![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
"TANIA!!TANIA!!KESINI BURUAN!!!" teriak Zara dari taman belakang rumah.
Tania yang letak kamarnya berdekatan dengan taman belakang rumah pun otomatis dapat mendengar suara Zara walaupun tidak berteriak.
"TANIA!!!TELINGA LO BUDEK YA?BURUAN!!!!"
Tania yang semula sedang mengerjakan tugas pun segera berlari menghampiri Zara.
"Iya kenapa?"
"LAMBAN BANGET SIH LO!!BURUAN BIKININ GUE JUS MANGGA TERUS NANTI LO ANTER KE KAMAR GUE!!"
"Tapi kan di rumah enggak ada mangga," jawab Tania.
Zara berdiri kemudian menunjuk-nunjuk muka Tania. "LO PUNYA OTAK DIPAKAI DONG!!KALAU ENGGAK ADA YA LO HARUS CARI SAMPAI DAPAT!!" ucap Zara berteriak tepat di telinga Tania.
"Aku enggak budek, kamu ngomong pelan aja aku denger kok. Kasihan tenggorokan kamu kalau kamu teriak-teriak gitu," kata Tania sedikit pelan namun masih terdengar jelas.
Zara yang tidak terima, kemudian mengcengkeram keras rahang milik Tania. "Lo, jadi anak pembantu aja belagu, gausah sok nasehatin gue! Mendingan lo sekarang pergi cari mangga sampai dapat!" ucap Zara kemudian melepaskan cengkeramannya kasar.
Tanpa pikir panjang Tania segera menuju supermarket untuk mencari mangga. Ia pergi ke supermarket dengan berjalan kaki, padahal hari sudah mulai gelap.
"Tania harus sabar, kamu anak yang kuat. Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Semangat Tania!!" ucap Tania menyemangati dirinya sendiri.
"Lo gila ngomong sendirian di pinggir jalan?" ucap seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Tania.
Tania terkejut bukan main karena ia tak menyadari jika Gamma ada di sampingnya. "Kamu ngapain disini?" tanya Tania dan disambut kekehan oleh Gamma.
"Nemenin orang gila jalan kaki, habisnya kasian banget dia, udah punya pacar tapi jiwa kejombloannya masih meronta-ronta," jawab Gamma sambil menendang kerikil yang menghalangi jalannya.
"Kamu ngatain aku gila?"
"Enggak, tapi kalau misal lo gila beneran juga enggak masalah. Gue tetep sayang sama lo."
"Dasar manusia kurang ajar!!!" maki Tania sambil mencubit pinggang Gamma.
"Eh ***** geli, aduh aduh udah dong," ucap Gamma dan membuat Tania kembali mencubit pinggang Gamma.
"Gam, yang jual mangga dimana ya?" tanya Tania yang teringat tujuannya tadi.
"Mangga? Kenapa lo tiba-tiba nanyain mangga? Lo hamil? Gue kan belum ngapa-ngapain lo!!"
Tania memukul bahu pria di samping nya kencang. "Kamu yang gila!!! Aku cuma nanya tempat yang jual mangga, karena aku tadi disuruh Zara buat beliin mangga."
Tania tersadar jika ia sudah keceplosan. Ia reflek menutup mulutnya sendiri.
"Bentar-bentar, Zara? Murid baru si bekantan betina itu?"
Tania mengangguk. "Hemm."
"Kok bisa sih, lo ada hubungan apa sama dia?" tanya Gamma penasaran.
"Enggak ada apa-apa kok, mending sekarang kasih tau aku dimana yang jual mangga," ucap Tania mengalihkan pembicaraan.
"Tan, gue ini pacar lo. Plis, jangan ada yang lo sembunyiin dari gue. Masalah lo adalah masalah gue juga."
Tania menunduk dan menghentikan langkahnya. "Dia saudara tiri aku,"jawabnya pelan dan masih bisa didengar jelas oleh Gamma.
"Waduhhhh gawat nih, kok lo mau sih saudaraan sama bekantan itu?"
"Demi kebahagian mama aku ihklas ngelakuin apa aja yang penting mama bahagia, walaupun aku yang tersiksa."
Gamma memeluk pacarnya yang terlihat sangat rapuh. "Aduh, jadi makin sayang. Lo yang sabar ya. Bahu gue selalu siap untuk lo bersandar."
Gamma kemudian menelfon supirnya untuk mengantarkan mobil, pasalnya jaraknya saat ini dengan supermarket yang serba ada cukup jauh.
"Pak, tolong anterin mobilnya Tante Risa ke alamat yang saya kirim!!" ucap Gamma langsung menutup sambungan telefonnya.
"Oiya, kamu kok bisa ada disini?" tanya Tania.
"Tadi niatnya mau ngapelin lo, cuma pas gue mau nyampe, lihat lo ngedumel sendirian di pinggir jalan, yaudah terus gue samperin deh."
Tidak lama setelah itu, sebuah mobil BMW i8 berwarna putih berhenti di depan mereka. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil itu kemudian menunduk hormat kepada Gamma.
Kemudian Gamma mengajak Tania naik mobil mewah tersebut.
"Kamu pinjam mobil siapa, Gam? Terus itu bapaknya masa ditinggalin disini?" tanya Tania bingung saat sudah duduk di dalam mobil tersebut.
