![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
Tania sedang duduk di ruang tamu rumah Gamma. Dia menunggu kedatangan Risa yang katanya sedang belanja di supermarket. Tania duduk dengan menyilangkan kedua kakinya sedangkan Gamma berada di sampingnya sambil kedua kakinya diangkat ke atas meja.
Tania merasa Gamma lebih banyak diam saat ini. Biasanya jika Gamma bertemu dengannya dia akan heboh dan banyak mengeluarkan kata-kata manis.
"Gam, kamu tumben kok diem?" tanya Tania tidak dihiraukan Gamma.
Merasa tidak dihiraukan oleh cowok disebelahnya, Tania kemudian menusuk-nusukan jari telunjuknya ke lengan Gamma.
Gamma menoleh ke arah Tania. "Kenapa, hmm?"
Tania tersenyum, lalu menggeleng. "Kamu ngelamunin apa sih?"
"Aku enggak ngelamun kok."
"Enggak ngelamun tapi dipanggilin enggak nyaut."
Gamma baru akan menjawab Tania, namun suara Risa lebih dulu terdengar memekik telinga.
"Assalamu'alaikum, I'm back guys!!"
"Wa'alaikumussalam," jawab Gamma dan Tania bersamaan.
Gamma dan Tania menengok ke arah sumber suara. Terlihat di depan pintu Risa sedang kesusahan memasukkan barang bawaannya. Gamma dan Tania reflek berdiri dan berjalan menghampiri Risa untuk membantu perempuan yang umurnya hampir menginjak setengah abad itu.
"Tan, kok bawa belanjaannya sendiri? Pak Tomo kemana?" tanya Gamma sambil menenteng beberapa barang belanjaan Risa.
"Pak Tomo lagi pergi jemput papa kamu," jawab Risa.
Mereka menaruh semua barang belanjaan itu ke dapur. Kemudian asisten rumah tangga di rumah Gamma menata semuanya.
"Oiya Tante, ini Tania. Pacarnya Gamma," ucap Gamma memperkenalkan Tania kepada Risa.
Tania tersenyum malu-malu, lalu menjabat tangan Risa.
"Oh ini Tania, cantik sekali kamu. Saya Risa, mama tiri Gamma."
Tania mengangguk lalu tersenyum ramah. "Salam kenal, Tante," ucapnya sopan.
Risa membelai rambut Tania. "Panggil mama aja, jangan ngikutin Gamma," tegur Risa dan diangguki Tania.
Gamma menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tan, Gavin kapan pulang?"
"Nanti," jawab Risa singkat.
Gamma membelakkan matanya. "Nanti?" ucapnya membeo.
Risa mengangguk. "Mending sekarang kamu duduk diem sambil nonton TV. Mama mau ajak Tania buat bikin kue."
"Tan, Gamma ngajak pacar Gamma kesini bukan untuk dijadikan tukang masak. Gamma mau nonton bareng Tania aja," protes Gamma sambil mencebikkan bibirnya kesal.
"Siapa yang bilang suruh jadi tukang masak. Mama bilangnya cuma ngajak Tania bikin kue. Tania mau kan bikin kue sama Mama?" ucap Risa lalu meminta persetujuan dari Tania.
Tania memperhatikan muka Gamma yang terlihat sangat kesal. Lalu kembali menatap Risa.
"Mau, kebetulan Tania juga sering bikin kue kok, Ma."
"Tuh lihat, Tania aja mau. Udah deh jangan manyun gitu mulutnya, jadi kayak pantat ayam," cibir Risa dan membuat muka Gamma terlihat makin kesal.
"Sayang, aku ganteng gini masa dikatain kayak pantat ayam," adu Gamma dan dibalas kekehan oleh Tania.
"Kenyataannya gitu, mulut kamu kalau manyun emang bentukannya kayak pantat ayam."
Risa menyemburkan tawanya. Ia tak kuasa melihat ekspresi Gamma yang semakin menggelikan.
"Pacar kamu aja juga bilang gitu, Gam," ucap Risa meledek anak tirinya tersebut.
Gamma menghembuskan nafasnya pasrah. "Dah lah, terserah," ucapnya lalu berjalan meninggalkan Risa dan Tania.
