![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
(。;_;。)
Rumah sakit adalah tempat yang dibenci oleh banyak orang. Aroma obat-obatan yang menyeruak membuat orang mungkin tidak betah berlama-lama berada di rumah sakit. Hal itu adalah yang Tania rasakan, dia benci rumah skait.
"Permisi ,Sus. Ruangan atas nama Angela Aurora dimana ya?" tanya Gamma pada teknisi rekam medis yang sedang bertugas.
Petugas itu memeriksa data yang ada pada komputer. "Atas nama Angela Aurora ada di ruang Kenanga nomor 13. Silahkan naik ke lantai 3, ruangannya ada di bagian kiri."
Gamma mengangguk. "Terimakasih, Sus."
Gamma menggandeng tangan Tania menuju lift.
"Lusa kita study tour ya?" tanya Tania aat pintu lift sudah tertutup sempurna.
"Iya, kamu harus ikut pokoknya. Nanti habis dari sini kita mampir supermarket buat beli bekal."
"Kan masih lusa, Gam."
"Walaupun masih lusa kalau persiapan udah beres semua kan enggak ada salahnya."
"Yaudah iya. Nanti mampir ATM dulu."
"Oke."
Lift berdenting pertanda sudah berhenti pada lantai yang dituju. Gamma kembali menggandeng tangan Tania, cowok itu merasakan genggaman tangan kekasihnya semakin erat.
"Santai aja enggak usah tegang, habis bujuk Angel kita pulang," tangan Gamma beralih merangkul bahu Tania.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan Kenanga 13. Gamma mengetuk pelan pintu bercat putih tersebut.
"Gamma, tante enggak nyangka kamu mau datang ke sini," sapa wanita dengan rambut pirang dan iris mata coklat, mirip dengan Angela.
"Angel mana, Tante? Saya enggak punya banyak waktu disini, habis ini saya ada acara dengan pacar saya."
"Oh ini pacar kamu?" tanya wanita itu lalu tersenyum ramah pada Tania. "Perkenalkan saya mamanya Angel."
Tania menjabat tangan mamanya Angel. "Saya Tania, pacarnya Gamma."
Gamma dan Tania kemudian diajak masuk ke dalam ruang rawat Angel.
Diatas ranjang putih itu terlihat Angel sedang menyenderkan tubuhnya pada punggung ranjang. Gadis itu terlihat sedang menatap ke arah luar jendela dengan pandangan kosong.
"Angel, ada Gamma sama Tania ini," Mamanya Angel menyentuh pundak puterinya.
"Hai. Harusnya kalian enggak usah kesini, aku jadi enggak enak sama kalian," ucap Angel, gadis itu membenarkan letak duduknya dan meletakkan bantal pada pangkuannya.
Tania mendekat pada Angel, lalu mendudukkan dirinya pada kursi yang ada di sisi kiri ranjang Angel diikuti oleh Gamma.
"Ngel, lo kalau ngerasa enggak enak sama kita berarti lo harus cepet sembuh. Lo harus mau ngelakuin apa yang dokter anjurin. Lo harus ngelakuin kemo itu, Ngel. Semua demi kebaikan lo," bujuk Gamma.
Angel meneteskan air matanya. "Enggak guna lagi kemoterapi bagi aku, mungkin enggak sampai seminggu lagi gue udah mati, Gam."
Tania menggenggam tangan Angel. Ia berusaha menyalurkan semangat kepada Angel.
"Ngel, jangan suka ngomong gitu. Yang dibilang Gamma bener, kamu harus ikut saran dokter biar kamu cepet sembuh."
"Enggak, Tan." Angel menggeleng. "Semua bakal sia-sia pada akhirnya. Kondisi aku semakin buruk dan enggak ada harapan untuk sembuh lagi."
"Aku yakin kamu kuat menghadapi penyakit kamu, Ngel. Kamu kemo ya, setidaknya itu bisa ngurangin rasa sakit kamu," Tania kembali membujuk Angel.
"Enggak, aku udah bulatin tekad untuk berhenti kemo sejak dua hari yang lalu."
Gamma menyentuh bahu Tania membuat yang empu mengalihkan tatapannya padanya.
"Lusa gue sama Tania bakal studytour selama satu minggu. Kemungkinan besok gue sama Tania enggak bisa kesini. Tapi gue harap sebelum gue sama Tania berangkat studytour, gue dan Tania udah dapat kabar baik tentang kesehatan lo."
Angela hanya diam, gadis itu menundukkan kepalanya.
"Dan gue mau minta maaf ke lo karena gue emang bener-bener emggak bisa wujudin keinginan lo buat deket sama gue lagi. Gue udah maafin peristiwa yang dulu. Sekarang kehidupan gue udah berubah, begitu juga dengan lo. Kita punya hidup masing-masing. Tapi kita bisa mulai dengan cerita baru sebagai teman, misalnya."
