![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
Selain jam pulang sekolah, jam istirahat adalah hal yang paling dinanti oleh anak sekolahan. Tidak dapat dipungkiri kalau jam istirahat membuat siswa yang awalnya sudah mengantuk karena mendengar penjelasan guru mendadak matanya terbuka lebar saat mendengar bel istirahat.
"Tan, kantin yuk. Laper nih gue," ajak Gamma pada Tania yang masih sibuk mencatat materi yang tadi diterangkan oleh guru.
Tania menghentikan kegiatannya. "Nanggung tinggal sedikit lagi, sabar ya," jawab Tania.
Gamma mengangguk. Karena dia merasa dicuekin oleh Tania, ia dengan jail merebahkan kepalanya di meja lalu memandangi Tania yang masih fokus dengan catatannya.
Tania merasa risih karena terus-terusan ditatap oleh Gamma. Ia kemudian menutupi muka cowok yang berstatus menjadi pacarnya dengan buku LKS.
Gamma menyingkirkan buku tersebut. "Jahat banget, muka pacar sendiri digituin," ucap Gamma pura-pura merajuk.
Tania menutup bukunya. "Dah, yuk ke kantin," ajak Tania lalu menggandeng tangan Gamma.
Gamma tersenyum puas saat tanggannya digandeng oleh Tania. "Jadi makin sayang kan," ucapnya dan membuat Tania tersipu.
"Lo cantik banget sih, gue jadi ngebayangin besok anak kita seperfect apa. Daddy nya ganteng, mommy nya cantik. Sempurna,"
Tak
Sebuah sentilan mendarat di jidat Gamma. "Sekolah dulu yang bener," ucap Tania membuat Gamma mengerucutkan bibirnya layaknya anak kecil yang gagal mendapat permen.
Sejak mereka jadian, banyak sikap keduanya yang berubah. Tania menjadi lebih banyak bicara dan Gamma yang semakin memperlihatkan sifat konyol nya.
(。;_;。)
Setibanya di kantin, banyak orang yang melihat ke arah mereka. Ada yang melihat dengan tatapan iri, ada yang baper sampai kebanyakan menuangkan saos, dan tak sedikit juga yang memandang benci pada Tania.
"Duduk disana aja yuk," ucap Gamma seraya menunjuk meja kosong di pojok kanan kantin.
Saat mereka melewati meja tempat Zara dan antek-anteknya berkumpul. Dengan sengaja Zara meludah tepat di depan kaki Tania.
"Jorok banget sih lo jadi cewek," ucap Gamma sambil memandang Zara jijik.
Belum sempat Zara menjawab ucapan Gamma, Tania lebih dulu menarik tangan Gamma untuk menjauh dari meja Zara.
"Udah ihh, biarin aja," ucap Tania karena melihat muka Gamma yang masih menatap jengkel ke arah Zara.
Tiba-tiba Zara berdiri dan mendekat ke arah tempat duduk Tania.
"Eh anak pembantu," ucap Zara lalu dengan muka jahatnya ia menumpahkan saos batagor ke seragam Zara.
"LO GILA YA!!!" Bentak Gamma pada Zara.
Zara tersenyum miring tidak memperdulikan Gamma. "Rasain lo! Makannya sadar diri, lo itu cuma anak pembantu, jadi jangan kecentilan dong," ucap Zara.
Tania hanya diam sambil membersihkan saos batagor di seragamnya yang semula berwarna putih kini berubah menjadi coklat.
"Lo itu dikasih mulut sama Tuhan harusnya digunakan untuk hal yang baik, bukannya menghina orang sembarangan. Gue sumpahin dower sampai tanah tuh mulut lo!!" ucap Gamma lalu menuntun Tania keluar dari kantin.
Saat akan keluar kantin, Gamma lebih dulu meminta tolong seorang siswa untuk membawakan makanan ke kelasnya.
(。;_;。)
Setelah keluar dari kantin, Gamma segera menyuruh Tania membersihkan diri.
"Baju aku kotor, aku juga enggak ada baju ganti," ucap Tania.
"Tenang, pacar lo orang kaya kok. Lo tunggu sini dulu, gue mau ke koperasi beliin lo baju," jawab Gamma.
Belum sempat Tania menahan Gamma, cowok itu sudah pergi duluan. Tania menghela nafas mengetahui kelakuan pacarnya yang semakin hari semakin absurd.
Beberapa menit kemudian Gamma telah kembali dengan tangan yang menenteng sebuah paperbag.
"Nih seragamnya, buruan ganti!" ucap Gamma sambil menyerahkan paperbag yang ia bawa kepada Tania.
"Makasih, Gam," ucap Tania kemudian berjalan menuju ruang ganti.
Selama Tania mengganti baju dan membersihkan diri, Gamma dengan sabar menunggu Tania sambil memainkan game online di HP nya.
Victory!!
"Yess, gue menang!!!****** lo kalah," ucap Gamma yang tak menyadari jika Tania sudah berdiri di sebelahnya.
Tania menepuk-nepuk bahu Gamma pelan. "Gam, Gamma!!"
"Aku tadi udah bilang, manggil-manggil kamu juga, tapi kamu nya bilang sebentar."
