TRUE LOVE [TAMAT]

TRUE LOVE [TAMAT]
Chapter 24



Waktu studytour telah selesai. Semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan.


"Gam, kita mau ke makam Angel nanti sore atau besok pagi?" Tania membuka suara setelah daritadi hanya terdengar suara musik di dalam mobil.


Gamma menengokkan kepalanya sekilas. "Kamu maunya kapan?"


"Sekarang mendungnya gelap banget, kemungkinan nanti sore hujan. Kalau besok pagi gimana?"


"Oke, besok pagi aku jemput."


(。;_;。)


Ditengah perjalanan pulang setelah Gamma mengantar Tania, ia mendapat sebuah pesan yang membuat dirinya mengurungkan niat untuk kembali ke rumah.


Gamma yang harusnya membelokkan stir nya ke arah kanan, kini ia mengarahkannya ke arah kiri. Tujuannya kali ini adalah sebuah bangunan tersembunyi yang terletak di sudut kota.


"Gimana, buktinya udah dapet semua?" Gamma menghampiri seseorang yang sedang fokus mengamati sebuah video di laptop.


Cowok itu nendongak. "Kurang satu bukti yang lebih kuat supaya dia dapat hukuman mati atau minimal dia dapat hukuman penjara seumur hidup.


Gamma menganggukkan kepalanya paham.


"Tapi menurut gue bukti yang sekarang ini udah cukup buat masukin dia ke penjara dan bisa dapat hukuman itu."


"Kalau ***** jangan kebangetan," cowok itu menepuk pundak Gamma lalu berlalu dari ruangan tersebut. Meninggalkan Gamma yang masih bertanya-tanya.


(。;_;。)


Keesokan paginya Gamma kembali ke rumah Tania.


"Maaf lama nunggunya," ucap Tania saat memasuki mobil Gamma.


Gamma menatap penampilan Tania lekat.


"Kamu cuaca panas kayak gini pakai sweater turtle neck?"


Tania mengangguk. "Emang enggak boleh?"


"Bukannya enggak boleh. Emang kamu enggak gerah gitu?" jelas Gamma.


"Enggak. Dah yuk berangkat."


Saat Tania mengalihkan tatapannya ke depan, Gamma tak sengaja melihat ada ruam biru dan luka seperti bekas benda tajam yang masih terbuka di leher belakang kekasihnya.


"Kamu sakit?" tanya Gamma lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Tania.


Tania hanya menggeleng sebagai jawaban.


Memegang kening Tania hanyalah alibi Gamma supaya kekasihnya tidak mencurigai kalau salah satu yang gadis itu sembunyikan ternyata sudah ketahuan.


Gamma mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Mau sarapan dulu atau langsung ke makam Angel?" tanya Gamma sambil sesekali melirik Tania.


"Langsung ke makam Angel aja, Gam," jawab Tania. "Cuaca dari kemarin mendung, jadi kita langsung ke tujuan utama aja," lanjutnya.


"Oke, Sayang."


(。;_;。)


Mobil Gamma melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup sepi. Mungkin kalau mereka berangkat lebih siangan jalanan akan sesak dan padat merayap.


Gamma merasakan ada banyak hal yang Tania tutupi dari dirinya.


Sejak memasuki mobil tadi, sorot mata Tania tidak seperti biasanya. Aura gadis itu seakan menyimpan banyak sekali beban yang tak dapat diutarakan.


"Babe, are you okay?" salah satu tangan Gamma ia tautkan pada tangan Tania.


Tania memperhatikan tangannya yang digenggam oleh Gamma.


"I'm okay."


Gamma menganggukkan kepalanya. Gamma tahu kalau Tania belum mau menceritakan masalahnya padanya.


"Musiknya aku nyalain ya?" tanya Gamma. Tania hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.


Tania mengarahkan pandangannya pada kaca jendela di sebelahnya. Menatap jalanan ibu kota dengan pandangan kosong. Gadis itu melamun, namun meneteskan airmatanya.


Gamma kembali melirik gadis di sampingnya. Cara gadis itu bernafas berhasil menyita perhatiannya. Pundak gadis itu naik turun tidak beraturan.


