UNWANTED MARRIAGE

UNWANTED MARRIAGE
29. Konflik



Episode sebelumnya


"Baiklah, segera pesan vila nya. Kalian akan disana selama 1 Minggu, dan berikan oleh-oleh cucu untuk papah" ucap Azka sembari tersenyum.


...****************...


Dhika segera memesan villa yang ada di Jogja untuk mereka honeymoon. Pikiran Dhika bukan mengarah ke honeymoon, tetapi lebih ingin menyiksa Aura. Karena, dengan dia berada di villa itu, dia bebas memperlakukan Aura seenaknya sendiri.


Dhika pun memberikan smirk saat menatap Aura. Dan Aura merasa tak nyaman dengan tatapan itu. Seolah-olah, tatapan itu mengisyaratkan bahwa dia akan mendapat sesuatu yang tak terduga dan sangat menyedihkan.


"Sayang, kamu cepat packing barang kita ya, aku akan menyiapkan mobilnya" ucap Dhika dengan senyuman yang menakutkan bagi Aura.


"B-baik" ucap Aura singkat.


Aura segera masuk ke kamarnya.


"Gila tuh cowok, arghhh apa setelah ini, gua bener-bener jadi-" gumam Aura.


"Enggak-enggak gua ga mau, gua ga siappp lagian pernikahan ini cuma karena kepentingan masing-masing kan? bukan karena cinta!" ucap Aura kesal.


"Ishhh lagian papa ngapain minta cucu segala sih anjirrr aelahh" ucap Aura kesal.


Tok tok tok


"Non, ada yang perlu Bi Iyem bantu?" tanya Bi Iyem. Aura pun membukakan pintu.


"Kebetulan banget ada Bi Iyem. Bi tolong packing in barang-barang Dhika ya, aku mau nyiapin barang-barang ku dulu soalnya" ucap Aura.


"Oh iya non, akan saya siapkan" ucap Bi Iyem. Bi Iyem pun segera ke kamar Dhika untuk menyiapkan barang-barang Dhika. Dan Aura kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan baju.


"Gustiii semoga dengan kepergian gua honeymoon sama si bos mesum itu, gua bisa pulang dengan selamat huhuhu" ucap Aura.


"Gua masih belum mau mati gustiii" ucap Aura merengek pada Tuhannya.


"Tatapan bos mesum itu seolah-olah mau ngebvnuh gua anjirrr semoga gua pulang dari sana masih bernyawa" ucap Aura. Tak terasa dia sudah selesai mem-packing semua keperluannya. Dia membawa satu koper besar untuk pakaiannya dan satu tas ransel untuk keperluannya.


Aura turun dari lantai dua menuju pintu bersama Bi Iyem yang membawa 1 koper milik Dhika. Disana, papa masih setia menunggu anak dan menantunya untuk pergi honeymoon.


"Sudah selesai?" tanya papa.


"Sudah pah" ucap Aura dan tersenyum kecut.


Tak lama, mobil Pajero berwarna silver telah berada di depan Aura dan Azkandar. Siapa lagi kalau bukan Dhika. Karena ini acara mereka berdua, Dhika lebih memilih membawa mobil sendiri dari pada meminta supir untuk mengantar mereka.


Mereka pun melakukan perjalanannya ke salah satu vila di Jogja.


"Sekarang, tinggal kita berdua. Itu artinya, lo harus nurut semua perintah gua" ucap Dhika dengan tetap fokus dengan kemudinya.


"Lo jangan macem-macem! gua bakal ngeberontak kalo lo ngapa-ngapain gua!" ucap Aura.


Dhika memacu mobilnya lebih cepat. Aura merasa sedikit takut karena cara mengemudi Dhika yang ugal-ugalan.


"Pelan anjir! lo mau ngajak mat* hah?!" ucap Aura panik dan memegang pegangan yang ada di sisi kiri atasnya.


"Ya kan gua mat*nya ga sendiri, ada lo juga kan?" ucap Dhika dengan entengnya.


"Kalo mau mat* jangan ajak-ajak anjir!" ucap Aura.


"Lo kan istri gua, bebas dong kalo mau ajak lo mat* bareng" ucap Dhika.


"Berhenti gak?!" ucap Aura. Dhika mengacuhkan.


