![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
Gamma kembali bertemu dengan cowok yang tempo hari ia datangi. Kali ini muka datar yang biasa Gamma pasang saat akan bertemu dengan cowok berubah. Muka Gamma terlihat lebih cerah,ada raut kebahagian yang memancar tersendiri.
"Gue ngeri lihat muka lo," lontar cowok itu.
Bukannya marah, Gamma hanya tersenyum samar.
"30 menit lagi semua akan terbongkar." Gamma menyeletuk sambil membuka bungkus permen di tangannya.
Cowok itu memandang Gamma sinis. "******. Udah tau 30 menit lagi, lo sekarang ngapain di sini?"
"Mau jemput lo. Kita lihat gimana dia dibawa sama polisi," jawab Gamma santai.
"Yaudah ayo."
(。;_;。)
Mobil Gamma berhenti di depan gerbang rumah Tania. Ia memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil polisi.
Gamma berdehem. "Turun lo!"
"Iya," timpal cowok itu kesal.
Kedua cowok itu berjalan menuju teras rumah Tania.
Gamma mengetuk pintu. Sesuai dugaannya, Tania lah yang membukakan pintu.
"Kamu ngapain balik ke sini? Ada yang ketinggalan?" tanya Tania. Ia belum menyadari jika Gamma datang tidak sendiri.
"Mau mastiin kamu baik-baik aja." Gamma mencubit pelan hidung mancung Tania.
"Cuih, alay!" cibir cowok di belakang Gamma.
"Jomblo diem!" tukas Gamma.
Tania terkejut melihat sosok cowok yang baru saja meledek Gamma.
"Gam, itu kakak kelas yang aku maksud waktu itu," cicit Tania.
"Iya, dia namanya Ando. Aku kan udah bilang sama kamu kalau aku udah tau semuanya."
"Enggak usah kepo cowok lo kenal gue darimana," sahut Ando. Cowok yang akhir-akhir ini selalu ditemui Gamma.
"Aku enggak kepo." Tania memandang Ando polos.
Obrolan mereka berhenti kala mendengar suara teriakan dari dalam rumah.
Tania panik. Sedangkan Gamma dan Ando tersenyum penuh arti.
Ketiga remaja itu berlari menuju halaman belakang rumah Tania.
"Bukan saya yang membunuh Reza," Citra berteriak penuh amarah.
Tania melihat hal itu hanya berani meremas jaket Gamma kuat.
Zara berjalan ke arah Citra. "Mama jahat!! Mama tega bunuh Papa!!" Zara memekik. Sesaat setelah itu badannya limbung ke tanah. Dia pingsan.
Gamma memberi kode kepada Ando untuk membawa Zara. Dengan sigap Ando mengangkat tubuh Zara dan berjalan menjauh.
"Sayang, kamu yang tenang." Gamma memeluk tubuh Tania dan mengelus kepala gadis itu.
"SAYA TIDAK BERSALAH!!" raung Citra.
Tania terisak melihat kondisi mamanya.
"Semua bukti sudah kami kumpulkan. Anda selalu melakukan tindak kekerasan pada anak kandung Anda yang bernama Tania. Anda telah memaksa saudara Reza untuk melakukan aksi korupsi pada perusahaan milik keluarga besar Aldebaran. Anda juga telah melakukan percobaan pembunuhan pada saudara Gamma. Dan yang paling fatal adalah Anda telah membunuh suami Anda sendiri," tegas salah satu polisi yang berada di sana.
"SEMUA ITU PALSU!! ITU HANYA FITNAH!! SAYA TIDAK SALAH!!" Citra kembali berteriak.
"Silahkan Anda jelaskan di kantor saja," tegas polisi itu.
Saat polisi hendak memborgol tangan Citra, tiba-tiba dia berontak. Polisi susah untuk mengimbangi tenaga Citra. Wanita itu sudah dikuasai oleh emosi.
Citra tidak menyia-nyiakan momen saat cekalan tangan kedua polisi itu mengendur. Dia menyentak kasar kedua tangan polisi itu. Citra berhasil kabur dari cekalan kedua polisi itu.
Adegan kejar-kejaran tak dapat dapat dihindari. Empat orang polisi mengejar Citra sambil menodongkan pistol.
