TRUE LOVE [TAMAT]

TRUE LOVE [TAMAT]
Chapter 19



(。;_;。)


Kantin sedang penuh-penuhnya saat jam makan siang. Banyak murid beserta warga sekolah berbondong-bondong mengantri untuk sekedar mendapatkan makan siang.


"Hey, *****. Lama gue enggak ngerjain lo," Zara tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tania yang sedang antri.


Tania tak menghiraukan keberadaan Zara. Zara tersenyum miring lalu menarik sedikit rambut Tania.


"Lo, anak pembantu mau kurang ajar sama gue?"


"Kenapa?!"


"Lo masih tanya kenapa? Lo harusnya sadar kalau lo itu cuma numpang di rumah gue," jawab Zara mendesis.


Apa Zara sudah gila, bagaimana rumah itu diakui sebagai miliknya. Dan dia bilang jika Tania hanya numpang. Ingin sekali Tania mencabik mulut pedas Zara.


"Terus mau kamu apa?" tanya Tania yang mulai kehilangan kesabaran.


"Gue mau, lo nant...."


"Heh, bekantan betina. Jauh-jauh dari pacar gue!!" Gamma yang baru saja datang langsung mencela ucapan Zara.


Tania terkejut dengan kehadiran Gamma. Cowok itu jalannya masih tertatih dan dua jam lagi jam sekolah sudah habis, mengapa dia ada di sekolah.


Zara memutar bola matanya malas karena kedatangan Gamma. Dia sudah tahu siapa Gamma, ia mencari aman tidak membuat masalah dengan cowok itu.


"Guys, cabut," ajak Zara kepada kedua antek-anteknya.


Gamma memutar badan Tania. "Kamu baik-baik aja kan?"


"Seperti yang kamu lihat," jawab Tania.


Setelah mendapat pesananannya, Gamma mengajak Tania untuk pergi sebentar ke taman samping sekolah. Menurut Gamma itu adalah tempat tersejuk kedua setelah rooftop.


Tania mendudukkan dirinya di bawah pohon mangga yang rindang, diikuti dengan Gamma.


"Kamu kok di sekolah?" Tania bertanya sambil memakan kentang gorengnya.


Gamma merampas kentang goreng yang akan Tania lahap. "Minta satu," ucapnya saat kentang goreng itu sudah masuk ke mulutnya.


"Aku bosen di rumah. Angela tadi datang, karena aku malas denger ocehan dia yaudah aku tinggalin aja,"


Tania melotot, "Gamm, ayolah. Kemarin kamu bilang mau nurutin kemauan aku buat baik sama Angela. Sementara aja."


"Tan, tolong kamu jangan paksa aku. Jangan karena rasa kasihan kamu sama dia terus kamu ngorbanin aku. Aku udah coba buat baik sama dia, tapi enggak bisa. Otak sama hati aku enggak sinkron."


Tania menghebuskan nafasnya. "Kalau suatu saat tiba-tiba, maaf," Tania menjeda kalimatnya membuat Gamma menatap lekat dirinya.


"Apa?"


Tania merubah ekspresinya menjadi lebih serius. "Suatu saat dia udah enggak ada, apa yang bakal kamu lakuin?"


Gamma menaikkan pundaknya. "Takziah mungkin. Doain dia dapat tempat terbaik di surga," jawab Gamma sarkras.


"Ohh itu bukan jawaban yang sama sekali enggak ada di otak aku."


"So?" Gamma mengalihkan pandangannya menatap kerumunan siswa laki-laki sedang mendrible bola basket.


"Apa kamu enggak ada perasaan menyesal karena enggak mau mewujudkan keinginan dia dekat sama kamu lagi?" ucap Tania lirih.


Gamma menggeleng. "Buat apa menyesal?"


"Keinginan dia buat deket sama kamu lagi enggak bisa kamu penuhi."


"Itu bukan urusan aku. For your information aku kalau udah sekalinya kecewa sama orang, aku enggak akan bisa kembaliin perasaan aku semula. Aku udah enggak bisa nerima orang yang udah pernah ngecewain aku."


Bel sekolah berbunyi. Gamma beranjak berdiri dibantu dengan Tania.


"Tolong jangan bahas Angela lagi. Ini hubungan kita berdua, cukup aku dan kamu. Jangan pernah bahas orang lain dalam hubungan kita."


Tania mengangguk. Ia juga tidak bisa memaksa Gamma lagi untuk lebih mengasihani Angela. Benar kata Gamma ini adalah hubungan mereka berdua.


"Sekarang kamu ke kelas dulu. Nanti pulang sekolah aku jemput kamu."


Tania tersenyum lalu melangkah meninggalkan Gamma. Tanpa Tania ketahui sebenarnya Gamma daritadi menahan emosinya saat Tania mulai membahas tentang Angela.


(。;_;。)


Tania saat ini sedang berada di dalam mobil Gamma. Berhubung kaki Gamma gerakannya masih dibatasi oleh dokter maka kali ini Pak Tomo yang menyetir.


"Gam, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Boleh?" tanya Tania hati-hati.