Gamma saat ini sedang dalam mode ngambek. Bisa-bisa nya Tania menyetujui ucapan Risa yang mengatakan bentuk mulutnya seperti pantat ayam. Gamma membayangkan dan itu sangat menjijikkan.
"Kamu udah lama pacaran sama Gamma?" tanya Risa yang sedang menyiapkan semua bahan untuk membuat kue.
"Belum, Tante. Baru juga beberapa bulan."
"Panggil saya Mama, Tania," ucap Risa kembali mengingatkan Tania.
"Gamma gimana orangnya? Dia itu kelihatan sayang banget lhoh sama kamu. Bahkan kata suami saya, Gamma rela untuk selalu melindungi kamu."
Tania tersipu. "Gamma itu orangnya baik banget, Tan. Padahal pertama kali Tania ketemu sama Gamma, Tania kira dia itu cowok yang cuek. Ternyata Tania salah."
Risa tersenyum. "Dia emang gitu kok anaknya. Pertama kali ketemu sama saya juga gitu, tapi kelamaan keluar juga sifat asli dia. Pemaksa, moody, dan dia sangat peduli dengan siapapun."
Percakapan itu terus berlanjut sambil keduanya membuat kue. Mereka membuat kue brownies karamel.
Tania merasa Risa adalah wanita yang sangat ramah,padahal dari keluarga yang berada. Tania juga merasa Risa cukup cerewet, padahal mereka baru pertama kali ketemu.
Tania mendengar semua cerita Risa tentang keharmonisan keluarga Gamma. Sungguh Tania sangat iri dengan Gamma. Ia ingin bisa merasakan ada di posisi lelaki itu.
Tania membayangkan jika ia memiliki mama yang sangat peduli dengannya dan papa yang selalu siap melindunginya. Namun Tania menyadari jika itu adalah harapan semata. Mama nya sudah jelas sangat tidak suka padanya, sedangkan papa nya entahlah dimana posisinya sekarang berada.
Cairan bening menetes dari pelupuk mata Tania dan mengenai pipi gadis itu. Risa tidak sengaja melihat air mata itu menetes. Risa kemudian berjalan menghampiri Tania lalu memeluk gadis itu.
"Kamu kenapa sayang, hmm?"
Tania menggeleng. "Tania enggak kenapa-kenapa kok. Cuma baper aja dengar cerita yang diceritain sama tan.. eh mama tadi."
Risa yakin jika itu bukan jawaban aslinya. Gadis ini pasti berbohong, terlihat jelas dari mata gadis itu menyimpan banyak kesedihan yang berhubungan dengan keluargnya.
"Kalau kamu mau cerita, Mama siap dengerin. Mama tahu kalau itu bukan jawaban aslinya."
Tania tergelak. Apa sangat kelihatan raut kesedihan di wajahnya. Atau Risa memang pandai membaca raut muka seseorang.
"Pasti Gamma senang deh punya keluarga yang sangat harmonis, apalagi punya mama yang baik banget sama dia."
Ucapan Tania seakan menyiratkan alasan dibalik kesedihan gadis itu.
"Keluarga kamu juga pasti senang kok punya anak yang baik kayak kamu. Udah baik, cantik, pandai bikin kue lagi. Mama kamu pasti sering ngajarin kamu bikin kue di rumah."
Ucapan Risa membuat batin Tania meringis. Tania bisa membuat kue karena diajari oleh Bu Mina, dia belajar membuat kue demi untuk menarik perhatian mamanya. Namun, hal yang tidak ia harapkan selalu saja terjadi ketika ia menyerahkan kue buatannya kepada mamanya. Kue tersebut pasti akan langsung dimasukkan ke dalam sampah oleh mamanya.
Bayangan kejadian itu kembali melintas di otak Tania. Hal yang sangat menyesakkan adalah ketika perjuanganmu tidak pernah dihargai oleh orang yang kamu sayangi. Mungkin kalimat itulah yang patut menggambarkan perasaan Tania saat itu.
(。;_;。)
Suara dentingan oven dan diikuti suara pintu rumah terbuka membuat Tania, Gamma, dan Risa mengentikan sesi cerita mereka.
Saat pintu terbuka sempurna, masuklah dua laki-laki yang terlihat memiliki perbedaan usia yang sangat jauh. Mereka adalah Wahyu dan Gavin.