Gamma lagi-lagi tersenyum, namun senyuman kali ini seperti senyuman malu-malu.
"Cewek tadi siapa namanya?" tanya Gamma.
"Cewek yang di kantin tadi?"
Gamma mengangguk.
"Dia Zara, murid baru."
"Wah murid baru udah sembarangan aja, minta di suntik mati tuh anak," jawab Gamma menggebu.
"Enggak usah dibahas, ayo ke kelas," ajak Tania dan berjalan lebih dulu meninggalkan Gamma.
Sesampainya mereka di kelas, meja mereka sudah penuh dengan berbagai makanan dan minuman yang ada di kantin, mulai dari bakso, batagor, mie ayam, seblak, cilok, cireng, es doger, pop es, sogem, dan sebagainya.
"Itu kenapa kantinnya pindah ke meja kita?" Tanya Tania polos.
Gamma menggandeng tangan Tania menuju tempat duduk mereka. "Tadi kan belum jadi makan gara-gara diganggu sama si bekantan betina, jadi yaudah kita makan di kelas aja," ujar Gamma dengan santainya.
Tania menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan pemikiran Gamma.
"Terus ini semua siapa yang mau habisin?" tanya Tania lagi.
"Lo!" jawab Gamma singkat dan membuat Tania melotot.
"Perut aku bukan tong, Gamma!!!!" ucap Tania kesal.
Gamma terkekeh, lalu menunjuk semua teman-teman kelasnya. "Guys, bantuin kita habisin ini!" teriak Gamma lantang dan membuat semua teman kelasnya bersorak hore karena mendapat asupan gratis.
Di pertengahan mereka makan, tiba-tiba Gamma kembali bersuara, "Ini nanti kalian bayar sendiri-sendiri di kantin, gue lupa belum bayar tadi."
Reflek beberapa anak tersedak kemudian terbatuk-batuk, ada juga yang baru saja memasukkan makanannya ke mulut lalu kembali dilepehkan. Rata-rata di antara mereka semua menatap Gamma dengan tatapan seolah siap menguliti Gamma hidup-hidup.
"Santai guys, kalem aja. Gue cuma bercanda. Untuk permintaan maafnya, satu minggu kedepan lo semua gue traktir makan di kantin sepuasnya."
"HOREE!!!" Teriak semua murid yang ada di kelas Gamma dan beberapa saat setelah itu seorang guru dengan kacamata tebal bertengger di hidung memasuki kelas tersebut.
"Hari ini kita adakan ulangan dadakan, untuk menguji pemahaman kalian," ucap guru tersebut dan membuat semua murid menggerutu.
Guru itu menatap murid-muridnya satu persatu. "Jangan sampai kalian menyumpahi saya atau menghujat saya diam-diam. Jaman sudah tau, dosa kalian masih banyak," ucap guru tersebut sambil tersenyum puas.
(。;_;。)
"Tan, maaf nih gue enggak bisa nganterin lo pulang. Gue barusan ditelfon Om Aldo suruh nemuin dia, penting katanya," ucap Gamma pada Tania saat mereka sampai di koridor.
"Iya, lagian aku juga bukan anak TK yang harus diantar jemput, tenang aja."
"Ya bukan gitu, tapi kan gue tadi niatnya mau ngajakin ke toko buku dulu."
"Gam, ke toko buku bisa kapan aja. Sekarang mending kamu temuin Pak Aldo dulu."
Gamma mengangguk kemudian meninggalkan Tania. Sebelum itu, Gamma lebih dulu menjabat tangan Tania untuk berpamitan.
Setelah Gamma sudah tak nampak dari pandangannya, Tania kemudian kembali berjalan untuk segera pulang ke rumah. Saat tiba di gerbang sekolah, ia melihat mamanya seperti sedang menunggu seseorang.
Tania hendak menyapa mamanya, namun lebih dulu seorang cewek berlari ke arah mamanya.
"Mama jemput aku?" tanya cewek itu yang tak lain adalah Zara dan disambut pelukan hangat oleh Citra.
Harapan Tania pupus. Ia kira mamanya datang untuk menjemputnya. Ia menertawakan dirinya sendiri yang melupakan fakta bahwa dia bukanlah anak yang di inginkan oleh mamanya. Apalagi sekarang ada orang baru yang hadir di hidup mamanya yang akan lebih mempersulit nya untuk mengambil perhatian mamanya.
"Iya dong sayang, masa mama jemput si anak pembantu itu," Citra berkata seraya mengelus kepala Zara lalu mencium kening gadis itu dengan sayang.
Tania yang melihat hal itu merasakan air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Hatinya seperti tertusuk ribuan jarum. Ia iri kepada Zara, andaikan posisi Zara saat ini adalah dirinya. Ia ingin juga diperlakukan seperti Zara oleh mamanya.
"Ma, aku yang anak kandung mama aja enggak pernah mendapat perlakuan seperti itu," ucap Tania sambil menyeka airmata nya kasar. "Tuhan, kenapa kau memberiku cobaan seperti ini? Kenapa harus aku yang menerima cobaan seperti ini, aku ingin mama, aku ingin merasakan kasih sayang mama. Tuhan, aku mohon berikan aku satu kesempatan untuk bisa merasakan kasih sayang mama."
(。;_;。)