TRUE LOVE [TAMAT]

TRUE LOVE [TAMAT]
Chapter 18



"Gam, kali ini aja kamu mau menuruti kemauan aku. Kasihan Angel," Tania masih terus membujuk Gamma.


Gamma memandang Tania dengan tatapan yang sulit terbaca. Ia masih tidak habis fikir dengan jalan pikiran kekasihnya itu.


Tania menggenggam tangan Gamma. "Apa kamu mau?"


"Kamu harus ingat kebaikan dia juga, Gam. Jangan karena dia ngelakuin satu kesalahan semua kebaikan dia langsung enggak berarti buat kamu."


"Aku harap kamu mau."


Gamma membuang nafasnya kasar. "Oke fine, kalau itu emang mau kamu. Tapi kalau kamu cemburu atau kamu merasa ada sesuatu yang buat kamu sakit hati kamu bilang sama aku."


Tania mengembangkan senyumnya. "Makasih ya. Kamu emang orang yang baik."


(。;_;。)


Hari ini tepat satu minggu Gamma dirawat di rumah sakit.


"Permisi," sapa dokter Andi pada Tania dan Gamma yang sedang bergurau.


Tania dan Gamma mendongak. "Om Andi ganggu Gamma lagi pacaran tau enggak?!"


"Enggak. Kalau tahu juga Om bakal tetap ganggu kalian. Berduaan itu enggak baik apalagi belum halal."


Gamma mendengus. "Sayang, habis aku keluar dari rumah sakit aku halalin kamu," Gamma berucap tanpa dosa.


"Kan aku bilang, sekolah yang bener dulu," jawab Tania.


"Nah dengerin tuh apa yang dibilang pacar kamu. Kencing aja belum lurus udah main halalin anak orang sembarangan," dokter Andi menyahut.


"Ngomong-ngomong Om ngapain kesini?" tanya Gamma.


Dokter Andi teringat pada tujuannya datang ke ruangan Gamma. "Cuma mau ngasih kabar gembira," jawabnya menggantung.


"Kabar gembira untuk kita semua," ujar Gamma dengan menirukan lirik lagu iklan sebuah produk kesehatan.


Dokter Andi memutar bola matanya jengah. "Malah iklan," cibirnya. "Nanti siang kamu udah boleh pulang," lanjutnya.


Gamma dan Tania langsung saling tatap dan tersenyum. "Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan.


"Dah lah, saya permisi. Tania tolong jagain keponakan saya," pamit dokter Andi.


Tania menganggukkan kepalanya sebelum dokter Andi keluar dari ruang rawat Gamma.


Tring..tringg..


Handphone Gamma yang ada di atas nakas berbunyi.


"Sayang, tolong dong ambilin HP ku. Terus kamu angkat aja itu telefonnya,"


Tania meraih Handphone Gamma lalu menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut. Hanya deretan angka, tidak ada nama kontaknya.


"Kak Gamma. Nanti udah boleh pulang kan? Beliin Gavin permen yang rame rasanya dong!" teriak seseorang dibalik telefon. Tania menjauhkan HP Gamma dari telinganya karena teriakan Gavin cukup melengking.


"*****, Bangke," Gamma mengumpat.


"Iya Gavin, nanti Kak Tania bilangin ke Kak Gamma,"


"Oh ini Kak Tania. Kak maafin Gavin udah teriak, tadi Gavin kira yang jawab telefonnya itu Kak Gamma."


Gamma mencibir mendengar ucapan Gavin. Dalam hatinya ia masih terus mengumpati anak SMP itu.


"Iya gapapa kok. Apa ada lagi yang Gavin mau?" tanya Tania lembut.


Belum sempat Gavin menjawab, Gamma sudah lebih dulu merampas HP nya dari tangan Tania lalu memutus sambungan telefonnya.


Di seberang telefon sana, Gavin menyumpah serapahi kakaknya.


(。;_;。)


Satu jam yang lalu Gamma sudah tiba di rumahnya. Saat Gamma tadi keluar dari mobil, tangan Gavin langsung lerulur menagih titipannya tadi. Gamma memutar bola matanya malas, lalu mengode Tania untuk menyerahkan titipan Gavin.


