TRUE LOVE [TAMAT]

TRUE LOVE [TAMAT]
Chapter 7



(。;_;。)


"Tania, sini sarapan bareng kita," ucap Reza--papa baru Tania.


Tania tersenyum kikuk. Dia mendapat tatapan tajam dari mamanya, tatapan tersebut mengisyaratkan untuk Tania segera pergi dari situ.


"Terimakasih, Pak. Saya tadi sudah sarapan bareng sama ibu di dapur," jawab Tania takut-takut kena makian mamanya.


"Lain kali kalau makan bareng kita aja disini, anggap saja kita keluarga," ujar Reza lalu mendapat tatapan protes dari Zara dan Citra.


"Tidak usah, Pak. Saya lebih nyaman makan di dapur bersama dengan ibu,"


"Yasudah kalau itu mau kamu,"jawab Reza kemudian melanjutkan sarapannya.


Citra membanting sendoknya di piring kemudian menyusul Tania ke dapur. Saat tiba di dapur, secara tiba-tiba dia menarik rambut Tania hingga menyebabkan beberapa helai rambut Tania rontok. Tania mengaduh, namun tidak dipedulikan oleh mamanya.


"Kamu disini bukan siapa-siapa, kamu harus sadar posisi kamu. Saya peringati kepada kamu, JANGAN CARI MUKA DI HADAPAN SUAMI SAYA!! NGERTI KAMU!!" ucap Citra lalu kembali menarik rambut Tania.


Tania mengangguk patuh. Kepalanya terasa perih. Pagi ini kepalanya sedikit pusing karena semalam dirinya tidak bisa tidur, bukan karena kamar yang dia tempati, namun karena banyak pikiran yang mengganjal di hatinya.


(。;_;。)


Saat Tania sedang memakai sepatu di teras, dengan sengaja Zara menendang salah satu sepatunya. "Sepatu butut kayak gitu aja masih dipakai, cihh dasar anak pembantu!!"ucap Zara sambil menatap Tania jijik.


Tania hanya diam tidak menyahut, percuma jika ia meladeni Zara hanya membuang waktunya percuma.


"Gue kasih tahu sama lo, gue dipindahin papa gue di sekolah lo, jadi gue mau kalau di sekolah lo harus melayani gue!"


Cobaan apa lagi ini? Zara akan satu sekolah dengannya dan Tania harus melayaninya? Gila.


(。;_;。)


Suasa kelas yang riuh dan meja kursi yang berantakan sudah menjadi hal wajar yang Tania lihat setiap memasuki kelas. Terlihat bangku di sampingnya masih kosong, berarti Gamma belum berangkat.


Tania duduk lalu menenggelamkan kepala di lipatan tangannya. Rasanya hari ini ia sangat malas untuk melakukan segala aktivitas. Raganya disekolah namun pikirannya entah berkelana kemana. Itulah definisi yang tepat untuk dirinya saat ini.


Bel masuk telah berbunyi lima menit yang lalu, lagu Indonesia Raya sudah dikumandangkan, namun cowok yang biasa menduduki bangku di sampingnya masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Tania sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada cowok itu hingga terlambat masuk kelas atau bahkan mungkin tidak masuk kelas.


Sampai tiba di jam istirahat pertama Gamma masih belum menampakkan dirinya. Tania semakin penasaran dimana sebenarnya cowok itu?


Nasib sial menimpa Tania saat dirinya sedang membeli minum di kantin. Saat dirinya sedang antri untuk membayar, tiba-tiba tubuhnya di dorong dari samping hingga pinggulnya menabrak ujung meja. Ngilu, itu yang dirasakan oleh Tania. Dia menengok ke kiri dan kanan untuk mencari tahu pelakunya, hingga pandangannya jatuh kepada Zara dan dua cewek yang Tania tidak ketahui namanya sedang tertawa mengejek dirinya.


Tania mengelus dadanya. "Sabar Tania, dia saudara tiri kamu," batinnya menenangkan diri.


Setelah membayar minumannya, Tania memutuskan untuk langsung kembali ke kelas. Saat sedang berjalan keluar kantin, kakinya tiba-tiba ditendang oleh seseorang hingga membuatnya sedikit oleng. Mungkin kalau keseimbangannya buruk, dia akan jatuh.


