![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
My Playlist: Princesses don't cry- Aviva
(。;_;。)
Tring...tring...
Suara alarm mengusik tidur seorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna coklat. Gadis itu baru bisa tidur dua jam yang lalu. Dengan mata sembab ia bangun lalu beranjak menuju kamar mandi. Rutinitas menangis di setiap malam selalu membuatnya bangun dengan mata yang bengkak. Gadis itu adalah Tania Ayudia.
Hari ini seperti biasanya, pagi hari ia akan berkemas lalu pergi ke sekolah. Setelah pulang sekolah, ia akan pergi ke kedai kopi untuk sekedar menenangkan diri.
Setelah dia selesai menyiapkan semua perlengkapan sekolah ia segera keluar dari kamar.
"Ma, Tania sekolah dulu. Doain Tania biar jadi anak sukses ya, Ma."
Tidak ada respon dari mamanya. Mamanya masih tetap fokus kepada majalah yang sedang dibacanya. Tania menghela nafas pasrah. Harapan hanyalah harapan yang belum bisa terwujudkan.
Tania kemudian berpamitan kepada Bu Mina yang sedang membersihkan dapur.
"Bu, Tania sekolah dulu ya. Jangan lupa doain Tania biar jadi orang sukses," ucapnya lalu menyalami dan mencium punggung tangan Bu Mina yang sudah ia anggap ibunya sendiri.
"Iya. Eh, Neng enggak sarapan dulu? Itu udah Ibu buatin bubur ayam spesial untuk Neng Tania."
"Enggak, Bu. Tania buru-buru soalnya. Bye, Bu!"
(。;_;。)
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia selalu berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah hingga ke sekolahnya tidak terlalu jauh. Suara daun yang bergesekan dan udara pagi yang belum banyak tercemar polusi membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang.
Tania berjalan sambil sesekali bersenandung kecil. Saat sedang menyanyikan lagu kesukaannya, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti menghalangi jalannya.
Kemudian seorang cowok dengan rambut sedikit berantakan keluar dari dalam mobil tersebut. Cowok itu berjalan mendekati Tania.
"Lo anak SMA Gerilya?" tanya cowok itu tanpa basabasi.
Tania mengangguk. "Emangnya kenapa?"
"Lo bareng gue!"
"Hah? Bareng kamu?" Tania membeo.
"Gue enggak terima penolakan. 7 menit lagi gerbang sekolah bakal ditutup, kalau lo jalan gue pastiin lo bakal telat."
"Enggak usah, aku enggak mau ngerepotin..."
Belum selesai Tania berbicara tangannya sudah ditarik oleh cowok itu. Tania tidak mengenalnya, namun cowok itu dengan seenak jidat memaksa Tania.
Sesuai dengan yang dikatakan cowok yang sampai sekarang Tania tidak ketahui namanya, tepat saat mobil masuk ke area sekolah, gerbang sekolah langsung ditutup oleh satpam.
Sampai di parkiran Tania langsung keluar dari mobil hitam berlambang kuda berdiri tersebut. Sebelum itu ia sudah mengucapkan terima kasih kepada sang pemilik mobil.
Belum dua langkah ia berjalan, tangannya kembali dicekal oleh cowok tadi. Tania menatap cowok tersebut geram.
"Lo temenin gue ke ruang kepala sekolah!"
Belum sempat Tania melakukan aksi penolakan, mulutnya sudah dibungkam oleh cowok itu.
"Sttt, udah gue bilang gue enggak nerima penolakan."
Tania mengangguk pasrah. Ia langsung berjalan mendahului cowok tersebut. Sampai di ruang kepala sekolah. Cowok tadi masih setia di belakang Tania.
"Udah sampai. Aku mau ke kelas dulu," pamit Tania.
"Enggak! Lo harus temenin gue."
"Kak, kalau aku nemenin kakak aku bakal telat masuk kelas." Tania mencoba untuk sabar.
"Lo manggil gue kakak? Gue bukan kakak lo!" sewot cowok itu. "Udah buruan ayo masuk!" paksanya.
Cowok itu dengan sembarangan masuk ke ruang kepala sekolah. Tania melongo melihat aksinya. Di otaknya sudah meng klaim bahwa cowok itu tidak punya sopan santun.
"Gamma Stevano Aldebaran, akhirnya kamu mau pindah juga ke Indonesia," ucap kepala sekolah lalu memeluk cowok itu.
Sekarang Tania sudah tau namanya. Namanya Gamma. Manusia pemaksa dengan rupa yang menawan seperti dewa.
