![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
Bel sekolah telah berbunyi 5 menit yang lalu. Semua murid sudah keluar kelas, kecuali Tania dan Gamma.
Gamma tertidur lima belas menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Tania ingin membangunkannya tapi ia merasa tidak tega melihat wajah lelah Gamma. Namun jika dia tidak membangunkannya bagaimana Gamma nanti.
Setelah berfikir cukup lama dan menimbang keputusan akhirnya Tania memberanikan diri untuk membangunkan Gamma. Mulai dari memanggil manggil nama Gamma, kemudian menepuk pelan bahu Gamma, dan mengguncang tubuh Gamma sekuat tenaganya. Semua sia-sia, Gamma masih setia memejamkan matanya.
"Gamma, bangun dong," ucap Tania sambil menyipratkan air ke muka Gamma.
"Emmhh..." Bukannya bangun, Gamma justru membennahkan posisi kepalanya mencari posisi yang lebih nyaman.
"KEBAKARAN!!!!" Tania berteriak tepat di telinga kiri Gamma.
Ia sudah menyerah jika menggunakan cara yang normal untuk membangunkan cowok ini.
"AKH, MANAAA?" Gamma berteriak panik dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
"Enggak ada. Aku cuma bohong buat bangunin kamu," jawab Tania seadanya dengan ekspresi polos tanpa dosa.
"Bangke lo!"
"Hehe, yaudah aku mau pulang kalau kamu udah bangun,bye!!!" pamit Tania lalu pergi meninggalkan Gamma yang masih belum sepenuhnya sadar.
(。;_;。)
Ting,
Lonceng pintu sebuah kedai kopi berbunyi menandakan ada pengunjung yang masuk.
Kedai kopi yang ukurannya cukup luas dengan nuansa klasik membuat siapapun yang datang pasti akan merasa nyaman. Ditambah lagi pelayan-pelayan kedai yang sangat ramah dengan pengunjung.
Tania memesan cappuccino latte, kemudian ia memilih duduk di kursi yang ada di pojok kanan kedai yang dekat dengan jendela. Tempat itu adalah tempat favorit Tania.

Setelah Tania duduk, ia kemudian mengeluarkan tugas sekolah yang besok harus dikumpulkan. Ia mengerjakan tugas dengan tenang sambil sesekali menyesap cappuccino nya.
Suara kedai kopi yang sedikit riuh membuat konsentrasi Tania sedikit terganggu. Tidak terlalu memusingkan hal itu, ia kembali fokus kepada tugas sekolahnya. Ia harus menyelesaikan tugas sebelum jam enam sore.
(。;_;。)
Malam ini seperti biasanya Tania akan duduk di dekat jendela kamarnya sambil melihat halaman depan rumahnya guna menunggu kedatangan mamanya. Kebiasaan menunggu sang mama sudah Tania lakukan sejak ia duduk di bangku SMP.
Jam pulang mamanya tidak tentu. Paling sering mamanya akan pulang dini hari saat semua orang sedang pulas tertidur. Tak jarang juga mamanya akan pulang pagi saat Tania hendak berangkat sekolah.
"Tuhan, kapan mama peduli sama aku?"
Tok!!tok!!tok!!
Suara ketukan pintu menyadarkan Tania akan lamunannya. Ia beranjak dari duduknya. Saat ia hendak membuka pintu, lebih dulu Bu Mina masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf Neng, saya masuk sebelum disuruh," kata Bu Mina lalu tersenyum pada Tania.
"Enggak apa-apa kok, Bu. Tumben Ibu ke kamar aku, ada apa?"
"Eh, itu Neng ada orang di luar nyariin Neng Tania."
"Siapa, Bu?"
Tania berfikir sejenak, satu nama yang terlintas di otak Tania adalah Gamma. Tapi mana mungkin cowok itu tahu alamat rumah Tania. Tanpa berfikir panjang, Tania langsung mengintip dari jendela kamarnya. Dan benar saja mobil Gamma sudah terparkir manis di halaman depan rumahnya.
"Dibukain atuh Neng, kasian temennya nungguin," saran Bu Mina dan diangguki oleh Tania.
Tania bergegas keluar dari kamarnya dan segera menemui Gamma.
"Lo kemana sih, buka pintu aja lama banget!" hardik Gamma kepada Tania yang baru saja membukakan pintu untuknya.
"Maaf."
"Udah dibilang kalau mau minta maaf besok aja kalau lebaran," jawab Gamma sedikit sewot.
"Kok kamu tahu rumah aku?"
"Ya emang enggak boleh kalau gue tahu rumah lo?" bukannya menjawab Gamma justru bertanya balik kepada Tania.
"Boleh, tapi kamu tahu darimana?"
"Lo lupa kepala sekolah kita siapa?"
"Kok kamu daritadi aku tanya malah balik tanya sih." Tania berjar kesal.
"Hehe, iya-iya. Gue tahu rumah lo dari Om Aldo."
"Ooh," jawab Tania singkat.
"Lo enggak nanya gue ngapain ke rumah lo?"
"Enggak, aku enggak kepo kayak kamu," jawab Tania jujur dan membuat Gamma memutar bola matanya malas.
"Oiya, lo di rumah cuma sama pembantu?" tanya Gamma lagi.
"Enggak, ada mama aku juga kok. Tapi, mama belum pulang kerja."
"Nyokap lo kerja apaan? Kok jam segini belum pulang?"
"Aku enggak tahu," jawab Tania tanpa mengada-ada.
Gamma mengeryitkan dahinya bingung. "Lo gimana sih, masa jadi anak enggak tahu orangtuanya kerja apa."
Tania hanya diam mendengar pernyataan Gamma. Ia sejujurnya bingung harus menjawab apa. Dirinya bukanlah seorang Gamma atau anak-anak lain yang dekat dengan orangtua. Kehidupan Tania berbeda dari anak lainnya.
Gamma menusukkan jarinya ke pipi kiri Tania membuat Tania tersentak dari lamunannya.
"Ditanya kok malah diem sih. Dengerin gue! Gue tahu lo cuek sama temen-temen lo, gue juga tahu lo enggak deket sama mereka, dan gue juga tahu lo itu punya kepribadian yang cuek. Tapi dengan lo yang cuek sama-sama temen-temen lo bukan berarti lo juga bisa cuek sama orangtua lo. Mamalo cari duit buat ngebesarin lo, dia kerja buat ngebahagian lo, harusnya lo sadar sama hal itu...."
"CUKUP!!!ENGGAK USAH KAMU TERUSIN UCAPAN KAMU!! KAMU ENGGAK NGERTI KEHIDUPAN AKU!! KAMU ENGGAK NGERTI GIMANA POSISI AKU!!AKU BUKAN KAMU GAMMA, AKU BUKAN KALIAN!!KITA BARU KENAL, JADI TOLONG KAMU JANGAN MENGANGGAP AKU SAMA DENGAN ANAK LAINNYA!! SEKARANG AKU MOHON KAMU PULANG!!" Teriak Tania diluar kendali dengan airmata yang mengalir deras di kedua pipinya.
Gamma merasa hatinya tercubit melihat Tania menangis. Apa ada yang salah dengan ucapannya barusan hingga membuat Tania hilang kendali?
Belum sempat Gamma bertanya, Tania sudah lebih dulu meninggalkannya. Sekarang lebih banyak pertanyaan yang timbul di otak Gamma tentang kehidupan Tania.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama lo Tan? Gue harap itu bukan hal yang membuat lo menutup diri dari siapapun dan gue harap suatu saat nanti gue bisa bantuin buat mecahin masalah lo."
(。;_;。)