Angel mendongakkan kepalanya menghadap Gamma. Gadis itu menyunggingkan senyumnya.
"Makasih, Gam. Gue harap kalau gue udah mati sekalipun gue masih ada di hati kalian, walaupun gue tahu enggak ada sisi baik atau kenangan yang bisa gue ciptain bareng sama kalian."
"Kamu harus semangat sembuh," Tania menyemangi Angel, lalu keduanya berpelukan.
"Kalau gitu lo mau kan dikemo?" tanya Ganma pelan.
"Jangan ragu dong, lo harus yakin kalau lo bisa sembuh," ucap Gamma lalu menepuk pelan pundak Angel.
(。;_;。)
Saat ini Gamma dan Tania sedang berada di dalam mobil berdua menuju supermarket guna membeli beberapa camilan untuk dijadikan bekal saat studytour.
Gamma melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan ibu kota yang mulai padat pengendara.
Mobil berhenti pada halaman parkiran supermarket besar. Supermarket ini merupakan supermarket yang sama yang pernah mereka kunjungi berdua saat Tania disuruh Zara membeli mangga.
"Gam, ngomong-ngomong tadi enggak jadi ke ATM."
"Pinterr, kan di dalam nanti bisa," Gamma mendorong dahi Tania dengan jari telujukknya.
Tania tersenyum polos menampakkan gigi-giginya. Gamma baru menyadari kalau gigi milik Tania sangatlah rapi.
"Lagian juga kenapa sih pakai acara bingung segala. Kamu nanti ambil aja barang sama makanan yang kamu butuhin, jangan nanggung-nanggung."
"Aku terlalu banyak utang sama kamu. Aku enggak mau nambah-nambah utang ke kamu lagi, takut enggak bisa bayar."
"Utang apa sih?! Aku tuh ikhlas bantuin kamu, Sayang."
"Enggak bisa gitu dong, masa kamu selalu bayarin aku. Pokoknya kamu jangan lupa total semua utang aku ke kamu."
"Iya-iya terserah kamu. Aku iyain aja biar kamu bahagia. Kan bikin pacar bahagia bisa dapat pahala," Gamma lalu mengacak gemas rambut Tania.
"Yaudah, ayo masuk."
Keduanya menyusuri supermarket yang cukup luas itu dan memilih semua barang yang sekiranya mereka butuhkan.
Mulai dari perlengkapan mandi dan makanan ringan semua mereka jelajahi.
Gamma melihat Tania yang terlihat lelah. Gadis itu beberapa kali menarik nafasnya panjang.
"Kamu naik ke troli gih, biar aku dorong biar kamu enggak capek," suruh Gamma pada Tania.
Sebelumnya troli yang sudah terisi beberapa belanjaan itu sudah Gamma tata sedemikian rupa agar Tania mendapat tempat untuk duduk.
"Malu ih, dilihatin banyak orang nanti. Aku juga takut kalau trolinya bakal jebol, aku gendut."
"Enggak usah dipeduliin, naik aja. Tenang ini trolinya kuat kok."
Dengan ragu-ragu Tania naik kemudian duduk di troli tersebut. Gamma tersenyum puas melihat betapa lucunya Tania yang terlihat was-was karena takut jatuh.
Gamma mendorong troli yang berisi Tania dan beberapa belanjaan itu.
"Permisi mbak, mas. Boleh saya menganggu waktu kalian sebentar?" seorang wanita dengan perut buncit menghampiri mereka.
Gamma menghentikan trolinya.
"Boleh, Bu. Ada apa ya?"
Wanita itu terlihat berfikir sejenak. "Boleh saya minta foto sama kalian berdua. Ini kemauan bayi dalam kandungan saya."
Ibu hamil itu mengelus perut buncitnya.
Gamma dan Tania mengangguk antusias. Tania meminta bantuan pada Gamma untuk membantunya turun dari troli. Kemudian mereka melakukan sesi foto bersama ibu hamil yang tidak mereka kenali.
"Sayang, besok kalau kamu hamil kayaknya lucu deh. Perutmu buncit dan pipi kamu jadi tembem. Duhh enggak kebayang lucunya kamu," Gamma menyengir lalu mencubit kedua pipi Tania.
Tania menabok lengan Gamma cukup keras. "Pikiran kamu itu kejauhan. Sekolah yang bener dulu, sukses dulu."
(。;_;。)
Aku ngetik apasii di chapter ini😣
Maaf
Maaf
Maaf
Terimakasih udah baca cerita ini. Semoga suka ya😁