan minimarket tersebut.


"Dasar cewek gila!" gumam Dhika sembari masuk ke mobilnya.


Dhika melajukan mobilnya menuju ke perusahaan papa nya. Dia dapat pesan bahwa papa nya akan membicarakan hal penting dan Dhika diminta segera ke perusahaannya.


Sesampainya di sana. Dhika segera menuju ruang kerja papanya. Dhika masuk ke ruang kerja tersebut dan melihat papanya sedang kebingungan.


"Pa, Dhika udah dateng" ucap Dhika.


"Duduk sini" ucap papa.


"Papa kenapa? kok kayaknya lagi pusing banget?" tanya Dhika mengkhawatirkan papanya.


"Minggu ini, papa ada perjalanan bisnis ke Bali. Papa harus membawa pewaris perusahaan papa. Yaitu kamu. Anak satu-satunya yang papa miliki" ucap papa.


"Terus apa yang bikin papa pusing?" tanya Dhika mulai terpancing.


"Papa takut, kamu tidak mau ikut. Sedangkan pertemuan ini mewajibkan harus membawa ahli waris dari perusahaan masing-masing" ucap Papa.


"Kalau itu demi perusahaan kita, Dhika mau ikut pa" ucap Dhika.


"Tapi, apa kamu mau disana bersama papa selama satu minggu?" tanya papa.


"Terus selama ini, Dhika hidup dari umur sepuluh tahun sama papa, papa anggap apa pa?" tanya Dhika.


"Siapa tau kamu menolak, karena perjalanan bisnis kali ini akan cukup lama" ucap papa.


"Gak papa pa, Dhika mau kok, ini juga bentuk profesionalitas Dhika selaku calon penerus perusahaan papa" ucap Dhika.


"Ya sudah, kosongkan jadwal mu mulai minggu sampai sabtu depan" ucap papa.


"Baik pa" ucap Dhika.


Disisi lain, Billy mengatakan bahwa akan mengajak Aura berlibur ke Bali. Guna merefresh kan otak Aura, dan mengenal lebih dekat Aura, keponakan yang telah lama tidak ia temui.


"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku om?" tanya Aura.


"Kamu sudah mendapatkan cuti satu minggu, suratnya akan kamu terima besok" ucap Billy. Aura mengangguk dan menyetujui


Keesokan harinya, Aura mendapat surat izin cuti dari bos besar, yaitu Azkandar Pratama. Disana tertulis, Aura diizinkan untuk cuti dari hari senin sampai sabtu. Dan senin diharapkan bisa kembali bekerja seperti biasa.


...****************...


Hari itu telah tiba, Aura telah siap dengan perlengkapannya. Aura menuju airport bersama Om Billy. Mereka akan melakukan trip ke Bali untuk holiday.


Singkatnya, Aura dan Billy telah sampai di airport Bali. Keduanya segera menuju apartemen Billy. Billy sengaja memberi kamar Aura dan Dhika bersebelahan. Dengan begitu, keduanya akan sering bertemu. Dan harapan kedua bapak-bapak itu bisa terwujud.


Awalnya, Aura tidak menyadari niat om nya itu. Yang ia tau, dia akan berlibur di Bali hampir satu minggu. Itu cukup untuknya untuk beristirahat sejenak. Kebetulan apartemen itu tak jauh dari Pantai Kuta, jadi memudahkan Aura jika ingin menikmati senja di pantai tersebut.


Hari pertama di Bali.