"Ini mobil Tante Risa, enggak usah tanya dia siapa. Terus urusan Pak Tomo, dia udah besar, nanti dia bisa pulang sendiri."
(。;_;。)
Setelah itu Gamma menancapkan gas mobil tersebut. Tak sampai 10 menit mereka sudah tiba di parkiran sebuah supermarket besar.
Tania segera menuju tempat buah-buahan. Kemudian ia dengan cekatan memilih beberapa buah mangga yang sudah siap masak. Kemudian ia menimbangnya lalu dibawa buah mangga itu ke kasir untuk dibayar.
"Lo tunggu di mobil aja, biar gue yang bayar!" ucap Gamma lalu tanpa menunggu jawaban Tania ia segera menuju kasir.
Setelah membayar, Gamma kemudian menuju ke mobilnya. Tania sudah duduk manis di dalam mobil.
"Nih mangganya," ucap Gamma menyerahkan sekantong Mangga pada Tania.
"Uangnya aku ganti besok di sekolah ya, aku lupa enggak bawa uang, untung tadi aku ketemu kamu," ucap Tania malu-malu.
Gamma lebih mencondongkan badannya ke depan. "Apa sih lo, cuman mangga doang. Lo kalau mau supermarketnya bakal gue beliin."
"Aku serius, aku beneran lupa enggak bawa uang. Aku udah banyak ngerepotin kamu,"
"Sayang, aku enggak pernah ngerasa direpotin sama kamu. Jangan ngomong kayak gitu lagi. Udah ya, sekarang aku anterin kamu pulang."
Tania mengedip-ngedipkan matanya. Apa ia salah dengar, Gamma memanggilnya sayang?
(。;_;。)
Sesampainya di rumah, Tania segera menuju dapur untuk membuatkan jus sesuai perintah Zara.
"LO KEMANA AJA SIH, HAMPIR LUMUTAN GUE NUNGGUIN LO!!" maki Zara yang sedang mengambil air putih di dapur.
"Tadi aku harus beli mangganya dulu, ya maaf kalau kelamaan," jawab Tania.
"Ada apasih ribut-ribut?" ucap Citra yang baru saja tiba dari menghadiri acara di kantor suaminya.
"Ini mah, si anak pembantu beli mangga aja lama banget," ucap Zara mengadu kepada Citra.
"Sabar ya sayang, dia emang lemot anaknya," jawab Citra sambil mengelus rambut Zara.
Tania hanya diam melihat hal tersebut. Sepertinya ia harus membiasakan diri melihat hal seperti ini terjadi di hadapannya.
"Lhoh kamu kok malah diem disini, buruan bikinin anak saya jus mangga yang dia mau!!" suruh Citra dengan gaya angkuh.
Saat Tania sedang memblender mangga, sebuah cairan hangat menetes di pipinya.
"Airmata jangan netes lagi, aku udah janji untuk enggak cengeng," ucap Tania lalu dengan kasar menyeka airmatanya.
Setelah jusnya sudah siap, ia segera membawa jus tersebut kepada Zara. Saat ingin menaruh jus tersebut di nakas Zara, dengan sengaja Zara menyenggolnya dan mengakibatkan jus tersebut tumpah. Lalu Zara mengambil posisi seperti orang yang terpeleset di dekat tumpahan jus tersebut.
"MAHH!! MAHHH!!! SINI MAH!!" teriak Zara memanggil Citra.
Citra berlari menuju kamar anak tirinya. "Kamu kenapa sayang?" tanyanya lalu membantu Zara untuk berdiri.
Zara menunjuk Tania. "Gara-gara dia enggak becus naruh jusnya, aku jadi kepleset, Mah," ucap Zara mengadu.
Tania tidak terima jika ia dituduh melakukan hal itu pada Zara. Padahal dengan jelas tadi Zara dengan sengaja melakukan hal itu.
"Zara bohong, tadi dia yang sengaja nyenggol aku sampai jusnya tumpah," ucap Tania membela diri.
"KAMU ITU UDAH ENAK BISA TINGGAL DISINI, TAPI MALAH MAU NYELAKAIN ANAK SAYA!! KAMU MEMANG BENAR-BENAR ENGGAK TAHU DI UNTUNG!! SEKARANG SEBAGAI HUKUMAN KAMU BERSIHKAN KAMAR INI SAMPAI BERSIH!!" Citra berteriak emosi kepada Tania.
Tania menganggukkan kepalanya patuh lalu keluar dari kamar Zara.
"Ma, aku yang anak kandung mama, bukan Zara. Anak yang mama kandung dan lahirkan dengan penuh perjuangan adalah aku . Aku tidak tahu memiliki salah apa kepada mama, jika memang aku lahir karena sebuah kesalahan, aku tidak mengingankan hal itu terjadi kepada aku. Dan jika aku tahu aku akan lahir dengan tidak mendapat kasih sayang orangtua, aku memilih Tuhan tidak memberiku nyawa saat itu," batin Tania saat melihat Citra memeluk Zara dengan erat. Kemudian ia menutup pintu kamar Zara.
"Andaikan aku ada di posisi Zara saat ini," lirih Tania.
(。;_;。)