TRUE LOVE [TAMAT]

TRUE LOVE [TAMAT]
Chapter 13



(。;_;。)


Malam ini Tania sedang duduk di atas kasur sambil menonton televisi dengan Bu Mina. Kepala Tania dibaringkan di paha milik Bu Mina dan tangan Bu Mina dengan reflek mengusap-usap kepala Tania.


"Bu, kapan mama sayang sama aku?" tanya Tania saat melihat seorang gadis seusianya yang sedang berbincang dengan ibunya.


Bu Mina tergelak. "Maksudnya, Neng?"


"Kenapa ya aku harus lahir di dunia ini kalau pada akhirnya aku cuma dicampakkan sama mama? Kenapa mama dulu enggak gugurin aku aja. Aku juga pengen kayak anak lainnya, Bu. Hati aku sakit kalau lihat mama dekat banget sama Zara, padahal Zara bukan anak kandung Mama. Tania pengen sedikit aja mama mandang Tania sebagai anak kandung," mata Tania memanas, air matanya sudah mendesak untuk keluar.


"Hiks, dulu waktu Tania sakit dan belum ada Ibu pasti Tania nangis sendirian di kamar karena nahan rasa sakit. Mama bukannya bantuin, tapi malah marahin aku. Aku sering dikatain anak penyakitan sama mama. Mungkin aku dulu enggak begitu kepikiran sama ucapan mama, tapi sekarang aku udah paham kalau mama emang benci banget sama aku. Anak kandungnya sendiri."


Cairan bening nan hangat menetes dari pelupuk mata Tania. Deru nafasnya pun tidak beraturan karena menahan rasa sesak yang mendalam akibat mengingat segala ucapan dan tindakan mama nya. Segala memori tentang kejadian-kejadian buruk yang dilakukan mamanya dari dulu hingga sekarang berputar di kepalanya.


Bu Mina tak kuasa menahan air matanya untuk keluar, pasalnya dirinya bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh gadis yang sedang merebahkan diri dipangkuannya itu.


"Neng, yang sabar ya. Tuhan sudah membuat skenario kehidupan yang indah untuk semua hambanya. Tuhan ngasih cobaan karena tahu kalau Neng itu adalah anak yang kuat. Sabar, banyakin berdoa, dan memohon sama Tuhan supaya diberikan jalan yang terbaik. Neng harus kuat, enggak boleh lemah. Ibu bakal selalu bersama Neng, karena dari pertama kali ibu kerja disini sudah menganggap Neng adalah anak kandung Ibu. Masih banyak yang sayang dan peduli sama Neng,"


Bu Mina menguatkan hati Tania. Air mata keduanya sudah bercucuran. Tania bersyukur selalu mendapat perhatian dan kasih sayang dari Bu Mina.


Tania membenarkan posisinya untuk bisa bertatapan dengan Bu Mina. "Kalau nanti suatu saat Tania menyerah untuk mendapat kasih sayang mama apa boleh, Bu?"


Bu Mina menatap nanar kepada Tania. Kemudian menggeleng pelan. "Neng jangan bilang seperti itu," peringatnya.


"Kesabaran seseorang ada batasnya,Bu. Aku capek berjuang selama ini. Semua usaha yang udah aku lakukan tidak ada satupun yang dipandang oleh mama. Aku capek, andai aku bisa minta Tuhan buat cabut nyawa aku sekarang, aku ihklas. Mungkin dengan aku enggak ada di dunia ini, mama bakal bahagia dan enggak terbebani sama aku," ujar Tania lalu menyeka air matanya.


"Ssst, enggak boleh ngomong seperti itu ih. Sabar, semua butuh waktu, Neng. Maut, rezeki, jodoh, semua sudah diatur dan ditetapkan sama yang kuasa."


Tring.. Tring.. Tring..


Ponsel Tania berbunyi. Tania segera bangkit dari posisinya untuk mengambil ponsel di rak buku. Ada panggilan masuk dari Gamma.


Sebelum menjawab telefon itu, Tania lebih dulu mengatur nafas dan suaranya supaya Gamma tidak mengetahui kalau dirinya baru saja menangis. Setelah dirasa suara dan nafasnya sudah kembali ke semula, Ia kemudian menarik tombol berwarna hijau untuk menjawab telefon dari kekasihnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Gamma dari seberang telefon.


"Wa'alaikumussalam. Kenapa Gam?"


"Lo habis nangis? Suara lo sedikit serak gitu?"


"Syukur deh, gue kira lo habis nangis. Oiya, besok lo ikut gue ke rumah ya, Tante Risa katanya mau ketemu sama lo."


"Enggak ah, aku malu."


"Kenapa malu? Lo cantik, lo baik, lo pacar gue juga kan. Santai aja kali."


"Aduh gimana ya?" ucap Tania sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pokoknya besok pulang sekolah lo ikut gue. Love you, Sayang."


Tania baru akan memprotes, namun Gamma sudah lebih dulu mematikan sambungan telefonnya secara sepihak.


Tania berjalan ke arah balkon. Ia berdiri disana sambil merentangkan kedua tangannya dan mengatur nafasnya. Gadis itu membiarkan angin malam yang cukup dingin menerpa wajahnya.


Saat ia menengok kebawah, tidak sengaja ia melihat keakraban mamanya, papa tirinya, serta Zara dihalaman rumah. Posisi Zara sedang duduk diantara Citra dan Reza, dengan kepala yang disenderkan di pundak Citra.


Tania hanya terdiam melihat pemandangan yang sangat menyesakkan dadanya itu. Air mata yang tadis sudah kering kembali menetes.


"Tuhan, apa ini adil untukku? Aku adalah anak kandung mama, sedangkan Zara adalah anak tiri mama. Aku ada jauh sebelum Zara mengenal mama, tapi kenapa mama terlihat sangat sayang dengan Zara?" batin Tania meringis.


Bu Mina menengok ke arah Tania yang berdiri di balkon. Punggung gadis itu terlihat bergetar. Bu Mina kemudian bangkit dari posisinya dan berjalan menuju Tania.


"Masuk yuk, Neng. Angin malam enggak baik buat kesehatan," ucap Bu Mina namun tidak dihiraukan Tania.


Tania melamun, menatap sendu ke bawah, tepat dimana Citra, Reza, dan Zara sedang duduk bersama. Bu Mina mengetahui hal itu langsung mengajak Tania ke dalam. Bu Mina menutup pintu menuju balkon, lalu kembali kepada Tania.


Disenderkannya kepala gadis itu dipundaknya. Tania terlihat sangat rapuh. Gadis itu menangis tanpa suara. Mungkin benar jika dirinya tadi mengatakan sudah lelah berjuang untuk mendapatkan kasih sayang mamanya.


"Nangis aja, Neng. Keluarkan semua beban yang ada di hati dan pikiran, Neng," ucap Bu Mina sambil mengusap kepala Tania lembut. Ia berusaha menyalurkan semangat dan kehangatan yang tidak pernah Tania dapatkan dari mamanya sendiri.


Beberapa menit mereka ada diposisi tersebut. Hingga Bu Mina merasakan nafas Tania mulai tenang dan teratur. Gadis itu tertidur masih dengan posisi kepala yang disenderkan pada pundah Bu Mina. Perlahan Bu Mina membaringkan kepala Tania di bantal. Bu Mina menatap sendu pada Tania, mata gadis itu masih sangat sembab, bahkan pipi gadis itu masih basah karena air mata yang daritadi menetes.


(。;_;。)


Segini dulu, maaf Gamma cuma muncul di telefon. Next chapter spesial Tania bersama Gamma.