![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
Sejak semalam Tania tidak mengaktifkan HP nya karena memang baterainya habis dan dia lupa mengecas nya.
Sejak lima menit lalu HP itu ia nyalakan banyak notifikasi pesan yang masuk ke HP nya, dominan pesan tersebut dikirimkan oleh Gamma. Cowok itu bilang jika nanti berangkat sekolah dia akan menjemput Tania.
Semyum mengembang dari bibis gadis itu ketika membaca pesan terakhir yang Gamma kirimkan.
"I love you, Sayang. Jangan lupa mandi dan sarapan ya💜!!!" begitulah isi pesan yang cowok itu kirimkan.
Kalimat sederhana dari Gamma yang mampu membuat hati Tania berbunga-bunga.
Tania sudah siap sejak pukul 06.15 di sebuah taman dekat rumahnya. Ia tidak mungkin menunggu Gamma di rumahnya, apa kata Zara dan mamanya nanti jika mengetahui hal itu.
Pukul 06.30 Gamma belum juga menampakkan batang hidungnya. Saat Tania baru hendak menelfon cowok itu, lebih dulu Gamma menghubunginya.
"Beb, kamu berangkat duluan aja ya. Maaf banget ini akubada urusan mendadak," ucap Gamma to the point begitu telefon tersambung.
Tania hanya mengiyakan ucapan Gamma, langsung ia berjalan kaki menuju sekolah. Tidak ada kekecewaan di hati Tania walaupun Gamma tidak jadi menjemputnya.
(。;_;。)
Suara ramai murid di kelas sama sekali tidak mengusik Tania yang sejak tadi melamun. Entah apa yang ada di pikirannya. Sejak ia akan berangkat sekolah ia merasakan firasat yang tidak enak.
Sudah hampir pukul tujuh dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Tania menoleh ke arah bangku disampingnya, cowok itu belum datang.
Melihat tempat duduk Gamma firasatnya semakin memburuk. Baru pertama kali ini Tania merasakan hal semacam ini.
"Ya Tuhan, lindungilah Gamma,"
Tetttt...tettt.tetttt
Sudah bel masuk namun Gamma belum masuk kelas juga. Tania merasa dejavu saat ini, ia pernah merasakan hal ini. Yaitu tepat
pada saat hari dimana Gamma menyatakan perasaanya padanya.
Bu Diah masuk dan memberikan beberapa materi. Sepanjang Bu Diah menerangkan, mata Tania fokus ke depan namun lagi-lagi fikirannya entah kemana.
Tok..Tok.Tok..
Suara ketukan pintu berhasil menjeda penjelasan Bu Diah. Pintu terbuka dan munculah sosok Pak Aldo.
Pak Aldo kemudian berjalan menuju Bu Diah. Kedua guru utu berbincang-bincang sebentar. Terlihat setelah Pak Aldo mengucapkan sesuatu raut wajah Bu Diah langsung berubah seketika.
"Tania, boleh minta waktu sebentar?" tanya Pak Aldo pada kekasih ponakannya itu.
Tania mengangguk lalu berjalan ke depan. Pak Aldo mengajaknya keluar kelas sebentar. Tania mengikuti Pak Aldo, sebelumnya ia sudah meminta ijin kepada Bu Diah.
"Tania, kamu pacarnya ponakan saya kan?" tanya Pak Aldo.
Tania mengangguk. "Iya, Pak. Memangnya kenapa?" tanyanya sopan.
Pak Aldo mengurut pelan pelipisnya, lalu menarik nafas. "Kamu ikut saya saja, saya tidak bisa memberitahu kamu disini."
Ucapan Pak Aldo membuat banyak spekulasi timbul di otak Tania. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Pak Aldo tiba-tiba membicarakan soal Gamma.
Tania memasuki mobil Pak Aldo. Di dalam mobil hening, keduanya tak saling bicara dan sibuk dengan fikiran masing-masing.
Sekitar dua puluh lima menit kemudian, mobil Pak Aldo berhenti di sebuah parkiran rumah sakit. Kenapa Pak Aldo mengajaknya ke rumah sakit ini, tempat dimana dirinya pernah dirawat dulu.
Belum sempat Tania bertanya dengan Pak Aldo, tangannya sudah diseret Pak Aldo untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Langkah mereka berhenti di depan lorong bertuliskan privat family room. Pak Aldo kemudian berjalan mendahului Tania. Gadis itu membuntuti Pak Aldo hingga mereka tiba di sebuah ruangan. Ruangan besar tersebut di dalamnya seperti ada ruangan lagi, seperti sebuah kamar.
Pemandangan yang pertama kali Tania lihat saat mereka tiba di ruangan tersebut adalah Risa menangis di pelukan Gavin. Bocah SMP itu juga terlihat matanya sembab. Disana hanya ada Risa,Gavin, Tania, dan Pak Aldo. Oh satu lagi, ada seorang gadis mungkin usianya sama dengan Tania sedang duduk di samping Risa sambil menundukkan kepala.
Siapa gadis itu? Tania belum pernah melihatnya sebelumnya. Dan dimana Gamma, kenapa saat mama dan adiknya menangis dia tidak ada
Semua orang terlihat sedih dan panik. Tania menoleh ke arah Pak Aldo, berharap ia akan mendapat jawabannya. Namun nihil.
Pintu ruangan itu terbuka, membuat semua langsung menatap ke sumber suara. Dokter Andi dan Wahyu keluar dari ruangan tersebut, wajah keduanya terlihat kusut.
Risa, Gavin, Aldo, dan gadis yang Tania belum ketahui namanya segera berlari menuju mereka dan diikuti dengan Tania.
"Gimana kondisi Gamma, Pa?" tanya Risa pada Wahyu.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Gamma. Kenapa Tania disini seakan yang paling bodoh karena tidak mengetahui apa-apa.
(。;_;。)