"Dhika berhenti!" ucap Aura. Lagi-lagi Dhika tidak menggubris dan semakin memacu mobilnya.


"ANDHIKA PUTRA PRATAMA!!!" bentak Aura.


CITTTT...


"Aww... ****!!! lo mau ngebunuh gua hah?!" ucap Aura.


"Turun" ucap Dhika singkat.


"Hah?" ucap Aura heran.


"GUA BILANG TURUN!" bentak Dhika.


Aura tersentak kaget. Matanya berkaca-kaca. Baru kali ini dia dibentak oleh Dhika. Walaupun dia sering diperlakukan kurang baik oleh Dhika, tetapi Dhika tidak pernah main tangan, dan yah, ini kali pertama Aura melihat Dhika sangat marah. Aura menurut. Dia turun dari mobil, matanya yang berkaca-kaca kian lama kian membendung, dan tak terasa, air mata mengalir di pipi Aura.


Mobil silver itu langsung berlalu dengan cepat meninggalkan Aura sendiri di tepi jalan.


Gua ga nyangka, lo bakal nurunin gua di tepi jalan kek gini. Bathin Aura.


"Se benci-bencinya gua sama lo, gua ga ada pikiran buat bertindak sejauh ini" ucap Aura sesenggukan.


Disisi lain, Dhika yang tengah kalut memacu mobilnya dengan cepat. Setelah ia rasa sudah jauh dari posisi Aura, dia menepikan mobilnya.


"AGHHH S*AL!! GEDEG BET GUA SAMA TUH CEWEK!!!" ucap Dhika kesal sembari mengacak-acak rambutnya.


"Kalo bukan karena permintaan papa, gua males banget sama tuh cewek. Cerewet banget jadi orang!" ucap Dhika kesal.


Entah apa yang dipikirkan oleh Dhika, dia memutar balik mobilnya. Dia kembali ke tempat ia menurunkan Aura. Dengan wajah yang penuh kesal dan amarah, ia kembali mencarinya. Dan berharap Aura masih ditempat yang sama. Sesampainya disana.


"Cepet masuk!" perintah Dhika.


"Ngapai lo balik lagi hah?!" tanya Aura.


"CEPET!" perintah Dhika.


"Ga mau!" ucap Aura.


Tanpa basa-basi, Dhika keluar dari mobilnya. Dia menarik paksa Aura untuk kembali masuk ke dalam mobil. Kali ini, Dhika lebih kasar lagi kepada Aura. Bahkan Aura sampai meringis kesakitan karena lengannya ditarik dan didorong paksa oleh Dhika.


"Lepasin gua ajg!" ucap Aura kasar.


"Lepasin Dhika, sakit tau!" ucap Aura. Dhika memasukkan Aura ke dalam mobil dengan kasar.


"Aww... sakit Dhika!" ucap Aura.


Dhika segera masuk ke mobilnya. Mengunci mobilnya dari dalam agar Aura tidak keluar lagi.


"Lo maunya apa sih?! hah?!" tanya Aura marah.


Dhika tanpa berbicara sedikitpun, langsung berada di hadapan Aura yang tengah terduduk. Dhika mengunci tubuh Aura berada diantara tangan dan tubuh Dhika.


Aura terkejut dengan tindakan Dhika, dia diam seribu bahasa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Gua mau tubuh lo" ucap Dhika dengan suara seraknya. Deg. Suhu tubuh Aura meningkat drastis.


"Gua bakal nge unboxing lo ketika udah sampai di vila nanti" ucapnya.


"Dan lo bakal gua bikin kewalahan dengan kemampuan gua" ucap Dhika sembari menarik dagu Aura mendekat.


"Dan lo bakal terkejut dengan apa yang bakal lo dapat ketika kita udah sampai di vila nanti" ucap Dhika dengan memberikan smirk nya.


Dhika mengambil sabuk pengaman di belakang Aura. Aura memejamkan mata karena ia mengira Dhika akan menciumnya. Dhika tersenyum miring karena melihat Aura yang menutup matanya.


"Diam dan menurutlah" ucap Dhika.


"O-okey" ucap Aura gagap.


Dhika dan Aura kembali melanjutkan perjalanannya menuju vila. Tak terasa keduanya telah sampai di vila tersebut, dan checkin.