Gamma dan Tania berdiri lalu menghampiri ke arah mereka. Gavin yang sedang menyeret kopernya, reflek menyentak koper tersebut lalu berlari dan memeluk Gamma.
Pandangan Wahyu jatuh pada gadis cantik yang posisinya berada di belakang Gamma. Tania tersenyum kikuk karena merasa ditatap Wahyu. Bisa dikatan tatapan Wahyu cukup tajam, hal itu yang membuat ia sering menang mengambil keputusan saat sedang bersama kliennya.
"Oh ini pacar kamu?" tanya Wahyu lalu mengubah ekpresinya yang semula kaku menjadi lebih lembut.
Gamma mengangguk. "Iya."
"Saya Wahyu, papa nya Gamma,"
Tania mengangguk lalu menjabat tangan Wahyu. Polos dan sopan. Itulah dua kata yang ada di otak Wahyu untuk Tania.
"Beb, ini Gavin. Adik tiri aku, dia jomblo tapi fucekboi. Kamu enggak boleh deket-deket sama dia, takut kena toxic," ucap Gamma dan dibalas tatapan tidak terima oleh Gavin.
"Dan ini Tania Ayudia. Pacarnya Gamma. Calon ibu dari anak-anaknya Gamma kelak," Gamma memperkenalkan Tania kepada Wahyu dan Gavin.
Wahyu dan Gavin menoleh kekiri dan kanan seolah sedang mecari seseorang.
"Tuh, Tante Risa lagi di dapu," ucap Gamma seakan mengetahui Wahyu dan Gavin sedang mencari seseorang.
Tanpa banyak bicara, Gavin langsung berlari menuju dapur. "Mama, finally I'm back in Indonesia again."
Risa menjauh saat Gavin hendak memeluknya. Jangan peluk mama kalau kamu belum bersihin badan kamu. Ucapan Risa membuat Gavin mencebikkan bibirnya kesal.
(。;_;。)
Setelah selesai makan malam bersama dengan keluarga Gamma, Tania pamit hendak pulang. Awalnya ia tidak diijinkan pulang oleh Risa, namun Tania menolak halus ajakan Risa untuk menginap.
Tania saat ini sedang berada di dalam mobil Gamma, bersama dengan Gamma dan Gavin. Cowok itu memaksa Gamma untuk mengajaknya keluar rumah dengan dalih ingin menghirup udara malam di Indonesia.
Gamma merasa kesal dengan adik tirinya itu, pasalnya dia menganggu waktu berduaanya dengan Tania. Terlebih lagi alasan yang digunakan Gavin sangat tidak bermutu. Menghirup udara apaan, jendela saja tertutup semua.
"Nyuk, lo ngapain sih ikut segala. Lo udah mau masuk SMA masih aja sikapnya kayak bocah," ucap Gamma pada Gavin yang daritadi tidak pernah diam menanyakan hal yang tidak penting kepada Tania.
Gavin menoleh ke arah Gamma. "Kak, kenapa sih daritadi marah-marah mulu kayak anak perawan lagi PMS," jawab Gavin sewot.
Ingin rasanya Gamma menendang pantat adik tirinya itu supaya keluar dari mobil. Gamma muak ketika berbicara dengan Gavin. "Lo ganggu gue mau pacaran, Nyuk."
"Lo tau enggak sih, kata orang nih kalau cewek sama cowok berduaan pasti yang ketiganya setan. Lo mau diikutin sama setan?"
"Ya lo berarti setan dong, kan lo yang ketiga," ucap Gamma membuat Gavin terdiam.
Gavin mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya juga sih. Dihh bukan gitu konteksnya,"
"Terserah intinya lo itu SETAN!!" sela Gamma sambil menekankan kata setan.
Gavin tidak mau kalah dengan kakaknya. Cowok yang akan lulus dari sekolah menengah pertama itu menyusun kata-kata untuk balas dendam pada kakaknya. Cukup lama dia berfikir namun tidak ada satupun pencerahan yang muncul di otaknya.
Gavin tiba-tiba tersenyum puas. Dia kemuduan memanggil nama Tania.
"Kak Tania, aku mau tanya," ucap Gavin sambil sedikit mencondongkan badannya ke depan.
Tania sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. "Tanya apa?"
"Kak Gamma sama Gavin gantengan mana?"
Gamma melirik sinis adik tirinya itu. Kemudian tatapan beralih pada Tania seakan menunggu jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.
