![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
Seperti yang dijanjikan Gamma kemarin. Pagi ini Gamma sudah berada di rumah sakit guna membesuk Tania. Sebelum menuju ruang rawat Tania, Gamma lebih dulu ke ruang dokter untuk menemui dokter Andi dan Papanya. Gamma menanyakan soal perkembangan kesehatan Tania.
"Om, Tania sakitnya enggak bahaya kan?"
"Enggak, bentar lagi juga kondisinya bakal pulih seperti semula," jawab dokter Andi.
Gamma menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Wahyu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati putranya.
"Papa masih penasaran ada hubungan apa sih kamu sama gadis itu?"
"Pa, Gamma kemarin udah bilang kalau Gamma sama Tania enggak ada hubungan apa-apa. Kita kenal juga baru beberapa minggu,"jelas Gamma pada papanya.
Wahyu berfikir sejenak, lalu menghela nafas. "Tapi kok papa lihat kamu perhatian banget sama gadis itu, Gam?"
Pendapat Wahyu disetujui oleh Andi. "Bener tuh yang dibilang sama papa kamu,Gam."
"Gamma perhatian sama dia karena dia beda dari cewek kebanyakan, dia kelihatan gadis yang baik dan apa adanya. Gamma juga perhatian sama dia karena Gamma peduli sekaligus penasaran sama semua masalah yang ada di hidup dia," jawab Gamma menjelaskan.
"Emang dia punya masalah apa, sampai kamu yang biasanya tidak peduli dengan urusan orang mendadak peduli dengan urusan gadis itu?" tanya Wahyu yang masih penasaran.
Gamma menggelengkan kepalanya. "Gamma belum tahu pasti tentang masalah dia yang sebenarnya, tapi sejauh ini yang Gamma tahu masalah dia ada pada mamanya,"
"Maksudnya?" tanya Wahyu dan Andi bersamaan.
"Ya gitu, perlakuan mamanya aja kasar banget sama dia, enggak wajar seorang mama melakukan itu pada anaknya."
"Enggak wajar bagaimana?" kali ini Andi yang bertanya kepada Gamma.
Gamma sedikit menggigit ujung bibirnya saat bayangan Tania ditampar dan di maki mamanya terlintas di kepalanya.
"Mana ada sih,Om,Pa, seorang mama yang melihat anaknya sakit bukannya di doain untuk sembuh malah disuruh mat."
Wahyu dan Andi kompak mengeryitkan kedua alis mereka bingung. Baru kali ini kisah di sinetron nyata terjadi di sekitarnya.
"Udahlah, Gamma mau jenguk Tania dulu," pamit Gamma lalu berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
(。;_;。)
Saat Gamma tiba di depan pintu rawat Tania, ia mengurungkan niat untuk membuka pintu tersebut. Gamma lebih dulu mendengarkan ucapan yang di keluarkan Citra dulu.
"Besok Sabtu saya akan menikah, saya harap kamu enggak dateng di acara pernikahan saya. Saya enggak mau menanggung malu di depan suami dan anak tiri saya. Oiya, setelah saya menikah, suami dan anak tiri saya akan tinggal bersama dengan kita, jadi saya harap kamu tidak berbuat kekacauan dan mencampuri urusan keluarga saya!!" ucap Citra kepada Tania di dalam ruang perawatan.
"Tapi kan aku anak mama, masa aku enggak boleh datang di hari bahagia mama," jawab Tania dengan suara yang terdengar masih lemas.
"SUDAH SAYA KATAKAN KE KAMU, JANGAN PANGGIL SAYA MAMA KARENA KAMU BUKAN ANAK SAYA DAN SAYA BUKAN MAMA KAMU!!KAMU CUMA ANAK YANG LAHIR KARENA KESALAHAN!!" Teriak Citra hingga membuat orang yang berlalu lalang di depan ruang rawat Tania berhenti sesaat.
Isak tangis Tania mulai terdengar oleh Gamma dari balik pintu.
"Yasudah kalau memang Mama tidak mengijinkan Tania datang ke hari bahagia Mama. Tania harap Mama selalu bahagia walaupun bukan Tania yang menjadi sumber kebahagian Mama," jawab Tania dengan suara lemas dan parau.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di dalam ruang tersebut. Terdengar suara sepatu highheels bergerak mendekati pintu. Gamma segera menyingkir dari depan pintu dan bersembunyi dibalik pilar.
Saat Gamma memasuki ruang rawat Tania, hal yang pertama ia lihat adalah kamar yang berantakan dan darah mengalir dari tangan Tania yang semula terpasang infus.
Dengan cekatan Gamma segera memencet tombol darurat yang ada di sisi ranjang Tania guna memanggil dokter. Kemudian Gamma menghapus air mata Tania dan menenangkannya.
"Ssst, lo tenang aja bentar lagi ada dokter kesini buat bantuin lo," ucap Gamma kemudian mengelus lembut puncak kepala Tania.
"A.. Aa.. aku takut darah," jawab Tania dengan nada bergetar.
"Lo sabar ya, tahan sebentar," titah Gamma pada Tania yang mukanya semakin pucat.
Tak lama setelah itu dokter Andi dan dua orang suster datang membantu Tania. Dokter Andi memasang kembali infus di tangan Tania dibantu dengan kedua suster tadi.
Gamma yang melihat darah keluar dari tangan Tania merasa merinding, ia tak bisa membayangkan sakitnya.
Setelah Dokter Andi dan kedua suster berhasil membuat Tania tenang dan kondisinya kembali stabil, dokter Andi dan kedua suster tersebut pamit undur diri.
Gamma lebih mendekat ke ranjang Tania. "Bu Mina kemana?"
"Bu Mina tadi pulang buat ambil baju dan beli makanan," jawab Tania.
Gamma mengarahkan netranya je arah tangan Tania yang tadi keluar banyak darah. "Kok itu bisa sampai lepas?"
Tania tersenyum menatap tangannya yang berdarah tadi lalu menunduk.
"Kasih tahu gue, siapa yang udah lakuin hal ini ke lo!" desak Gamma.
"Mama aku, tapi tadi mama enggak sengaja kok narik selang infus ini sampai jarumnya juga ikutan lepas,"
Tanpa Tania sadari kalau Gamma telah mengeraskan rahangnya.
"Terus yang berantakin ruangan ini siapa? Mama lo juga?"
Tania menggeleng. "Bukan bermaksud mau ngeberantakin, tapi tadi ada tikus lewat jadi mama nyari itu tikusnya sampai harus ngeberantakin semua ini,"
Dalam hati Gamma tertawa geli. Alasan macam apa yang Tania gunakan saat ini, sangat tidak masuk akal.
Gamma diam tidak mau mendebat Tania untuk saat ini. Biarlah Tania berbohong yang penting Gamma tahu cerita yang sesungguhnya.
"Oiya, besok Sabtu lo harus temenin gue nonton sebagai ganti gue nemenin lo selama di rumah sakit," ajak Gamma pada Tania dengan tujuan supaya Tania tidak memikirkan tentang pernikahan mamanya.
Tania diam tidak memberikan jawaban.
"Oke, lo diam berarti iya. Besok Sabtu jam 08.00 pagi gue jemput,"
"Tapi aku enggak bisa, kayaknya aku masih butuh istirahat deh," jawab Tania dengan raut muka yang terlihat sedih.
"Inget, gue enggak nerima penolakan," ujar Gamma final.
Bertepatan dengan itu pintu rawat Tania dibuka dan munculah sosok Bu Mina dengan masing-masing tangan membawa tas dan kantong kresek besar.
(。;_;。)