![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
"Tante, apa yang sebenarnya terjadi sama Gamma, kenapa disini Tania terlihat kayak gadis bodoh yang enggak tahu apa-apa?" tanya Tania pada Risa.
Risa memeluk Tania erat, ia menangis dibalik punggung Tania. "Gamma tadi waktu mau berangkat sekolah dia kecelakaan, mobilnya ketabrak truk yang hilang kendali."
Badan Tania menegang. Pikirannya kacau. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui hal sebesar ini. Rasa bersalah dan panik terkumpul menjadi satu di dalam otaknya.
"Kalian tenang. Gamma kondisinya tidak terlalu buruk, sebentar lagi akan tersadar. Berdoa saja supaya kondisinya cepat pulih dan dia cepat kembali bersama kita," ucap Wahyu menenangkan istri dan kekasih putranya itu.
Mereka semua sedih karena mengetahui kronologis kejadian yang menimpa Gamma.
Tania menengok kepada perempuan seusianya yang daritadi hanya diam menatap sendu pintu ruangan yang ada Gamma di dalamnya. Tania berjalan lalu duduk di samping perempuan itu.
"Hai, aku Tania," sapa Tania.
Perempuan itu menoleh lalu tersenyum tipis. "Aku Angela. Kamu pacarnya Gamma, ya?"
Tania mengangguk singkat. "Kenapa?" tanyanya.
"Gamma kelihatan sayang banget sama kamu."
Tania menatap bingung ke arah Angela. Bagaimana Angela bisa menyatakan kalau Gamma terlihat sayang dengannya. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?.
"Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Tania.
Angela menggeleng. "Aku belum pernah ketemu langsung sama kamu sebelumnya. Tapi waktu tempo hari kalian ke toko buku berdua, aku enggak sengaja ketemu sama Gamma. Awalnya aku berniat ingin mengambil hati Gamma kembali, namun sayangny sekarang hati Gamma udah sepenuhnya untuk kamu."
Tania penasaran dengan hubungan Angela dan Gamma. "Kalau aku boleh tahu, kamu siapanya Gamma?"
Angela tersenyum. "Kita dulu pernah deket. Aku adalah orang yang selalu ada untuk Gamma disaat Gamma kehilangan mamanya. Namun, beberapa bulan setelah itu aku pergi meninggalkan Gamma. Aku pergi buat ngelanjutin pendidikan aku. Bodohnya aku pergi tanpa sepengetahuan Gamma," Angela menahan untuk tidak menangis di hadapan Tania. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan siapapun.
"Walaupun sekarang Gamma adalah pacar aku, tapi aku yakin di dalam hati kecil Gamma masih ada kamu. Gamma enggak sejahat itu dengan seseorang, apalagi dengan seseorang yang telah membantunya dulu," jawab Tania dan membuat Angela tergelak.
Angela tidak menyangka kalau Tania akan berfikiran seperti itu. Jika Angela yang ada diposisi Tania pasti ia akan merasa cemburu.
"Enggak salah kalau Gamma sayang banget sama kamu. Kamu adalah orang yang baik," puji Angela tulus.
Tania tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.
"Oiya, maksud kamu tadi apa ngomong Gamma kehilangan mamanya?"
Tania menenangakan Angela dan meminta gadis itu untuk berhenti menjelaskan. Kedua gadis itu terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Oiya soal aku yang awalnya berniat mengambil hatinya Gamma kembali enggak udah kamu khawatirin. Aku sadar kalau Gamma sama aku pasti dia enggak bisa bahagia. Semakin hari penyakitku semakin parah, tinggal menghitung minggu aku mungkin akan kembali ke sang pencipta," Angela mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
"Kamu jangan ngomong gitu. Umur itu hanya Tuhan yang tahu," ujar Tania menasihati.
"Aku udah lama kena kanker otak. Bahkan asal kamu tahu, rambut yang ada di kepala aku ini cuma rambut palsu. Semua orang sudah mengetahui kalau aku kena penyakit ini, hanya Gamma yang belum tahu. Aku berharap sebelum aku mati aku bisa memberi tahu dia soal ini."
Angela dan Tania berbincang cukup lama. Banyak hal tentang kehidupan Gamma yang Tania ketahui dari Angela. Banyak juga pelajaran hidup yang bisa Tania ambil dari Angela. Tania merasa Angela adalah orang yang baik dan tidak mudah menyerah.
Saat ini Tania sedang duduk di samping ranjang Gamma. Tangannya setia menggenggam tangan laki-laki yang masih belum memberi tanda-tanda akan siuman itu. Tania memandang lekat wajah Gamma yang masih setia menutup mata.
"Gam, bangun dong. Aku kesepian enggak ada kamu. Cepet buka mata kamu, aku kangen lihat kamu menatap tajam cowok-cowok yang berani lirik-lirik aku. Aku kangen saat kamu menghampus air mata aku, aku kangen semua tentang kamu."
Cowok yang kepalanya terbungkus perban dan badan yang banyak lebab itu masih diam. Ia tidak memberikan respond apapun.
Tania menangis, berharap Gamma akan segera bangun dan menghapus air matanya.
"Gam, aku nangis. Kamu enggak berniat bangun terus hibur aku?"
Tania masih setia mengajak Gamma berbicara.
"Gam, aku udah kenal sama Angela. Dia tadi cerita semua tentang kamu. Dia lagi sakit Gam, dia butuh kamu. Ayo cepat buka mata kamu. Tunjukkan ke semua orang kamu adalah cowok kuat, ayo bangun Gam."
Pintu terbuka dan masuklah Risa. Risa menghampiri Tania yang masih terus mengajak Gamma berbicara.
"Sayang, sudah malam. Kamu istirahat dulu gih. Biar mama yang gantian jaga Gamma," ujar Risa lembut.
Tania melihat ke arah jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Tania baru menyadari jika ia cukup lama berusaha membujuk Gamma untuk segera siuman.
Gadis itu keluar dari ruangan Gamma dengan raut muka lesu setelah ia berpamitan dengan Wahyu dan Risa.
Ia yakin, sampai rumah nanti pasti ia akan mendapat amukan dari mamanya. Untuk pertama kalinya Tania tidak terlalu memusingkan hal itu, yang ada dipikirannya saat ini adalah Gamma. Seseorang yang ia yakini akan selalu ada untuknya. Karena ia sudah lelah mengharapkan kasih sayang dari mamanya.
Tania tiba dirumah pukul delapan lima belas menit. Ia memasuki rumah dan melihat keadaan rumah yang cukup berantakan. Banyak bungkus bekas camilan berserakan di meja ruang tamu, tumpahan minuman di lantai, dan beberapa kaleng soda dibuang sembarangan ke lantai. Tania yakin ini pasti ulah Zara dan antek-antek nya.
Tidak peduli dengan kondisi rumah yang berantakan, Tania berlalu ke kamarnya. Mulai saat ini ia akan berusaha untuk tidak peduli dengan orang yang bahkan tidak peduli dengannya. Benar kata Gamma jika hidup sekali-kali menjadi orang yang egois.
(。;_;。)