"Permisi, maaf kalau aku ganggu waktu kalian berdua," ucap Angela yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tania.


Gamma menatap gadis itu malas. Lain dengan Tania yang tersenyum ramah kepada Angela.


"Enggak ganggu kok," ucap Tania lalu menyuruh Angela untuk duduk.


"Gam, kebetulan Angela datang. Jadi kamu udah ada yang nemenin, aku pamit pulang dulu ya,"


Gamma mencekal pergelangan Tania, menatap Tania memohon. "Sayang, kok kamu gitu sih," kesal Gamma.


Tania memegang tangan Gamma, mengelus  tangan kekasihnya. "Kenapa, hm? Aku harus pulang dulu, aku takut nanti kalau aku pulang terlambat bakal dimarahin mama lagi."


Gamma menatap iba kepada kekasihnya, tapi ia juga tidak mau jika harus ditemani dengan Angela.


"Aku pamit pulang ya."


Gamma menggangguk singkat. Ia tidak mungkin membiarkan kekasihnya kena marah lagi, ia tahu betapa kejam mama Tania jika sudah marah.


"Yaudah, tapi kamu pulang diantar sama Pak Tomo."


"Tap....."


"Aku enggak menerima penolakan, Sayang. Kalau kamu nolak, mendingan kamu enggak usah pulang," Gamma menyela sebelum Tania protes.


"Aku bisa pulang sendiri, Gam," tolak Tania.


"Apa perlu aku yang anterin kamu? Tapi kaki aku masih sakit banget,"


Tania meringis melihat kaki Gamma yang terbelit perban. "Yaudah aku diantar sama Pak Tomo aja."


Gamma menjulurkan tangannya lalu mencubir hidung Tania. "Good girl. Aku harus pastiin kamu aman sampai rumah. Enggak boleh ada yang nyakitin kamu sedikitpun."


Angela yang melihat adegan itu hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. Andai dulu dia tidak meninggalkan Gamma, mungkin yang saat ini ada di posisi Tania adalah dirinya.


"Ngel, aku nitip Gamma ya. Aku pulang dulu," pamit Tania membuyarkan lamunan Angela.


Angel mengangguk samar sambil menatap Gamma. "Hati-hati, Tan."


Sebelum Tania keluar dari rumah Gamma. Dia lebih dulu mengingatkan Gamma dengan janji Gamma yang akan menolong Angela.


"Mau apa lo kesini?" tanya Gamma, matanya menatap lurus layar televisi.


Angel tersenyum lalu menarik nafasnya. "Aku cuma mau lihat kondisi kamu."


Gamma mengalihkan tatapannya yang semula menatap televisi kini menatap Angel yang duduk di sebelahnya.


"Gue baik-baik aja dan lo juga udah lihat juga. Mau apa lagi?" Gamma bertanya dengan nada datar.


Angela diam tidak menjawab pertanyaan Gamma. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada cowok itu.


"Lo bilang tujuan lo balik ke Indo karena mau ngerebut hati gue lagi?"tanya Gamma sengit.


" Awalnya iya, tapi setelah aku tahu kalau cewek kamu sebaik Tania aku mundur."


Gamma tersenyum miring. "Baguslah kalau lo sadar diri."


Angela menatap Gamma lekat. "Apa aku masih ada di hati kamu?"


Gamma membalas tatapan Angela. "Enggak. Gue udah nge blacklist  nama lo dari hati gue, bahkan hidup gue sekalipun. Lo sendiri yang pernah bilang lupain semua yang udah buat gue sakit hati. Yaudah waktu lo ninggalin gue dan bikin gue kecewa, gue lupain lo."


Sesaat Angela merutuki ucapannya dulu. "Maaf."


Gamma tertawa sumbang. "Maaf lo udah enggak berguna. Mending lo simpan aja kata maaf lo itu."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan langkah yang tertatih Gamma langsung meninggalkan Angela yang masih diam.


(。;_;。)