![TRUE LOVE [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/true-love--tamat-.webp)
PLAK PLAK
"KAMU ANAK KECIL UDAH NAKAL BESOK GEDE MAU JADI APA!!!CEPAT BERESKAN SEMUA INI!!"
"Hiks, tapi aku enggak sengaja, Ma."
"KAMU PIKIR SAYA PERCAYA SAMA KAMU? TIDAK!!! ENGGAK USAH PURA-PURA NANGIS KAMU!!SEKARANG CEPAT BERESKAN INI!!POKOKNYA BESOK PAGI KALAU SAYA PULANG, SEMUA INI HARUS SUDAH BERSIH!!"
"Tapi, tangan aku sakit, Ma. Nih tanganku berdarah, mukaku juga sakit," ucap seorang gadis kecil sambil menunjukkan tangannya yang berdarah terkena pecahan kaca.
"KALAU KAMU ENGGAK BERESIN INI, SAYA BUNUH KAMU!!!"
"Mama enggak sayang sama aku?"tanya gadis kecil itu lugu.
"ENGGAK!!!"
Mimpi buruk itu kembali hadir dalam tidur Tania. Gadis berambut coklat dan berkulit putih itu terbangun dengan cucuran keringat di keningnya.
"Tuhan, kenapa mimpi ini kembali hadir? Kenangan ini sangat menyeramkan."
Tok..tok..tok..
Suara ketokan terdengar di jendela kamar Tania. Siapa yang tengah malam begini ada di balkon kamarnya?
Tania kemudian menyibak selimut yang semula ia pakai, kemudian ia berjalan mendekati jendela. Tania ragu untuk membuka jendela, bahkan menarik korden kamar saja ia khawatir.
"Beb, bukain!! Gue kedinginan disini."
Tania menempelkan telinganya di kaca balik korden. "Gamma?"
"Iya gue Gamma pacar lo yang paling kece. Buruan bukain, gue bisa mati konyol kalau kelamaan disini."
Tania menarik korden kamarnya, kemudian membukakan jendela agar Gamma bisa masuk.
Setelah masuk, Gamma langsung berjalan ke arah tempat tidur Tania. Ia kemudian mengambil selimut yang tadi cewek itu gunakan. Tania yang melihat hal itu hanya diam.
"Pinjem bentar, gue kedinginan," ucap Gamma.
Tania mengangguk. "Kamu kok bisa ada di balkon kamar aku?" tanya Tania berbisik.
"Bisa, gue kan titisan malaikat yang bisa terbang," jawab Gamma dengan cengiran khas nya.
"Aku serius, Gam."
"Minta diseriusin? Sabar dong, nunggu ijazah turun baru ijab sah."
"Bodoamat, aku gadengar," jawab Tania sambil menutup kedua telinganny dengan telapak tangan.
"Eh kok kamar lo pindah sih, Beb?" tanya Gamma yang menyadari jika pacarnya tidak menempati kamar sebelumnya.
Tania membuang nafas kasar. "Kamar aku dipakai Zara. Ini sebenarnya kamar Bu Mina tapi Bu Mina udah 3 hari pergi kerumah kakaknya."
"Lo beneran saudaraan sama si bekantan?" tanya Gamma lalu menatap Tania serius.
"Iya."
"Terus lo tadi kenapa enggak jawab pesan gue? Terus enggak angkat telefon gue juga?"
Tania celingukan mencari HP nya. Saat sudah ketemu, ia kemudian mengecek semua notifikasi dari Gamma yang masuk ke HP nya.
"HP nya aku mode hening," jawab Tania sambil menunjukkan bukti kepada Gamma.
"Gue kira tadi lo kenapa-kenapa, makannya gue langsung kesini."
"Terus kok kamu bisa tau kalau aku pindah kamar disini?" tanya Tania heran.
"Pakai perasaan aja sih," jawab Gamma seadanya.
"Dih, nanti kalau kamu malah masuk ke kamar Zara gimana coba?"
"Gampang, gue tendang tuh bekantan sampe langit ketujuh terus nanti gue bikin video gue kasih backsound bunyi clinggg."
"Motivasinya?"
"Biar dia enyah dari bumi ini, sumpah aku enek lihat muka dia, Beb."
"Kenapa kamu ganti nama aku?" tanya Tania yang mulai risih dengan panggilan yang Gamma berikan padanya.
Gamma terkekeh pelan. "Gemes aja gitu, bebi bebi utututu cayang-cayang," ucap Gamma lalu mencubit gemas pipi Tania.
Tania menampik tangan Gamma. "Kamu kesambet kolor ijo?" tanya Tania yang semakin tidak habis fikir dengan tingkah laku cowok dihadapannya ini.
Gamma menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya. "Untung gue sayang, kalau enggak udah gue hujat lo, Beb."
Tania menguap karena rasa kantuknya kembali datang. Ia tadi baru tidur sebentar dan tiba-tiba mimpi buruk itu kembali datang.
"Tidur gih! muka lo udah kucel gitu," suruh Gamma yang melihat muka Tania yang terlihat sangat kelelahan.
"Kalau aku tidur, kamu gimana?" tanya Tania.
"Gue pulang lah, tapi gue disini dulu sampai lo bener-bener tidur baru gue pulang. Gue janji enggak bakal aneh-aneh."
Gamma turun dari tempat tidur Tania. Kemudian Tania yang sekarang berada di atas tempat tidur, sedangkan Gamma, dia duduk di kursi yang semula Tania tempati.
"Gue mau nyanyi biar lo cepet tidur dan nanti tidurnya dapat mimpi indah," ucap Gamma saat Tania sudah mendapatkan posisi nyamannya.