Tania tau maksud dari pertanyaan Gavin adalah untuk mengerjai Gamma.
"Ganteng Gavin," jawab Tania membuat Gavin tersenyum mengejek ke arah Gamma.
Gamma menatap Tania tidak terima. "Beb, kok kamu gitu?"
Tania tersenyum kepada Gamma."Emang gantengan Gavin kok. Dia juga lebib muda dari kamu."
Gamma menghentikan mobilnya mendadak. Reflek badan Gavin dan Tania sedikit terhuyung ke depan, untung saja mereka menggunakan safety belt.
"Kakak cari mati sih," ujar Gavin sambil menetralkan detak jantungnya.
Gamma tidak memperdulikan ucapan bocah 15 tahun itu.
"Beb, kamu kan pacar aku. Kamu jangan bilang cowok lain ganteng dong. Aku enggak suka, aku cemburu."
Tania membulatkan matanya. "Sama adik kamu sendiri aja cemburu?"
Gavin menatap adegan sepasang manusia didepannya dengan tatapan seolah ingin muntah. Lebih tepatnya mendengar ucapan Gamma, sungguh Gavin ingin mengatakan jika Gamma lah yang seperti bocah.
"Beb, dia gitu-gitu juga cowok. Wajarlah aku cemburu."
"Iya maaf. Gavin kamu enggak jadi ganteng ya, Kak Gamma yang ganteng," ucap Tania pada Gavin yang hanya diam menatap jalanan.
"Oke enggak apa-apa. Gavin tau kalau Kak Tania terpaksa bilang Kak Gamma ganteng."
Ucapan Gavin membuat Gamma mengeraskan rahangnya. Gamma kemudian melepas topi yang sedang ia pakai, lalu dilemparkannya topi itu hingga tepat mengenai jidat Gavin.
"Aduh monyet," latah Gavin membuat Gamma ingin sekali lagi melemparkan sesuatu pada bocah itu.
Tania mengelus tangan Gamma untuk meredakan emosi laki-laki itu. "Udah biarin, maklumin aja."
Jika bukan Tania yang berbicara mungkin Gamma akan tidak segan menjitak kepala adik tirinya itu.
"Beb, jangan sampai kita besok punya anak kayak Gavin," ucap Gamma disambut dengan jitakan di kepala belakangnya. Bukan Tania yang menjitaknya, namun Gavin.
(。;_;。)
Saat ini Tania sudah memasuki rumahnya. Keadaan rumah sangat gelap dan sepi. Tania baru ingin memencet saklar lampu, namun lebih dulu Citra muncul dan memencet saklar lampu tersebut.
"Dasar ******, habis jual diri kemana kamu jam segini baru pulang?" tanya Citra menatap Tania jijik.
"Bukan urusan, Mama," jawab Tania pelan lalu berlalu melewati Citra begitu saja.
Belum ada tiga langkah berjalan, rambut panjangnya yang digerai lebih dulu ditarik oleh Citra.
"Sudah berani kamu melawan saya? Bener kan kalau kamu memang anak tidak tau diri."
Tania menarik nafasnya untuk sedikit menenangkan diri dan menahan rasa perih di kulit kepalanya.
"Aku capek, Ma. Aku juga sadar aku emang anak yang enggak tau diri. Kalau Mama enggak mau aku mengganggu kehidupan Mama, biarkan aku sendiri,Ma. Kalau mama kayak gini malah buat aku terbebani untuk berhenti mengharapkan kasih sayang dari Mama," ucap Tania. Air matanya mengalir deras menatap Mamanya.
Citra menatap mata gadis yang notabennya adalah anak kandungnya itu. Terlihat gadis itu menyimpan banyak beban dan kesedihan yang mendalam di hatinya.
Citra melepas cekalan tangannya di rambut Tania. Ia mendadak terdiam.
Tania yang merasakan cekalan dirambutnya terlepas pun lalu berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya.
"Kenapa gadis itu menangis?" satu pertanyaan yang timbul di otak Citra.
Citra menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Tania yang menangis dan terlihat sangat terluka tadi. Untuk yang pertama kalinya Citra menatap mata anak kandungnya itu.
"Kenapa aku seakan peduli dengan gadis itu. Cihhh amit-amit."
(。;_;。)