Gamma menoleh kemudian menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu punya musuh di sekolah?"


Gamma berfikir sejenak. "Kayaknya enggak. Murid di sekolah aja yang aku kenal cuma sedikit."


Gamma menggeleng. "Kenapa kamu tanya gitu?"


Tania ragu untuk menceritakan pasal kakak kelasnya yang pernah mendatanginya saat Gamma masih dirawat di rumah sakit.


Gamma mencolek pipi Tania. "Jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku. Kalau ada yang jahatin kamu, kamu bilang sama aku."


"Waktu kamu di rumah sakit, ada kakak kelas yang datengin aku."


Gamma menaikkan sebelah alisnya. "Cewek atau cowok?"


"Cowok. Dia bahas tentang kecelakaan kamu."


Ekspresi Gamma berubah serius. "Maksudnya."


"Dia bilang kalau kecelakaan kamu udah direncanakan. Ada orang di balik kecelakaan kamu."


"Aku udah tahu," jawab Gamma singkat.


Kini giliran Tania yang ekspresinya berubah serius.


"Kamu udah tahu dalang dari semuanya?" Tania menatap Gamma bingung.


"Iya. Kakak kelas yang datengin kamu itu adalah saksi mata kecelakaan itu."


"Terus siapa pelakunya?" tanya Tania penasaran.


Gamma tertawa renyah. "Tunggu tanggal mainnya supaya lebih asik."


Tania memutar bola matanya. Kenapa Gamma terlihat santai kalau kecelakaan itu sudah direncanakan. Apa Gamma tidak merasa khawatir jika pelakunya akan bertindak lebih?.


(。;_;。)


Mobil yang mereka tunggangi berhenti di depan sebuah bandara internasional. Gamma mengajak Tania turun dari mobil. Dengan sedikit cengo Tania berjalan mengikuti Gamma.


"Gavin hari ini balik. Tuh bocah katanya enggak betah sama polusi di sini," ucap Gamma tiba-tiba menjawab kebingunan Tania.


"Kesepian dong kamu enggak ada Gavin?"


Gamma mencebikkan bibirnya. "Kesepian? Dih. Yang ada enggak ada dia aku bebas."


"KAKAKKK!!" teriak seseorang dari ujung lorong dengan pakaian yang terlihat seperti pemimpin tawuran.


Tania dan Gamma membelakkan tawanya. Lalu saat itu juga Gamma menyemburkan tawanya melihat penampilan absurd adik tirinya itu.


"Heh bocah, lo mau naik pesawat atau mau begal orang?" ucap Gamma dengan memandang penampilang Gavin dari rambut sampai ujung kaki.


Celana jeans sobek-sobek dengan kaos putih serta jaket jeans. Kacamata hitam serta sneakers putih membuat penampilan Gavin menjadi bahan ledekan Gamma.


"Lo habis nyungsep? Celana lo sobek gitu," ledek Gamma sambil menunjuk celana Gavin.


"Kakak enggak tahu kalau ini lagi jamannya. Kata Mama," ucap Gavin membela diri.


"Serah deh. Asal kau bahagia," ucap Gamma pasrah.


Tania melihat interaksi antara Gamma dan Gavin membuat batinnya meringis. Kapan dirinya akan merasakan keakraban dengan saudara tirinya.


"Kak, jagain kakaknya Gavin ya. Kalau nakal tinju aja pantatnya," ucapan Gavin membuat Tania tersadar dari lamunannya.


Tania tersenyum kepada Gavin. "Kak Gamma enggak nakal kok. Gavin jaga diri baik-baik disana, enggak boleh bandel, dan jangan lupa belajar yang bener," ujar Tania menasehati Gavin.


Gavin mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.


"Oiya, mama sama papa kamu mana, Gam?" tanya Tania yang baru menyadari jika Gavin tadi hanya sendiri.


"Tuh," Gamma melirik pada dua orang yang berjalan ke arahnya sambil membawa tiga kantong keresek besar.


Gavin tersenyum sumringah saat melihat kedatangan mama dan papanya.


Gamma mengeryitkan keningnya bingung. "Kalian bawa apa sih?" tanyanya saat Wahyu dan Risa tiba di hadapan mereka.


"Itu jajanan Gavin. Kakak jangan pengen," sahut Gavin tiba-tiba.


"Buset, lo mau buka supermarket di pesawat?" Gamma menatap Gavin heran.


"Biarin aja Gam. Yang penting adik kamu senang," ucap Wahyu menengahi.


Risa melihat Tania lalu tersenyum. "Mama kira kamu enggak akan datang,"


Tania mencium tangan Risa. "Tania tadi aja enggak tahu kalau Gamma ngajak Tania kesini. Gamma bilang cuma mau jemput."


Risa menganggukan kepalanya. Bertepatan dengan itu nama Gavin sudah dipanggil untuk segera masuk ke pesawat.


(。;_;。)


Gamma tetep enggak mau peduli sama Angela. Kelewat kecewa sama cewek masa lalunya itu. Dan Gamma juga sudah tahu dalang dari kecelakaannya.