Tania yang melihat hal itu sontak berlari lebih kencang mendekati mamanya. Gadis itu panik. Dia takut jika peluru yang ada dalam pistol itu sewaktu-waktu menyasar pada organ penting mamanya.
Tiba-tiba sebuah truk melaju dengan kecepatan kencang mengarah pada Citra. Tania semakin panik. Gadis itu berlari mendekati mamanya.
BRAK! DUAR!
Tubuh Tania tertabrak truk tersebut. Badannya terpelanting. Bersamaan dengan itu Gamma berteriak menyebut nama Tania.
"TANIA!!!!"
Citra yang melihat kejadian itu hanya mematung. Kakinya mendadak lemas melihat tubuh Tania tergeletak di aspal dengan bersimpah darah.
"Anakku," lirih Citra.
Gamma berlari mendekati tubuh Tania. Gadis itu tergeletak dengan badan yang bersimpah darah.
"Sayang, buka mata kamu!" desak Gamma sambil memangku kepala Tania.
"Mama," rintih Tania.
Gamma tidak bisa menahan air matanya kala melihat kondisi kekasihnya.
"Mama mana?" lirih Tania, lagi.
Citra mendekati tubuh anaknya. Kedua tangannya sudah berhasil diborgol oleh polisi.
"Mama di sini, Nak," sahut Citra dengan ragu menyebut kata Nak untuk Tania.
"Ma," Tania berusaha mengangkat tangannya.
Citra memandang ke empat polisi yang menjaganya. Seolah polisi mengetahui maksud Citra, keempat polisi itu mengangguk.
Citra berjongkok mendekati anaknya.
"Maafkan Mama, Tania. Maafkan Mama. Maaf kalau selama ini Mama enggak pernah menganggap kamu sebagai anak Mama. Maaf karena selama ini kamu selalu mendapat perlakuan kasar dari Mama," Citra terisak. "Maafkan Mama, Nak."
Tania tersenyum tipis mendengar panggilan dari mamanya.
Gadis itu kembali mengangkat tangannya. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia mengelus pipi mamanya. Pandangannya mulai samar.
"Ta.....niii...aa.. sayy..ang...samma.. Mama," ucap Tania tersengal-sengal.
Citra menangis sambil terus memandang tubuh Tania yang semakin melemas.
Pandangan mata Tania beralih pada Gamma. Gadis dengan tubuh bersimpah darah itu menggenggam tangan kekasihnya.
"Gammaa," ucapan Tania terjeda. "Mmaaaa..kaass..ssih..udddah sselallu jjjaga...in aakku." Nafas Tania kembali tersengal. Gadis itu tiba-tiba batuk dan memutahkan banyak darah.
Gamma tak mampu berkata-kata melihat tubuh gadis di pangkuannya itu. Ia memeluk tubuh Tania tanpa rasa jijik dengan darah yang ada di sekitarnya.
"Aku sayang kamu, aku sayang sama kamu, Tania," bisik Gamma rendah.
Gadis yang kondisinya semakin melemah itu kembali tersenyum.
"Tannniia...sssaay...yang ss...sshh..ssama kkalian ssemua."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, tubuh Tania tiba-tiba mengejang. Citra menangis histeris melihat kondisi putrinya.
Gamma tak kuasa melihat Tania yang terlihat sangat kesakitan. Dengan hati-hati ia menarik nafas panjang dan membantu Tania mengucapkan kalimat syahadat.
Tangan Gamma yang menggenggam tangan Tania bergetar. Tania menyelesaikan bacaan syahadatnya. Tangan yang tadi bertautan dengan tangan milik Gamma sekarang perlahan terurai. Tania telah menutup mata sepenuhnya.
Gamma meloloskan tangisnya. Begitu pula dengan Citra yang kembali histeris melihat tubuh putrinya sudah terbaring tidak bernyawa.
Hari ini, Tania Ayudia telah berpulang kepada Sang Pencipta.
Gadis itu berhasil mewujudkan mimpi terbesarnya, tepat sebelum ajal menjemputnya. Yaitu, mamanya telah menganggap dirinya sebagai anak.
(。;_;。)
RIP TANIA AYUDIA
S E L E S A I
Karya pertama aku yang berhasil aku tulis sampai ending.
Maaf kalau alur ceritanya masih berantakan.
AKU SAYANG SAMA KALIAN❤