Kenapa kepala sekolah seperti sudah kenal akrab dengan Gamma? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Tania.
Setelah dari ruang kepala sekolah, Tania segera mengajak Gamma menuju kelas mereka. Kursi kosong di kelas XI IPA 3 hanya tinggal satu dan itu tepat di sebelah Tania. Mau tidak mau Gamma akan duduk satu meja dengannya.
Banyak murid yang penasaran dengan Gamma saat masuk ke dalam kelas XI IPA 3. Tania cukup paham dengan situasi seperti ini.
"Kamu duduk di sini, tinggal satu bangku ini aja yang kosong." Tania menunjuk kursi kosong tepat di samping tempat duduknya.
Tanpa banyak bicara, Gamma langsung menarik kursi yang Tania tunjuk kemudian mendudukinya.
Gamma melirik Tania yang masih berdiri diposisi semula.
"Lo enggak duduk?" Gamma memandang Tania bingung.
"Aku enggak bisa lewat, jalannya ketutupan kaki kamu."
Gamma melirik kakinya dan benar saja kakinya menghalangi jalan Tania. Ia kemudian menggeser kakinya guna memberi jalan untuk Tania.
"Duduk gih!"
Tania mengangguk kemudian duduk disamping Gamma.
Suasana kelas masih ribut walaupun bel masuk sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Belum ada guru yang masuk karena memang hari ini diadakan rapat guru untuk jam pertama.
Murid cowok berkumpul menjadi satu di pojok kelas dan dapat dipastikan mereka sedang bermain game. Kecuali Gamma. Cowok dengan tatapan mata yang cukup tajam itu sibuk memperhatikan Tania yang sejak tadi hanya diam membaca sebuah novel.
Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Kelas semakin ricuh saat wifi sekolah mendadak lemot. Gamma benci situasi seperti ini, sungguh telinganya gatal mendengar keributan teman barunya.
Tania merasa sedikit terusik karena dari tadi cowok di sampingnya tidak berhenti memandangnya. Tania menutup novel yang daritadi ia baca.
"Kamu kenapa?" Tania memandang Gamma penuh selidik.
"Lo nyaman sekolah di sini? Berisik banget muridnya kayak enggak punya adab."
"Hus,kalau ngomong dijaga," tegur Tania.
"Gue pikir-pikir daritadi enggak ada murid yang ngajakin lo ngomong. Lo ada masalah sama mereka?"
Tania mengulas senyum tipis.
"Kok lo malah senyum sih, gue nanya bukannya dijawab."
"Kamu ternyata banyak ngomong ya, aku kira kamu cuek," jawab Tania untuk mengalihkan pembicaraanya dengan Gamma.
"Terserah gue. Buruan jawab pertanyaan gue!" desak Gamma yang semakin penasaran.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Tania pura-pula lupa.
"Lo ada masalah sama mereka?" Gamma mengulang pertanyaannya.
Tania menggeleng. "Enggak."
"Terus lo kenapa enggak interaksi sama mereka? Om Aldo tadi nyuruh lo bantuin gue biar bisa sosialisasi sama temen baru gue, kayaknya dia salah kalau nyuruh lo."
"Maaf."
"Belum lebaran, maaf nya ditunda dulu."
Gamma memperhatikan kondisi kelasnya. Bahkan murid cewek di sini tidak ada yang mengajak Tania berbicara. Kesannya mereka semua tidak peduli dengan keberadaan Tania.
"Please, gue penasaran banget ini. Lo ada masalah sama mereka semua?" Gamma masih terus bertanya dan Tania hanya menjawab dengan gelengan.
"Lo dikasih mulut buat ngomong, jangan nge geleng terus!! Gelinding lama-lama kepala lo."
Tania membuang nafas kasar. "Aku enggak ada masalah sama mereka. Aku gapernah ngomong sama mereka kalau enggak ada perlunya. Begitupun sebaliknya. Jangan tanya kenapa, karena aku juga enggak tahu."
Untuk pertama kalinya Tania berbicara cukup panjang dengan orang lain selain Mama dan Bu Mina.
Gamma mengangguk ngerti. Di otaknya banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi dengan Tania. Gamma yakin pasti ada sesuatu yang menyebabkan Tania menjadi gadis yang dingin. Untuk pertama kalinya Gamma peduli dengan perempuan selain Bunda dan Oma nya.
"Gue yakin lo pasti ada masalah, lo bisa kok cerita ke gue, siapa tau gue bisa bantu," kalimat itu berhasil lolos dadi mulut Gamma tanpa dirinya sadari.
(。;_;。)