Suara sorakan pengunjung kantin membuat Tania merasa ia harus segera keluar dari kantin dan kembali ke kelas. Namun saat ia baru akan berlari meninggalkan kantin, tangannya di cekal oleh seorang cowok. Cowok itu kemudian berjongkok dan membantu melepas sepatu Tania.


"Gamma, kamu apa-apaan sih," ucap Tania risih dengan perlakuan cowok yang ia kira tidak berangkat sekolah tadi.


Kantin yang semula ramai karena sorakan meledek, kini kantin mendadak hening. Walaupun ada beberapa siswa yang berbisik sambil menatap ke arah Gamma dan Tania berada.


Setelah kedua sepatu Tania terlepas, Gamma segera memasangkan sandal jepit untuk melindungi kaki Tania sementara. Tania sedikit heran darimana Gamma menemukan sandal ini.


Zara menatap terkesima kepada Gamma. Dia merasa iri kepada Tania karena mendapat perlakuan manis dari seorang cowok tampan yang juga terlihat kaya raya. Zara bersumpah akan menjauhkan Tania dari Gamma dengan cara apapun, asalkan dia bisa mendapatkan Gamma.


(。;_;。)


Setelah adegan di kantin tadi, Gamma mengajak Tania untuk pergi ke rooftop sekolah. Terlihat di ujung rooftop ada sebuah sofa panjang yang terlihat usang. Gamma menarik tangan Tania untuk duduk di sofa tersebut.


"Sorry gue tadi telat buat bantuin Lo," ucap Gamma dengan pandangan lurus ke atas menatap langit.


Tania menengok sekilas ke arah Gamma. "Katanya kalau maaf nunggu besok kalau lebaran," jawab Tania mengulang kalimat yang sering dikatakan Gamma.


Gamma gemas dengan Tania lalu mengacak rambut Tania hingga sedikit berantakan. "Lo tadi diapain aja sama cewek itu?"


Tania pura-pura mengingat apa saja yang dilakukan Zara tadi kepadanya. "Cuma itu," jawabnya singkat.


"Bohong, gue yakin pasti enggak cuma itu," ucap Gamma penuh selidik.


Tania merasa dirinya sulit menyembunyikan sesuatu dari cowok yang sedang duduk disampingnya ini.


"Kenapa kamu kepo? Udahlah lupain yang tadi, lagian aku juga baik-baik aja kok."


Gamma menghadapkan mukanya ke arah Tania. Matanya menatap pupil mata Tania dalam. "Gue tahu kalau lo lagi enggak baik-baik aja. Tolong mulai dari sekarang ijinkan gue buat lindungin lo, ceritain semua yang menjadi beban hidup lo ke gue. Gue bakal berusaha untuk selalu ada buat lo. Bahu gue siap untuk menjadi sandaran saat lo rapuh, tangan gue juga siap untuk menghapus setiap bulir airmata lo, dan yang terakhir gue siap buat mempertaruhkan nyawa gue untuk melindungi lo. Jadi, gue mohon sama lo jangan berpura-pura menjadi kuat kalau aslinya lo rapuh,"ucap Gamma serius kepada Tania.


Tania mendengar semua ucapan Gamma dan ia merasa terharu. Untuk pertama kalinya ada orang yang bilang siap mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Tania hanya terdiam, dia tak tahu harus berkata apa kepada Gamma. Kemudian Tania menundukkan kepalanya.


Gamma menyentuh dagu Tania, kemudian mengangkat dagu cewek itu. "Angkat kepala kamu princess, jangan biarkan mahkota di kepalamu jatuh."


Tania merasa pasokan udara di sekitarnya menipis dan ada jutaan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Rona merah yang muncul di pipinya tak sanggup untuk ia sembunyikan.


Gamma terkekeh geli melihat pipi Tania memerah. "Baper ya?"tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya.


Tania melakukan aksi protes dengan memukul pelan bahu Gamma.


"Tan, gue mau ngomong serius sama lo," ucap Gamma mengubah ekspresi yang semula jail berubah menjadi lebih serius.


(。;_;。)