TRUE LOVE [TAMAT]

TRUE LOVE [TAMAT]
Chapter 23



"Yeay piknik!!!"


"Piknik. Piknik. Piknik."


Sorakan terdengar dari seluruh peserta studytour. Dari setiap mereka memancarkan aura kebahagiaannya masing-masing.


Gamma bergabung dengan kerumunan murid-murid yang tengah dikumpulkan di lapangan untuk di periksa kehadirannya.


"Hai," Gamma merangkul Tania yang menyipitkan mata.


"Kopernya udah kamu masukin di bagasi bis?" tanya Tania mengingat Gamma tadi memaksa untuk sekalian memasukkan kopernya ke bagasi.


"Bagasi bis?"


Tania menganggukkan kepalanya. "Iya kan?"


Gamma terkekeh. "Kita berdua enggak naik bis. Aku enggak mau kita satu bis sama bekantan betina itu."


Tania mengerutkan keningnya bingung.


"Terus kita gimana dong?"


"Tuhh," dengan dagunya Gamma menunjuk mobil yang terparkir di sebelah bis nomer 2.


"Yang bener aja kita cuma berdua naik mobil. Emang boleh?"


Gamma mengangkat bahunya. "Tenang, kita di supirin Om Aldo."


Tania menyerah jika sudah begini. Ia tidak akan mungkin bisa menolak dan protes pada kekasihnya. Tania sadar jika maksud Gamma adalah melindunginya.


Seluruh peserta studytour berangkat ke Bandung pada pukul 08.00 setelah melakukan sesi doa bersama.


"Gamma! Tania! Kita berangkat yang baling depan. Ayo!" seru Pak Aldo.


"Ini beneran?" Tania berbisik pada Gamma. Ragu kembali menyerangnya.


Gamma mengangguk lalu menggandeng Tania menuju mobil milik Pak Aldo.


(。;_;。)


Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam akhirnya seluruh rombongan tiba di Jogja.


Tring..Tring..


Ponsel yang ada di saku Gamma berdering. Ia merogoh sakunya. Ia hanya menggeser tombol warna merah.


"Kok ditolak sih?" protes Tania.


"Nomernya enggak dikenal, Sayang."


Ponsel Gamma kembali berdering membuat pemiliknya menggeram kesal.


"Jawab aja, siapa tahu penting lhoh," saran Pak Aldo.


"Iya bener, Gam," ucap Tania.


Gamma akhirnya mengangguk dan menjawab panggilan tersebut.


Terdengar suara isak tangis perempuan dari seberang telefon.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Gamma.


"Tante Tia?"


"Angel meninggal, Gam."


Badan Gamma terpaku sesaat.


"Gamma turut berduka cita, Tan. Maaf Gamma enggak bisa hadir di pemakaman Angela. Barusan aja Gamma sampai Jogja, Tan."


Terdengar orang disebut Gamma dengan panggilan Tante Tia menarik nafasnya. Perempuan itu masih terisak.


"Iya, Tante tahu kok. Tante cuma mau minta maaf ke kamu dan pacar kamu kalau Angel ada salah sama kalian berdua."


"Setelah dia ninggalin Gamma dulu dan sebelum tante minta maaf ke aku, aku udah lebih dulu maafin dia,Tan."


"Terimakasih, Gam. Doain Angel dapat tempat layak di sisi Tuhan."


"Aaminn."


Sambungan telefon di akhiri. Gamma memijat pangkal hidungnya. Ada sedikit rasa bersalah yang tersembunyi dalam hatinya. Hanya sedikit, tapi terasa.


Tania yang melihat Gamma terlihat frustasi pun menggenggam tangan cowok itu.


"Kenapa, Gam?"


Gamma menatap sendu pada Tania. Dengan menatap mata teduh milik Tania membuat dirinya merasa nyaman.


"Angel.." jawab Gamma menggantung.


"Angel kenapa?" tanya Tania mendesak. Perasaannya mulai kalut.


Gamma menarik nafasnya. "Angel meninggal dunia. Barusan yang telefon adalah mamanya dia."


Seperti respond Gamma tadi saat mendapat kabar bahwa Angel meninggal. Badan Tania menegang, dia terpaku dan meneteskan airmatanya.


"Kamu yang tenang ya, setelah dari Jogja kita besok ke makam Angel," Gamma menghapus airmata kekasihnya lalu menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Angel yang kamu maksud bukan yang dulu itu kan?" tanya Pak Aldo tiba-tiba. Ia daritadi menyimak pembicaraan Gamma dan Tania.


"Angel yang dulu, Om. Dia waktu pulang ngasih kabar kalau dia kena kanker otak stadium akhir," jawab Gamma.


"Dia anak yang baik. Semoga dia dapet tempat yang baik di sisi Tuhan,"


Saat semua peserta studytour tertawa dengan leluasa menikmati setiap tempat yang mereka kunjungi. Lain dengan Gamma dan Tania. Sejoli itu terlihat murung setelah tadi mendengar kabar duka dari mamanya Angel.


"Sayang, gabung sama yang lainnya yuk," ajak Gamma.


Tania mengangguk lalu mengikuti Gamma.


Saat ini Gamma dan Tania sedang duduk di bawah pohon kelapa. Mereka saat ini sedang beriwisata ke Pantai Parangtritis. Menikmati suara deburan ombak pantai selatan dan melihat beberapa kereta kuda berlalu lalang membuat suasana hati Tania sedikit membaik. Ditambah dengan adanya Gamma tentunya.


"Jangan ngelamun, bahaya!" Peringat Gamma lalu menarik tangan Tania karena hampir saja akan tertabrak kuda.


"Aku enggak ngelamun. Aku laper."


"Yaudah, ayo beli makanan."


(。;_;。)


Note: Untuk part selanjutnya akan ada kabar buruk lagi.