"Pelan-pelan aja, aku takut ada yang dengar," pesan Tania dan hanya diangguki oleh Gamma.
Menutup hari yang lelah
Dimanakah engkau berada
Aku tak tahu dimana
Pernah kita lalui semua
Jerit tangis canda tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya
Tidurlah selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang
Walaupun Tania sudah memejamkan matanya dan nafasnya mulai teratur, Gamma tetap menyayikan lagu itu hingga lirik terkahir. Setelah ia menyelesaikan lagu tersebut, ia segera menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Tania hingga sebatas dada.
Gamma mengelus lembut rambut gadis di hadapannya yang saat ini terlihat sangat nyaman dalam tidurnya.
"Selamat malam, Sayang. Tidur yang nyenyak, semoga besok pagi adalah hari bahagia untukmu. I can’t wait to see you tomorrow, I love you Tania Ayudia."
(。;_;。)
Sekolah dipulangkan lebih awal karena guru mengadakan rapat untuk membahas rencana studytour kelas XI. Oleh karena itu Gamma dan Tania berniat untuk mengunjungi toko buku yang ada di pusat kota.
"Kamu mau nyari buku apa sih, Gam?" tanya Tania di tengah perjalanan. Suara lebih ia kerasakan supaya tidak kalah dengan suara lagu yang sedang diputar.
"Mau nyari buku tentang pilot," jawab Gamma yang masih fokus dengan kemudinya.
"Cita-cita kamu pengen jadi pilot?"
"Iya, pengen tau rasanya nerbangin pesawat."
"Oh gitu." Tania mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lo sendiri pengen jadi apa?" Tanya Gamma sedikit menolehkan kepalanya ke arah gadis di sebelah nya.
"Pengen jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan pengen jadi orang yang bahagia," jawab Tania menggebu.
Gamma menaikkan sebelah alisnya. "Enggak spesifik jawaban lo, Beb. Emang lo selama ini enggak bahagia? Gue kurang apa sih?"
"Aku bingung sama cita-cita aku. Dari dulu aku cuma fokus sama keinginan aku buat bikin mama bahagia," Tania menjawab dengan lesu. Raut mukanya berubah sedih.
Tangan kanan Gamma mengelus rambut Tania. "Lo itu jangan terus-terusan mikirin orang lain yang bahkan enggak pernah mikirin lo. Sekali-kali lo butuh jadi orang yang egois, pentingin juga hidup lo. Jangan terlalu fokus buat bahagiain orang lain kalau lo sendiri aja tertekan," ucap Gamma menasehati Tania.
Tania meneteskan air mata. "Aku sebenarnya juga pengen mentingin diri aku, tapi aku enggak bisa. Aku ngerasa itu percuma. Daridulu keinginanku cuma pengen lihat mama bahagia, aku pengen aku dipandang sama mama. Kayak yang aku pernah bilang ke kamu, aku rela ngelakuin apa aja demi kebahagiaan mama. Bahkan kalau mama nyuruh aku mati seperti saat aku dirawat di rumah sakit waktu itu, aku siap mati, Gam. Aku siap kalau Tuhan mau ambil nyawaku, asalkan mama bisa bahagia."
Gamma menepikan mobilnya, kemudian ia melepas sabuk pengamannya. Ia memeluk Tania, gadis yang saat ini sangat terlihat rapuh.
"Hati lo mulia banget. Lo adalah perempuan hebat, gue yakin Tuhan akan ngasih kebahagian yang berlimpah buat lo pada waktunya nanti. Lo harus sabar, lo harus tetap jadi wanita tangguh," ucap Gamma sambil menyeka air mata Tania.
"Bantu aku ya, Gam."
Gamma mengangguk. "Pasti," jawab Gamma yakin. "Mulai dari sekarang pikirin hidup lo, pikirin cita-cita lo, dan fokus buat gapai apa yang lo inginkan," lanjutnya.
Gamma mengurai pelukannya, "Semangat, Sayang," ucapnya.
(。;_;。)
Sesampainya di toko buku, mereka segera mencari buku yang mereka inginkan.
Gamma dan Tania berpencar, mereka memilih jalur itu supaya mereka bisa makan siang bersama.
"Kamu cari buku yang kamu mau, ambil aja sesuka hati kamu dan jangan mentingin harga. Nanti biar gue yang bayar," ucap Gamma dan mendapat pelototan tidak terima dari Tania.
"Enggak mau, aku cuma mau cari satu buku kok."
"Kalau lo cuma beli satu, nanti semua genre yang lo suka gue angkut bawa pulang. Jangan cuma beli satu," pesan Gamma kemudian mengacak rambut Tania.
"Songong banget sih jadi orang," gerutu Tania yang masih bisa di dengar oleh Gamma.
"Aku masih bisa dengar,Sayang."
"Iya maaf, yaudah aku mau cari bukunya dulu," ucap Tania lalu pergi ke rak yang menyimpan genre buku favoritnya. Teenfiction.
Saat Gamma sedang asik mengambil semua buku yang berhubungan tentang dunia penerbangan, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Hai, lama kita enggak ketemu sejak hari itu. Aku kangen kamu," ucap orang yang menepuk pundak Gamma tadi lalu orang itu memeluk Gamma erat.
Gamma terdiam, tubuhnya seakan kaku.
Orang yang sudah lama ia lupakan kembali hadir di hadapannya. Kenapa ia datang kembali disaat Gamma sudah menemukan tambatan hati yang lain.
"Cobaan apa lagi ini?" ucap Gamma dalam hati.
(。;_;。)