Menangislah, Sayang. Kalau itu adalah hal yang bisa membuatmu tenang saat ini.


Gamma menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang pemakaman. Cowok itu lalu mencari tempat parkir supaya tidak menghalangi jalan.


"Sayang, turun yuk," ajak Gamma pada Tania yang memejamkan matanya.


Perlahan kelopak mata gadis cantik itu terbuka. Tidak bisa dipungkiri jika tadi memang benar dia tadi menangis. Kantung mata gadis itu cukup terlihat jelas oleh netra Gamma.


Gamma keluar dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu untuk Tania. Tangannya ia julurkan dan disambit hangat oleh Tania.


Sepasang sejoli itu berjalan beriringan diantara batu nisan yang berjejer. Langkah mereka berhenti pada makam yang tanahnya masih cukup basah. Makam itu terdapat nisan yanh bertuliskan ANGELA MAHESWARI.


Tania duduk bersimpuh di sisi makam tersebut, diikuti dengan Gamma.


"Hi Angel. Kamu sekarang udah enggak ngerasain sakit lagi ya? Kamu pasti sekarang udah bahagia di sana," sapa Tania seolah Angel ada di depannya.


"Hi Ngel. Terakhir lo pengen dapet perhatian dari gue kan? Gue udah di sini sekarang," ujar Gamma.


"Gue yakin, walaupun jasad lo udah terkubur di dalam tanah, raga lo masih bisa lihat gue dan Tania ada di sini," ucap Gamma lagi lalu menggenggam tangan Tania. "Gue minta maaf karena enggak bisa mewujudkan permintaan terakhir lo. Itu karena ada hati yang harus gue juga di sini," lanjut Gamma lalu menatap Tania teduh.


Gamma meletakkan mawar putih yang tadi sempat ia beli saat akan menuju rumah Tania. Diletakkannya mawar itu di atas makam milik Angel.


"Udah mau hujan, aku sama Gamma pulang dulu ya, Ngel," Tania tersenyum lalu menghapus air mata yang menggenangi matanya.


(。;_;。)


Karena hujan mulai turun, Gamma dan Tania memutuskan untuk berlari supaya mereka cepat sampai ke mobil. Namun tak disangka kaki Tania tersandung akar pohon dan mengakibatkan dirinya hatuh terjerembab.


Awhhh


Rintihan Tania membuat Gamma menghentikan larinya. Dengan sigap Gamma langsung mengangkat tubuh Tania.


"Siniin kaki kamu!" titah Gamma saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Tania menggeleng. "Aku baik-baik aja kok, bentar lagi juga sembuh."


"Sampai kapan kamu akan berpura-pura seolah semua yang terjadi sama kamu itu tidak membuat kamu terluka, Tan?" Gamma memijat pangkal hidungnya.


"Maksud kamu?" Tania memandang Gamma bingung.


"Jangan coba menutupi sesuatu dari aku. Aku tau kalau setiap orang punya privasi sendiri-sendiri, tapi tolong kali ini aja, kasih tau aku semua masalah yang daritadi jadi beban buat kamu dan buat kamu nangis."


"Tapi..."


"Aku sayang kamu. Tulus," Gamma menekankan setiap katanya.


"Kamu enggak akan bisa bohong sama aku. Kamu bilang enggak kenapa-kenapa, tapi mata kamu enggak bisa bohongin kenyataan yang ada," Gamma menatap lekat mata gadisnya.


Tania tidak menanggapi setiap kalimat yang Gamma ucapkan. Namun, gadis itu spontan langsung menghamburkan badannya pada pelukan sang kekasih. Dia menangis dalam pelukan seorang Gamma Stevano Aldebaran.


"Maafin aku," ucap Tania pelan.


(。;_;。)


Tbc.


Kira-kira siapa cowok yang ditemui Gamma?


Siapa yang bakal masuk penjara?


Kenapa Tania sedih?


Fyi, beberapa part lagi TL bakal ending.


Terimakasih yang udah setia baca TL.


MAU HAPPY ENDING ATAU SAD ENDING?


Lv u